Selasa, 26 Juni 2012

Mungkin (Takkan) Ada Lagi



         Hari ini mungkin sama gilanya dengan ide liburan kami berdua ke Misool, Raja Ampat. Ya, hanya kami berdua, aku dan dia. Kebanyakan yang datang ke sini adalah pasangan muda yang siap honeymoon sementara aku dan dia ke sini hanya sebagai teman sekampus. Ah, rasa memang tak ada tempat yang seindah ini. Birunya laut bahkan sudah tak dapat aku gambarkan dengan kata-kata bahkan warna-warninya coral bawah laut pun tak dapat aku deskripsikan dengan rinci.
     Ini, hari terakhir kami di Misool setelah empat hari penuh menjelajahi kepulauan yang ada di Raja Ampat. Hah, sepertinya jika nembak orang di sini bakal manis. Apalagi kalau bisa nembak dia, melting tidak ya? Hahaha, oke nampaknya aku benar-benar tak bisa menahan perasaan ini. Ini sudah bukan jaman Siti Nurbaya kan?

***
“Oke, gak apa-apa. sekarang gue bisa move on dengan tenang, Ka. Makasih udah mau jawab pertanyaan gue,” ucapnya berusaha tersenyum namun ada sebongkah kaca yang tertahan di binar matanya.
Saya tak dapat berkata hanya berusaha tersenyum. Senyum kelu mungkin. Saya lihat sekilas ia menggigit bibirnya.
“Ka, walau lo udah tau perasaan gue. Gue harap gak akan ada yang berubah ya, Ka dari kita. Kita tetep temen kan, Ka? Lo gak akan menjauh dari gue kan?” tanyanya beruntun. Saya kembali menatap gadis di depan saya itu.
Kala itu saya hanya bisa mengangguk. Berusaha menahan perasaan yang saya punya. Hari itu  tak akan pernah saya lupakan. Ketika sebuah kejujuran terungkap. Ketika ia menatap mata saya tajam. Ketika ia menyatakan perasaan, yang tak ia mengerti terhadap saya. Ketika sebuah pernyataan dan pertanyaan terlontar dari bibir kecilnya. Hati ini melengos. Jantung ini berdetak lebih kecang. Sungguh tak pernah ada yang berani menyatakan perasaan kepada saya. Saya pun tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaan saya terhadap orang yang saya cintai.
       Pertanyaan terakhirnya itu kali ini ingin saya tanyakan kembali padanya jika bisa. Nyatanya bukan saya yang menjauh tapi ia yang mulai menjauh dari saya. Tiga bulan yang lalu, masih dapat saya lihat senyum manisnya, ceriwis tawanya. Tapi kini bahkan ia mulai tak tersentuh, tak ada kabar tentangnya lagi. Saya sungguh merindukannya.
     Saya tau, ini memang balasan yang setimpal untuk saya. Dan saya tau, hal yang ia lakukan saat ini benar. Menjauh dari orang yang menolak perasaan adalah hal terampuh bagi seorang wanita untuk dapat move on. Tidak, saya rasa seorang lelaki pun akan melakukan hal yang sama. Walau ia bilang tak akan ada yang berubah. Walau pun ia bilang tak ingin saya menjauh darinya tapi untuk menghapus perasaan memang perlu waktu dan jarak. Mungkin takkan ada lagi saya di hatinya.
***
     Selepas pernyataan gila-ku di Pulau Misool saat itu, tak pernah ada lagi pembicaraan antara aku dan dia. Kami berdua seolah tak saling mengenal bahkan seolah takdir turut mendukung, berbagai kegiatan kampus yang seharusnya bisa ada aku dan dia selalu saja tak terjadi. Aku benar-benar kehilangannya bahkan aku sekarang sangat membencinya untuk alasan yang tak kumengerti? Harga diriku seolah jatuh ketika ia menolakku dengan gamang.
Mungkin memang seharusnya tak akan ada lagi hatiku untuknya. Apalagi sekarang aku telah bersama yang lain. Namun pagi ini setelah hampir berbulan-bulan kami tak saling bertegur sapa. Ada sms dari Yanti, yang menyatakan keadaannya. Keadaan yang tak pernah aku kira sebelumnya hingga memasuki rumah sakit ini. Dia masih terbaring tidur dengan wajah pucat, dan tubuh yang nampak sangat kurus. Penyakit yang dia derita tercetak jelas di plang kasur tempatnya berbaring membuat air mataku jatuh.  

 ***  
Pagi saat saya terbangun saya seperti melihat fatamorgana, ia tertidur di tempat duduk. Ya Tuhan, begitu cinta kah saya padanya? Air mata ini masih jatuh untuknya. Lantunan doa pagi ini masih tentangnya. Saya tau saya jahat. Saya berbohong padanya. Saya memang berusaha mengelak perasaan yang saya punya terhadapnya. Semakin saya mengelak, semakin saya sadar bahwa hati ini memilihnya.
Saya hanya tak ingin menyakitinya. Saya hanya tak ingin membuatnya masuk dalam lingkaran permasalahan hidup saya. Saya tak ingin ia dan calon anaknya kelak mengalami hal yang sama seperti saya. Cukup saya saja yang menderita HIV. Karena itu biarlah ia mengetahui bahwa saya tak pernah memiliki perasaan apapun terhadapnya. Saya hanya ingin ia mendapatkan seseorang yang lebih baik, yang tak memiliki penyakit seperti saya. Ya tuhan, boleh kah saya memohon agar mungkin tak ada lagi dia di hati saya?
*** 

gak ada ide nih.. stuck.. hehehe jadi reblog dari tulisan jaman dulu aja.. yang ini-->  Mungkin Bukan Saya hampura pisan nyak..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar