Rabu, 13 Juni 2012

Pagi Kuning Keemasan


Aku pertama kali melihatnya saat aku mulai putus asa. Ia duduk dipinggiran jendela rumah sakit di bawah sinar matahari sore. Aku kala itu kaget, merasa asing dengan sosoknya. Ia yang menyadari telah kuperhatikan pun ikut kaget. Itulah pertemuan pertamaku dengannya.
Sejak saat itu hubungan kami berdua cukup akrab, sesekali ia datang mengahampiriku untuk bertegur sapa denganku, lain waktu ia datang untuk menggoyahkan pikiranku. Katanya, semakin cepat aku ingin pergi dari dunia ini maka ia akan mendapatkan reward dari atasanya. Aku sebenarnya kurang begitu mengenalnya, yang aku tau ia adalah sesosok pria dengan setelan jas hitam. Kamu tau komik dengan judul ‘You’re Dark Wings’? Mungkin ia sejenis tokoh utama pada komik itu, aku tak pernah tau dan tidak berniat untuk mengetahuinya.
            Aku ini layaknya gadis pingitan yang tak pernah bisa bebas pergi kemana pun aku mau. Kamu boleh mencemoohku, aku suka pantai, tapi seumur hidupku baru sekali aku pergi ke pantai, itu pun dengan oleh-oleh menginap di rumah sakit 3 hari. Aku hanya bisa menikmati keindahan pantai dan laut lepas dari balik layar tv atau i-pad yang diberikan kakak. Jika sudah begini, aku menjadi lelah sendiri menjalani kehidupan semu yang sama setiap harinya. Satu-satunya hal yang membuatku bertahan hidup mungkin hanya kemilau mentari di pagi hari, kebetulan kamar rumah sakit yang kutempati menghadap timur.
            Aku tak mengerti setiap aku lelah, setiap kondisi tubuhku mulai tak bisa kukendalikan dia akan duduk di tepian jendela rumah sakit, menatapiku penuh maksud. Senang kah ia jika sudah datang waktuku?
            “Hei, kamu sudah menyerah?” tanyanya tiba-tiba muncul di hadapanku.
            “Kata siapa?” ucapku tak suka ditantang seperti itu.
            “Kata batinmu. Kamu benar-benar tidak ingin tau kapan kamu akan pergi dari sini? Kamu tidak bosan ada di sini tanpa melakukan aktifitas apapun?” ucapnya mulai memancing dan mengintimidasiku.
            “Aku tak perlu tau, karena aku tau pasti kapan waktu itu akan datang,” ucapku percaya diri.
            “Oh ya, kapan?”
      “Saat tak ada yang membutuhkanku lagi di sini. Saat semua orang sudah menyerah untuk menyelamatkanku,” cerocosku mulai kehilangan kendali. Air mataku pecah, sungguh aku benar-benar lelah menunggu kematian karena penyakit ginjal yang kuderita sedari kecil.
            “Yang menentukan itu kamu sendiri, bukan orang lain. Oke, baiklah aku akan membiarkan kamu sendiri dulu. Jika kamu kesulitan aku tak segan membantu,”
            “Tunggu, kamu bisa membantuku?”
            “Yap!”
            “Aku ingin ke pantai,” ucapku akhirnya.
Aku baru saja membaca artikel tentang pantai di kepulauan Belitung. Jujur aku sangat tertarik untuk bisa pergi ke sana, sekalipun aku sadar itu hanya sebuah imajinasiku.
            “Oke, besok pagi kamu akan ada di sana, persiapkan dirimu,” kemudian ia menghilang dalam sekejap tanpa tau aku ingin pergi ke pantai apa.
***
            Aku membuka mata, pagi ini nampak berbeda matahari kuning keemasan memasuki dinding jendela, aku memandang ke sekeliling ruangan, ini bukan rumah sakit!
            “Hey, kamu sudah bangun? Welcome to Pulau Lengkuas! Kamu mau ke sini kan?”
            “Ini dimana?” tanyaku masih tak percaya, setahuku tak ada tempat penginapan di Pulau Lengkuas.
            “Di mercu suar Pulau Lengkuas. Kenapa kamu kaget?”

            “Ya,” kataku terkesima mendapati pemandangan dari balik jendela mercu suar.
Warna pantai percampuran sky blue dengan ocean blue berpadu dengan matahari pagi kuning keemasan, sungguh indah. Pohon kelapa tumbuh di sekeliling pantai membentuk benteng pertahan di pulau ini. Pasir putih menghampar dipadu dengan batu-batu karang yang cukup besar. Aku bergidik ingin segera bermain air di tepi pantai.
            “Aku boleh ke tepi pantai?” tanyaku padanya.
            “Ya tentu mengapa tidak?” jawabnya.
            Aku menikmati keindahan karunia tuhan yang begitu indah ini. Terima kasih tuhan aku masih diberikan kesempatan menikmati keindahan ini. Mungkin ini waktu-waktu terakhirku sebelum pergi ke neraka, layaknya tokoh Kasai dalam komik‘You’re Dark Wings’ karena meminta bantuan pada mahluk sepertinya, entah ia setan atau malaikat.
“Hey, ada yang ingin ku sampai kan padamu,” ucapnya padaku. Aku sudah siap jika dia mengatakan aku besok harus pergi dari dunia ini atau bahkan detik ini.
            “Apa?” tanyaku tenang.
            “Mulai besok mungkin kamu tidak akan bisa melihatku lagi,” ucapnya.
Aku sudah mulai bisa menduga kemana arah pembicaraan ini. Aku tak menjawab, siap mendengarkan kalimatnya yang selanjutnya, Jadi mulai besok aku akan meninggalkan dunia ini?
“Besok, kamu akan mendapatkan donor ginjal dan keadaamu akan memulih,” ucapnya kemudian menghilang.

“Nak, kamu sudah bangun? Ada berita baik untukmu sayang,” suara ibu kemudian terdengar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar