Ternyata,
berkeliling Indonesia membuatku sadar, tidak hanya pantai yang aku suka, hampir
seluruh wilayah Indonesia memiliki sejuta kenangan bagiku, terutama
wilayah-wilayah pariwisatanya. Seperti hari aku berada di kota Surabaya, di old
town area menikmati keindahan budaya Indonesia, sendiri. Ah, aku benar-benar
cinta Indonesia!
Hey,
jangan berpikir aku ini wanita tangguh, yang berani keliling Indonesia
sendiriian! Hanya perlu modal nekat sebenarnya kalau kamu mau mejelajah
keliling Indonesia dan jujur aku ini wanita pengecut dengan berbagai peraturan
kolot dari bu serta wejangan-wejangan panjang setiap aku pergi darinya. Ya, itu,
ibu masih saja menganggap penyakitku akan kambuh lagi, jadi hampir setiap saat
ibu akan mengecekku lewat telepon dan sms. Aku dulu sempat gagal ginjal namun mendapatkan
donor ginjal 7 tahun yang lalu, sejak saat itu penyakitku tak pernah kambuh
lagi.
Sekilas
bagunan tua-bagunan tua di area old town
ini nampaknya mirip sekali dengan kota tua di Jakarta. Namun banyak sekali perbedaannya
jika kamu perhatikan lebih detail. Jika di Jakarta kota tua di dukung dengan
banyaknya museum-museum seperti museum wayang dan museum fatahilah maka di old
town area Surabaya kamu akan benar-benar disuguhkan bagunan-bangunan tua
bergaya Eropa klasik. Banyak bagunan-bangunan bersejarah di Old town area yang terletak dibilangan
Surabaya Utara ini, misalnya Jalan
Rajawali, Kembang Jepun, Tunjungan, Veteran dan Pahlawan, Masjid Tua Sunan
Ampel, Masjid Merah Cheng Hoo, Hotel Majapahit dan Jembatan Merah.
Surabaya
merupakan salah satu kota pelabuhan zaman penjajahan Belanda dan old town area
merupakan saksi bisu dari perkembangan kota Surabaya. Berada di sini, membuatku
seolah-olah pernah tinggal di jaman penjajahan. Mendengar cerita-cerita dari
masyarakat setempat membuatku semakin ingin mengetahui seluk–beluk Surabaya
Timur ini, sambil mengingat-ingat pelajaran SD. Terbayarlah perjalanan kali ini
dengan teriknya kota Surabaya Ini.
Ada yang special hari ini, aku akan akan betemu Nanda, teman SD ku dulu yang pindah ke Surabaya selepas lulus SD. Ya, tuhan apa kabar ya dia? Masih seceriwis dulu kah? Atau sekarang sudah menjadi lelaki maskulin dan pendiam? Atau jangan-jangan dia sekarang sudah punya istri? Hahaha. Aku menunggunya di Masjid Tua Sunan Ampel sambil melihat makam wali songo.
Ada yang special hari ini, aku akan akan betemu Nanda, teman SD ku dulu yang pindah ke Surabaya selepas lulus SD. Ya, tuhan apa kabar ya dia? Masih seceriwis dulu kah? Atau sekarang sudah menjadi lelaki maskulin dan pendiam? Atau jangan-jangan dia sekarang sudah punya istri? Hahaha. Aku menunggunya di Masjid Tua Sunan Ampel sambil melihat makam wali songo.
Panas
terik nampaknya mengalahkan segalanya ya? Hah, mana si Nanda? Kenapa belum
datang-datang juga? Aduh, mana haus lagi. Boleh kali ya, aku sekarang beli
minum di luar dulu? Aku kemudian mencari pedagang asongan yang menjual minuman.
Mmm, dimana ya? Hah, itu dia, ketika kulihat ada sebuah warung di sudut jalan
raya. Aku bergegas menyebrang mumpung tak ada kendaraan yang lewat.
Samar-samar
kulihat seseorang yang nampaknya kukenal, kemudian secepat kilat ia
menghampiriku. Ia menggunakan setelan jas hitam.
“Hai,
aku kembali,” ia kemudian menyapaku.
“MIA!!!!!!!”
Jerit seseorang memanggilku dari arah berlawanan.
***
Saya tertegun, melihat Mia, teman SD
saya tertabrak mobil. Badannya terpelanting jauh. kemudian jatuh menghempas di
bawah aspal jalanan. Secepat kilat itu juga kepalanya beradu dengan aspal. Darah
kemudian mengalir cepat dari arah kepalanya, secepat itu pula kemudian airmata
saya menetes tanpa sebab.
cerita sebelumnya : pagi kuning keemasan
notes:
kematian itu rahasia ilahi, suratan takdir. jadi kalau kamu di vonis punya penyakit keras jangan menyerah. toh bukan hanya karena penyakit keras kamu bisa meninggal. bahkan orang yang sehat alfiat pun bisa saja meninggal besok
Tidak ada komentar:
Posting Komentar