Aku
memandangi keadaan sekeliling sedikit ramai dan memusingkan. Terombang abing
dalam sungai Barito yang sangat luas, terduduk di salah satu jukung bersama
lima orang temanku. Kami sedang melakukan observasi lapangan, untuk salah satu
tugas kuliah di kampus. Ya memang begitu lah tugas mahasiswa antropologi, mau
tidak mau harus menjelajah, menyelami kebudayaan-kebudayaan baik di Indonesia
maupun luar. Kali ini aku dan teman-teman sekelompokku mendapatkan tugas
menganalisis kota Banjarmasin terutama pasar terapung ini, yang katanya mulai
terbagi menjadi dua lokasi, yang katanya sudah mulai sepi dengan adanya aksi blokade
Sungai Barito terkait dengan adanya aksi ‘Kalimantan Menggugat’. Nampaknya pembicaraan
itu benar karena pasar tidak terlihat begitu ramai seperti foto-foto yang ku googling.
Tadinya
aku enggan untuk ikut ke kota ini mengingat dibutuhkan waktu observasi satu
bulan untuk matakuliah ini dan itu berarti aku harus berpisah pulau dengan
Rinta selama itu. Duh, baru juga satu malam di sini aku sudah merindukannya. Ah,
ini gila! Biasanya hanya butuh maksimal satu bulan untuk tertarik pada lawan
jenis dan kemudian bosan, namun pada Rinta? Sudah hampir lima bulan aku
mengenalnya dan ketertarikanku padanya mulai menjadi-jadi. Bahkan, saat Amang salah
satu orang, pemilik rumah tempatku bermalam, bercerita tentang kain tradisional
sasirangan, orang pertama yang terlintas
dipikiranku untuk kuberi oleh-oleh itu adalah Rinta.
“Galuh, nanang beli sasirangan kah?”
tanya seorang ibu-ibu dengan kisaran umur 65 tahun.
“Wah,
di sini ada yang jual sasaringan. Kain yang amang ceritakan kemarin toh?”ucap
Lina kegirangan.
“Wah,
galuh nampaknya bukan orang sini kah?”
tanya ibu itu lagi.
Aku memandagi ibu itu, ia mengenangan kemben
dan sarung dari sasirangan. Di lehernya nampak sebuah liontin berlambangkan A,
sepertinya namanya berinisial A. Di keningnya ada tahi lalat besar. Dalam hitungan
detik ia dapat menghipnotis teman-temanku untuk melihat-lihat sasirangan yang
ia jual.
Aku
memutuskan untuk menghubungi Rinta menanyakan kabarnya karena dari kemarin
sulit sekali kuhubungi entah sinyal, entah apa, tapi perasaanku tak enak. Aku memencet
tombol call pada Hpku beberapa detik kemudian telepon diangkat.
“Rin?
Kamu kumaha? Damang? Urang telepon teu
diangkat?” tanyaku menodong pertanyaan.
“Hahaha,
kamaren hp gue lowbat lagi jalan-jalan soalnya,”
“Jalan-jalan
kamana? Bukannya lagi UAS?”
“Adeu,
perhatian banget sih lo sama gue. Iye, gue stres ujian jadi mumpung Sabtu-Minggu
libur ya gue manfaatin ke pangandaran deh,”
“Sama
saha? Naha urang teu diajak?”
“Lah,
kan lo lagi kuliah lapangan. Sama ade kelas gue, kenapa?”
“Saha?” Adek kelas? Si Anjar itu? Tiba-tiba
rasa cemburuku membuncah. Ya, Anjar yang sampai sekarang aku tak tau orangnya
yang mana, namun mampu mendominasi percapakapan aku dan Rinta.
“Hahaha,
kok nanyanya kayak orang cemburu gitu sih?” tanya Rinta membuatku salah
tingkah, untung dia tidak bisa melihat perubahan riak wajahku. “Sama Vandi
doang. Ngebolang kita berdua. Hehehe ”
“Oh,
gitu,” yayaya, aku lupa selain Anjar dia juga dekat dengan Vandi yang kebetulan
juga teman dekatnya Anjar. “Ulun
karindang Ikam,” ucapku mengganti topik pembicaraan. Aku coba menggunakan
bahasa Banjarmasin.
“Acie,
ihiy pengakuan nih? Hahaha,” ucap Rinta tiba-tiba.
“Hah? Naha tau artinya, Rin?” tanyaku
padanya. Aku tertegun dengan reaksinya. Aku pikir ia akan bertanya dan
kebingungan dengan bahasa yang kugunakan.
“Iyalah
gue tau,”
“Kok?
Jangan bilang kamu teh orang Banjarmasin?”
“Bukan
kok, Anjar kan mamahnya orang sana, hehehe,” Rinta tertawa namun tampak getir.
Shit!
Masih ya nama itu disebut-sebut.
“Aduh,
kenapa malah ngomongin dia ya? Udah move
on ini tuh!”tambah Rinta lagi, tapi dengan jawaban seperti itu orang bego
juga tau dia masih ada hati.
“Eh,
kamu tau sasirangan? Mau dibawain oleh-oleh teu?”
Hening,
hanya terdengar suara helaan nafas Rinta.
“Tau
kok. Gue malah punya. Waktu itu gue
dapat oleh-oleh dari neneknya Anjar yang tinggal di sana,” Rinta kemudian
kembali menarik nafas seolah tak kuasa menahan sesuatu. ”Beliau satu-satunya
pedagang yang menjual Sasirangan di pasar terapung. Nanti kalau lo ke pasar
terapung dan ketemu dengan ibu-ibu bertahi lalat di kening dan memakai liontin berhuruf
A, titip salam ya dari gue. Liontin itu, liontin pemberian Anjar buat neneknya yang
belinya bareng gue. Jangan beliin gue Sasirangan ya, nanti gue inget Anjar lagi
”
Kini
giliran aku terdiam, sambil melihat teman-teman yang masih asik memilih-milih
sasirangan. Ibu-ibu tua itu neneknya Anjar?
***
cerita sesudahnya di : Genggaman Tangan
Keterangan
:
Sasirangan
: kain adat suku Banjar di Kalsel, yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur
kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup.
Galuh,
nanang beli sasirangan kah? : tuan, nona mau beli sasirangan?
Wah,
galuh nampaknya bukan orang sini kah : wah, nona sepertinya bukan orang sini?
Rin?
Kamu kumaha? Damang? Urang telepon teu diangkat? : Rin, kamu gimna? Baik? Aku telepon
tidak diangkat.
Jalan-jalan
kamana? : Jalan-jalan kemana
Sama
saha? Naha urang teu diajak? : Sama siapa? Kenapa aku gak diajak?
Ulun
karindang Ikam : Aku rindu kamu
Hah?
Naha tau artinya, Rin : Hah? Kamu kok tau artinya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar