Senin, 18 Juni 2012

Biru, Jatuh Hati


 “Hua!!! indah banget!” makasih ya Van!” ucap Rinta tiba-tiba memeluk saya.
Tangannya memeluk punggung saya, menarik sepertiga bagian lengan bajunya. Saya kaget namun tak tau harus perbuat apa, tiba-tiba dipeluk seperti ini. Nampaknya Rinta kesenangan karena ide gilanya pergi ke Pangandaran berhasil. Ya, saya menjadi korban atas ide gilanya dengan alasan ini kado ulang tahun saya. Gila, ya dari Bandung bisa sampai ke Ciamis.
Saya berusaha mengalihkan pemandangan. Siang ini udara cukup terik, langit biru saling bertautan dengan latar Pantai Pangandaran ini. Hijaunya pepohonan. Warna-warninya perahu nelayan dan putihnya pasir membuat perpaduan warna yang cukup indah karya maestro bumi ini, tuhan. Rinta masih belum melepas pelukannya dan jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang. Entah ini perasaan normal seorang lelaki karena dipeluk seorang wanita atau ini rasa hati saya?

Pagi tadi tiba-tiba Rinta hadir. Tak ada ceplokan telur atau pun taburan tepung di wajah saya. Rinta hanya membawa se-cup kecil tiramisu. Sambil berkata “Selamat ulang tahun!” dengan senyum sumringahnya. Rinta senior di kampus, yang bisa dibilang tidak begitu akrab kecuali kami satu organisasi di Paguyuban teather, tiba-tiba datang ke rumah memberi saya surprise. Biasanya selalu ada Ami yang datang lebih pagi mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Ah, lagi-lagi nama wanita itu yang saya sebut. Hey, dia sudah punya Akbar, Van!
Belum sempat saya, menginterupsi pelukan Rinta yang saya rasa hampir lima menit lebih. Saya menemukan keganjilan. Sepertiga lengan kiri Rinta yang tak terbungkus baju karena memeluk saya, berwarna kebiruan, saya mengalihkan pandangan ke lengan kanannya, sama.
                “Teh, kenapa lengan kamu biru-biru gitu?” tanya saya sedikit takut jangan-jangan yang memeluk saya ini bukan Rinta tapi alien, daya hayal saya mulai bekerja.
                Rinta sesegera mungkin memelepaskan lingkaran tangannya dari pundak saya.
                “Ah, perasaan lo kali. pasti abis liat langit atau pantai, makanya bias warna birunya sampe lo liat di tangan gue,” kata Rinta sambil menunjuk-nunjuk ke arah langit kemudian pantai dengan lengan kirinya dan lengan kanannya masih bertengger di pundak saya.
                “Tangan Teteh kok masih di pundak saya?” tanya saya sedikit kebingungan.
                “Hua, maaf, maaf!” kata Rinta menarik paksa lengan kanannya menggunakan lengan kirinya. Aneh!
                “Jadi masih mau merekrut saya ke Pulai Panunjung?” tanya saya memecahkan keheningan.
                “Mau lah! kan kado ulang tahun buat lo nya ya di sana. Lo kan suka rusa, jadi gue tuh sengaja ngajakin lo ke cagar alam di deket sini, sssts, ah,” kata Rinta seperti orang kesakitan.
                “Teh Rinta kenapa?”
“Hehehe. Enggak. Badan gue pegel-pegel doang. Gak biasa naik angkot kayaknya. Van, makasih lo yah, mau nemenin gue ke sini. Gue kan belum pernah ke sini. Hehehe,” tawa renyahnya merekah, manis sekali. Bagaimana bisa Anjar tidak jatuh hati padanya? sedang saya merasa jatuh hati dengannya dalam hitungan jam.
 ***
“Dek, temennya sudah siuman,” ucap seorang perawat membangunkan saya.
Saya bergegas memasuki ruangan klinik kesehatan entah di daerah mana, mencari tau keadaan Rinta yang tiba-tiba pingsan saat perjalanan pulang.
Kulihat Rinta. Wajahnya masih seputih kapas, pucat. Kulit lengannya, bahkan kakinya kebiruan, lebam-lebam seperti habis jatuh.
“Kamu sakit apa teh?”
“Biasa penyakit ibu-ibu. Hahahaha.”
“Teh, saya serius!” tanya saya mulai kalap. Rinta selalu saja bencanda dan tak pernah serius.
“Sindrom anticardiopilin. Emang gini gejalanya kalau gue kecapean jadi sebiru warna pantai pangandaran kulit gue. Hahaha. Jadi nanti kalau lo mau ke Pangandaran lagi liat aja kulit gue.”
Hati saya tergores luka melihat Rinta memetafora-kan keadaan dirinya. Mungkin saya benar-benar telah jatuh hati padanya, atau rasa ini hanya sekedar rasa iba? Dua panggilan masuk Ami namun tak saya pedulikan. Mungkin sebiru lebam kulit Rinta itulah saya jatuh cinta pada Ami, namun sebiru langit dan Pantai  Pangandaran tadi siang hati saya telah jatuh ke tangan Rinta.




Notes : anticardiopilin adalah penyakit kekentalan darah. dapat menyebabkan sirkulasi peredaran darah terhenti sehingga menyembabkan berbagai penyakit, seperti keram, baal, struck, keguguran saat hamil bahkan kematian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar