Jumat, 22 Juni 2012

Sasirangan



Aku memandangi keadaan sekeliling sedikit ramai dan memusingkan. Terombang abing dalam sungai Barito yang sangat luas, terduduk di salah satu jukung bersama lima orang temanku. Kami sedang melakukan observasi lapangan, untuk salah satu tugas kuliah di kampus. Ya memang begitu lah tugas mahasiswa antropologi, mau tidak mau harus menjelajah, menyelami kebudayaan-kebudayaan baik di Indonesia maupun luar. Kali ini aku dan teman-teman sekelompokku mendapatkan tugas menganalisis kota Banjarmasin terutama pasar terapung ini, yang katanya mulai terbagi menjadi dua lokasi, yang katanya sudah mulai sepi dengan adanya aksi blokade Sungai Barito terkait dengan adanya aksi ‘Kalimantan Menggugat’. Nampaknya pembicaraan itu benar karena pasar tidak terlihat begitu ramai seperti foto-foto yang ku googling.
Tadinya aku enggan untuk ikut ke kota ini mengingat dibutuhkan waktu observasi satu bulan untuk matakuliah ini dan itu berarti aku harus berpisah pulau dengan Rinta selama itu. Duh, baru juga satu malam di sini aku sudah merindukannya. Ah, ini gila! Biasanya hanya butuh maksimal satu bulan untuk tertarik pada lawan jenis dan kemudian bosan, namun pada Rinta? Sudah hampir lima bulan aku mengenalnya dan ketertarikanku padanya mulai menjadi-jadi. Bahkan, saat Amang salah satu orang, pemilik rumah tempatku bermalam, bercerita tentang kain tradisional sasirangan, orang  pertama yang terlintas dipikiranku untuk kuberi oleh-oleh itu adalah Rinta.
Galuh, nanang beli sasirangan kah?” tanya seorang ibu-ibu dengan kisaran umur 65 tahun.
“Wah, di sini ada yang jual sasaringan. Kain yang amang ceritakan kemarin toh?”ucap Lina kegirangan.
“Wah, galuh nampaknya bukan orang sini kah?” tanya ibu itu lagi.


 Aku memandagi ibu itu, ia mengenangan kemben dan sarung dari sasirangan. Di lehernya nampak sebuah liontin berlambangkan A, sepertinya namanya berinisial A. Di keningnya ada tahi lalat besar. Dalam hitungan detik ia dapat menghipnotis teman-temanku untuk melihat-lihat sasirangan yang ia jual.
Aku memutuskan untuk menghubungi Rinta menanyakan kabarnya karena dari kemarin sulit sekali kuhubungi entah sinyal, entah apa, tapi perasaanku tak enak. Aku memencet tombol call pada Hpku beberapa detik kemudian telepon diangkat.
“Rin? Kamu kumaha? Damang? Urang telepon teu diangkat?” tanyaku menodong pertanyaan.
“Hahaha, kamaren hp gue lowbat lagi jalan-jalan soalnya,”
“Jalan-jalan kamana? Bukannya lagi UAS?”
“Adeu, perhatian banget sih lo sama gue. Iye, gue stres ujian jadi mumpung Sabtu-Minggu libur ya gue manfaatin ke pangandaran deh,”
“Sama saha? Naha urang teu diajak?”
“Lah, kan lo lagi kuliah lapangan. Sama ade kelas gue, kenapa?”
Saha?” Adek kelas? Si Anjar itu? Tiba-tiba rasa cemburuku membuncah. Ya, Anjar yang sampai sekarang aku tak tau orangnya yang mana, namun mampu mendominasi percapakapan aku dan Rinta.
“Hahaha, kok nanyanya kayak orang cemburu gitu sih?” tanya Rinta membuatku salah tingkah, untung dia tidak bisa melihat perubahan riak wajahku. “Sama Vandi doang. Ngebolang kita berdua. Hehehe ”
“Oh, gitu,” yayaya, aku lupa selain Anjar dia juga dekat dengan Vandi yang kebetulan juga teman dekatnya Anjar. “Ulun karindang Ikam,” ucapku mengganti topik pembicaraan. Aku coba menggunakan bahasa Banjarmasin.
“Acie, ihiy pengakuan nih? Hahaha,” ucap Rinta tiba-tiba.
“Hah? Naha tau artinya, Rin?” tanyaku padanya. Aku tertegun dengan reaksinya. Aku pikir ia akan bertanya dan kebingungan dengan bahasa yang kugunakan.
“Iyalah gue tau,”
“Kok? Jangan bilang kamu teh orang Banjarmasin?”
“Bukan kok, Anjar kan mamahnya orang sana, hehehe,” Rinta tertawa namun tampak getir.
Shit! Masih ya nama itu disebut-sebut.
“Aduh, kenapa malah ngomongin dia ya? Udah move on ini tuh!”tambah Rinta lagi, tapi dengan jawaban seperti itu orang bego juga tau dia masih ada hati.
“Eh, kamu tau sasirangan? Mau dibawain oleh-oleh teu?”
Hening, hanya terdengar suara helaan nafas Rinta.
“Tau kok. Gue malah punya. Waktu itu  gue dapat oleh-oleh dari neneknya Anjar yang tinggal di sana,” Rinta kemudian kembali menarik nafas seolah tak kuasa menahan sesuatu. ”Beliau satu-satunya pedagang yang menjual Sasirangan di pasar terapung. Nanti kalau lo ke pasar terapung dan ketemu dengan ibu-ibu bertahi lalat di kening dan memakai liontin berhuruf A, titip salam ya dari gue. Liontin itu,  liontin pemberian Anjar buat neneknya yang belinya bareng gue. Jangan beliin gue Sasirangan ya, nanti gue inget Anjar lagi ”
Kini giliran aku terdiam, sambil melihat teman-teman yang masih asik memilih-milih sasirangan. Ibu-ibu tua itu neneknya Anjar?
***

cerita sebelumnya di :Biru, jatuh Hati

cerita sesudahnya di : Genggaman Tangan

Keterangan :
Sasirangan : kain adat suku Banjar di Kalsel, yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup.
Galuh, nanang beli sasirangan kah? : tuan, nona mau beli sasirangan?
Wah, galuh nampaknya bukan orang sini kah : wah, nona sepertinya bukan orang sini?
Rin? Kamu kumaha? Damang? Urang telepon teu diangkat? : Rin, kamu gimna? Baik? Aku telepon tidak diangkat.
Jalan-jalan kamana? : Jalan-jalan kemana
Sama saha? Naha urang teu diajak? : Sama siapa? Kenapa aku gak diajak?
Ulun karindang Ikam : Aku rindu kamu
Hah? Naha tau artinya, Rin : Hah? Kamu kok tau artinya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar