Kamis, 21 Juni 2012

Aku Kembali


Ternyata, berkeliling Indonesia membuatku sadar, tidak hanya pantai yang aku suka, hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki sejuta kenangan bagiku, terutama wilayah-wilayah pariwisatanya. Seperti hari aku berada di kota Surabaya, di old town area menikmati keindahan budaya Indonesia, sendiri. Ah, aku benar-benar cinta Indonesia!
Hey, jangan berpikir aku ini wanita tangguh, yang berani keliling Indonesia sendiriian! Hanya perlu modal nekat sebenarnya kalau kamu mau mejelajah keliling Indonesia dan jujur aku ini wanita pengecut dengan berbagai peraturan kolot dari bu serta wejangan-wejangan panjang setiap aku pergi darinya. Ya, itu, ibu masih saja menganggap penyakitku akan kambuh lagi, jadi hampir setiap saat ibu akan mengecekku lewat telepon dan sms. Aku dulu sempat gagal ginjal namun mendapatkan donor ginjal 7 tahun yang lalu, sejak saat itu penyakitku tak pernah kambuh lagi.
Sekilas bagunan tua-bagunan tua di area old town ini nampaknya mirip sekali dengan kota tua di Jakarta. Namun banyak sekali perbedaannya jika kamu perhatikan lebih detail. Jika di Jakarta kota tua di dukung dengan banyaknya museum-museum seperti museum wayang dan museum fatahilah maka di old town area Surabaya kamu akan benar-benar disuguhkan bagunan-bangunan tua bergaya Eropa klasik. Banyak bagunan-bangunan bersejarah di  Old town area yang terletak dibilangan Surabaya Utara ini, misalnya  Jalan Rajawali, Kembang Jepun, Tunjungan, Veteran dan Pahlawan, Masjid Tua Sunan Ampel, Masjid Merah Cheng Hoo, Hotel Majapahit  dan   Jembatan Merah.
Surabaya merupakan salah satu kota pelabuhan zaman penjajahan Belanda dan old town area merupakan saksi bisu dari perkembangan kota Surabaya. Berada di sini, membuatku seolah-olah pernah tinggal di jaman penjajahan. Mendengar cerita-cerita dari masyarakat setempat membuatku semakin ingin mengetahui seluk–beluk Surabaya Timur ini, sambil mengingat-ingat pelajaran SD. Terbayarlah perjalanan kali ini dengan teriknya kota Surabaya Ini.
Ada yang special hari ini, aku akan akan betemu Nanda, teman SD ku dulu yang pindah ke Surabaya selepas lulus SD. Ya, tuhan apa kabar ya dia? Masih seceriwis dulu kah? Atau sekarang sudah menjadi lelaki maskulin dan pendiam? Atau jangan-jangan dia sekarang sudah punya istri? Hahaha. Aku menunggunya di Masjid Tua Sunan Ampel sambil melihat makam wali songo.
Panas terik nampaknya mengalahkan segalanya ya? Hah, mana si Nanda? Kenapa belum datang-datang juga? Aduh, mana haus lagi. Boleh kali ya, aku sekarang beli minum di luar dulu? Aku kemudian mencari pedagang asongan yang menjual minuman. Mmm, dimana ya? Hah, itu dia, ketika kulihat ada sebuah warung di sudut jalan raya. Aku bergegas menyebrang mumpung tak ada kendaraan yang lewat.
Samar-samar kulihat seseorang yang nampaknya kukenal, kemudian secepat kilat ia menghampiriku. Ia menggunakan setelan jas hitam.
“Hai, aku kembali,” ia kemudian menyapaku.
“MIA!!!!!!!” Jerit seseorang memanggilku dari arah berlawanan.

***
            Saya tertegun, melihat Mia, teman SD saya tertabrak mobil. Badannya terpelanting jauh. kemudian jatuh menghempas di bawah aspal jalanan. Secepat kilat itu juga kepalanya beradu dengan aspal. Darah kemudian mengalir cepat dari arah kepalanya, secepat itu pula kemudian airmata saya menetes tanpa sebab.


cerita sebelumnya : pagi kuning keemasan

notes: 
kematian itu rahasia ilahi, suratan takdir. jadi kalau kamu di vonis punya penyakit keras jangan menyerah. toh bukan hanya karena penyakit keras kamu bisa meninggal. bahkan orang yang sehat alfiat pun bisa saja meninggal besok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar