Rabu, 20 Juni 2012

Genggaman Tangan



“Ini kapan nyampenya sih? Badan gue udah encok nih!” cerocos Sindi tak henti-henti.
“Tenang aja, Sin. Encokmu akan beralih menjadi body aduhai,” tambah Ami menyemangati.
“Oh iya, Mi? Aduh, harus semangat nih berarti turunnya supaya kurus!” ucap Sindi kembali bersemangat 45’. “Ah, tapi ini tangganya gak asik banget! Masa jaraknya berjauhan. Jadi harus turun satu lantai, jalan sebentar terus turun satu langkah lagi dan terus-terusan seperti itu. cape nih, gendong gue dong Sat!” keluh Sindi sambil meminta yang tidak-tidak pada Satria.
Heran, padahal Sindi sendiri yang menyetujui liburan ke daerah Jawa Tengah  termasuk air terjun Tawang Mangu ini, namun sekarang belum juga sampai dia sudah mengeluh. Aku, Satria, Vandi, Ami dan Sindi adalah teman sepermainan di kampus. Setiap liburan semester, kami pasti selalu jalan-jalan. Semester kemarin jalan-jalan ke Pulau Seribu, kali ini kami memilih rute yang lebih jauh. Lumayan lah liburan bareng mereka bisa melupakan penat dan permasalahan di kampus. Heh? Kenapa jadi mikirin dia lagi sih,Jar? Kan kamu sendiri yang nolak dia? Kan kamu sendiri yang punya prinsip gak mau pacaran selama kuliah?
Sudah 15 menit lebih kami berjalan menuruni tangga, pemandangan air terjun mulai terlihat namun kami belum juga sampai. Sedari tadi yang terlihat hanya monyet-monyet liar yang bergelantungan di pohon bahkan ada yang duduk di sekitar tangga menuju air terjun.


 “Nih, Sin!” kata Vandi menyodorkan sekaleng minuman isotonic.
Belum sempat Sindi mengambil, minuman tersebut sudah direbut oleh seekor monyet.
“HUA! CAMDIG! CAMDIG-NYA!” jerit seseorang dari arah bawah. Suara derap langkahnya terdengar cepat.
Mampus! Aku lagi gak salah liat orang kan?
“Teh Rinta?” kata Vandi kemudian.
 “Eh? Kalian? Liat monyet gak? Dia bawa camdig-nya Riky! Aduh gimana dong?” tanya Rinta.
“Tuh, banyak teh ngegelantung,” jawab Satria asal bicara.
Sejauh ini? Sejauh jarak Bandung-Solo, tapi takdir masih bisa-bisanya mempertemukan aku dengannya? Riky? Siapa dia?
“Rin, tunggu dong! Lari kamu teh gancang pisan!” ucap seseorang dari arah bawah.
“Ayo, Rik! Nanti camdig lo ilang!” ucap Rinta melambai-lambaikan tangannya ke arah bawah, secepat itu pula kemudian satu tangan menggenggam tangan Rinta.
Deg! Ada rasa nyeri di dadaku. Lelaki itu. Lelaki asing yang selalu kulihat sedang menunggu seseorang di halte kampus.
“Udah lah, Rin. Cuma camdig kok. Aku lebih baik kehilangan camdig dibanding kehilangan kamu,”ucap lelaki itu. Tangannya masih menggenggam erat lengan Rinta. Ada perasaan kesal yang menyelusup di diriku melihat adegan ini.
“Tapi kan,”
“ Iya, sih banyak foto-foto mesra kita berdua yang hilang jadinya kan? Tapi yaudahlah, kan kita masih bisa bermesraan. Lagian juga urang yang salah pake ngegelantungin di tangan. Dikira makanan kali sama monyet. Hahaha,”
“Hih! Dasar lelaki gombal. Ngarang aja nih. Gak mempan wey digituin!” ucap Rinta memeletkan lidahnya.
“Ih, teteh pacarnya romantis banget sih. Ah aku jadi pengen bawa pacar ke sini,” ucap Sindi, tiba-tiba.

“Emangnya ada?”tanya Ami datar sambil menggoda Sindi, sementara aku masih terpaku tak tau harus berbuat apa. “Bisa kali teh dikenalin nama pacarnya?”ucap Ami kali ini menggoda Rinta.
Lelaki itu pacar Rinta? Secepat itu ia melupakanku, seseorang yang pernah digosipkan denganya dan pernah ia nyatakan perasaanya?
            “Hah? Pacar? Kita pacar, Rik? Hahahaha,” tawa Rinta pecah.
“Emang nih si Rinta. Kenalin urang Riky calon suaminya Rinta,”
“Heh! Ngomong seenak jidad lo aje!”ucap Rinta menoyor mesra lelaki itu.
            Ya, tuhan kenapa berasa perih gini?
“Bukan ih. Ini temen gue, Riky, Sin, Mi, Sat, Jar,” ucap Rinta memperkenalkan lelaki itu. lelaki itu kemudian bersalaman dengan kami satu persatu. Ada rasa benci tiba-tiba datang.
“Kok, ke Vandi gak di kenalin teh?” tanya Satria.
“Vandi kan udah kenal. Yaudah deh kenalan lagi, siap tau jodoh, hahaha,”
“Gila, kamu! Eh yaudah yuk kita balik aja,” ucap lelaki itu.
“Eh, duluan ya,” ucap Rinta kemudian melanjutkan perjalanan ke atas dengan lelaki itu.
“Eh itu pacarnya Van?” tanya Sindi mulai bergosip.
“Wah, saya gak tau tuh. Tapi setiap latihan di paguyubab teather, the Rinta suka dijemput cowok itu.
“Ih, tapi mereka cocok ya. Teh Rinta maskulin, cowoknya manis. Sama-sama suka bercanda lagi. Liat gak tadi cara mereka bergenggaman tangan? Manis banget! Ya ampun padahal gue pikir dulu teh Rinta bakal jadian sama Anjar,” cerocos Ami, menimbulkan penyesalan sendiri bagiku.
Tak pernah aku merasakan perih seperti ini, saat melihat seorang teman bergenggaman tangan dengan lawan jenis, namun mengapa sekarang aku merasa benci dengan lelaki itu tanpa sebab? 
***


notes:
 kamu teh gancang pisan! ~ kamu tuh cepet banget!
urang ~ saya

cerita sebulumnya : Sasirangan

hahaha, lumayan nih ikutan #15HariNgeblogFF2 , bisa buat gue membuka draft novel yang sudah beberapa bulan tak tersentuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar