Aku
berdiri di persimpangan jalan Braga, mengingat pertemuan-pertemuan kita. Kamu selalu
dan selalu bercerita tentang dia, menimbulkan perih dihatiku. Pertemuan kita
selalu singkat, apalagi setiap pertemuan yang kamu bahas hanya dia, hanya kenangan
tentang dia, dan semua rasa bersalahmu padanya. Tak banyak kata yang keluar
dari bibirmu saat kita bertemu, apalagi ketika aku mulai menceritakan hari-hariku,
kamu hanya bersemangat bercerita tentangnya.
Ku
dongakkan kepalaku menahan air mata agar tidak tumpah. Jujur aku sangat
merindukanmu. Rindu saat kita berjalan berdua bergandengan tangan menyusuri
jalan Braga ini, mungkin sama rindunya saat kamu merindukan dia. Kamu itu
lelaki manis dan baik, walau banyak orang yang tak spendapat denganku dan melarangku
untuk bertemu dengamu, tapi apa daya aku sungguh mencintaimu, menyayangimu
sepenuh hatiku.
Aku
ingat dulu, pertemuan, pertemuan kita akan selalu berakhir di Maison Bogerijen,
menikmati hidangan kolonial Belanda. Saat itu kamu akan memulai cerita tentang
dia, tentangmu yang bertemu pertama kali denganya di restoran ini, tentang
restoran ini yang sekarang telah berubah drastis, dan tentang rindumu mengulang
waktu bersamanya di tempat ini.
***
Malam itu menunjukkan
pukul 11 malam, aku masih menunggumu pulang namun kamu belum juga kembali. Ibu menyuruhku
untuk tidur. Saat ku menaiki ranjang kamarku. Suara pintu rumah terbuka. Aku
yakin itu pasti dirimu, aku segera bergegas keluar ingin segera melepas rindu
denganmu.
“Yah, kamu kok baru
balik? Wah, kamu mabuk ya? Sini botolnya, ayah cuci muka lalu tidur ya, yah,”
kata Ibu.
Aku tak berani keluar
kamar. Baru kali ini aku lihat dirimu mabuk, dan ibu tetap sabar. Kamu memberikan
botol bir yang kamu pegang ke arah ibu, namun tak sampai di tangan ibu botol
itu terjatuh dan pecah. Bau alkohol semilir, mulai tercium samar di sekitarku.
Kejadian itu terjadi
seperkian detik. Kamu mengambil ujung botol yang sebagian besar masih utuh kemudian
mengarahkannya ke ibu. Ujung-ujung tajam bekas pecahan botol menancap tepat ke
perut ibu, ibu setengah menjerit, ibu jatuh terpelanting, darah perlahan mulai
keluar dari perut ibu, meninggalkan bau khas percampuran anyir darah dan alkohol.
Kamu, terdiam, menyadari apa yang baru saja terjadi.
***
Hey, sekarang aku
kembali ke sini, menyusuri sepanjang jalan Braga. Mengingat pertemuan-pertemuan
indah kita berdua, mengingat-ingat pula pertemuan-pertemuanmu dengan dia lewat
cerita-ceritamu. Kemarin sore, jenazahmu dikebumikan. 10 tahun dipenjara, 25
tahun sendiri tanpa istri dan anak mungkin merupakan hukuman yang harus kamu
ambil untuk menebus peristiwa yang tak disengaja itu. Jangan, menangis lagi ya,
kamu akan segera bertemu dengan dia kan, Yah? Titip salam rinduku untuk dia ya,
Yah, untuk ibu yang telah 25 tahun tak kutemui. Aku juga selalu merindukannya
ketika Ayah,menceritakan tentangnya.
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar