Aku masih dapat mengingat dengan
jelas kamu berlari lincah dengan riang gembira dengan rambut dikuncir dua. Kemudian
menimbulkan senyum manis bagi yang melihatmu. “Kamu itu manis,” kata ibumu
pelan, selalu di setiap pagimu. Membuatmu percaya memang kamu ditakdirkan untuk
selalu manis.
Senyummu, tutur bicaramu, rona
wajahmu, sifatmu, selama ini selalu manis yang ku tau. Walaupun orang – orang yang
kamu sayang telah tiada kecuali aku, kamu masih dapat tersenyum manis dengan
tegarnya. Tak akan habis kata jika aku
menjelaskan tentangmu yang selalu manis. Kamu selalu tergambar dengan jelas di memoarku.
Membuatku ingin selalu menjadi dirimu, walau mungkin itu sangat sulit.
“Ana, sudah beres? Tamu, di kamar
207 sudah menunggumu. Aku harap kamu memberi layanan yang memuaskan seperti
biasanya,” ujarnya membuyarkan kenangan tentangmu. Dia orang yang memberi
kehidupan padaku saat ini.
Aku kembali memoles pewarna bibir di
depan cermin dan merapikan penampilanku. Memastikan bahwa penampilanku terlihat
manis untuk memuaskan pelangganku. ‘Kamu akan
terlihat selalu manis,’ ucapku menyakinkan gadis di sebrang cermin sana. Jujur
aku merindukanmu tentangmu yang selalu manis, dulu. Ya, kamu adalah gadis di
dalam cermin itu. Tentangmu yang akan selalu manis, walau kini kamu hanya akan
terlihat manis untuk memuaskan nafsu sesaat. Itulah kamu, parasku di depan
cermin.
keren :)
BalasHapusheheh, seneng deh di bilang keren.. :) salam kenal ya,, baca yg lainnya juga ya... komentar dan kritik sgt membantu..
Hapus