Saya sedang
menyaksikan pemandangan seru ke dua remaja-lelaki dan gadis itu-di rumah makan tempat
mereka bertemu. Pamandangan yang selalu saya lihat di pagi hari dan terkadang
di malam hari. Pemandangan yang terkadang lucu ketika mereka berdua mulai
kikuk. Kemudian badan saya terelus pelan saat dirinya hadir, menyapa saya. Mengajak
saya bicara. Kemudia kami berdua sibuk dengan pikiran masing – masing, menikmati
pemandangan ke dua remaja tersebut.
“Baca ya,” ujar
gadis itu tersenyum
“Ah, lo seneng
banget sih jejelin gue cerpen picisan lo itu. gue males bacanya tau,” ujar
lelaki itu tajam.
Seolah tak peduli
gadis itu kemudian merajuk. “Ih, lo kok jahat banget sih. Gue kan butuh
tanggepan orang. Kritik dan saran dari orang itu sangat membangun loh. Baca ya,
baca. Nanti dikasih hadiah deh.”
“Apa?” tanya
lelaki itu nampak sangat bersemangat.
“Yakin, mau tau
sekarang? Nanti gak surprise dong?”
“Mulai nih
penyakitnya kambuh. Gak cerita, gak hadiah, sama aja yah selalu gantung gak
jelas,” ujar lelaki itu mulai jengkel.
“Tapi cerpen
yang gue buat gak pernah gantung kan? hahaha” tawa gadis itu terdengar renyah
dan saya hanya bisa menahan pilu dari sini.
“Ya udah, ah,
males baca cerpennya,” ujar lelaki itu mengancam.
“Uduh, ngambek.
Cup – cup – cup. Baca ya,” ujar gadis itu sambil tersenyum. “Hadiah adalah,
jeng – jeng. Baca cerpen gue yang selanjutnya. Soalnya, ini bukan judul
terakhir. Hahaha, masih banyak yang lainnya, gue janji,” ujar gadis itu lagi
sambil tertawa renyah.
Selalu ini yang saya tunggu dari pertemuan mereka selama ini. Senyum
dan tawa renyah gadis itu, seolah tanpa beban. Tapi kali ini rasanya saya tidak
rela melihat gadis itu tersenyum.
“Dih, najong. Iye, iye gue baca. Apa sih yang gak buat kamu?”
goda lelaki itu akhirnya.
“Hah?” tanya gadis itu tidak lagi tersenyum, kali ini mimik bingung
terlintas di wajahnya.
“Emang, lo doang yang bisa ngejailin gue? Hahaha. Pasti udah GR
ya?” tanya lelaki. Hal – hal konyol
seperti ini yang selalu saya liat diantara mereka berdua dan kadang dapat
menghibur saya yang selalu sendiri. Saya rasa ada cinta yang terucap diantara
mereka berdua.
“Jahat, ih! Udah ah, gue balik duluan. Banyak tugas nih,” ujar
gadis itu mengakhiri pemandangan yang selalu seru untuk saya lihat.
Tidak sampai 10
menit kemudian, dirinya tak lagi mengamati kedua remaja itu. Dirinya fokus
memandangi gadis itu. Ketika itu juga gadis itu hilang bersama dirinya yang
sedari tadi bertopang pada punggung saya. Saya kemudian memandang gadis itu pias.
Gadis itu tertabrak mobil, terpelanting, darahnya bercipratan
tak berarah, termasuk ke badan saya. Seketika gadis itu terbujur, tak bernyawa.
Saya ingin sekali merengkuhnya, menolongnya, menyelamatkannya. Tapi bisa apa
saya? Saya hanya pohon tua yang berada di depan rumah makan tempat kedua remaja
itu sering bertemu. Lelaki itu kemudian berlari, menghampiri ketika menyadari
apa yang terjadi.
Dirinya tadi tiba – tiba hadir. Duduk di punggung ranting saya, bercerita
akan segera menjemput gadis itu. Ya, dirinya itu adalah malaikat maut. Janji gadis
itu tak akan pernah mungkin tertepati. Memang ini bukan judul terakhir
untuk lembaran lelaki itu tapi ini judul terakhir untuk gadis itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar