Hari
ini mungkin sama gilanya dengan ide liburan kami berdua ke Misool, Raja Ampat. Ya,
hanya kami berdua, aku dan dia. Kebanyakan yang datang ke sini adalah pasangan
muda yang siap honeymoon sementara
aku dan dia ke sini hanya sebagai teman sekampus. Ah, rasa memang tak ada tempat yang seindah ini.
Birunya laut bahkan sudah tak dapat aku gambarkan dengan kata-kata bahkan warna-warninya
coral bawah laut pun tak dapat aku deskripsikan dengan rinci.
Ini, hari terakhir kami di Misool setelah empat hari penuh menjelajahi kepulauan yang ada di Raja Ampat. Hah, sepertinya jika nembak orang di sini bakal manis. Apalagi kalau bisa nembak dia, melting tidak ya? Hahaha, oke nampaknya aku benar-benar tak bisa menahan perasaan ini. Ini sudah bukan jaman Siti Nurbaya kan?
Ini, hari terakhir kami di Misool setelah empat hari penuh menjelajahi kepulauan yang ada di Raja Ampat. Hah, sepertinya jika nembak orang di sini bakal manis. Apalagi kalau bisa nembak dia, melting tidak ya? Hahaha, oke nampaknya aku benar-benar tak bisa menahan perasaan ini. Ini sudah bukan jaman Siti Nurbaya kan?
***
“Oke, gak apa-apa. sekarang gue bisa move on dengan
tenang, Ka. Makasih udah mau jawab pertanyaan gue,” ucapnya berusaha tersenyum
namun ada sebongkah kaca yang tertahan di binar matanya.
Saya tak dapat berkata hanya berusaha tersenyum. Senyum kelu
mungkin. Saya lihat sekilas ia menggigit bibirnya.
“Ka, walau lo udah tau perasaan gue. Gue harap gak akan ada
yang berubah ya, Ka dari kita. Kita tetep temen kan, Ka? Lo gak akan menjauh
dari gue kan?” tanyanya beruntun. Saya kembali menatap gadis di depan saya
itu.
Kala itu saya hanya bisa mengangguk. Berusaha menahan
perasaan yang saya punya. Hari itu tak akan pernah saya lupakan.
Ketika sebuah kejujuran terungkap. Ketika ia menatap mata saya tajam. Ketika ia
menyatakan perasaan, yang tak ia mengerti terhadap saya. Ketika sebuah
pernyataan dan pertanyaan terlontar dari bibir kecilnya. Hati ini melengos.
Jantung ini berdetak lebih kecang. Sungguh tak pernah ada yang berani
menyatakan perasaan kepada saya. Saya pun tak pernah berani untuk mengungkapkan
perasaan saya terhadap orang yang saya cintai.
Pertanyaan
terakhirnya itu kali ini ingin saya tanyakan kembali padanya jika bisa.
Nyatanya bukan saya yang menjauh tapi ia yang mulai menjauh dari saya. Tiga bulan yang lalu, masih dapat saya lihat senyum manisnya, ceriwis tawanya. Tapi
kini bahkan ia mulai tak tersentuh, tak ada kabar tentangnya lagi. Saya sungguh
merindukannya.
Saya
tau, ini memang balasan yang setimpal untuk saya. Dan saya tau, hal yang ia
lakukan saat ini benar. Menjauh dari orang yang menolak perasaan adalah hal
terampuh bagi seorang wanita untuk dapat move on. Tidak, saya rasa
seorang lelaki pun akan melakukan hal yang sama. Walau ia bilang tak akan ada
yang berubah. Walau pun ia bilang tak ingin saya menjauh darinya tapi untuk
menghapus perasaan memang perlu waktu dan jarak. Mungkin takkan ada lagi saya
di hatinya.
***
Selepas pernyataan gila-ku di Pulau
Misool saat itu, tak pernah ada lagi pembicaraan antara aku dan dia. Kami berdua
seolah tak saling mengenal bahkan seolah takdir turut mendukung, berbagai
kegiatan kampus yang seharusnya bisa ada aku dan dia selalu saja tak terjadi. Aku
benar-benar kehilangannya bahkan aku sekarang sangat membencinya untuk alasan
yang tak kumengerti? Harga diriku seolah jatuh ketika ia menolakku dengan
gamang.
Mungkin memang seharusnya tak akan ada lagi hatiku untuknya. Apalagi sekarang aku telah bersama yang lain. Namun
pagi ini setelah hampir berbulan-bulan kami tak saling bertegur sapa. Ada sms
dari Yanti, yang menyatakan keadaannya. Keadaan yang tak pernah aku kira
sebelumnya hingga memasuki rumah sakit ini. Dia masih terbaring tidur dengan
wajah pucat, dan tubuh yang nampak sangat kurus. Penyakit yang dia derita tercetak
jelas di plang kasur tempatnya berbaring membuat air mataku jatuh.
***
Pagi saat saya terbangun saya seperti melihat fatamorgana, ia
tertidur di tempat duduk. Ya Tuhan, begitu cinta kah saya padanya? Air mata ini
masih jatuh untuknya. Lantunan doa pagi ini masih tentangnya. Saya tau saya
jahat. Saya berbohong padanya. Saya memang berusaha mengelak perasaan yang saya
punya terhadapnya. Semakin saya mengelak, semakin saya sadar bahwa hati ini
memilihnya.
Saya hanya tak ingin menyakitinya. Saya hanya tak ingin
membuatnya masuk dalam lingkaran permasalahan hidup saya. Saya tak ingin ia dan
calon anaknya kelak mengalami hal yang sama seperti saya. Cukup saya saja yang
menderita HIV. Karena itu biarlah ia mengetahui bahwa saya tak pernah memiliki
perasaan apapun terhadapnya. Saya hanya ingin ia mendapatkan seseorang yang
lebih baik, yang tak memiliki penyakit seperti saya. Ya tuhan, boleh kah saya
memohon agar mungkin tak ada lagi dia di hati saya?
***
gak ada ide nih.. stuck.. hehehe jadi reblog dari tulisan jaman dulu aja.. yang ini--> Mungkin Bukan Saya hampura pisan nyak..
***
gak ada ide nih.. stuck.. hehehe jadi reblog dari tulisan jaman dulu aja.. yang ini--> Mungkin Bukan Saya hampura pisan nyak..




.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)


