Aku
masih tersegal – segal. Entah ini yang keberapa kalinya aku melakukan *seri. Masih menunggu sebuah kepastian.
Tiga hari ini nampaknya seperti sebuah penantian yang masih menggantung. Kala
letih ini datang tak ada lagi niatan, hanya ingin pulang ke rumah.
Badan
ini rasanya sudah lengket. Penuh dengan lumpur entah tanah hujan atau tanah
rawa. Pakaian ku juga tak kalah heboh berantakannya. Harga diri bahkan tak lagi
penting. Aku hanya ingin pulang. Tak apa bila harus kutinggalkan harga diriku
di sini, aku mulai tak peduli.
“TUTUP
MATANYA LEBIH KUAT! IKUTI SAYA!” teriak seseorang menarikku dengan kasar. Aku kini bahkan merasa seperti ditelanjangi.
Sudah tak ada lagi harga diri ini.
Aku
terpaksa mengikuti orang yang menarikku. Aku hampir terperosok entah di mana.
Aku tak dapat melihat. Mataku ditutup rapat oleh sehelai kain. Ingin rasanya
menjerit. Aku tak rela kalau harus diperlakukan seperti ini terus. Ingin
menangis rasanya. Ketika tiba – tiba tubuhku diguyur oleh air entah dari mana.
Air ini bahkan tak hentinya mengguyurku. Hawa dingin mulai menusuk dinding
pertahanan tubuhku. Aku mengigil.
Kemudian
orang yang tadi membentakku tadi melepaskan tarikan tangannya dan mengaitkan
kedua tanganku entah dengan siapa. Mau diapakan lagi aku ini? Aku sungguh
letih, tak kuat jika harus di permainkan seperti ini. Suasana semakin sepi,
hanya suara gemericik air yang mengguyurku. Ini dimana? Aku mulai ingin
menangis.
Beban di pundakku terasa
semakin berat. Ya tuhan, aku gak kuat. Aku letih. Ingin pulang! Diantara
gemericik air kemudian terdengar suara lembut mengalun.
“Indonesia tanah air beta…
Pusaka abadi nan jaya…
Indonesia sejak dulu kala….
Tetap di puja-puja bangsa….”
Pusaka abadi nan jaya…
Indonesia sejak dulu kala….
Tetap di puja-puja bangsa….”
Kemudian
ikatan mataku ada yang melepas. aku terjerembab melihat pemandangan di depanku.
Air mataku jatuh.
“Selamat ya kamu sah! Sah menjadi anggota muda* sispala!" Peluk
erat, Kak Dio kakak kelas ku, sekaligus senior di ekskul pencinta alam sekolah ku.
“Di sana tempat lahir beta…
Dibuai dibesarkan bunda…
Tempat berlindung di hari tua..
Tempat akhir menutup mata..”
Lirik Indonesia pusaka masih mengalun lembut
dari para kakak kelas dan alumni yang ikut hadir dalam acara *diklatsar sispala
“Sungguh indah tanah air beta…
Tiada bandingnya di dunia…
Karya indah Tuhan Maha Kuasa…
Bagi bangsa yang memujanya…
Indonesia ibu pertiwi....
Kau kupuja kau kukasihi…
Tenagaku bahkan pun jiwaku…
Kepadamu rela kuberi…”
Tiada bandingnya di dunia…
Karya indah Tuhan Maha Kuasa…
Bagi bangsa yang memujanya…
Indonesia ibu pertiwi....
Kau kupuja kau kukasihi…
Tenagaku bahkan pun jiwaku…
Kepadamu rela kuberi…”
Rasanya
lega bukan main. Dilantik dibawah guyuran air terjun, yang di sinari rembulan
malam bersama teman – teman seperjuangan yang ada di samping kanan dan kiriku, sungguh
indah. Amarah dan segala gundah yang menerjang tiga hari ini pupus sudah.
Bahkan cariel yang melekat dipunggungku yang tadi terasa berat karena terguyur,
menjadi tak terasa lagi. Airku masih mengalir mengingat hal – hal apa saja yang
terjadi selama tiga hari ini. Mulai dari harus makan cacing, membuat biovac
dari ponco, hingga menemukan celana dalam teman cowok pun terjadi. Tiga hari
ini akan menjadi hal terindah dalam kisah ku. Ketika kata “sah!’ terucap dari
mulut Kak Dio.
Keterangan:
Seri:
1 kali seri sama dengan 10 kali Push
up
Diklatsar: pendidikan dan latihan dasar
sispala: siswa pecinta alam
#PS: berdasarkan kenangan pelantikan anggota muda moonpala. angkatan VIII . angin terpa purnama.
sispala: siswa pecinta alam
#PS: berdasarkan kenangan pelantikan anggota muda moonpala. angkatan VIII . angin terpa purnama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar