Aku pertama kali melihatnya
saat aku mulai putus asa. Ia duduk dipinggiran jendela rumah sakit di bawah sinar
matahari sore. Aku kala itu kaget, merasa asing dengan sosoknya. Ia yang menyadari
telah kuperhatikan pun ikut kaget. Itulah pertemuan pertamaku dengannya.
Sejak saat itu hubungan
kami berdua cukup akrab, sesekali ia datang mengahampiriku untuk bertegur sapa
denganku, lain waktu ia datang untuk menggoyahkan pikiranku. Katanya, semakin
cepat aku ingin pergi dari dunia ini maka ia akan mendapatkan reward dari atasanya. Aku sebenarnya
kurang begitu mengenalnya, yang aku tau ia adalah sesosok pria dengan setelan
jas hitam. Kamu tau komik dengan judul ‘You’re Dark Wings’? Mungkin ia sejenis
tokoh utama pada komik itu, aku tak pernah tau dan tidak berniat untuk
mengetahuinya.
Aku
ini layaknya gadis pingitan yang tak pernah bisa bebas pergi kemana pun aku
mau. Kamu boleh mencemoohku, aku suka pantai, tapi seumur hidupku baru sekali
aku pergi ke pantai, itu pun dengan oleh-oleh menginap di rumah sakit 3 hari. Aku
hanya bisa menikmati keindahan pantai dan laut lepas dari balik layar tv atau i-pad yang diberikan kakak. Jika sudah begini, aku menjadi lelah
sendiri menjalani kehidupan semu yang sama setiap harinya. Satu-satunya hal
yang membuatku bertahan hidup mungkin hanya kemilau mentari di pagi hari,
kebetulan kamar rumah sakit yang kutempati menghadap timur.
Aku
tak mengerti setiap aku lelah, setiap kondisi tubuhku mulai tak bisa kukendalikan
dia akan duduk di tepian jendela rumah sakit, menatapiku penuh maksud. Senang
kah ia jika sudah datang waktuku?
“Hei,
kamu sudah menyerah?” tanyanya tiba-tiba muncul di hadapanku.
“Kata
siapa?” ucapku tak suka ditantang seperti itu.
“Kata
batinmu. Kamu benar-benar tidak ingin tau kapan kamu akan pergi dari sini? Kamu
tidak bosan ada di sini tanpa melakukan aktifitas apapun?” ucapnya mulai memancing
dan mengintimidasiku.
“Aku
tak perlu tau, karena aku tau pasti kapan waktu itu akan datang,” ucapku
percaya diri.
“Oh
ya, kapan?”
“Saat
tak ada yang membutuhkanku lagi di sini. Saat semua orang sudah menyerah untuk
menyelamatkanku,” cerocosku mulai kehilangan kendali. Air mataku pecah, sungguh
aku benar-benar lelah menunggu kematian karena penyakit ginjal yang kuderita
sedari kecil.
“Yang
menentukan itu kamu sendiri, bukan orang lain. Oke, baiklah aku akan membiarkan
kamu sendiri dulu. Jika kamu kesulitan aku tak segan membantu,”
“Tunggu,
kamu bisa membantuku?”
“Yap!”
“Aku
ingin ke pantai,” ucapku akhirnya.
Aku baru saja membaca
artikel tentang pantai di kepulauan Belitung. Jujur aku sangat tertarik untuk
bisa pergi ke sana, sekalipun aku sadar itu hanya sebuah imajinasiku.
“Oke,
besok pagi kamu akan ada di sana, persiapkan dirimu,” kemudian ia menghilang dalam
sekejap tanpa tau aku ingin pergi ke pantai apa.
***
Aku
membuka mata, pagi ini nampak berbeda matahari kuning keemasan memasuki dinding
jendela, aku memandang ke sekeliling ruangan, ini bukan rumah sakit!
“Hey,
kamu sudah bangun? Welcome to Pulau
Lengkuas! Kamu mau ke sini kan?”
“Ini
dimana?” tanyaku masih tak percaya, setahuku tak ada tempat penginapan di Pulau
Lengkuas.
“Di
mercu suar Pulau Lengkuas. Kenapa kamu kaget?”
“Ya,”
kataku terkesima mendapati pemandangan dari balik jendela mercu suar.
Warna pantai percampuran
sky blue dengan ocean blue berpadu dengan matahari pagi
kuning keemasan, sungguh indah. Pohon kelapa tumbuh di sekeliling pantai membentuk
benteng pertahan di pulau ini. Pasir putih menghampar dipadu dengan batu-batu
karang yang cukup besar. Aku bergidik ingin segera bermain air di tepi pantai.
“Aku
boleh ke tepi pantai?” tanyaku padanya.
“Ya
tentu mengapa tidak?” jawabnya.
Aku
menikmati keindahan karunia tuhan yang begitu indah ini. Terima kasih tuhan aku
masih diberikan kesempatan menikmati keindahan ini. Mungkin ini waktu-waktu
terakhirku sebelum pergi ke neraka, layaknya tokoh Kasai dalam komik‘You’re
Dark Wings’ karena meminta bantuan pada mahluk sepertinya, entah ia setan atau
malaikat.
“Hey, ada yang ingin ku
sampai kan padamu,” ucapnya padaku. Aku sudah siap jika dia mengatakan aku
besok harus pergi dari dunia ini atau bahkan detik ini.
“Apa?”
tanyaku tenang.
“Mulai
besok mungkin kamu tidak akan bisa melihatku lagi,” ucapnya.
Aku sudah mulai bisa menduga kemana arah
pembicaraan ini. Aku tak menjawab, siap mendengarkan kalimatnya yang selanjutnya,
Jadi mulai besok aku akan meninggalkan dunia ini?
“Besok, kamu akan
mendapatkan donor ginjal dan keadaamu akan memulih,” ucapnya kemudian
menghilang.
“Nak, kamu sudah
bangun? Ada berita baik untukmu sayang,” suara ibu kemudian terdengar.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar