Matahari mulai turun dan
jingga di ujung senja mulai meredup. Saat itu adalah waktunya aku akan kembali
bekerja. Ini semua kulakukan demi Ahmad
dan kawan-kawannya serta keluarga mereka di rumah yang menanti rezeki dari
usahaku bekerja. Aku melirik sekilas beberapa perahu lainnya yang mulai penuh
dengan penumpang yang ingin makan malam sambil menikmati pemandangan malam sungai
musi di restoran terapung ini.
Aku
menemukan sosok wanita itu kembali di salah satu perahu, restoran terapung. Setiap
malam atau setidaknya saat warna jingga di ujung senja mulai terlihat akan ada wanita
itu duduk di salah satu bangku, menunggu entah siapa. Aku tak pernah tau karena
orang yang ia temui selalu berbeda. Wanita itu nampak sudah berumur namun tetap
berparas cantik. Rambutnya ikal panjang dengan warna kulit putih, bak batu
pualam. Wanita itu sering menggunakan warna baju mencolok dan minim seolah tau
keindahan tubuh yang ia miliki.
Cipratan-cipratan kecil sungai musi menyentuh tubuhku. Ada
seseorang pria mendekat ke arah wanita itu. wanita itu memeluk pria itu mesra,
kejadian ini bukan hal aneh yang sering kulihat dari wanita itu, tak
segan-segan akan ada ciuman-ciuman mesra yang wanita itu lakukan pada banyak
lelaki. Entah lah banyak yang berkata wanita itu, wanita nakal.
***
Jam
2 dini hari pengunjung restoran terapung ini semakin menyusut. Bahkan Ahmad si
nahkoda dapat beristirahat sebentar, berpindah ke perahu lain.
“Bu, pulang bu. Ini sudah
malam. jangan seperti ini terus,” Terdengar suara Ahmad pada seorang wanita.
Loh bukan kah itu wanita berambut ikal
panjang, berkulit putih bak pulam dan memakai baju mencolok dan minim tadi?
Samar-samar terdengar suara wanita itu
membalas perkataan Ahmad.“Diam, kamu! Kamu tau apa?” tanya wanita itu sedikit
mabuk nampaknya.
“Bu sekarang Ahmad sudah
kerja, Bu. Ahmad membawa salah satu perahu restoran terapung ini, bu. Perahu
yang itu bu!” tunjuk Ahmad ke arah ku. “Ibu tak perlu bekerja seperti ini lagi
bu. Ahmad mohon,” ucap Ahmad lagi.
“Diam kamu! Kamu malu punya
ibu seperti ibu? Kamu malu telah hidup bertahun-tahun dari hasil menjajahkan
tubuh ibu keorang lain dari jingga di ujung senja hingga kuning di ufuk timur? Kamu malu, hah?!” tanya wanita itu mulai menangis.
Ahmad kemudian pergi meninggalkan
wanita itu, meninggalkan perahu yang wanita itu singgahi, berpindah dari satu
perahu ke perahu lain untuk menuju ke tempatku. Wajahnya Ahmad memerah menahan
tangis, namun akhirnya air matanya jatuh meleleh juga. Ingin aku memeluk Ahmad
atau setidaknya menghibur agar tak bersedih, tapi apa daya, aku hanya sebuah
kapal tua yang dijadikan restoran terapung di sungai Musi ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar