Keringat
menetes dari pelipisku. Sungguh make up
ini terlalu gatal melekat di wajahku. Puas kamu sekarang? Menyuruhku berdandan
bak barbie kemudian dibungkus dalam kotak besar sebagai kado ulang tahun untuk
Beben. Segera kamu akhiri saja pidato panjangmu itu, kemudian aku berganti baju
layaknya Maul, Yusep dan Sherloy. Kasual.
“Jadilah
milikku, mau?” tanyamu entah pada siapa. Hening. Semua terdiam, lima pandangan
mata langsung tertuju padaku, termasuk kamu. Pandangan lima sahabat karibku
sedari kecil.
Ada
apa? Mengapa semua mata memandangku? Kulirik Maul, kini dia tertunduk.
“Gue,
gak minta jawaban lo sekarang sih, Jah. Gue bakal nunggu lo sampai mau. Sebab
gue tau, alesan lo putus sama pacar lo karena long distance, dan gue gak bisa berharap banyak karena gue mau
kuliah di Jogja. Tapi kali ini gue gak
mau lo jadi milik orang lain lagi,” ucapmu padaku, terlihat begitu manis.
Kamu
tau? aku benci kata – kata itu. Benci! Kamu tau karena kata – kata sialan itu,
Maul membenciku? Aku yang bodoh atau kamu yang terlalu bodoh? Tidak sadar kah
sedari dulu Maul mencintaimu? Atau aku yang terlalu bodoh, kamu berteman
denganku karena ada maunya?
***
“Za, udah ya, ikhlasin. Nangis aja
Za, kalau mau nangis. Jangan ditahan lagi. Lepasin kemudian kubur bersamanya di
sini. Biar dia bisa tenang di sana,” Maul, menepuk ku pelan sambil menangis.
Sudah
dua tahun kamu menghilang. Kalau waktu itu aku yang menjauh darimu karena aku
tak bisa menghianati persahabatan, kini giliranmu yang melakukannya padaku. Begitu
benci kah kau pada ku sekarang? Aku telepon, tak ada ada jawaban. Aku sms
pending. Kamu kemana sih?
Kamu
jahat! Kamu memintaku menjadi milik mu, aku tak bisa. Sungguh aku tak sanggup
menyakiti Maul dan aku tak sanggup menghianati persahabatan. Sahabat ya sahabat
, cinta ya cinta, jangan dipersatukan! Sekarang kamu menghilang.
Sepintar
apapun aku menyembunyikan dan berusaha mengelak. Rasa ini milikmu, sedari dulu
tanpa kusadari tumbuh perlahan menjadi bayang – bayang persahabatan. Aku sayang
kamu. Apa ini tidak cukup? Jangan tanya apa arti sayang bagiku. Aku tak tau. Aku
hanya tak ingin ada yang berubah dan tak ingin kehilanganmu. Jadi tolong
hubungi aku segera. Jawab teleponku. Balas sms ku. Aku rindu kamu.
Dua
tahun, Cel, dua tahun aku percaya kamu masih di sini, membohongi kenyataan. Apa kamu
marah pada ku, membenciku hingga enggan membalas sms, atau sekedar menjawab
teleponku? Kini kuberanikan diri mengunjungimu untuk pertama kalinya.
mengunjungi tempat terakhirmu di sini, sebelum kecelakaan menjemputmu ke yaumul barzakh.
Maafin
aku, Cel. Aku rindu kamu. Aku butuh kamu, aku tak bisa tanpa kamu. Walau sudah kucoba
selama dua tahun ini, nampaknya selalu gagal. Maafkan aku, Cel ternyata aku
memang milikmu. Maaf, karena aku hanya bisa menyadari cinta dikala kehilangan. Kamu
masih ingat janjimu untuk menungguku kan? Masih ada kah sekarang? Bisa kah
sekali saja kau hadir dan mengatakannnya lagi, ‘Jadilah milikku, mau?’. Sekali saja, walau hanya dalam mimpi.
Kebumen,
29 Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar