Beginilah
aku tanpamu. Semua orang memandangku aneh. Pandangan iba sengaja dimunculkan di
mimik wajah mereka, entah mereka tulus atau hanya berpura - pura. Pastinya aku merasa
risih dipandang dengan iba seperti itu, hanya karena tanpamu.
Aku
tak akan pernah lupa semua kebaikan dan ketulusan hati yang telah kamu berikan
padaku. Kamu bahkan selalu rela menungguiku hingga selesai, saat aku ingin ke
kamar mandi. Kamu selalu melindungiku, melindungiku dari segala hal yang yang
berbahaya. Bahkan kamu selalu sigap menolongku ketika aku tak mampu melakukan
sesuatu. Kamu juga ajari aku untuk mencintai seseorang. Kamu dan aku bagaikan garpu dan pisau saat
digunakan pada steak ataupun main course lainnya. Kau sebagai
garpunya yang menahan dan menguatku saat memotong se-slice daging steak. Sungguh kini aku sendiri tanpamu.
Masih
ku ingat kata – kata terakhirmu, “Aku ingin hidup, Nes!” pandangmu penuh arti
padaku.
“Aku
juga ingin hidup. Kita pasti berhasil. Operasi ini pasti akan sukses. Kita akan
hidup sendiri dan tetap saling melengkapi,” ucapku berusaha tersenyum.
“Aku,
juga ingin seperti itu. aku ingin bebas. Aku takut bila salah satu dari kita
tak terselamatkan. Bahkan aku ingin hidup bila mungkin tanpamu. Aku ingin hidup, Nes!” ucapmu dengan pasti di kalimat terakhirmu. Kamu kemudian menangis, entah
untuk apa. Untukku, untuk operasi ini atau untuk kehidupanmu saja?
Aku
terdiam, aku tak tau harus berbuat apa. Menangis sepertimu kah? Untuk apa?
untuk sisa – sisa waktu terakhirku mungkin? Lebih baik aku pikirkan cara lain
untuk bertahan hidup kan? Sepertimu yang ingin bebas bahkan ingin hidup
tanpaku. Kemudian, aku muak sendiri. Aku harus bisa! Ya, kalau kamu bisa
berpikiran seperti itu, mengapa aku tak bisa?
“Sudahlah
aku berharap yang terbaik bagimu. Ini, permen untuk menenangkanmu,” tangan kiriku
menepuk pelan tangannya sambil memberikan sebuah permen yang telah kubuat
secara rahasia padanya.
Kamu
kemudian tersenyum, sambil berkata, ”Semoga, kita berdua bisa bebas dan bisa
hidup!” aku rasa itu senyum palsumu. Jelas – jelas tadi kamu ingin hidup
tanpaku.
Beberapa
menit kemudian kamu menghisap permen yang kuberikan. Sebuah obat yang kubungkus
dengan plastik permen, biar terlihat nyata itu adalah permen. Kamu memang
paling mudah ditipu! Sebut saja permen itu adalah permen beta bloker, kutemukan
tadi saat kita sedang general chek- up untuk persiapan operasi. Kulihat lagi
sekilas sepesifikasinya sebelum kuberikan itu padamu. Beta bloker, obat untuk
penderita angina pectoris dengan cara
kerjanya menghambat sistem adrenergenik terhadap
miokard yang menyebabkan kronotropik
dan inotropik positif, sehingga
denyut jantung dan curah jantung berkurang. Sangat baik bagi penderita angina pectoris tapi tidak untuk orang
normal, sepertimu.
10
menit sebelum operasi, kamu sudah lenyap. Hilang dari dunia ini. Ini yang kamu
mau kan bebas tanpa aku. Kita kini tak perlu berpura – pura saling membantu
walau hati saling iri satu sama lain. Inilah aku tanpamu, berpura – pura sedih
walau hati merasa nyaman dan tersenyum bebas. Bebas darimu, wahai kembar
siamku. Kini tak ada lagi perasaaan aneh yang menggganjal di bagian perut
kiriku, yang selalu kurasakan selama 17 tahun ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar