“Tenang aja, Sin. Encokmu akan
beralih menjadi body aduhai,” tambah
Ami menyemangati.
“Oh iya, Mi? Aduh, harus semangat
nih berarti turunnya supaya kurus!” ucap Sindi kembali bersemangat 45’. “Ah,
tapi ini tangganya gak asik banget! Masa jaraknya berjauhan. Jadi harus turun
satu lantai, jalan sebentar terus turun satu langkah lagi dan terus-terusan
seperti itu. cape nih, gendong gue dong Sat!” keluh Sindi sambil meminta yang
tidak-tidak pada Satria.
Heran, padahal Sindi sendiri yang
menyetujui liburan ke daerah Jawa Tengah termasuk air terjun Tawang Mangu ini, namun
sekarang belum juga sampai dia sudah mengeluh. Aku, Satria, Vandi, Ami dan
Sindi adalah teman sepermainan di kampus. Setiap liburan semester, kami pasti
selalu jalan-jalan. Semester kemarin jalan-jalan ke Pulau Seribu, kali ini kami
memilih rute yang lebih jauh. Lumayan lah liburan bareng mereka bisa melupakan
penat dan permasalahan di kampus. Heh? Kenapa jadi mikirin dia lagi sih,Jar? Kan
kamu sendiri yang nolak dia? Kan kamu sendiri yang punya prinsip gak mau
pacaran selama kuliah?
Sudah 15 menit lebih kami berjalan menuruni
tangga, pemandangan air terjun mulai terlihat namun kami belum juga sampai. Sedari
tadi yang terlihat hanya monyet-monyet liar yang bergelantungan di pohon bahkan
ada yang duduk di sekitar tangga menuju air terjun.
“Nih, Sin!” kata Vandi menyodorkan sekaleng
minuman isotonic.
Belum sempat Sindi mengambil,
minuman tersebut sudah direbut oleh seekor monyet.
“HUA! CAMDIG! CAMDIG-NYA!” jerit
seseorang dari arah bawah. Suara derap langkahnya terdengar cepat.
Mampus!
Aku lagi gak salah liat orang kan?
“Teh Rinta?” kata Vandi kemudian.
“Eh? Kalian? Liat monyet gak? Dia bawa camdig-nya Riky! Aduh gimana dong?”
tanya Rinta.
“Tuh, banyak teh ngegelantung,” jawab
Satria asal bicara.
Sejauh
ini? Sejauh jarak Bandung-Solo, tapi takdir masih bisa-bisanya mempertemukan
aku dengannya? Riky? Siapa dia?
“Rin, tunggu dong! Lari kamu teh gancang pisan!” ucap seseorang
dari arah bawah.
“Ayo, Rik! Nanti camdig lo ilang!”
ucap Rinta melambai-lambaikan tangannya ke arah bawah, secepat itu pula
kemudian satu tangan menggenggam tangan Rinta.
Deg!
Ada rasa nyeri di dadaku. Lelaki itu. Lelaki asing yang selalu kulihat sedang
menunggu seseorang di halte kampus.
“Udah lah, Rin. Cuma camdig kok. Aku lebih baik kehilangan camdig dibanding kehilangan kamu,”ucap
lelaki itu. Tangannya masih menggenggam erat lengan Rinta. Ada perasaan kesal
yang menyelusup di diriku melihat adegan ini.
“Tapi kan,”
“ Iya, sih banyak foto-foto mesra
kita berdua yang hilang jadinya kan? Tapi yaudahlah, kan kita masih bisa
bermesraan. Lagian juga urang yang salah pake ngegelantungin di tangan. Dikira makanan
kali sama monyet. Hahaha,”
“Hih! Dasar lelaki gombal. Ngarang aja
nih. Gak mempan wey digituin!” ucap Rinta memeletkan lidahnya.
“Ih, teteh pacarnya romantis banget
sih. Ah aku jadi pengen bawa pacar ke sini,” ucap Sindi, tiba-tiba.
“Emangnya
ada?”tanya Ami datar sambil menggoda Sindi, sementara aku masih terpaku tak tau
harus berbuat apa. “Bisa kali teh dikenalin nama pacarnya?”ucap Ami kali ini
menggoda Rinta.
Lelaki itu pacar
Rinta? Secepat itu ia melupakanku, seseorang yang pernah digosipkan
denganya dan pernah ia nyatakan perasaanya?
“Hah?
Pacar? Kita pacar, Rik? Hahahaha,” tawa Rinta pecah.
“Emang
nih si Rinta. Kenalin urang Riky calon suaminya Rinta,”
“Heh!
Ngomong seenak jidad lo aje!”ucap Rinta menoyor mesra lelaki itu.
Ya, tuhan kenapa berasa perih gini?
“Bukan
ih. Ini temen gue, Riky, Sin, Mi, Sat, Jar,” ucap Rinta memperkenalkan lelaki
itu. lelaki itu kemudian bersalaman dengan kami satu persatu. Ada rasa benci
tiba-tiba datang.
“Kok,
ke Vandi gak di kenalin teh?” tanya Satria.
“Vandi
kan udah kenal. Yaudah deh kenalan lagi, siap tau jodoh, hahaha,”
“Gila,
kamu! Eh yaudah yuk kita balik aja,” ucap lelaki itu.
“Eh,
duluan ya,” ucap Rinta kemudian melanjutkan perjalanan ke atas dengan lelaki
itu.
“Eh
itu pacarnya Van?” tanya Sindi mulai bergosip.
“Wah,
saya gak tau tuh. Tapi setiap latihan di paguyubab teather, the Rinta suka
dijemput cowok itu.
“Ih,
tapi mereka cocok ya. Teh Rinta maskulin, cowoknya manis. Sama-sama suka
bercanda lagi. Liat gak tadi cara mereka bergenggaman tangan? Manis banget! Ya
ampun padahal gue pikir dulu teh Rinta bakal jadian sama Anjar,” cerocos Ami,
menimbulkan penyesalan sendiri bagiku.
Tak
pernah aku merasakan perih seperti ini, saat melihat seorang teman bergenggaman
tangan dengan lawan jenis, namun mengapa sekarang aku merasa benci dengan
lelaki itu tanpa sebab?
***
notes:
kamu teh gancang pisan! ~ kamu tuh cepet banget!
urang ~ saya
cerita sebulumnya : Sasirangan
hahaha, lumayan nih ikutan #15HariNgeblogFF2 , bisa buat gue membuka draft novel yang sudah beberapa bulan tak tersentuh.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar