
Aku
melihat seorang gadis sedang bergemerisik, menyimpulkan kedua tangannya,
memejamkan matanya, nampak seperti orang yang sedang berdoa. Ini hari kedua, aku
bermalam di pulau ini, pulau yang tak pernah ada di bayanganku sedikitpun. Aku
datang ke Sulawesi Tenggara melarikan diri dari pekatnya tugas kuliah, hitamnya
penelitian skripsi yang tak juga membuahkan hasil, dan gaduhnya dosen
pembimbing yang banyak maunya itu.
‘Salah masuk jurusan kuliah
nampaknya!’, anehnya kata-kata tersebut yang terus terungkit di benakku saat ini, setelah
tiga setengah tahun kuliah. Dulu tiga tahun yang lalu ketika meyadari bahwa
hasratku bukan untuk kuliah di jurusan ini, logikaku terus menyangkal demi uang
yang telah di investasikan ayah dan ibuku di jurusan itu. Namun sekarang? bukan
kah aku orang yangbenar-benar merugi? Waktu dan investasi dana dua-dunya telah
dikerahkan.
Orang
terbodoh dan tergila mungkin ya hanya aku. Di tengah kejenuhan yang tak
membuahkan hasil, uang untuk penelitian aku gunakan untuk pergi menyendiri ke pulau
ini yang jaraknya jutaan kilometer dari tempat tinggalku, tempatku berkuliah
hanya untuk melihat biota laut yang katanya sangat indah itu. Namun memang ini
nasib orang tak tau diri nampaknya, cuaca dua hari ini sulit ditebak. Pagi tadi
nampak cerah namun saat aku bersiap untuk snorkeling
angin kencang berhembus.
**
Pagi
ini saat aku terbangun melihat gadis itu lagi, ia berdiri di tengah pantai
dengan baju putih senada dengan putihnya pasir pantai. Matahari, kali ini nampak cukup terik,
memantulkan cahaya keemasan dari balik air laut yang biru memuda membiaskan
sinarnya ke gadis itu. Ya, tuhan indah sekali, dasyat sekali ciptaanmu, pemandangan
ini dan gadis itu.
Iseng
aku ingin mem-foto gadis itu dari Hp ku. Aku menyalakan Hp dan sedetik kemudian
suaranya memekakan telingaku. Gadis itu melihat memandang ke arahku, kemudian tersenyum
sekilas. Manis. Oh, tidak! Aku lupa,
aku sengaja mematikan Hp-ku dua hari ini untuk menyendiri di sini dan sekarang
puluhan sms memenuhi Hp-ku.
Terpaksa
aku baca satu-satu sms yang masuk ke Hp-ku dan semuanya hampir tentang masalah
penelitianku yang juga belum membuahkan hasil. Enam bulan ya, enam bulan! Dan penelitianku
gagal karena rumput laut dari spesies Eucheuma jumlahnya
merosot tajam di Bandung. Kalau mau ganti jenis rumput laut pun harus mencari
spesies rumput laut dari golongan Rhodophyceae
(ganggang merah) dan itu sangat sulit serta mememerlukan penelitian ulang
termasuk mengulang usulan penelitian.
Sms teratas datang dari dosen pembimbingku.
“Radit, untuk jenis spesies
Eucheuma coba kamu cari dari Sulawesi Tenggara, kecamatan
Wangi-wangi, setahu saya di sana penghasil spesies Eucheuma. Jangan menyerah, saya rasa penelitian tentang karagenan
kamu bisa selesai Agustus ini.”
Ini dosen satu menyemangati atau memaksa sih? Agustus? Sekarang
saja sudah akhir Juni. Oke, kecamatan Wangi-Wangi itu dimana? PR banget!
“Hei, kamu pelancong ya?” tanya seseorang yang ternyata gadis
tadi.
“Iya,” jawabku canggung terkesima dengan kecantikannya.
“Sudah snorkeling di
sini?” tanyanya lagi.
“Hari ini rencanya. Dari kemarin cuacanya tak begitu baik,”
“Iya, sudah tiga bulan ini memang tak bisa diduga. Oh ya,
kita belum berkenalan. Namaku mutiara,” ucapnya menyodorkan tangan kanannya
“Radit,” ucapku menjabat tangannya. “Kamu orang sini? Tau Kecamatan Wangi-Wangi?”
tanyaku teringat sms dari dosen pembimbing.
“Hahahaha, kamu tuh lucu deh! Pulau ini tuh termasuk dalam
Kecamatan Wangi-Wangi!” tawanya lepas.
“Kamu Serius?” tanyaku nampak antusias tanpa sadar
menggenggam pundaknya.
Ia nampak salah tingkah. “Memangnya ada apa?”
“Aku sedang mencari rumput laut spesies Eucheuma untuk penelitianku tentang karagen. Di daerahku tinggal harganya
tinggi, 1 kilo bisa sampai 12ribu dan sekarang sangat minim. Katanya di sini
tumbuh banyak spesies itu,”
“Ah, benarkah itu? apa kamu berniat memborong rumput laut di
desa kami ini?” kini giliran dirinya nampak antusias.
“Mungkin, jika ada spesies Eucheuma dan harganya tidak lebih dari 8ribu,”
“Di sini ada banyak, akan kutemani jika kamu ingin,” ucapnya
sambil tersenyum menenangkan kegundahanku beberapa minggu ini. Aku memandang
suasana Wakotabi pagi hari. Langit pun tersenyum.
***
“angin kencang berhembus lagi. Sudah
tiga bulan ini selalu seperti ini, membuat resah masyarakat di Wakatobi yang
bermata pencarian budidaya rumput laut. Belum lagi harga rumput laut yang terus
merosot tajam dari tengkulak. Ya, tuhan bagaimana nasib kami?” pertanyaan
itu masih saya panjatkan pagi ini ke Tuhan dan secepat itu pula Tuhan membawa
lelaki ini memberikan jawaban atas doa saya. Hari ini begitu cerah dan langit
pun nampak tersenyum. Semoga angin
kencang cepat behenti ya Tuhan.”
Keterangan:
Karagenan
adalah getah rumput laut yang diperoleh dari hasil ekstraksi rumput laut merah
dengan menggunakan air panas (hot water) atau larutan alkali pada temperatur
tinggi. karagenan dapat dibuat tepung dengan fungsi sebagai stabilizer,
thickener, gelling agent, aditif atau komponen tambahan dalam pembuatan coklat,
susu, pudding, susu instan, makanan kaleng dan roti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar