Senin, 16 Januari 2012

Jadilah Milikku, Mau?


Keringat menetes dari pelipisku. Sungguh make up ini terlalu gatal melekat di wajahku. Puas kamu sekarang? Menyuruhku berdandan bak barbie kemudian dibungkus dalam kotak besar sebagai kado ulang tahun untuk Beben. Segera kamu akhiri saja pidato panjangmu itu, kemudian aku berganti baju layaknya Maul, Yusep dan Sherloy. Kasual.
“Jadilah milikku, mau?” tanyamu entah pada siapa. Hening. Semua terdiam, lima pandangan mata langsung tertuju padaku, termasuk kamu. Pandangan lima sahabat karibku sedari kecil.
Ada apa? Mengapa semua mata memandangku? Kulirik Maul, kini dia tertunduk.
“Gue, gak minta jawaban lo sekarang sih, Jah. Gue bakal nunggu lo sampai mau. Sebab gue tau, alesan lo putus sama pacar lo karena long distance, dan gue gak bisa berharap banyak karena gue mau kuliah  di Jogja. Tapi kali ini gue gak mau lo jadi milik orang lain lagi,” ucapmu padaku, terlihat begitu manis.
Kamu tau? aku benci kata – kata itu. Benci! Kamu tau karena kata – kata sialan itu, Maul membenciku? Aku yang bodoh atau kamu yang terlalu bodoh? Tidak sadar kah sedari dulu Maul mencintaimu? Atau aku yang terlalu bodoh, kamu berteman denganku karena ada maunya?
***
            “Za, udah ya, ikhlasin. Nangis aja Za, kalau mau nangis. Jangan ditahan lagi. Lepasin kemudian kubur bersamanya di sini. Biar dia bisa tenang di sana,” Maul, menepuk ku pelan sambil menangis.
Sudah dua tahun kamu menghilang. Kalau waktu itu aku yang menjauh darimu karena aku tak bisa menghianati persahabatan, kini giliranmu yang melakukannya padaku. Begitu benci kah kau pada ku sekarang? Aku telepon, tak ada ada jawaban. Aku sms pending. Kamu kemana sih?
Kamu jahat! Kamu memintaku menjadi milik mu, aku tak bisa. Sungguh aku tak sanggup menyakiti Maul dan aku tak sanggup menghianati persahabatan. Sahabat ya sahabat , cinta ya cinta, jangan dipersatukan! Sekarang kamu menghilang.
Sepintar apapun aku menyembunyikan dan berusaha mengelak. Rasa ini milikmu, sedari dulu tanpa kusadari tumbuh perlahan menjadi bayang – bayang persahabatan. Aku sayang kamu. Apa ini tidak cukup? Jangan tanya apa arti sayang bagiku. Aku tak tau. Aku hanya tak ingin ada yang berubah dan tak ingin kehilanganmu. Jadi tolong hubungi aku segera. Jawab teleponku. Balas sms ku. Aku rindu kamu.
Dua tahun, Cel, dua tahun aku percaya kamu masih di sini, membohongi kenyataan. Apa kamu marah pada ku, membenciku hingga enggan membalas sms, atau sekedar menjawab teleponku? Kini kuberanikan diri mengunjungimu untuk pertama kalinya. mengunjungi tempat terakhirmu di sini, sebelum kecelakaan menjemputmu ke yaumul barzakh.
Maafin aku, Cel. Aku rindu kamu. Aku butuh kamu, aku tak bisa tanpa kamu. Walau sudah kucoba selama dua tahun ini, nampaknya selalu gagal. Maafkan aku, Cel ternyata aku memang milikmu. Maaf, karena aku hanya bisa menyadari cinta dikala kehilangan. Kamu masih ingat janjimu untuk menungguku kan? Masih ada kah sekarang? Bisa kah sekali saja kau hadir dan mengatakannnya lagi, ‘Jadilah milikku, mau?’. Sekali saja, walau hanya dalam mimpi.
Kebumen, 29 Desember 2011


Rinduku yang tak akan pernah tersampaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar