Rabu, 25 Januari 2012

Ini Bukan Judul Terakhir



            Saya sedang menyaksikan pemandangan seru ke dua remaja-lelaki dan gadis itu-di rumah makan tempat mereka bertemu. Pamandangan yang selalu saya lihat di pagi hari dan terkadang di malam hari. Pemandangan yang terkadang lucu ketika mereka berdua mulai kikuk. Kemudian badan saya terelus pelan saat dirinya hadir, menyapa saya. Mengajak saya bicara. Kemudia kami berdua sibuk dengan pikiran masing – masing, menikmati pemandangan ke dua remaja tersebut.
            “Baca ya,” ujar gadis itu tersenyum
            “Ah, lo seneng banget sih jejelin gue cerpen picisan lo itu. gue males bacanya tau,” ujar lelaki itu tajam.
            Seolah tak peduli gadis itu kemudian merajuk. “Ih, lo kok jahat banget sih. Gue kan butuh tanggepan orang. Kritik dan saran dari orang itu sangat membangun loh. Baca ya, baca. Nanti dikasih hadiah deh.”
            “Apa?” tanya lelaki itu nampak sangat bersemangat.
            “Yakin, mau tau sekarang? Nanti gak surprise dong?”
            “Mulai nih penyakitnya kambuh. Gak cerita, gak hadiah, sama aja yah selalu gantung gak jelas,” ujar lelaki itu mulai jengkel.
            “Tapi cerpen yang gue buat gak pernah gantung kan? hahaha” tawa gadis itu terdengar renyah dan saya hanya bisa menahan pilu dari sini.
            “Ya udah, ah, males baca cerpennya,” ujar lelaki itu mengancam.
            “Uduh, ngambek. Cup – cup – cup. Baca ya,” ujar gadis itu sambil tersenyum. “Hadiah adalah, jeng – jeng. Baca cerpen gue yang selanjutnya. Soalnya, ini bukan judul terakhir. Hahaha, masih banyak yang lainnya, gue janji,” ujar gadis itu lagi sambil tertawa renyah.
Selalu ini yang saya tunggu dari pertemuan mereka selama ini. Senyum dan tawa renyah gadis itu, seolah tanpa beban. Tapi kali ini rasanya saya tidak rela melihat gadis itu tersenyum.
“Dih, najong. Iye, iye gue baca. Apa sih yang gak buat kamu?” goda lelaki itu akhirnya.
“Hah?” tanya gadis itu tidak lagi tersenyum, kali ini mimik bingung terlintas di wajahnya.
“Emang, lo doang yang bisa ngejailin gue? Hahaha. Pasti udah GR ya?” tanya lelaki.  Hal – hal konyol seperti ini yang selalu saya liat diantara mereka berdua dan kadang dapat menghibur saya yang selalu sendiri. Saya rasa ada cinta yang terucap diantara mereka berdua.
“Jahat, ih! Udah ah, gue balik duluan. Banyak tugas nih,” ujar gadis itu mengakhiri pemandangan yang selalu seru untuk saya lihat.
            Tidak sampai 10 menit kemudian, dirinya tak lagi mengamati kedua remaja itu. Dirinya fokus memandangi gadis itu. Ketika itu juga gadis itu hilang bersama dirinya yang sedari tadi bertopang pada punggung saya.  Saya kemudian memandang gadis itu pias.
Gadis itu tertabrak mobil, terpelanting, darahnya bercipratan tak berarah, termasuk ke badan saya. Seketika gadis itu terbujur, tak bernyawa. Saya ingin sekali merengkuhnya, menolongnya, menyelamatkannya. Tapi bisa apa saya? Saya hanya pohon tua yang berada di depan rumah makan tempat kedua remaja itu sering bertemu. Lelaki itu kemudian berlari, menghampiri ketika menyadari apa yang terjadi.
Dirinya tadi tiba – tiba hadir. Duduk di punggung ranting saya, bercerita akan segera menjemput gadis itu. Ya, dirinya itu adalah malaikat maut. Janji gadis itu tak akan pernah mungkin tertepati. Memang ini bukan judul terakhir untuk lembaran lelaki itu tapi ini judul terakhir untuk gadis itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar