Minggu, 17 Juni 2012

Sehangat Serabi Solo


Aku menemukanmu sedang terduduk di salah satu toko batik, entah di daerah mana. Dua hari mengikutimu bukan hal yang mudah bagiku. Ya, dua hari benar-benar ku follow akun twittermu, karena hanya dari situ lah aku dapat melacakmu. Melacak mu dari tweet-tweet mu melalui media  foursquare, hanya untuk sekadar chek in keberadaanmu.  Kebiasaanmu dari dulu saat sedang emosi tak pernah berubah. Selalu saja menghilang. Menghilang dalam hitungan minggu membuat panik orang tuamu bahkan guru-guru di sekolah. Aku paling tau hobimu saat ingin menenangkan diri yaitu, pergi mengembara tanpa tujuan atau se-cone ice cream  vanilla.

Menemukanmmu di sini, entah pasar apa, kalau tidak salah Klewer namanya, terasa lebih mudah dengan adanya twittermu. Apa lagi kamu sering chek in tempat. Sudah ke-8 kalinya kamu chek in selama dua hari ini di beberapa daerah Jawa Tengah, namun baru kali ini aku berhasil memburumu, bermain mengejar waktu. Sebelum kamu menghilang selalu saja ada sms minta maaf darimu entah untuk apa, sudah begitu aku paling tau kamu sedang ada masalah.
Seperti pagi itu, ketika sebuah sms-mu masuk dan seperkian menit ada satu panggilan masuk dari Rena. Kamu itu ya, kamu. Selalu saja saklek, selalu saja mau menang sendiri, bahkan kekalahan orang lain selalu kamu anggap ajang kompetisi bagimu. Kamu itu selalu ingin bercanda, di duniamu tak ada keseriusan, selalu saja main, main. oh, tentu kecuali soal kedisiplinan menurutmu itu prinsip hidup. Keisenganmu dan becanda-becandamu kadang menimbulkan amarah bagi orang lain, seperti pagi itu ketika Rena menceritakan semuanya.
Siapa juga yang tidak marah, ketika pacarnya digombalin oleh teman dekatnya sendiri. Itu mungkin perasaan Rena saat mendampratmu. Mungkin gombalanmu hanya bercanda dan hal itu sering kamu lakukan random kepada semua teman-temen priamu, seperti juga padaku.
                “Lin,” panggilku akhirnya enggan bermain petak upet lagi dengannya. Aku bawakan jajan pasar yang tadi di bawa bapak-bapak tua. Serabi Solo namanya. Masih hangat saat ku genggan dalam sebuah plastic, aku tau betuk kamu pasti belum makan, sedari malam.

                “Suf? Lagi?” tanyamu seolah bosan, saat melihatku dapat menemukanmu di pasar ini.
                “Yap,” jababku singkat.
                “Pulang sana. gue gak mau nangis!” katamu. Ini selalu jadi dialog pembuka saat aku berhasil menemukanmu dan sebelum air matamu jatuh.
                “Ini. Maaf ya gak ada ice cone vanilla,” ucapku memeberinya sebungkus Serabi Solo.
                Kamu menerimanya.  Kemudian membuka plastik siap memakannya.
                “Kenapa gak nangis. Biasanya kamu nangis?” tanyaku padamu.
                Kamu melirikku sekilas, kemudian terpaku kembali pada serabi Solo, meninggalkanku dalam diam.
                “Soalnya udah ada kamu yang sehangat serabi Solo,” senyummu mengembang, manis sekali. Menimbulkan hasrat hati yang telah lama kupendam padamu. Bagaimana mungkin Rena tak cemburu? Kalau senyummu saja sudah bisa menggetarkan hati seorang lelaki? “Ah, kenapa sih lo, setiap gue gombalin malah diem kayak gitu? Cupu ih!”
                “Iya, nama gue emang cupu , tapi ‘U’ nya di depan bukan di belakang,” kataku enggan berdebat denganmu.
                “Hahahaha, lo tuh ya, nama bagus-bagus Yusup, mau aja di panggil Ucup?”
                “Nama gue pake ‘F’ om, bukan ‘P’ gue kan bukan orang Sunda,” ucapku sedikt SARA.
                ‘”Tuh, kan bohong lagi! Nama lo kan pake ‘P’ bukan ‘F’!”              
                Jujur aku paling malas berdebat dengan kamu, sudah pasti kamu yang menang. Jadi kukeluarkan saja KTP ku, agar tak terjadi perdebatan panjang.
                “Hus, ngapain lo keluarin dompet?”
                “Mau nunjukin KTP gue biar lo percaya,”
                “Hahaha, udah gak usah di keluarin,” ucapnya dengan nada serius." Bagi aku nama kamu ya, Yusup, soalnya soalnya kamu bisa men-Yusup dihatiku,” ucapmu sambil tersipu malu seolah meyakinkan kata-katamu. Seperkian detik kemudian  wajah isengmu muncul. Mungkin sikapmu memang sedingin kutub selatan namun keisenganmu terkadang sehangat Serabi Solo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar