Sore itu Anila sedang menunggu teman lamanya sambil menikmati pemandangan Toba di sore hari, di salah satu kamar hotel, di Pulau Samosir. Sudah seminggu ini ia berpetualang, menjamah seluruh wilayah di Sumatra Utara. Destini terakhirnya ya di sini di salah satu hotel di Pulau Samosir. Tujuan Anila tidak lain untuk menemui teman lamanya Friska sekaligus menikmati keindahan alam di Pulau Samosir berikut keindahan danau Toba. Oleh karena itu Anila sengaja memesan kamar hotel yang langsung menghadap Danau Toba. Friska adalah salah satu teman kecilnya Anila yang saat ini bekerja di Pulau Samosir.
Tadi
pagi saat berjalan-jalan menikmati keindahan Danau Toba Anila bertabrakan dengan
seorang pria manis. Namanya Daniel. Gayanya yang sangat sopan membuat Anila
yakin untuk mengadakan pertemuan kedua dengan Daniel. Anila tak sabar untuk
mencerikatakan hal ini pada Friska.
Bel
kamar hotel berbunyi tanda ada seorang tamu di luar kamar hotel. Anila memastikan
siapa tamu yang hadir dari lensa kecil pintuk kamar hotelnya. Ada seseorang berkerudung
merah, menunggu di luar, tanpa memperlihatkan wajahnya. Anila yakin sekali itu adalah
Friska. Sedari kecil Friska sangat suka dengan cerita gadis berkerudung merah
bahkan dulu Frika selalu menyampirkan selendang merah milik mamahnya untuk di kerudungkan
di kepalanya. Anila tak menyangka kebiasaan Friska sedari kecil itu masih ia
bawa-bawa hingga sekarang.
Anila,
membuka kunci dan mengayunkan tuas pintu siap memeluk Friska untuk melepas rindu.
“Hmmmp,
hmmp,”
***
Anila membuka mata dia berada dalam
keadaan berbaring. Tangan kirinya beralih memegang pelipisnya, kepalanya terasa
berat.
“Hai, gadis manis. Sudah bangun
sayang?” temanmu sudah habis kita nikmati. Sekarang kamu mau kami nikmati dulu
atau kamu mau menikmati tubuh temanmu kami potong satu-satu?” tanya salah seseorang
dari 3 lelaki yang sekarang hadir di depan Anila.
Anila bergedik ngeri, masih bingung apa yang
sedang terjadi. Tak jauh darinya terdapat Friska yang tak sadarkan diri dengan
tubuh hanya berbalut selendang merahnya. Salah satu dari ketiga lelaki itu
memegang gergaji, ada pula yang memegang peralatan seperti peralatan operasi.
“Hey,
jawab pertanyaan kami. Sepertinya kamu lebih suka untuk dinikmati oleh kami ya?”
ujar seseorang lainnya yang tak memegang apapun di tangannya.
Anila
memandangi tubuhnya kini bahkan tak berbalut apapun. Apa yang sebenarnya
terjadi? Anila bingung dan takut apa dengan jawaban apa yang harus ia jawab,
sementara dirinya sangat malu karena kini tak mengenakan pakaian sedikit pun. Anila berusaha
mencari jalan keluar, namun ia baru menyadari tangan kirinya dan kakinya
diikat. Anila pun tak tau di ada di mana sekarang. Tiba-tiba muncul Daniel dari
balik pintu. Daniel memberikan isyarat agar Anila tetap diam.
Daniel
menghantam ketiga lelaki itu dari belakang dan mereka pun tumbang. Daniel
memeluk Anila berusaha menenangkan Anila. Anila balik memeluk Daniel kuat,
timbul rasa tenang dan ketakutan Anila pun berkurang.
“Tenang
sekarang kamu aman,” ujar Daniel menepuk-nepuk pundak Anila, belum melepaskan
pelukannya. “Hey, apa yang kalian lakukan, tolol! Cepat mutilasi gadis itu dan
ambil organ tubuh dalamnya! Jangan lupa, gadis ini juga!” ucap Daniel
melepaskan pelukannya dari Anila, kemudian tersenyum menyeringai. Anila tak
pernah tau Danau Toba akan benar-benar menjadi destinasi terakhir hidupnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar