Kamis, 14 Juni 2012

Jingga di Ujung Senja


Matahari mulai turun dan jingga di ujung senja mulai meredup. Saat  itu adalah waktunya aku akan kembali bekerja.  Ini semua kulakukan demi Ahmad dan kawan-kawannya serta keluarga mereka di rumah yang menanti rezeki dari usahaku bekerja. Aku melirik sekilas beberapa perahu lainnya yang mulai penuh dengan penumpang yang ingin makan malam sambil menikmati pemandangan malam sungai musi di restoran terapung ini.

            Aku menemukan sosok wanita itu kembali di salah satu perahu, restoran terapung. Setiap malam atau setidaknya saat warna jingga di ujung senja mulai terlihat akan ada wanita itu duduk di salah satu bangku, menunggu entah siapa. Aku tak pernah tau karena orang yang ia temui selalu berbeda. Wanita itu nampak sudah berumur namun tetap berparas cantik. Rambutnya ikal panjang dengan warna kulit putih, bak batu pualam. Wanita itu sering menggunakan warna baju mencolok dan minim seolah tau keindahan tubuh yang ia miliki.
Cipratan-cipratan  kecil sungai musi menyentuh tubuhku. Ada seseorang pria mendekat ke arah wanita itu. wanita itu memeluk pria itu mesra, kejadian ini bukan hal aneh yang sering kulihat dari wanita itu, tak segan-segan akan ada ciuman-ciuman mesra yang wanita itu lakukan pada banyak lelaki. Entah lah banyak yang berkata wanita itu, wanita nakal.
***
            Jam 2 dini hari pengunjung restoran terapung ini semakin menyusut. Bahkan Ahmad si nahkoda dapat beristirahat sebentar, berpindah ke perahu lain.
“Bu, pulang bu. Ini sudah malam. jangan seperti ini terus,” Terdengar suara Ahmad pada seorang wanita.

 Loh bukan kah itu wanita berambut ikal panjang, berkulit putih bak pulam dan memakai baju mencolok dan minim tadi?

 Samar-samar terdengar suara wanita itu membalas perkataan Ahmad.“Diam, kamu! Kamu tau apa?” tanya wanita itu sedikit mabuk nampaknya.
“Bu sekarang Ahmad sudah kerja, Bu. Ahmad membawa salah satu perahu restoran terapung ini, bu. Perahu yang itu bu!” tunjuk Ahmad ke arah ku. “Ibu tak perlu bekerja seperti ini lagi bu. Ahmad mohon,” ucap Ahmad lagi.
“Diam kamu! Kamu malu punya ibu seperti ibu? Kamu malu telah hidup bertahun-tahun dari hasil menjajahkan tubuh ibu keorang lain dari jingga di ujung senja hingga kuning di ufuk timur? Kamu malu, hah?!” tanya wanita itu mulai menangis.
Ahmad kemudian pergi meninggalkan wanita itu, meninggalkan perahu yang wanita itu singgahi, berpindah dari satu perahu ke perahu lain untuk menuju ke tempatku. Wajahnya Ahmad memerah menahan tangis, namun akhirnya air matanya jatuh meleleh juga. Ingin aku memeluk Ahmad atau setidaknya menghibur agar tak bersedih, tapi apa daya, aku hanya sebuah kapal tua yang dijadikan restoran terapung di sungai Musi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar