Sabtu, 16 Juni 2012

Sepanjang Jalan Braga


Aku berdiri di persimpangan jalan Braga, mengingat pertemuan-pertemuan kita. Kamu selalu dan selalu bercerita tentang dia, menimbulkan perih dihatiku. Pertemuan kita selalu singkat, apalagi setiap pertemuan yang kamu bahas hanya dia, hanya kenangan tentang dia, dan semua rasa bersalahmu padanya. Tak banyak kata yang keluar dari bibirmu saat kita bertemu, apalagi ketika aku mulai menceritakan hari-hariku, kamu hanya bersemangat bercerita tentangnya.
Ku dongakkan kepalaku menahan air mata agar tidak tumpah. Jujur aku sangat merindukanmu. Rindu saat kita berjalan berdua bergandengan tangan menyusuri jalan Braga ini, mungkin sama rindunya saat kamu merindukan dia. Kamu itu lelaki manis dan baik, walau banyak orang yang tak spendapat denganku dan melarangku untuk bertemu dengamu, tapi apa daya aku sungguh mencintaimu, menyayangimu sepenuh hatiku.

Aku ingat dulu, pertemuan, pertemuan kita akan selalu berakhir di Maison Bogerijen, menikmati hidangan kolonial Belanda. Saat itu kamu akan memulai cerita tentang dia, tentangmu yang bertemu pertama kali denganya di restoran ini, tentang restoran ini yang sekarang telah berubah drastis, dan tentang rindumu mengulang waktu bersamanya di tempat ini.

***
Malam itu menunjukkan pukul 11 malam, aku masih menunggumu pulang  namun kamu belum juga kembali. Ibu menyuruhku untuk tidur. Saat ku menaiki ranjang kamarku. Suara pintu rumah terbuka. Aku yakin itu pasti dirimu, aku segera bergegas keluar ingin segera melepas rindu denganmu.
“Yah, kamu kok baru balik? Wah, kamu mabuk ya? Sini botolnya, ayah cuci muka lalu tidur ya, yah,” kata Ibu.
Aku tak berani keluar kamar. Baru kali ini aku lihat dirimu mabuk, dan ibu tetap sabar. Kamu memberikan botol bir yang kamu pegang ke arah ibu, namun tak sampai di tangan ibu botol itu terjatuh dan pecah. Bau alkohol semilir, mulai tercium samar di sekitarku.
Kejadian itu terjadi seperkian detik. Kamu mengambil ujung botol yang sebagian besar masih utuh kemudian mengarahkannya ke ibu. Ujung-ujung tajam bekas pecahan botol menancap tepat ke perut ibu, ibu setengah menjerit, ibu jatuh terpelanting, darah perlahan mulai keluar dari perut ibu, meninggalkan bau khas percampuran anyir darah dan alkohol. Kamu, terdiam, menyadari apa yang baru saja terjadi.
***
Hey, sekarang aku kembali ke sini, menyusuri sepanjang jalan Braga. Mengingat pertemuan-pertemuan indah kita berdua, mengingat-ingat pula pertemuan-pertemuanmu dengan dia lewat cerita-ceritamu. Kemarin sore, jenazahmu dikebumikan. 10 tahun dipenjara, 25 tahun sendiri tanpa istri dan anak mungkin merupakan hukuman yang harus kamu ambil untuk menebus peristiwa yang tak disengaja itu. Jangan, menangis lagi ya, kamu akan segera bertemu dengan dia kan, Yah? Titip salam rinduku untuk dia ya, Yah, untuk ibu yang telah 25 tahun tak kutemui. Aku juga selalu merindukannya ketika Ayah,menceritakan tentangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar