Selasa, 26 Juni 2012

Mungkin (Takkan) Ada Lagi



         Hari ini mungkin sama gilanya dengan ide liburan kami berdua ke Misool, Raja Ampat. Ya, hanya kami berdua, aku dan dia. Kebanyakan yang datang ke sini adalah pasangan muda yang siap honeymoon sementara aku dan dia ke sini hanya sebagai teman sekampus. Ah, rasa memang tak ada tempat yang seindah ini. Birunya laut bahkan sudah tak dapat aku gambarkan dengan kata-kata bahkan warna-warninya coral bawah laut pun tak dapat aku deskripsikan dengan rinci.
     Ini, hari terakhir kami di Misool setelah empat hari penuh menjelajahi kepulauan yang ada di Raja Ampat. Hah, sepertinya jika nembak orang di sini bakal manis. Apalagi kalau bisa nembak dia, melting tidak ya? Hahaha, oke nampaknya aku benar-benar tak bisa menahan perasaan ini. Ini sudah bukan jaman Siti Nurbaya kan?

***
“Oke, gak apa-apa. sekarang gue bisa move on dengan tenang, Ka. Makasih udah mau jawab pertanyaan gue,” ucapnya berusaha tersenyum namun ada sebongkah kaca yang tertahan di binar matanya.
Saya tak dapat berkata hanya berusaha tersenyum. Senyum kelu mungkin. Saya lihat sekilas ia menggigit bibirnya.
“Ka, walau lo udah tau perasaan gue. Gue harap gak akan ada yang berubah ya, Ka dari kita. Kita tetep temen kan, Ka? Lo gak akan menjauh dari gue kan?” tanyanya beruntun. Saya kembali menatap gadis di depan saya itu.
Kala itu saya hanya bisa mengangguk. Berusaha menahan perasaan yang saya punya. Hari itu  tak akan pernah saya lupakan. Ketika sebuah kejujuran terungkap. Ketika ia menatap mata saya tajam. Ketika ia menyatakan perasaan, yang tak ia mengerti terhadap saya. Ketika sebuah pernyataan dan pertanyaan terlontar dari bibir kecilnya. Hati ini melengos. Jantung ini berdetak lebih kecang. Sungguh tak pernah ada yang berani menyatakan perasaan kepada saya. Saya pun tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaan saya terhadap orang yang saya cintai.
       Pertanyaan terakhirnya itu kali ini ingin saya tanyakan kembali padanya jika bisa. Nyatanya bukan saya yang menjauh tapi ia yang mulai menjauh dari saya. Tiga bulan yang lalu, masih dapat saya lihat senyum manisnya, ceriwis tawanya. Tapi kini bahkan ia mulai tak tersentuh, tak ada kabar tentangnya lagi. Saya sungguh merindukannya.
     Saya tau, ini memang balasan yang setimpal untuk saya. Dan saya tau, hal yang ia lakukan saat ini benar. Menjauh dari orang yang menolak perasaan adalah hal terampuh bagi seorang wanita untuk dapat move on. Tidak, saya rasa seorang lelaki pun akan melakukan hal yang sama. Walau ia bilang tak akan ada yang berubah. Walau pun ia bilang tak ingin saya menjauh darinya tapi untuk menghapus perasaan memang perlu waktu dan jarak. Mungkin takkan ada lagi saya di hatinya.
***
     Selepas pernyataan gila-ku di Pulau Misool saat itu, tak pernah ada lagi pembicaraan antara aku dan dia. Kami berdua seolah tak saling mengenal bahkan seolah takdir turut mendukung, berbagai kegiatan kampus yang seharusnya bisa ada aku dan dia selalu saja tak terjadi. Aku benar-benar kehilangannya bahkan aku sekarang sangat membencinya untuk alasan yang tak kumengerti? Harga diriku seolah jatuh ketika ia menolakku dengan gamang.
Mungkin memang seharusnya tak akan ada lagi hatiku untuknya. Apalagi sekarang aku telah bersama yang lain. Namun pagi ini setelah hampir berbulan-bulan kami tak saling bertegur sapa. Ada sms dari Yanti, yang menyatakan keadaannya. Keadaan yang tak pernah aku kira sebelumnya hingga memasuki rumah sakit ini. Dia masih terbaring tidur dengan wajah pucat, dan tubuh yang nampak sangat kurus. Penyakit yang dia derita tercetak jelas di plang kasur tempatnya berbaring membuat air mataku jatuh.  

 ***  
Pagi saat saya terbangun saya seperti melihat fatamorgana, ia tertidur di tempat duduk. Ya Tuhan, begitu cinta kah saya padanya? Air mata ini masih jatuh untuknya. Lantunan doa pagi ini masih tentangnya. Saya tau saya jahat. Saya berbohong padanya. Saya memang berusaha mengelak perasaan yang saya punya terhadapnya. Semakin saya mengelak, semakin saya sadar bahwa hati ini memilihnya.
Saya hanya tak ingin menyakitinya. Saya hanya tak ingin membuatnya masuk dalam lingkaran permasalahan hidup saya. Saya tak ingin ia dan calon anaknya kelak mengalami hal yang sama seperti saya. Cukup saya saja yang menderita HIV. Karena itu biarlah ia mengetahui bahwa saya tak pernah memiliki perasaan apapun terhadapnya. Saya hanya ingin ia mendapatkan seseorang yang lebih baik, yang tak memiliki penyakit seperti saya. Ya tuhan, boleh kah saya memohon agar mungkin tak ada lagi dia di hati saya?
*** 

gak ada ide nih.. stuck.. hehehe jadi reblog dari tulisan jaman dulu aja.. yang ini-->  Mungkin Bukan Saya hampura pisan nyak..

Senin, 25 Juni 2012

Langit pun Tersenyum





Aku melihat seorang gadis sedang bergemerisik, menyimpulkan kedua tangannya, memejamkan matanya, nampak seperti orang yang sedang berdoa. Ini hari kedua, aku bermalam di pulau ini, pulau yang tak pernah ada di bayanganku sedikitpun. Aku datang ke Sulawesi Tenggara melarikan diri dari pekatnya tugas kuliah, hitamnya penelitian skripsi yang tak juga membuahkan hasil, dan gaduhnya dosen pembimbing yang banyak maunya itu.
‘Salah masuk jurusan kuliah nampaknya!’, anehnya kata-kata tersebut yang terus terungkit di benakku saat ini, setelah tiga setengah tahun kuliah. Dulu tiga tahun yang lalu ketika meyadari bahwa hasratku bukan untuk kuliah di jurusan ini, logikaku terus menyangkal demi uang yang telah di investasikan ayah dan ibuku di jurusan itu. Namun sekarang? bukan kah aku orang yangbenar-benar merugi? Waktu dan investasi dana dua-dunya telah dikerahkan.
Orang terbodoh dan tergila mungkin ya hanya aku. Di tengah kejenuhan yang tak membuahkan hasil, uang untuk penelitian aku gunakan untuk pergi menyendiri ke pulau ini yang jaraknya jutaan kilometer dari tempat tinggalku, tempatku berkuliah hanya untuk melihat biota laut yang katanya sangat indah itu. Namun memang ini nasib orang tak tau diri nampaknya, cuaca dua hari ini sulit ditebak. Pagi tadi nampak cerah namun saat aku bersiap untuk snorkeling angin kencang berhembus.
**
Pagi ini saat aku terbangun melihat gadis itu lagi, ia berdiri di tengah pantai dengan baju putih senada dengan putihnya pasir pantai.  Matahari, kali ini nampak cukup terik, memantulkan cahaya keemasan dari balik air laut yang biru memuda membiaskan sinarnya ke gadis itu. Ya, tuhan indah sekali, dasyat sekali ciptaanmu, pemandangan ini dan gadis itu.
Iseng aku ingin mem-foto gadis itu dari Hp ku. Aku menyalakan Hp dan sedetik kemudian suaranya memekakan telingaku. Gadis itu melihat memandang ke arahku, kemudian tersenyum sekilas. Manis. Oh, tidak! Aku lupa, aku sengaja mematikan Hp-ku dua hari ini untuk menyendiri di sini dan sekarang puluhan sms memenuhi Hp-ku.
Terpaksa aku baca satu-satu sms yang masuk ke Hp-ku dan semuanya hampir tentang masalah penelitianku yang juga belum membuahkan hasil. Enam bulan ya, enam bulan! Dan penelitianku gagal karena rumput laut dari spesies Eucheuma jumlahnya merosot tajam di Bandung. Kalau mau ganti jenis rumput laut pun harus mencari spesies rumput laut dari golongan Rhodophyceae (ganggang merah) dan itu sangat sulit serta mememerlukan penelitian ulang termasuk mengulang usulan penelitian.
Sms teratas datang dari dosen pembimbingku.
 “Radit, untuk jenis spesies Eucheuma coba kamu cari dari Sulawesi Tenggara, kecamatan Wangi-wangi, setahu saya di sana penghasil spesies Eucheuma. Jangan menyerah, saya rasa penelitian tentang karagenan kamu bisa selesai Agustus ini.”
Ini dosen satu menyemangati atau memaksa sih? Agustus? Sekarang saja sudah akhir Juni. Oke, kecamatan Wangi-Wangi itu dimana? PR banget!
“Hei, kamu pelancong ya?” tanya seseorang yang ternyata gadis tadi.
“Iya,” jawabku canggung terkesima dengan kecantikannya.
“Sudah snorkeling di sini?” tanyanya lagi.
“Hari ini rencanya. Dari kemarin cuacanya tak begitu baik,”
“Iya, sudah tiga bulan ini memang tak bisa diduga. Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku mutiara,” ucapnya menyodorkan tangan kanannya
“Radit,” ucapku menjabat tangannya.  “Kamu orang sini? Tau Kecamatan Wangi-Wangi?” tanyaku teringat sms dari dosen pembimbing.
“Hahahaha, kamu tuh lucu deh! Pulau ini tuh termasuk dalam Kecamatan Wangi-Wangi!” tawanya lepas.
“Kamu Serius?” tanyaku nampak antusias tanpa sadar menggenggam pundaknya.
Ia nampak salah tingkah. “Memangnya ada apa?”
“Aku sedang mencari rumput laut spesies Eucheuma untuk penelitianku tentang karagen. Di daerahku tinggal harganya tinggi, 1 kilo bisa sampai 12ribu dan sekarang sangat minim. Katanya di sini tumbuh banyak spesies itu,”
“Ah, benarkah itu? apa kamu berniat memborong rumput laut di desa kami ini?” kini giliran dirinya nampak antusias.
“Mungkin, jika ada spesies Eucheuma dan harganya tidak lebih dari 8ribu,”
“Di sini ada banyak, akan kutemani jika kamu ingin,” ucapnya sambil tersenyum menenangkan kegundahanku beberapa minggu ini. Aku memandang suasana Wakotabi pagi hari. Langit pun tersenyum.
***
“angin kencang berhembus lagi. Sudah tiga bulan ini selalu seperti ini, membuat resah masyarakat di Wakatobi yang bermata pencarian budidaya rumput laut. Belum lagi harga rumput laut yang terus merosot tajam dari tengkulak. Ya, tuhan bagaimana nasib kami?” pertanyaan itu masih saya panjatkan pagi ini ke Tuhan dan secepat itu pula Tuhan membawa lelaki ini memberikan jawaban atas doa saya. Hari ini begitu cerah dan langit pun nampak tersenyum. Semoga angin kencang cepat behenti ya Tuhan.”


Keterangan:
Karagenan adalah getah rumput laut yang diperoleh dari hasil ekstraksi rumput laut merah dengan menggunakan air panas (hot water) atau larutan alkali pada temperatur tinggi. karagenan dapat dibuat tepung dengan fungsi sebagai stabilizer, thickener, gelling agent, aditif atau komponen tambahan dalam pembuatan coklat, susu, pudding, susu instan, makanan kaleng dan roti.



Sabtu, 23 Juni 2012

Memori Tentangmu


Ah, harusnya aku di sini bersamamu. Di Pura besakih ini. Janji satu tahun yang lalu nampaknya tak dapat kau tepati. Sudah lah aku tak bisa berbuat apa-apa. itu hak mu tak menepati janji, tapi aku? Aku adalah seorang wanita yang tak akan pernah ingkar janji, sebisa mungkin aku akan memenuhi kata-kata yang kukeluarkan. Seperti hari ini, aku datang ke Pura Besakih masih lengkap dengan peralatan dakiku, bahkan cariel 8 literku masih kupanggul di belakang punggungku. Pura ini pura tempat pertama kalinya bertemu. Kamu ingat? Lalu mengapa kamu masih juga belum datang?
Ah, kamu tak akan pernah tau betapa aku menunggu terealisasinya acara gila yang kita rencanakan satu tahun yang lalu. Mendaki Gunung Agung yang start dan finish-nya dari Pure Besakih. dan Saat itu aku harap-harap cemas kamu akan sesuai dengan yang aku inginkan. Perkenalan satu tahun denganmu tanpa pernah bertemu sekali pun nampak manis. Ah, kamu! Bahkan aku bisa jatuh cinta denganmu dengan hanya sekali melihatmu.
Memoriku tentangmu kembali berjalan. Aku masih dapat mengingat, hari pertama kali kita bertemu. Di sini, satu minggu yang lalu. Kamu yang bukan merupakan penduduk Bali, terlihat nampak antusias bertemu denganku, begitu pun aku. Ya, sebut saja aku telah jatuh hati pada pandangan yang pertema padamu.  Kamu nampak seperti yang aku inginkan, terlalu aku ingin kan dan tak ingin kulepaskan.
                “Gek, coba kamu baca Koran ini. Itu bukan lelaki yang seminggu lalu bersamamu?” ibu tiba-tiba berada disampingku memberikan sebuah koran dengan Headline :
                “Seorang pemuda asal luar Pulau Bali kembali ditemukan tewas di Gunung Agung”

           “Untung lah Gek kamu tidak kenapa-kenapa. Biyang, tak mengerti. Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh di sini. Biyang curiga ada yang mengadakan pesugihan untuk Rondo dhirahisme. Apalagi korban-korbanya ditemuakan dengan keadaan tidak layak. Lekas lah kau berdoa pada Hyang Widi, karena masih dilindungi,”
Darahku berdesir mendengar perkataan ibu. Aku melihat foto korban yang berada di kolom foto Koran. Hening, air mataku jatuh. itu kamu! Ibu menatapku kemudian memelukku berusaha menenangkanku. Memori tentangmu selama seminggu ini kembali terlintas di kepalaku. Aku tak tau untuk apa air mataku. Untuk kematianmu kah? Atau untuk keberhasilanku menyeretmu dalam acara pesugihan untuk leak ini?  Kemudian senyum kecilku timbul. “Ya, biyang dan pelakunya adalah putrimu,”ucapku dalam hati.


Keterangan:
Biyang : Ibu
Gek : Anak perempuan
Rondo dhirahisme: salah satu tokoh leak di Bali
Hyang Widi : tuhan



Jumat, 22 Juni 2012

Sasirangan



Aku memandangi keadaan sekeliling sedikit ramai dan memusingkan. Terombang abing dalam sungai Barito yang sangat luas, terduduk di salah satu jukung bersama lima orang temanku. Kami sedang melakukan observasi lapangan, untuk salah satu tugas kuliah di kampus. Ya memang begitu lah tugas mahasiswa antropologi, mau tidak mau harus menjelajah, menyelami kebudayaan-kebudayaan baik di Indonesia maupun luar. Kali ini aku dan teman-teman sekelompokku mendapatkan tugas menganalisis kota Banjarmasin terutama pasar terapung ini, yang katanya mulai terbagi menjadi dua lokasi, yang katanya sudah mulai sepi dengan adanya aksi blokade Sungai Barito terkait dengan adanya aksi ‘Kalimantan Menggugat’. Nampaknya pembicaraan itu benar karena pasar tidak terlihat begitu ramai seperti foto-foto yang ku googling.
Tadinya aku enggan untuk ikut ke kota ini mengingat dibutuhkan waktu observasi satu bulan untuk matakuliah ini dan itu berarti aku harus berpisah pulau dengan Rinta selama itu. Duh, baru juga satu malam di sini aku sudah merindukannya. Ah, ini gila! Biasanya hanya butuh maksimal satu bulan untuk tertarik pada lawan jenis dan kemudian bosan, namun pada Rinta? Sudah hampir lima bulan aku mengenalnya dan ketertarikanku padanya mulai menjadi-jadi. Bahkan, saat Amang salah satu orang, pemilik rumah tempatku bermalam, bercerita tentang kain tradisional sasirangan, orang  pertama yang terlintas dipikiranku untuk kuberi oleh-oleh itu adalah Rinta.
Galuh, nanang beli sasirangan kah?” tanya seorang ibu-ibu dengan kisaran umur 65 tahun.
“Wah, di sini ada yang jual sasaringan. Kain yang amang ceritakan kemarin toh?”ucap Lina kegirangan.
“Wah, galuh nampaknya bukan orang sini kah?” tanya ibu itu lagi.


 Aku memandagi ibu itu, ia mengenangan kemben dan sarung dari sasirangan. Di lehernya nampak sebuah liontin berlambangkan A, sepertinya namanya berinisial A. Di keningnya ada tahi lalat besar. Dalam hitungan detik ia dapat menghipnotis teman-temanku untuk melihat-lihat sasirangan yang ia jual.
Aku memutuskan untuk menghubungi Rinta menanyakan kabarnya karena dari kemarin sulit sekali kuhubungi entah sinyal, entah apa, tapi perasaanku tak enak. Aku memencet tombol call pada Hpku beberapa detik kemudian telepon diangkat.
“Rin? Kamu kumaha? Damang? Urang telepon teu diangkat?” tanyaku menodong pertanyaan.
“Hahaha, kamaren hp gue lowbat lagi jalan-jalan soalnya,”
“Jalan-jalan kamana? Bukannya lagi UAS?”
“Adeu, perhatian banget sih lo sama gue. Iye, gue stres ujian jadi mumpung Sabtu-Minggu libur ya gue manfaatin ke pangandaran deh,”
“Sama saha? Naha urang teu diajak?”
“Lah, kan lo lagi kuliah lapangan. Sama ade kelas gue, kenapa?”
Saha?” Adek kelas? Si Anjar itu? Tiba-tiba rasa cemburuku membuncah. Ya, Anjar yang sampai sekarang aku tak tau orangnya yang mana, namun mampu mendominasi percapakapan aku dan Rinta.
“Hahaha, kok nanyanya kayak orang cemburu gitu sih?” tanya Rinta membuatku salah tingkah, untung dia tidak bisa melihat perubahan riak wajahku. “Sama Vandi doang. Ngebolang kita berdua. Hehehe ”
“Oh, gitu,” yayaya, aku lupa selain Anjar dia juga dekat dengan Vandi yang kebetulan juga teman dekatnya Anjar. “Ulun karindang Ikam,” ucapku mengganti topik pembicaraan. Aku coba menggunakan bahasa Banjarmasin.
“Acie, ihiy pengakuan nih? Hahaha,” ucap Rinta tiba-tiba.
“Hah? Naha tau artinya, Rin?” tanyaku padanya. Aku tertegun dengan reaksinya. Aku pikir ia akan bertanya dan kebingungan dengan bahasa yang kugunakan.
“Iyalah gue tau,”
“Kok? Jangan bilang kamu teh orang Banjarmasin?”
“Bukan kok, Anjar kan mamahnya orang sana, hehehe,” Rinta tertawa namun tampak getir.
Shit! Masih ya nama itu disebut-sebut.
“Aduh, kenapa malah ngomongin dia ya? Udah move on ini tuh!”tambah Rinta lagi, tapi dengan jawaban seperti itu orang bego juga tau dia masih ada hati.
“Eh, kamu tau sasirangan? Mau dibawain oleh-oleh teu?”
Hening, hanya terdengar suara helaan nafas Rinta.
“Tau kok. Gue malah punya. Waktu itu  gue dapat oleh-oleh dari neneknya Anjar yang tinggal di sana,” Rinta kemudian kembali menarik nafas seolah tak kuasa menahan sesuatu. ”Beliau satu-satunya pedagang yang menjual Sasirangan di pasar terapung. Nanti kalau lo ke pasar terapung dan ketemu dengan ibu-ibu bertahi lalat di kening dan memakai liontin berhuruf A, titip salam ya dari gue. Liontin itu,  liontin pemberian Anjar buat neneknya yang belinya bareng gue. Jangan beliin gue Sasirangan ya, nanti gue inget Anjar lagi ”
Kini giliran aku terdiam, sambil melihat teman-teman yang masih asik memilih-milih sasirangan. Ibu-ibu tua itu neneknya Anjar?
***

cerita sebelumnya di :Biru, jatuh Hati

cerita sesudahnya di : Genggaman Tangan

Keterangan :
Sasirangan : kain adat suku Banjar di Kalsel, yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup.
Galuh, nanang beli sasirangan kah? : tuan, nona mau beli sasirangan?
Wah, galuh nampaknya bukan orang sini kah : wah, nona sepertinya bukan orang sini?
Rin? Kamu kumaha? Damang? Urang telepon teu diangkat? : Rin, kamu gimna? Baik? Aku telepon tidak diangkat.
Jalan-jalan kamana? : Jalan-jalan kemana
Sama saha? Naha urang teu diajak? : Sama siapa? Kenapa aku gak diajak?
Ulun karindang Ikam : Aku rindu kamu
Hah? Naha tau artinya, Rin : Hah? Kamu kok tau artinya?

Kamis, 21 Juni 2012

Aku Kembali


Ternyata, berkeliling Indonesia membuatku sadar, tidak hanya pantai yang aku suka, hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki sejuta kenangan bagiku, terutama wilayah-wilayah pariwisatanya. Seperti hari aku berada di kota Surabaya, di old town area menikmati keindahan budaya Indonesia, sendiri. Ah, aku benar-benar cinta Indonesia!
Hey, jangan berpikir aku ini wanita tangguh, yang berani keliling Indonesia sendiriian! Hanya perlu modal nekat sebenarnya kalau kamu mau mejelajah keliling Indonesia dan jujur aku ini wanita pengecut dengan berbagai peraturan kolot dari bu serta wejangan-wejangan panjang setiap aku pergi darinya. Ya, itu, ibu masih saja menganggap penyakitku akan kambuh lagi, jadi hampir setiap saat ibu akan mengecekku lewat telepon dan sms. Aku dulu sempat gagal ginjal namun mendapatkan donor ginjal 7 tahun yang lalu, sejak saat itu penyakitku tak pernah kambuh lagi.
Sekilas bagunan tua-bagunan tua di area old town ini nampaknya mirip sekali dengan kota tua di Jakarta. Namun banyak sekali perbedaannya jika kamu perhatikan lebih detail. Jika di Jakarta kota tua di dukung dengan banyaknya museum-museum seperti museum wayang dan museum fatahilah maka di old town area Surabaya kamu akan benar-benar disuguhkan bagunan-bangunan tua bergaya Eropa klasik. Banyak bagunan-bangunan bersejarah di  Old town area yang terletak dibilangan Surabaya Utara ini, misalnya  Jalan Rajawali, Kembang Jepun, Tunjungan, Veteran dan Pahlawan, Masjid Tua Sunan Ampel, Masjid Merah Cheng Hoo, Hotel Majapahit  dan   Jembatan Merah.
Surabaya merupakan salah satu kota pelabuhan zaman penjajahan Belanda dan old town area merupakan saksi bisu dari perkembangan kota Surabaya. Berada di sini, membuatku seolah-olah pernah tinggal di jaman penjajahan. Mendengar cerita-cerita dari masyarakat setempat membuatku semakin ingin mengetahui seluk–beluk Surabaya Timur ini, sambil mengingat-ingat pelajaran SD. Terbayarlah perjalanan kali ini dengan teriknya kota Surabaya Ini.
Ada yang special hari ini, aku akan akan betemu Nanda, teman SD ku dulu yang pindah ke Surabaya selepas lulus SD. Ya, tuhan apa kabar ya dia? Masih seceriwis dulu kah? Atau sekarang sudah menjadi lelaki maskulin dan pendiam? Atau jangan-jangan dia sekarang sudah punya istri? Hahaha. Aku menunggunya di Masjid Tua Sunan Ampel sambil melihat makam wali songo.
Panas terik nampaknya mengalahkan segalanya ya? Hah, mana si Nanda? Kenapa belum datang-datang juga? Aduh, mana haus lagi. Boleh kali ya, aku sekarang beli minum di luar dulu? Aku kemudian mencari pedagang asongan yang menjual minuman. Mmm, dimana ya? Hah, itu dia, ketika kulihat ada sebuah warung di sudut jalan raya. Aku bergegas menyebrang mumpung tak ada kendaraan yang lewat.
Samar-samar kulihat seseorang yang nampaknya kukenal, kemudian secepat kilat ia menghampiriku. Ia menggunakan setelan jas hitam.
“Hai, aku kembali,” ia kemudian menyapaku.
“MIA!!!!!!!” Jerit seseorang memanggilku dari arah berlawanan.

***
            Saya tertegun, melihat Mia, teman SD saya tertabrak mobil. Badannya terpelanting jauh. kemudian jatuh menghempas di bawah aspal jalanan. Secepat kilat itu juga kepalanya beradu dengan aspal. Darah kemudian mengalir cepat dari arah kepalanya, secepat itu pula kemudian airmata saya menetes tanpa sebab.


cerita sebelumnya : pagi kuning keemasan

notes: 
kematian itu rahasia ilahi, suratan takdir. jadi kalau kamu di vonis punya penyakit keras jangan menyerah. toh bukan hanya karena penyakit keras kamu bisa meninggal. bahkan orang yang sehat alfiat pun bisa saja meninggal besok

Rabu, 20 Juni 2012

Genggaman Tangan



“Ini kapan nyampenya sih? Badan gue udah encok nih!” cerocos Sindi tak henti-henti.
“Tenang aja, Sin. Encokmu akan beralih menjadi body aduhai,” tambah Ami menyemangati.
“Oh iya, Mi? Aduh, harus semangat nih berarti turunnya supaya kurus!” ucap Sindi kembali bersemangat 45’. “Ah, tapi ini tangganya gak asik banget! Masa jaraknya berjauhan. Jadi harus turun satu lantai, jalan sebentar terus turun satu langkah lagi dan terus-terusan seperti itu. cape nih, gendong gue dong Sat!” keluh Sindi sambil meminta yang tidak-tidak pada Satria.
Heran, padahal Sindi sendiri yang menyetujui liburan ke daerah Jawa Tengah  termasuk air terjun Tawang Mangu ini, namun sekarang belum juga sampai dia sudah mengeluh. Aku, Satria, Vandi, Ami dan Sindi adalah teman sepermainan di kampus. Setiap liburan semester, kami pasti selalu jalan-jalan. Semester kemarin jalan-jalan ke Pulau Seribu, kali ini kami memilih rute yang lebih jauh. Lumayan lah liburan bareng mereka bisa melupakan penat dan permasalahan di kampus. Heh? Kenapa jadi mikirin dia lagi sih,Jar? Kan kamu sendiri yang nolak dia? Kan kamu sendiri yang punya prinsip gak mau pacaran selama kuliah?
Sudah 15 menit lebih kami berjalan menuruni tangga, pemandangan air terjun mulai terlihat namun kami belum juga sampai. Sedari tadi yang terlihat hanya monyet-monyet liar yang bergelantungan di pohon bahkan ada yang duduk di sekitar tangga menuju air terjun.


 “Nih, Sin!” kata Vandi menyodorkan sekaleng minuman isotonic.
Belum sempat Sindi mengambil, minuman tersebut sudah direbut oleh seekor monyet.
“HUA! CAMDIG! CAMDIG-NYA!” jerit seseorang dari arah bawah. Suara derap langkahnya terdengar cepat.
Mampus! Aku lagi gak salah liat orang kan?
“Teh Rinta?” kata Vandi kemudian.
 “Eh? Kalian? Liat monyet gak? Dia bawa camdig-nya Riky! Aduh gimana dong?” tanya Rinta.
“Tuh, banyak teh ngegelantung,” jawab Satria asal bicara.
Sejauh ini? Sejauh jarak Bandung-Solo, tapi takdir masih bisa-bisanya mempertemukan aku dengannya? Riky? Siapa dia?
“Rin, tunggu dong! Lari kamu teh gancang pisan!” ucap seseorang dari arah bawah.
“Ayo, Rik! Nanti camdig lo ilang!” ucap Rinta melambai-lambaikan tangannya ke arah bawah, secepat itu pula kemudian satu tangan menggenggam tangan Rinta.
Deg! Ada rasa nyeri di dadaku. Lelaki itu. Lelaki asing yang selalu kulihat sedang menunggu seseorang di halte kampus.
“Udah lah, Rin. Cuma camdig kok. Aku lebih baik kehilangan camdig dibanding kehilangan kamu,”ucap lelaki itu. Tangannya masih menggenggam erat lengan Rinta. Ada perasaan kesal yang menyelusup di diriku melihat adegan ini.
“Tapi kan,”
“ Iya, sih banyak foto-foto mesra kita berdua yang hilang jadinya kan? Tapi yaudahlah, kan kita masih bisa bermesraan. Lagian juga urang yang salah pake ngegelantungin di tangan. Dikira makanan kali sama monyet. Hahaha,”
“Hih! Dasar lelaki gombal. Ngarang aja nih. Gak mempan wey digituin!” ucap Rinta memeletkan lidahnya.
“Ih, teteh pacarnya romantis banget sih. Ah aku jadi pengen bawa pacar ke sini,” ucap Sindi, tiba-tiba.

“Emangnya ada?”tanya Ami datar sambil menggoda Sindi, sementara aku masih terpaku tak tau harus berbuat apa. “Bisa kali teh dikenalin nama pacarnya?”ucap Ami kali ini menggoda Rinta.
Lelaki itu pacar Rinta? Secepat itu ia melupakanku, seseorang yang pernah digosipkan denganya dan pernah ia nyatakan perasaanya?
            “Hah? Pacar? Kita pacar, Rik? Hahahaha,” tawa Rinta pecah.
“Emang nih si Rinta. Kenalin urang Riky calon suaminya Rinta,”
“Heh! Ngomong seenak jidad lo aje!”ucap Rinta menoyor mesra lelaki itu.
            Ya, tuhan kenapa berasa perih gini?
“Bukan ih. Ini temen gue, Riky, Sin, Mi, Sat, Jar,” ucap Rinta memperkenalkan lelaki itu. lelaki itu kemudian bersalaman dengan kami satu persatu. Ada rasa benci tiba-tiba datang.
“Kok, ke Vandi gak di kenalin teh?” tanya Satria.
“Vandi kan udah kenal. Yaudah deh kenalan lagi, siap tau jodoh, hahaha,”
“Gila, kamu! Eh yaudah yuk kita balik aja,” ucap lelaki itu.
“Eh, duluan ya,” ucap Rinta kemudian melanjutkan perjalanan ke atas dengan lelaki itu.
“Eh itu pacarnya Van?” tanya Sindi mulai bergosip.
“Wah, saya gak tau tuh. Tapi setiap latihan di paguyubab teather, the Rinta suka dijemput cowok itu.
“Ih, tapi mereka cocok ya. Teh Rinta maskulin, cowoknya manis. Sama-sama suka bercanda lagi. Liat gak tadi cara mereka bergenggaman tangan? Manis banget! Ya ampun padahal gue pikir dulu teh Rinta bakal jadian sama Anjar,” cerocos Ami, menimbulkan penyesalan sendiri bagiku.
Tak pernah aku merasakan perih seperti ini, saat melihat seorang teman bergenggaman tangan dengan lawan jenis, namun mengapa sekarang aku merasa benci dengan lelaki itu tanpa sebab? 
***


notes:
 kamu teh gancang pisan! ~ kamu tuh cepet banget!
urang ~ saya

cerita sebulumnya : Sasirangan

hahaha, lumayan nih ikutan #15HariNgeblogFF2 , bisa buat gue membuka draft novel yang sudah beberapa bulan tak tersentuh.

Selasa, 19 Juni 2012

Ramai


Perubahan suhu ekstrim terjadi lagi. Kali ini lebih dari yang sebelumnya. Beberapa teman saya mulai bermigrasi mecari tempat yang lebih aman. Ini gila, hampir semua penduduk mulai mengungsi demi keselamatan. Namun saya? Saya masih berdoa di sini, berharap perubahan cuaca tak semakin hebat. Ayah dan kakak sudah bermigrasi kini tinggal ibu dan sebagian kecil teman-teman masih di sini. Ini gila cuaca panas kemudian hujan tiba-tiba bermunculan dalam waktu sekejap.
Beberapa saat kemudian ibu, memberi siyal padaku untuk segera pergi. Saya segera bergegas pergi dari tempat saya biasa tinggal, mengikuti ibu pergi.
“Bu, ibu dimana?” saya memberi sinyal, tak ada jawaban. Ini dimana?
Saya masih berjalan tak tentu arah, mencari teman yang saya kenal. Nihil! pepohonan, sawah menguning pun kini berganti menjadi beton-beton besar. Berjejer di sekitar jalan. Ya tuhan ini dimana? Dimana ayah, ibu dan kakak? Selamatkah mereka?
Tunggu, ini kan? Saya berusaha mengingat-ingat tempat saya berada sekarang nampaknya kenal. Ah, ya! Ini Malioboro bukan? Saya mengamati keadaan keadaan sekitar, melakukan orientasi medan seperti yang dulu ayah ajarkan pada saya.
 Tak ada yang berubah, suasananya masih ramai, penuh dengan berbagai manusia. Wajahnya beraneka rupa, rambutnya juga, ada yang hitam, kuning, coklat. Banyak pedagang baju dan aksesoris menjual dagangannya. Tak jarang penjual minuman ikut beraksi, menjajahkan es teh manis atau limun segar. Kanan-kiri di sepanjang ruang jalan Malioboro penuh dengan pembeli dan penjual. Tak hanya dagadu, dan kerajinan tangan khas Jogja tetapi juga beberapa penjual bakpia pun terlihat. Di ruas jalan penuh dengan becak atau delman yang lalu lalang membawa pelanggan.
“AAAAAAA,” jerit seseorang kencang sekali. Dari suara lengkingannya, nampaknya seorang anak kecil.  Ada apa ya? Saya menuju suara jeritan. Saat saya menghampiri sudah ramai. Saya berusaha maju melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis kecil tersebut.
“Ibu?”kata ku sedikit kaget
“Huoa! Paederus littoralis! Over there! ” kata seseorang berambut kuning menunjuk ke arah saya.
“Nak, pergi!” seperti sinyal yang diberikan ayah ketika kami dalam keadaan terdesak. Saya berbalik arah mencari darimana sinyal itu datang, namun telat.
***
            “Wah, untung langsung mati seketika setelah di semprot. Hati-hati, jangan sampai terkena racunnya. Nanti seperti gadis kecil tadi,”ujar salah satu pedagang asli Malioboro.
            Baru kali ini aku berhasil membujuk Daniel berkunjung ke Indonesia, tapi hari pertama datang sudah diributkan oleh wabah tomcat. Ada-ada saja! Tapi lucu juga lihat wajah Daniel kewalahan dan takut melihat binatang sekecil itu. Padahal badannya tinggi besar seperti itu. Aneh, kenapa binatang itu di sebut-sebut tomcat? Bukannya namanya semut kayap? dulu aku sering sekali lihat binatang kecil itu di sawah, kenapa sekarang jadi heboh begitu beritanya?


Notes: Paederus Littoraris = tom cat = semut kayap

Senin, 18 Juni 2012

Biru, Jatuh Hati


 “Hua!!! indah banget!” makasih ya Van!” ucap Rinta tiba-tiba memeluk saya.
Tangannya memeluk punggung saya, menarik sepertiga bagian lengan bajunya. Saya kaget namun tak tau harus perbuat apa, tiba-tiba dipeluk seperti ini. Nampaknya Rinta kesenangan karena ide gilanya pergi ke Pangandaran berhasil. Ya, saya menjadi korban atas ide gilanya dengan alasan ini kado ulang tahun saya. Gila, ya dari Bandung bisa sampai ke Ciamis.
Saya berusaha mengalihkan pemandangan. Siang ini udara cukup terik, langit biru saling bertautan dengan latar Pantai Pangandaran ini. Hijaunya pepohonan. Warna-warninya perahu nelayan dan putihnya pasir membuat perpaduan warna yang cukup indah karya maestro bumi ini, tuhan. Rinta masih belum melepas pelukannya dan jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang. Entah ini perasaan normal seorang lelaki karena dipeluk seorang wanita atau ini rasa hati saya?

Pagi tadi tiba-tiba Rinta hadir. Tak ada ceplokan telur atau pun taburan tepung di wajah saya. Rinta hanya membawa se-cup kecil tiramisu. Sambil berkata “Selamat ulang tahun!” dengan senyum sumringahnya. Rinta senior di kampus, yang bisa dibilang tidak begitu akrab kecuali kami satu organisasi di Paguyuban teather, tiba-tiba datang ke rumah memberi saya surprise. Biasanya selalu ada Ami yang datang lebih pagi mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Ah, lagi-lagi nama wanita itu yang saya sebut. Hey, dia sudah punya Akbar, Van!
Belum sempat saya, menginterupsi pelukan Rinta yang saya rasa hampir lima menit lebih. Saya menemukan keganjilan. Sepertiga lengan kiri Rinta yang tak terbungkus baju karena memeluk saya, berwarna kebiruan, saya mengalihkan pandangan ke lengan kanannya, sama.
                “Teh, kenapa lengan kamu biru-biru gitu?” tanya saya sedikit takut jangan-jangan yang memeluk saya ini bukan Rinta tapi alien, daya hayal saya mulai bekerja.
                Rinta sesegera mungkin memelepaskan lingkaran tangannya dari pundak saya.
                “Ah, perasaan lo kali. pasti abis liat langit atau pantai, makanya bias warna birunya sampe lo liat di tangan gue,” kata Rinta sambil menunjuk-nunjuk ke arah langit kemudian pantai dengan lengan kirinya dan lengan kanannya masih bertengger di pundak saya.
                “Tangan Teteh kok masih di pundak saya?” tanya saya sedikit kebingungan.
                “Hua, maaf, maaf!” kata Rinta menarik paksa lengan kanannya menggunakan lengan kirinya. Aneh!
                “Jadi masih mau merekrut saya ke Pulai Panunjung?” tanya saya memecahkan keheningan.
                “Mau lah! kan kado ulang tahun buat lo nya ya di sana. Lo kan suka rusa, jadi gue tuh sengaja ngajakin lo ke cagar alam di deket sini, sssts, ah,” kata Rinta seperti orang kesakitan.
                “Teh Rinta kenapa?”
“Hehehe. Enggak. Badan gue pegel-pegel doang. Gak biasa naik angkot kayaknya. Van, makasih lo yah, mau nemenin gue ke sini. Gue kan belum pernah ke sini. Hehehe,” tawa renyahnya merekah, manis sekali. Bagaimana bisa Anjar tidak jatuh hati padanya? sedang saya merasa jatuh hati dengannya dalam hitungan jam.
 ***
“Dek, temennya sudah siuman,” ucap seorang perawat membangunkan saya.
Saya bergegas memasuki ruangan klinik kesehatan entah di daerah mana, mencari tau keadaan Rinta yang tiba-tiba pingsan saat perjalanan pulang.
Kulihat Rinta. Wajahnya masih seputih kapas, pucat. Kulit lengannya, bahkan kakinya kebiruan, lebam-lebam seperti habis jatuh.
“Kamu sakit apa teh?”
“Biasa penyakit ibu-ibu. Hahahaha.”
“Teh, saya serius!” tanya saya mulai kalap. Rinta selalu saja bencanda dan tak pernah serius.
“Sindrom anticardiopilin. Emang gini gejalanya kalau gue kecapean jadi sebiru warna pantai pangandaran kulit gue. Hahaha. Jadi nanti kalau lo mau ke Pangandaran lagi liat aja kulit gue.”
Hati saya tergores luka melihat Rinta memetafora-kan keadaan dirinya. Mungkin saya benar-benar telah jatuh hati padanya, atau rasa ini hanya sekedar rasa iba? Dua panggilan masuk Ami namun tak saya pedulikan. Mungkin sebiru lebam kulit Rinta itulah saya jatuh cinta pada Ami, namun sebiru langit dan Pantai  Pangandaran tadi siang hati saya telah jatuh ke tangan Rinta.




Notes : anticardiopilin adalah penyakit kekentalan darah. dapat menyebabkan sirkulasi peredaran darah terhenti sehingga menyembabkan berbagai penyakit, seperti keram, baal, struck, keguguran saat hamil bahkan kematian

Minggu, 17 Juni 2012

Sehangat Serabi Solo


Aku menemukanmu sedang terduduk di salah satu toko batik, entah di daerah mana. Dua hari mengikutimu bukan hal yang mudah bagiku. Ya, dua hari benar-benar ku follow akun twittermu, karena hanya dari situ lah aku dapat melacakmu. Melacak mu dari tweet-tweet mu melalui media  foursquare, hanya untuk sekadar chek in keberadaanmu.  Kebiasaanmu dari dulu saat sedang emosi tak pernah berubah. Selalu saja menghilang. Menghilang dalam hitungan minggu membuat panik orang tuamu bahkan guru-guru di sekolah. Aku paling tau hobimu saat ingin menenangkan diri yaitu, pergi mengembara tanpa tujuan atau se-cone ice cream  vanilla.

Menemukanmmu di sini, entah pasar apa, kalau tidak salah Klewer namanya, terasa lebih mudah dengan adanya twittermu. Apa lagi kamu sering chek in tempat. Sudah ke-8 kalinya kamu chek in selama dua hari ini di beberapa daerah Jawa Tengah, namun baru kali ini aku berhasil memburumu, bermain mengejar waktu. Sebelum kamu menghilang selalu saja ada sms minta maaf darimu entah untuk apa, sudah begitu aku paling tau kamu sedang ada masalah.
Seperti pagi itu, ketika sebuah sms-mu masuk dan seperkian menit ada satu panggilan masuk dari Rena. Kamu itu ya, kamu. Selalu saja saklek, selalu saja mau menang sendiri, bahkan kekalahan orang lain selalu kamu anggap ajang kompetisi bagimu. Kamu itu selalu ingin bercanda, di duniamu tak ada keseriusan, selalu saja main, main. oh, tentu kecuali soal kedisiplinan menurutmu itu prinsip hidup. Keisenganmu dan becanda-becandamu kadang menimbulkan amarah bagi orang lain, seperti pagi itu ketika Rena menceritakan semuanya.
Siapa juga yang tidak marah, ketika pacarnya digombalin oleh teman dekatnya sendiri. Itu mungkin perasaan Rena saat mendampratmu. Mungkin gombalanmu hanya bercanda dan hal itu sering kamu lakukan random kepada semua teman-temen priamu, seperti juga padaku.
                “Lin,” panggilku akhirnya enggan bermain petak upet lagi dengannya. Aku bawakan jajan pasar yang tadi di bawa bapak-bapak tua. Serabi Solo namanya. Masih hangat saat ku genggan dalam sebuah plastic, aku tau betuk kamu pasti belum makan, sedari malam.

                “Suf? Lagi?” tanyamu seolah bosan, saat melihatku dapat menemukanmu di pasar ini.
                “Yap,” jababku singkat.
                “Pulang sana. gue gak mau nangis!” katamu. Ini selalu jadi dialog pembuka saat aku berhasil menemukanmu dan sebelum air matamu jatuh.
                “Ini. Maaf ya gak ada ice cone vanilla,” ucapku memeberinya sebungkus Serabi Solo.
                Kamu menerimanya.  Kemudian membuka plastik siap memakannya.
                “Kenapa gak nangis. Biasanya kamu nangis?” tanyaku padamu.
                Kamu melirikku sekilas, kemudian terpaku kembali pada serabi Solo, meninggalkanku dalam diam.
                “Soalnya udah ada kamu yang sehangat serabi Solo,” senyummu mengembang, manis sekali. Menimbulkan hasrat hati yang telah lama kupendam padamu. Bagaimana mungkin Rena tak cemburu? Kalau senyummu saja sudah bisa menggetarkan hati seorang lelaki? “Ah, kenapa sih lo, setiap gue gombalin malah diem kayak gitu? Cupu ih!”
                “Iya, nama gue emang cupu , tapi ‘U’ nya di depan bukan di belakang,” kataku enggan berdebat denganmu.
                “Hahahaha, lo tuh ya, nama bagus-bagus Yusup, mau aja di panggil Ucup?”
                “Nama gue pake ‘F’ om, bukan ‘P’ gue kan bukan orang Sunda,” ucapku sedikt SARA.
                ‘”Tuh, kan bohong lagi! Nama lo kan pake ‘P’ bukan ‘F’!”              
                Jujur aku paling malas berdebat dengan kamu, sudah pasti kamu yang menang. Jadi kukeluarkan saja KTP ku, agar tak terjadi perdebatan panjang.
                “Hus, ngapain lo keluarin dompet?”
                “Mau nunjukin KTP gue biar lo percaya,”
                “Hahaha, udah gak usah di keluarin,” ucapnya dengan nada serius." Bagi aku nama kamu ya, Yusup, soalnya soalnya kamu bisa men-Yusup dihatiku,” ucapmu sambil tersipu malu seolah meyakinkan kata-katamu. Seperkian detik kemudian  wajah isengmu muncul. Mungkin sikapmu memang sedingin kutub selatan namun keisenganmu terkadang sehangat Serabi Solo.

Sabtu, 16 Juni 2012

Sepanjang Jalan Braga


Aku berdiri di persimpangan jalan Braga, mengingat pertemuan-pertemuan kita. Kamu selalu dan selalu bercerita tentang dia, menimbulkan perih dihatiku. Pertemuan kita selalu singkat, apalagi setiap pertemuan yang kamu bahas hanya dia, hanya kenangan tentang dia, dan semua rasa bersalahmu padanya. Tak banyak kata yang keluar dari bibirmu saat kita bertemu, apalagi ketika aku mulai menceritakan hari-hariku, kamu hanya bersemangat bercerita tentangnya.
Ku dongakkan kepalaku menahan air mata agar tidak tumpah. Jujur aku sangat merindukanmu. Rindu saat kita berjalan berdua bergandengan tangan menyusuri jalan Braga ini, mungkin sama rindunya saat kamu merindukan dia. Kamu itu lelaki manis dan baik, walau banyak orang yang tak spendapat denganku dan melarangku untuk bertemu dengamu, tapi apa daya aku sungguh mencintaimu, menyayangimu sepenuh hatiku.

Aku ingat dulu, pertemuan, pertemuan kita akan selalu berakhir di Maison Bogerijen, menikmati hidangan kolonial Belanda. Saat itu kamu akan memulai cerita tentang dia, tentangmu yang bertemu pertama kali denganya di restoran ini, tentang restoran ini yang sekarang telah berubah drastis, dan tentang rindumu mengulang waktu bersamanya di tempat ini.

***
Malam itu menunjukkan pukul 11 malam, aku masih menunggumu pulang  namun kamu belum juga kembali. Ibu menyuruhku untuk tidur. Saat ku menaiki ranjang kamarku. Suara pintu rumah terbuka. Aku yakin itu pasti dirimu, aku segera bergegas keluar ingin segera melepas rindu denganmu.
“Yah, kamu kok baru balik? Wah, kamu mabuk ya? Sini botolnya, ayah cuci muka lalu tidur ya, yah,” kata Ibu.
Aku tak berani keluar kamar. Baru kali ini aku lihat dirimu mabuk, dan ibu tetap sabar. Kamu memberikan botol bir yang kamu pegang ke arah ibu, namun tak sampai di tangan ibu botol itu terjatuh dan pecah. Bau alkohol semilir, mulai tercium samar di sekitarku.
Kejadian itu terjadi seperkian detik. Kamu mengambil ujung botol yang sebagian besar masih utuh kemudian mengarahkannya ke ibu. Ujung-ujung tajam bekas pecahan botol menancap tepat ke perut ibu, ibu setengah menjerit, ibu jatuh terpelanting, darah perlahan mulai keluar dari perut ibu, meninggalkan bau khas percampuran anyir darah dan alkohol. Kamu, terdiam, menyadari apa yang baru saja terjadi.
***
Hey, sekarang aku kembali ke sini, menyusuri sepanjang jalan Braga. Mengingat pertemuan-pertemuan indah kita berdua, mengingat-ingat pula pertemuan-pertemuanmu dengan dia lewat cerita-ceritamu. Kemarin sore, jenazahmu dikebumikan. 10 tahun dipenjara, 25 tahun sendiri tanpa istri dan anak mungkin merupakan hukuman yang harus kamu ambil untuk menebus peristiwa yang tak disengaja itu. Jangan, menangis lagi ya, kamu akan segera bertemu dengan dia kan, Yah? Titip salam rinduku untuk dia ya, Yah, untuk ibu yang telah 25 tahun tak kutemui. Aku juga selalu merindukannya ketika Ayah,menceritakan tentangnya.

Jumat, 15 Juni 2012

Kerudung Merah




Sore itu Anila sedang menunggu teman lamanya sambil menikmati pemandangan Toba di sore hari, di salah satu kamar hotel, di Pulau Samosir. Sudah seminggu ini ia berpetualang, menjamah seluruh wilayah di Sumatra Utara. Destini terakhirnya ya di sini di salah satu hotel di Pulau Samosir. Tujuan Anila tidak lain untuk menemui teman lamanya Friska sekaligus menikmati keindahan alam di Pulau Samosir berikut keindahan danau Toba. Oleh karena itu Anila sengaja memesan kamar hotel yang langsung menghadap Danau Toba. Friska adalah salah satu teman kecilnya Anila yang saat ini bekerja di Pulau Samosir.
Tadi pagi saat berjalan-jalan menikmati keindahan Danau Toba Anila bertabrakan dengan seorang pria manis. Namanya Daniel. Gayanya yang sangat sopan membuat Anila yakin untuk mengadakan pertemuan kedua dengan Daniel. Anila tak sabar untuk mencerikatakan hal ini pada Friska.
Bel kamar hotel berbunyi tanda ada seorang tamu di luar kamar hotel. Anila memastikan siapa tamu yang hadir dari lensa kecil pintuk kamar hotelnya. Ada seseorang berkerudung merah, menunggu di luar, tanpa memperlihatkan wajahnya. Anila yakin sekali itu adalah Friska. Sedari kecil Friska sangat suka dengan cerita gadis berkerudung merah bahkan dulu Frika selalu menyampirkan selendang merah milik mamahnya untuk di kerudungkan di kepalanya. Anila tak menyangka kebiasaan Friska sedari kecil itu masih ia bawa-bawa hingga sekarang.

Anila, membuka kunci dan mengayunkan tuas pintu siap memeluk Friska untuk melepas rindu.
“Hmmmp, hmmp,”
***
          Anila membuka mata dia berada dalam keadaan berbaring. Tangan kirinya beralih memegang pelipisnya, kepalanya terasa berat.
          “Hai, gadis manis. Sudah bangun sayang?” temanmu sudah habis kita nikmati. Sekarang kamu mau kami nikmati dulu atau kamu mau menikmati tubuh temanmu kami potong satu-satu?” tanya salah seseorang dari 3 lelaki yang sekarang hadir di depan Anila.
 Anila bergedik ngeri, masih bingung apa yang sedang terjadi. Tak jauh darinya terdapat Friska yang tak sadarkan diri dengan tubuh hanya berbalut selendang merahnya. Salah satu dari ketiga lelaki itu memegang gergaji, ada pula yang memegang peralatan seperti peralatan operasi.
“Hey, jawab pertanyaan kami. Sepertinya kamu lebih suka untuk dinikmati oleh kami ya?” ujar seseorang lainnya yang tak memegang apapun di tangannya.
Anila memandangi tubuhnya kini bahkan tak berbalut apapun. Apa yang sebenarnya terjadi? Anila bingung dan takut apa dengan jawaban apa yang harus ia jawab, sementara dirinya sangat malu karena kini tak mengenakan pakaian sedikit pun. Anila berusaha mencari jalan keluar, namun ia baru menyadari tangan kirinya dan kakinya diikat. Anila pun tak tau di ada di mana sekarang. Tiba-tiba muncul Daniel dari balik pintu. Daniel memberikan isyarat agar Anila tetap diam.
Daniel menghantam ketiga lelaki itu dari belakang dan mereka pun tumbang. Daniel memeluk Anila berusaha menenangkan Anila. Anila balik memeluk Daniel kuat, timbul rasa tenang dan ketakutan Anila pun berkurang.
“Tenang sekarang kamu aman,” ujar Daniel menepuk-nepuk pundak Anila, belum melepaskan pelukannya. “Hey, apa yang kalian lakukan, tolol! Cepat mutilasi gadis itu dan ambil organ tubuh dalamnya! Jangan lupa, gadis ini juga!” ucap Daniel melepaskan pelukannya dari Anila, kemudian tersenyum menyeringai. Anila tak pernah tau Danau Toba akan benar-benar menjadi destinasi terakhir hidupnya.