Aku menemukanmu
sedang terduduk di salah satu toko batik, entah di daerah mana. Dua hari
mengikutimu bukan hal yang mudah bagiku. Ya, dua hari benar-benar ku follow akun twittermu, karena hanya dari
situ lah aku dapat melacakmu. Melacak mu dari tweet-tweet mu melalui media foursquare,
hanya untuk sekadar chek in
keberadaanmu. Kebiasaanmu dari dulu saat
sedang emosi tak pernah berubah. Selalu saja menghilang. Menghilang dalam
hitungan minggu membuat panik orang tuamu bahkan guru-guru di sekolah. Aku
paling tau hobimu saat ingin menenangkan diri yaitu, pergi mengembara tanpa
tujuan atau se-cone ice cream vanilla.
Menemukanmmu di
sini, entah pasar apa, kalau tidak salah Klewer namanya, terasa lebih mudah
dengan adanya twittermu. Apa lagi kamu sering chek in tempat. Sudah ke-8 kalinya kamu chek in selama dua hari ini di beberapa daerah Jawa Tengah, namun
baru kali ini aku berhasil memburumu, bermain mengejar waktu. Sebelum kamu
menghilang selalu saja ada sms minta maaf darimu entah untuk apa, sudah begitu
aku paling tau kamu sedang ada masalah.
Seperti pagi
itu, ketika sebuah sms-mu masuk dan seperkian menit ada satu panggilan masuk
dari Rena. Kamu itu ya, kamu. Selalu saja saklek, selalu saja mau menang
sendiri, bahkan kekalahan orang lain selalu kamu anggap ajang kompetisi bagimu.
Kamu itu selalu ingin bercanda, di duniamu tak ada keseriusan, selalu saja
main, main. oh, tentu kecuali soal kedisiplinan menurutmu itu prinsip hidup.
Keisenganmu dan becanda-becandamu kadang menimbulkan amarah bagi orang lain,
seperti pagi itu ketika Rena menceritakan semuanya.
Siapa juga yang
tidak marah, ketika pacarnya digombalin oleh teman dekatnya sendiri. Itu
mungkin perasaan Rena saat mendampratmu. Mungkin gombalanmu hanya bercanda dan
hal itu sering kamu lakukan random kepada semua teman-temen priamu, seperti
juga padaku.
“Lin,”
panggilku akhirnya enggan bermain petak upet lagi dengannya. Aku bawakan jajan
pasar yang tadi di bawa bapak-bapak tua. Serabi Solo namanya. Masih hangat saat
ku genggan dalam sebuah plastic, aku tau betuk kamu pasti belum makan, sedari
malam.
“Suf?
Lagi?” tanyamu seolah bosan, saat melihatku dapat menemukanmu di pasar ini.
“Yap,”
jababku singkat.
“Pulang
sana. gue gak mau nangis!” katamu. Ini selalu jadi dialog pembuka saat aku
berhasil menemukanmu dan sebelum air matamu jatuh.
“Ini.
Maaf ya gak ada ice cone vanilla,” ucapku memeberinya sebungkus Serabi Solo.
Kamu
menerimanya. Kemudian membuka plastik
siap memakannya.
“Kenapa
gak nangis. Biasanya kamu nangis?” tanyaku padamu.
Kamu
melirikku sekilas, kemudian terpaku kembali pada serabi Solo, meninggalkanku
dalam diam.
“Soalnya
udah ada kamu yang sehangat serabi Solo,” senyummu mengembang, manis sekali.
Menimbulkan hasrat hati yang telah lama kupendam padamu. Bagaimana mungkin Rena
tak cemburu? Kalau senyummu saja sudah bisa menggetarkan hati seorang lelaki?
“Ah, kenapa sih lo, setiap gue gombalin malah diem kayak gitu? Cupu ih!”
“Iya,
nama gue emang cupu , tapi ‘U’ nya di depan bukan di belakang,” kataku enggan
berdebat denganmu.
“Hahahaha,
lo tuh ya, nama bagus-bagus Yusup, mau aja di panggil Ucup?”
“Nama
gue pake ‘F’ om, bukan ‘P’ gue kan bukan orang Sunda,” ucapku sedikt SARA.
‘”Tuh,
kan bohong lagi! Nama lo kan pake ‘P’ bukan ‘F’!”
Jujur
aku paling malas berdebat dengan kamu, sudah pasti kamu yang menang. Jadi kukeluarkan
saja KTP ku, agar tak terjadi perdebatan panjang.
“Hus,
ngapain lo keluarin dompet?”
“Mau
nunjukin KTP gue biar lo percaya,”
“Hahaha,
udah gak usah di keluarin,” ucapnya dengan nada serius." Bagi aku nama kamu ya,
Yusup, soalnya soalnya kamu bisa men-Yusup dihatiku,” ucapmu sambil tersipu
malu seolah meyakinkan kata-katamu. Seperkian detik kemudian wajah isengmu muncul. Mungkin sikapmu memang
sedingin kutub selatan namun keisenganmu terkadang sehangat Serabi Solo.

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar