aku memandangimu dari balik kerumunan
pedagang, kamu nampak linglung berdiri di tengah-tengah ruas jalan di sekitar Jam
Gadang. Perdebatan kita berdua tadi membuatku pergi menghilang darimu. Kamu kan
paling jago, kamu kan paling berani, kamu kan tau segalanya sedangkan aku tak
tau seluk beluk tentang Bukit Tinggi ini. Jadi ya, coba saja kamu pergi sendiri
tanpa aku. Aku mau ta sejauh mana kamu bisa pergi sendirian tanpa aku.
10 menit..
15 menit..
1 Jam..
2 Jam..
Kamu masih di posisi yang sama, rasa
khawatirku mulai muncul. Apalagi kamu ada di kota ini karena aku. Hei, kamu
kalau memang bingung bisa kan sms atau telepon aku? Seegois itu kah dirimu,
hingga membiarkan dirimu sendiri seperti orang bodoh menunggu berjam-jam
sendirian? Aku di sini, di balik kerumunan para pedagang menunggumu
menghubungiku, sebagai tanda lampu hijau berhentinya pertengkaran kita. Atau jika
rasa egoisme terlalu tinggi, paling tidak bisa kan menelpon keluargamu di sini
untuk menjemputmu? Bukan kah kamu punya keluarga jauh di sini?
3 Jam dan kamu masih terdiam…
Aatu panggilang masuk, namamu terbaca di
layar. Kuangkat siap menerima omelan darimu.
“Halo,” kataku membuka pembicaraan.
“Dit, ketempat yang tadi ya. Aku nunggu,
aku capek,”
lima menit
kemudian aku datang menghampirimu. Airmatamu jatuh. kamu memelukku erat dan aku
cukup terperangah dengan aksi yang kamu lakukan padamu.
“Adit,
jahat. Gue nunggu lo tau gak? Pulsa gue tinggal 100 rupiah, cuma bisa sms
sekali dan gue tau lo gak akan bales sms. Hp lo kan gak akan berdering kalau
ada sms masuk,” katamu memukul-mukul pundakku pelan.
“Maafin gue,
May,” kataku singkat.
“Gue menunggu
lampu hijau dari lo tau! Gue yakin lo bakal bali ke sini lagi, semarah apapun
lo ke gue pasti lo bakal minta maaf duluan. Gue nungguin lo hampir 3 jam di
sini, sambil berpikir keras siapa yang bisa transferin gue pulsa sambil berharap
lo datang ke sini lagi. Ternyata gue salah ya, lo gak datang-datang,” katamu
masih menangis dipelukanku. Aku terdiam.
“Gue juga
menunggu lampu hijau dari lo. Gue pengen lo berubah dan gak egois lagi,” kataku
padamu akhirnya.
“Ini tuh bukan
soal egois dan lampu hijau-lampu hijauan, Dit! Gue gak mau ke sini karena gue
punya kenangan pahit di sini. Ini tempat terakhir gue bareng sama orang tua
gue, sebelum kecelakaan maut itu dan gue takut untuk ke sini,”
“Terus
kenapa lo mau ikut gue backpack-eran
ke sini? Kenapa lo gak bilang lo gak mau ke Jam Gadang ini? Ke kota Bukit Tua
ini?” tanyaku merasa bersalah.
“Ya karena lo
tuh gak pernah mau ngajakin gue backpack-eran
dan setelah gue maksa-maksa akhirnya lo ngajakin gue backpack-eran ke sini. Gue bisa apa, Dit? Gue gak mau setelah
maksa-maksa lo tapi ujung-ujungnya gue yang gak bisa. Dan lo emang pengen ke
sini kan liburan ini? Melihat jam gadang yang angka romawi 4-nya berbentuk empat
turus itu kan? pff,pff ” Aku mendekap mulutmu agar kamu berhenti berbicara.
“Maaf. Maaf gue
minta maaf, May,” kataku merasa bersalah setengah mati kepadamu, sahabatku. Aku
membuka dekapan tanganku di mulutnya.
“Jangan,
pernah ninggalin gue lagi, Dit. Cukup hari ini dan hari sebelum-sebelumnya,”
katamu sedikit ambigu.
“Maksud
kamu?”
“Dit, aku
sayang kamu dan sekarang aku tau gimana rasanya 3 hari tanpamu,”
Aku memeluknya
erat. Tak ada lagi kata yang terucap. Aku hanya berharap pelukan ini dapat
menjelaskan perasaanku yang telah kusimpan cukup lama padamu. Ya, aku rasa aku
telah jatuh hati padamu May. Dan aku tak ingin kamu kenapa-kenapa karena itu
aku selam ini tak pernah mengajakmu untuk backpack-eran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar