Jumat, 20 Januari 2012

Inilah, Aku Tanpa Mu


Beginilah aku tanpamu. Semua orang memandangku aneh. Pandangan iba sengaja dimunculkan di mimik wajah mereka, entah mereka tulus atau hanya berpura - pura. Pastinya aku merasa risih dipandang dengan iba seperti itu, hanya karena tanpamu.
Aku tak akan pernah lupa semua kebaikan dan ketulusan hati yang telah kamu berikan padaku. Kamu bahkan selalu rela menungguiku hingga selesai, saat aku ingin ke kamar mandi. Kamu selalu melindungiku, melindungiku dari segala hal yang yang berbahaya. Bahkan kamu selalu sigap menolongku ketika aku tak mampu melakukan sesuatu. Kamu juga ajari aku untuk mencintai seseorang. Kamu  dan aku bagaikan garpu dan pisau saat digunakan pada steak ataupun main course lainnya. Kau sebagai garpunya yang menahan dan menguatku saat memotong se-slice daging steak. Sungguh kini aku sendiri tanpamu.
Masih ku ingat kata – kata terakhirmu, “Aku ingin hidup, Nes!” pandangmu penuh arti padaku.
“Aku juga ingin hidup. Kita pasti berhasil. Operasi ini pasti akan sukses. Kita akan hidup sendiri dan tetap saling melengkapi,” ucapku berusaha tersenyum.
“Aku, juga ingin seperti itu. aku ingin bebas. Aku takut bila salah satu dari kita tak terselamatkan. Bahkan aku ingin hidup bila mungkin tanpamu. Aku ingin hidup, Nes!” ucapmu dengan pasti di kalimat terakhirmu. Kamu kemudian menangis, entah untuk apa. Untukku, untuk operasi ini atau untuk kehidupanmu saja?
Aku terdiam, aku tak tau harus berbuat apa. Menangis sepertimu kah? Untuk apa? untuk sisa – sisa waktu terakhirku mungkin? Lebih baik aku pikirkan cara lain untuk bertahan hidup kan? Sepertimu yang ingin bebas bahkan ingin hidup tanpaku. Kemudian, aku muak sendiri. Aku harus bisa! Ya, kalau kamu bisa berpikiran seperti itu, mengapa aku tak bisa?
“Sudahlah aku berharap yang terbaik bagimu. Ini, permen untuk menenangkanmu,” tangan kiriku menepuk pelan tangannya sambil memberikan sebuah permen yang telah kubuat secara rahasia padanya.
Kamu kemudian tersenyum, sambil berkata, ”Semoga, kita berdua bisa bebas dan bisa hidup!” aku rasa itu senyum palsumu. Jelas – jelas tadi kamu ingin hidup tanpaku.
Beberapa menit kemudian kamu menghisap permen yang kuberikan. Sebuah obat yang kubungkus dengan plastik permen, biar terlihat nyata itu adalah permen. Kamu memang paling mudah ditipu! Sebut saja permen itu adalah permen beta bloker, kutemukan tadi saat kita sedang general chek- up untuk persiapan operasi. Kulihat lagi sekilas sepesifikasinya sebelum kuberikan itu padamu. Beta bloker, obat untuk penderita angina pectoris dengan cara kerjanya menghambat sistem adrenergenik terhadap miokard yang menyebabkan kronotropik dan inotropik positif, sehingga denyut jantung dan curah jantung berkurang. Sangat baik bagi penderita angina pectoris tapi tidak untuk orang normal, sepertimu.
10 menit sebelum operasi, kamu sudah lenyap. Hilang dari dunia ini. Ini yang kamu mau kan bebas tanpa aku. Kita kini tak perlu berpura – pura saling membantu walau hati saling iri satu sama lain. Inilah aku tanpamu, berpura – pura sedih walau hati merasa nyaman dan tersenyum bebas. Bebas darimu, wahai kembar siamku. Kini tak ada lagi perasaaan aneh yang menggganjal di bagian perut kiriku, yang selalu kurasakan selama 17 tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar