Selasa, 19 Juni 2012

Ramai


Perubahan suhu ekstrim terjadi lagi. Kali ini lebih dari yang sebelumnya. Beberapa teman saya mulai bermigrasi mecari tempat yang lebih aman. Ini gila, hampir semua penduduk mulai mengungsi demi keselamatan. Namun saya? Saya masih berdoa di sini, berharap perubahan cuaca tak semakin hebat. Ayah dan kakak sudah bermigrasi kini tinggal ibu dan sebagian kecil teman-teman masih di sini. Ini gila cuaca panas kemudian hujan tiba-tiba bermunculan dalam waktu sekejap.
Beberapa saat kemudian ibu, memberi siyal padaku untuk segera pergi. Saya segera bergegas pergi dari tempat saya biasa tinggal, mengikuti ibu pergi.
“Bu, ibu dimana?” saya memberi sinyal, tak ada jawaban. Ini dimana?
Saya masih berjalan tak tentu arah, mencari teman yang saya kenal. Nihil! pepohonan, sawah menguning pun kini berganti menjadi beton-beton besar. Berjejer di sekitar jalan. Ya tuhan ini dimana? Dimana ayah, ibu dan kakak? Selamatkah mereka?
Tunggu, ini kan? Saya berusaha mengingat-ingat tempat saya berada sekarang nampaknya kenal. Ah, ya! Ini Malioboro bukan? Saya mengamati keadaan keadaan sekitar, melakukan orientasi medan seperti yang dulu ayah ajarkan pada saya.
 Tak ada yang berubah, suasananya masih ramai, penuh dengan berbagai manusia. Wajahnya beraneka rupa, rambutnya juga, ada yang hitam, kuning, coklat. Banyak pedagang baju dan aksesoris menjual dagangannya. Tak jarang penjual minuman ikut beraksi, menjajahkan es teh manis atau limun segar. Kanan-kiri di sepanjang ruang jalan Malioboro penuh dengan pembeli dan penjual. Tak hanya dagadu, dan kerajinan tangan khas Jogja tetapi juga beberapa penjual bakpia pun terlihat. Di ruas jalan penuh dengan becak atau delman yang lalu lalang membawa pelanggan.
“AAAAAAA,” jerit seseorang kencang sekali. Dari suara lengkingannya, nampaknya seorang anak kecil.  Ada apa ya? Saya menuju suara jeritan. Saat saya menghampiri sudah ramai. Saya berusaha maju melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis kecil tersebut.
“Ibu?”kata ku sedikit kaget
“Huoa! Paederus littoralis! Over there! ” kata seseorang berambut kuning menunjuk ke arah saya.
“Nak, pergi!” seperti sinyal yang diberikan ayah ketika kami dalam keadaan terdesak. Saya berbalik arah mencari darimana sinyal itu datang, namun telat.
***
            “Wah, untung langsung mati seketika setelah di semprot. Hati-hati, jangan sampai terkena racunnya. Nanti seperti gadis kecil tadi,”ujar salah satu pedagang asli Malioboro.
            Baru kali ini aku berhasil membujuk Daniel berkunjung ke Indonesia, tapi hari pertama datang sudah diributkan oleh wabah tomcat. Ada-ada saja! Tapi lucu juga lihat wajah Daniel kewalahan dan takut melihat binatang sekecil itu. Padahal badannya tinggi besar seperti itu. Aneh, kenapa binatang itu di sebut-sebut tomcat? Bukannya namanya semut kayap? dulu aku sering sekali lihat binatang kecil itu di sawah, kenapa sekarang jadi heboh begitu beritanya?


Notes: Paederus Littoraris = tom cat = semut kayap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar