Selasa, 12 Juni 2012

Menunggu Lampu Hijau


aku memandangimu dari balik kerumunan pedagang, kamu nampak linglung berdiri di tengah-tengah ruas jalan di sekitar Jam Gadang. Perdebatan kita berdua tadi membuatku pergi menghilang darimu. Kamu kan paling jago, kamu kan paling berani, kamu kan tau segalanya sedangkan aku tak tau seluk beluk tentang Bukit Tinggi ini. Jadi ya, coba saja kamu pergi sendiri tanpa aku. Aku mau ta sejauh mana kamu bisa pergi sendirian tanpa aku.

10 menit..

15 menit..

1 Jam..

2 Jam..

Kamu masih di posisi yang sama, rasa khawatirku mulai muncul. Apalagi kamu ada di kota ini karena aku. Hei, kamu kalau memang bingung bisa kan sms atau telepon aku? Seegois itu kah dirimu, hingga membiarkan dirimu sendiri seperti orang bodoh menunggu berjam-jam sendirian? Aku di sini, di balik kerumunan para pedagang menunggumu menghubungiku, sebagai tanda lampu hijau berhentinya pertengkaran kita. Atau jika rasa egoisme terlalu tinggi, paling tidak bisa kan menelpon keluargamu di sini untuk menjemputmu? Bukan kah kamu punya keluarga jauh di sini?

3 Jam dan kamu masih terdiam…

Aatu panggilang masuk, namamu terbaca di layar. Kuangkat siap menerima omelan darimu.
“Halo,” kataku membuka pembicaraan.
“Dit, ketempat yang tadi ya. Aku nunggu, aku capek,”
            lima menit kemudian aku datang menghampirimu. Airmatamu jatuh. kamu memelukku erat dan aku cukup terperangah dengan aksi yang kamu lakukan padamu.
            “Adit, jahat. Gue nunggu lo tau gak? Pulsa gue tinggal 100 rupiah, cuma bisa sms sekali dan gue tau lo gak akan bales sms. Hp lo kan gak akan berdering kalau ada sms masuk,” katamu memukul-mukul pundakku pelan.
            “Maafin gue, May,” kataku singkat.
            “Gue menunggu lampu hijau dari lo tau! Gue yakin lo bakal bali ke sini lagi, semarah apapun lo ke gue pasti lo bakal minta maaf duluan. Gue nungguin lo hampir 3 jam di sini, sambil berpikir keras siapa yang bisa transferin gue pulsa sambil berharap lo datang ke sini lagi. Ternyata gue salah ya, lo gak datang-datang,” katamu masih menangis dipelukanku. Aku terdiam.
            “Gue juga menunggu lampu hijau dari lo. Gue pengen lo berubah dan gak egois lagi,” kataku padamu akhirnya.
            “Ini tuh bukan soal egois dan lampu hijau-lampu hijauan, Dit! Gue gak mau ke sini karena gue punya kenangan pahit di sini. Ini tempat terakhir gue bareng sama orang tua gue, sebelum kecelakaan maut itu dan gue takut untuk ke sini,”
            “Terus kenapa lo mau ikut gue backpack-eran ke sini? Kenapa lo gak bilang lo gak mau ke Jam Gadang ini? Ke kota Bukit Tua ini?” tanyaku merasa bersalah.
            “Ya karena lo tuh gak pernah mau ngajakin gue backpack-eran dan setelah gue maksa-maksa akhirnya lo ngajakin gue backpack-eran ke sini. Gue bisa apa, Dit? Gue gak mau setelah maksa-maksa lo tapi ujung-ujungnya gue yang gak bisa. Dan lo emang pengen ke sini kan liburan ini? Melihat jam gadang yang angka romawi 4-nya berbentuk empat turus itu kan? pff,pff ” Aku mendekap mulutmu agar kamu berhenti berbicara.
            “Maaf. Maaf gue minta maaf, May,” kataku merasa bersalah setengah mati kepadamu, sahabatku. Aku membuka dekapan tanganku di mulutnya.
            “Jangan, pernah ninggalin gue lagi, Dit. Cukup hari ini dan hari sebelum-sebelumnya,” katamu sedikit ambigu.
            “Maksud kamu?”
            “Dit, aku sayang kamu dan sekarang aku tau gimana rasanya 3 hari tanpamu,”
            Aku memeluknya erat. Tak ada lagi kata yang terucap. Aku hanya berharap pelukan ini dapat menjelaskan perasaanku yang telah kusimpan cukup lama padamu. Ya, aku rasa aku telah jatuh hati padamu May. Dan aku tak ingin kamu kenapa-kenapa karena itu aku selam ini tak pernah mengajakmu untuk backpack-eran.


Kamar Rumah 120612


Tidak ada komentar:

Posting Komentar