Sabtu, 23 Juni 2012

Memori Tentangmu


Ah, harusnya aku di sini bersamamu. Di Pura besakih ini. Janji satu tahun yang lalu nampaknya tak dapat kau tepati. Sudah lah aku tak bisa berbuat apa-apa. itu hak mu tak menepati janji, tapi aku? Aku adalah seorang wanita yang tak akan pernah ingkar janji, sebisa mungkin aku akan memenuhi kata-kata yang kukeluarkan. Seperti hari ini, aku datang ke Pura Besakih masih lengkap dengan peralatan dakiku, bahkan cariel 8 literku masih kupanggul di belakang punggungku. Pura ini pura tempat pertama kalinya bertemu. Kamu ingat? Lalu mengapa kamu masih juga belum datang?
Ah, kamu tak akan pernah tau betapa aku menunggu terealisasinya acara gila yang kita rencanakan satu tahun yang lalu. Mendaki Gunung Agung yang start dan finish-nya dari Pure Besakih. dan Saat itu aku harap-harap cemas kamu akan sesuai dengan yang aku inginkan. Perkenalan satu tahun denganmu tanpa pernah bertemu sekali pun nampak manis. Ah, kamu! Bahkan aku bisa jatuh cinta denganmu dengan hanya sekali melihatmu.
Memoriku tentangmu kembali berjalan. Aku masih dapat mengingat, hari pertama kali kita bertemu. Di sini, satu minggu yang lalu. Kamu yang bukan merupakan penduduk Bali, terlihat nampak antusias bertemu denganku, begitu pun aku. Ya, sebut saja aku telah jatuh hati pada pandangan yang pertema padamu.  Kamu nampak seperti yang aku inginkan, terlalu aku ingin kan dan tak ingin kulepaskan.
                “Gek, coba kamu baca Koran ini. Itu bukan lelaki yang seminggu lalu bersamamu?” ibu tiba-tiba berada disampingku memberikan sebuah koran dengan Headline :
                “Seorang pemuda asal luar Pulau Bali kembali ditemukan tewas di Gunung Agung”

           “Untung lah Gek kamu tidak kenapa-kenapa. Biyang, tak mengerti. Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh di sini. Biyang curiga ada yang mengadakan pesugihan untuk Rondo dhirahisme. Apalagi korban-korbanya ditemuakan dengan keadaan tidak layak. Lekas lah kau berdoa pada Hyang Widi, karena masih dilindungi,”
Darahku berdesir mendengar perkataan ibu. Aku melihat foto korban yang berada di kolom foto Koran. Hening, air mataku jatuh. itu kamu! Ibu menatapku kemudian memelukku berusaha menenangkanku. Memori tentangmu selama seminggu ini kembali terlintas di kepalaku. Aku tak tau untuk apa air mataku. Untuk kematianmu kah? Atau untuk keberhasilanku menyeretmu dalam acara pesugihan untuk leak ini?  Kemudian senyum kecilku timbul. “Ya, biyang dan pelakunya adalah putrimu,”ucapku dalam hati.


Keterangan:
Biyang : Ibu
Gek : Anak perempuan
Rondo dhirahisme: salah satu tokoh leak di Bali
Hyang Widi : tuhan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar