Ah,
harusnya aku di sini bersamamu. Di Pura besakih ini. Janji satu tahun yang lalu
nampaknya tak dapat kau tepati. Sudah lah aku tak bisa berbuat apa-apa. itu hak
mu tak menepati janji, tapi aku? Aku adalah seorang wanita yang tak akan pernah
ingkar janji, sebisa mungkin aku akan memenuhi kata-kata yang kukeluarkan. Seperti
hari ini, aku datang ke Pura Besakih masih lengkap dengan peralatan dakiku, bahkan
cariel 8 literku masih kupanggul di belakang punggungku. Pura ini pura tempat
pertama kalinya bertemu. Kamu ingat? Lalu mengapa kamu masih juga belum datang?
Ah,
kamu tak akan pernah tau betapa aku menunggu terealisasinya acara gila yang
kita rencanakan satu tahun yang lalu. Mendaki Gunung Agung yang start dan finish-nya dari Pure Besakih. dan Saat itu aku harap-harap cemas
kamu akan sesuai dengan yang aku inginkan. Perkenalan satu tahun denganmu tanpa
pernah bertemu sekali pun nampak manis. Ah, kamu! Bahkan aku bisa jatuh cinta
denganmu dengan hanya sekali melihatmu.
Memoriku
tentangmu kembali berjalan. Aku masih dapat mengingat, hari pertama kali kita
bertemu. Di sini, satu minggu yang lalu. Kamu yang bukan merupakan penduduk
Bali, terlihat nampak antusias bertemu denganku, begitu pun aku. Ya, sebut saja
aku telah jatuh hati pada pandangan yang pertema padamu. Kamu nampak seperti yang aku inginkan, terlalu
aku ingin kan dan tak ingin kulepaskan.
“Gek, coba kamu baca Koran ini. Itu bukan lelaki yang seminggu lalu
bersamamu?” ibu tiba-tiba berada disampingku memberikan sebuah koran dengan Headline :
“Seorang pemuda asal luar Pulau Bali
kembali ditemukan tewas di Gunung Agung”
“Untung lah Gek kamu tidak kenapa-kenapa. Biyang,
tak mengerti. Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh di sini. Biyang curiga ada
yang mengadakan pesugihan untuk Rondo
dhirahisme. Apalagi korban-korbanya ditemuakan dengan keadaan tidak layak. Lekas
lah kau berdoa pada Hyang Widi,
karena masih dilindungi,”
Darahku
berdesir mendengar perkataan ibu. Aku melihat foto korban yang berada di kolom
foto Koran. Hening, air mataku jatuh. itu kamu! Ibu menatapku kemudian
memelukku berusaha menenangkanku. Memori tentangmu selama seminggu ini kembali terlintas di kepalaku. Aku tak tau untuk apa air mataku. Untuk
kematianmu kah? Atau untuk keberhasilanku menyeretmu dalam acara pesugihan
untuk leak ini? Kemudian senyum kecilku
timbul. “Ya, biyang dan pelakunya adalah
putrimu,”ucapku dalam hati.
Keterangan:
Biyang : Ibu
Gek : Anak
perempuan
Rondo dhirahisme: salah satu tokoh leak
di Bali
Hyang Widi :
tuhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar