Senin, 25 Juni 2012

Langit pun Tersenyum





Aku melihat seorang gadis sedang bergemerisik, menyimpulkan kedua tangannya, memejamkan matanya, nampak seperti orang yang sedang berdoa. Ini hari kedua, aku bermalam di pulau ini, pulau yang tak pernah ada di bayanganku sedikitpun. Aku datang ke Sulawesi Tenggara melarikan diri dari pekatnya tugas kuliah, hitamnya penelitian skripsi yang tak juga membuahkan hasil, dan gaduhnya dosen pembimbing yang banyak maunya itu.
‘Salah masuk jurusan kuliah nampaknya!’, anehnya kata-kata tersebut yang terus terungkit di benakku saat ini, setelah tiga setengah tahun kuliah. Dulu tiga tahun yang lalu ketika meyadari bahwa hasratku bukan untuk kuliah di jurusan ini, logikaku terus menyangkal demi uang yang telah di investasikan ayah dan ibuku di jurusan itu. Namun sekarang? bukan kah aku orang yangbenar-benar merugi? Waktu dan investasi dana dua-dunya telah dikerahkan.
Orang terbodoh dan tergila mungkin ya hanya aku. Di tengah kejenuhan yang tak membuahkan hasil, uang untuk penelitian aku gunakan untuk pergi menyendiri ke pulau ini yang jaraknya jutaan kilometer dari tempat tinggalku, tempatku berkuliah hanya untuk melihat biota laut yang katanya sangat indah itu. Namun memang ini nasib orang tak tau diri nampaknya, cuaca dua hari ini sulit ditebak. Pagi tadi nampak cerah namun saat aku bersiap untuk snorkeling angin kencang berhembus.
**
Pagi ini saat aku terbangun melihat gadis itu lagi, ia berdiri di tengah pantai dengan baju putih senada dengan putihnya pasir pantai.  Matahari, kali ini nampak cukup terik, memantulkan cahaya keemasan dari balik air laut yang biru memuda membiaskan sinarnya ke gadis itu. Ya, tuhan indah sekali, dasyat sekali ciptaanmu, pemandangan ini dan gadis itu.
Iseng aku ingin mem-foto gadis itu dari Hp ku. Aku menyalakan Hp dan sedetik kemudian suaranya memekakan telingaku. Gadis itu melihat memandang ke arahku, kemudian tersenyum sekilas. Manis. Oh, tidak! Aku lupa, aku sengaja mematikan Hp-ku dua hari ini untuk menyendiri di sini dan sekarang puluhan sms memenuhi Hp-ku.
Terpaksa aku baca satu-satu sms yang masuk ke Hp-ku dan semuanya hampir tentang masalah penelitianku yang juga belum membuahkan hasil. Enam bulan ya, enam bulan! Dan penelitianku gagal karena rumput laut dari spesies Eucheuma jumlahnya merosot tajam di Bandung. Kalau mau ganti jenis rumput laut pun harus mencari spesies rumput laut dari golongan Rhodophyceae (ganggang merah) dan itu sangat sulit serta mememerlukan penelitian ulang termasuk mengulang usulan penelitian.
Sms teratas datang dari dosen pembimbingku.
 “Radit, untuk jenis spesies Eucheuma coba kamu cari dari Sulawesi Tenggara, kecamatan Wangi-wangi, setahu saya di sana penghasil spesies Eucheuma. Jangan menyerah, saya rasa penelitian tentang karagenan kamu bisa selesai Agustus ini.”
Ini dosen satu menyemangati atau memaksa sih? Agustus? Sekarang saja sudah akhir Juni. Oke, kecamatan Wangi-Wangi itu dimana? PR banget!
“Hei, kamu pelancong ya?” tanya seseorang yang ternyata gadis tadi.
“Iya,” jawabku canggung terkesima dengan kecantikannya.
“Sudah snorkeling di sini?” tanyanya lagi.
“Hari ini rencanya. Dari kemarin cuacanya tak begitu baik,”
“Iya, sudah tiga bulan ini memang tak bisa diduga. Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku mutiara,” ucapnya menyodorkan tangan kanannya
“Radit,” ucapku menjabat tangannya.  “Kamu orang sini? Tau Kecamatan Wangi-Wangi?” tanyaku teringat sms dari dosen pembimbing.
“Hahahaha, kamu tuh lucu deh! Pulau ini tuh termasuk dalam Kecamatan Wangi-Wangi!” tawanya lepas.
“Kamu Serius?” tanyaku nampak antusias tanpa sadar menggenggam pundaknya.
Ia nampak salah tingkah. “Memangnya ada apa?”
“Aku sedang mencari rumput laut spesies Eucheuma untuk penelitianku tentang karagen. Di daerahku tinggal harganya tinggi, 1 kilo bisa sampai 12ribu dan sekarang sangat minim. Katanya di sini tumbuh banyak spesies itu,”
“Ah, benarkah itu? apa kamu berniat memborong rumput laut di desa kami ini?” kini giliran dirinya nampak antusias.
“Mungkin, jika ada spesies Eucheuma dan harganya tidak lebih dari 8ribu,”
“Di sini ada banyak, akan kutemani jika kamu ingin,” ucapnya sambil tersenyum menenangkan kegundahanku beberapa minggu ini. Aku memandang suasana Wakotabi pagi hari. Langit pun tersenyum.
***
“angin kencang berhembus lagi. Sudah tiga bulan ini selalu seperti ini, membuat resah masyarakat di Wakatobi yang bermata pencarian budidaya rumput laut. Belum lagi harga rumput laut yang terus merosot tajam dari tengkulak. Ya, tuhan bagaimana nasib kami?” pertanyaan itu masih saya panjatkan pagi ini ke Tuhan dan secepat itu pula Tuhan membawa lelaki ini memberikan jawaban atas doa saya. Hari ini begitu cerah dan langit pun nampak tersenyum. Semoga angin kencang cepat behenti ya Tuhan.”


Keterangan:
Karagenan adalah getah rumput laut yang diperoleh dari hasil ekstraksi rumput laut merah dengan menggunakan air panas (hot water) atau larutan alkali pada temperatur tinggi. karagenan dapat dibuat tepung dengan fungsi sebagai stabilizer, thickener, gelling agent, aditif atau komponen tambahan dalam pembuatan coklat, susu, pudding, susu instan, makanan kaleng dan roti.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar