Perubahan
suhu ekstrim terjadi lagi. Kali ini lebih dari yang sebelumnya. Beberapa teman
saya mulai bermigrasi mecari tempat yang lebih aman. Ini gila, hampir semua
penduduk mulai mengungsi demi keselamatan. Namun saya? Saya masih berdoa di sini,
berharap perubahan cuaca tak semakin hebat. Ayah dan kakak sudah bermigrasi
kini tinggal ibu dan sebagian kecil teman-teman masih di sini. Ini gila cuaca
panas kemudian hujan tiba-tiba bermunculan dalam waktu sekejap.
Beberapa
saat kemudian ibu, memberi siyal padaku untuk segera pergi. Saya segera bergegas
pergi dari tempat saya biasa tinggal, mengikuti ibu pergi.
“Bu,
ibu dimana?” saya memberi sinyal, tak ada jawaban. Ini dimana?
Saya
masih berjalan tak tentu arah, mencari teman yang saya kenal. Nihil! pepohonan,
sawah menguning pun kini berganti menjadi beton-beton besar. Berjejer di
sekitar jalan. Ya tuhan ini dimana? Dimana ayah, ibu dan kakak? Selamatkah mereka?
Tunggu,
ini kan? Saya berusaha mengingat-ingat tempat saya berada sekarang nampaknya
kenal. Ah, ya! Ini Malioboro bukan? Saya mengamati keadaan keadaan sekitar,
melakukan orientasi medan seperti yang dulu ayah ajarkan pada saya.
Tak ada yang berubah, suasananya masih ramai,
penuh dengan berbagai manusia. Wajahnya beraneka rupa, rambutnya juga, ada yang
hitam, kuning, coklat. Banyak pedagang baju dan aksesoris menjual dagangannya. Tak
jarang penjual minuman ikut beraksi, menjajahkan es teh manis atau limun segar.
Kanan-kiri di sepanjang ruang jalan Malioboro penuh dengan pembeli dan penjual.
Tak hanya dagadu, dan kerajinan tangan khas Jogja tetapi juga beberapa penjual
bakpia pun terlihat. Di ruas jalan penuh dengan becak atau delman yang lalu lalang membawa pelanggan.
“AAAAAAA,”
jerit seseorang kencang sekali. Dari suara lengkingannya, nampaknya seorang
anak kecil. Ada apa ya? Saya menuju
suara jeritan. Saat saya menghampiri sudah ramai. Saya berusaha maju melihat
apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis kecil tersebut.
“Ibu?”kata
ku sedikit kaget
“Huoa!
Paederus littoralis! Over there! ” kata seseorang berambut kuning menunjuk ke
arah saya.
“Nak,
pergi!” seperti sinyal yang diberikan ayah ketika kami dalam keadaan terdesak. Saya berbalik arah mencari darimana sinyal itu datang, namun telat.
***
“Wah, untung langsung mati seketika
setelah di semprot. Hati-hati, jangan sampai terkena racunnya. Nanti seperti
gadis kecil tadi,”ujar salah satu pedagang asli Malioboro.
Baru kali ini aku berhasil membujuk
Daniel berkunjung ke Indonesia, tapi hari pertama datang sudah diributkan oleh
wabah tomcat. Ada-ada saja! Tapi lucu juga lihat wajah Daniel kewalahan dan
takut melihat binatang sekecil itu. Padahal badannya tinggi besar seperti itu.
Aneh, kenapa binatang itu di sebut-sebut tomcat? Bukannya namanya semut kayap?
dulu aku sering sekali lihat binatang kecil itu di sawah, kenapa sekarang jadi
heboh begitu beritanya?
Notes: Paederus Littoraris = tom cat = semut kayap
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar