“Eh,
lo mau gak gue kenalin sama Ratih?
Beneran deh dia perfect banget. Tipe cewe idaman,” ucapmu tersenyum sambil menyesap kopi di cafe
tempat kita bertemu. Jarang melihatmu membuatku kadang merasa kamu semakin
kurus. Apalagi dengan bajumu yang sangat kebesaran itu.
Selalu
saja pertemuan jarang ini kamu habiskan dengan menjodoh – jodohkanku dengan
temanmu. Sejak 8 tahun yang lalu, tepatnya, saat hatiku mantap memilihmu. Tak
pernah sadar kah dirimu?
“Tuhkan pasti cuma senyum doang,
serius nih. Kasian kan lo udah umur 27 tahun belum nikah juga, dulu katanya lo
mau nikah muda,” ucapmu. Lagi – lagi dengan sindiran tentang nikah muda. Belum
puas kah kamu selalu menertawakan ku?
“Abis
lo pasti cuma ceng – cengin doang. Mana? Kenyataannya gak ada satu pun kan yang
lo kenalin ke gue?” tanyaku memancing. Berharap ada mimik cemburu di wajahmu.
“Asik,
akhirnya si abang mau juga. Oke, fix nih ya, fix!”ucapmu memastikan. Masih,
tanpa dengan mimik yang sama, tanpa kecemburuan. Apa sedetik pun aku tak pernah
ada di hatimu?
“Iya,
tapi hanya kenalan saja ya? Karena...” sengaja kugantungkan kalimatku. Menunggu
reaksimu.
“Karena
apa bang?” tanyamu terlihat begitu antusias seperti biasanya, tanpa mimik
cemburu. Ya, tuhan, kamu tau? Aku begitu
lelah selalu menantimu. Menantimu mengekspresikan sejuta inginmu padaku. Tak
pernah ada kah?
“Karena
aku maunya kamu. Titik!” ucapku akhirnya. Sudah cukup, 8 tahun menunggumu bukan
hal yang mudah. Jika bukan aku mau mu, aku akan mundur. Tapi aku maunya kamu,
titik.
Hening.
Kamu diam, menunduk dan kemudian bulir air menetes dari wajahmu. Kamu kenapa?
Terharu kah? Terluka kah? Tak pernah sedikit pun aku melihatmu seperti ini.
Salah kah aku?
“Tapi...,
gue.., gue.., kanker, Dit. Kanker rahim.
Besok, rahim gue.., harus diangkat, hahaha. gue gak akan bisa punya anak, Dit.
Gue gak akan bisa jadi apa yang lo mau selama ini,” ucapmu sambil mengangkat
wajahmu, menghapus air matamu dan berusaha tertawa. Tapi hanya tawa getir yang
kulihat.
Jangan
ditanya perasaaku sekarang. Aku kaget. Bukan karena ceritamu barusan tapi
karena ekspresimu yang tak pernah kulihat selama ini. Ekspresi yang mungkin
selalu menghantuimu tanpa aku selama ini. Aku menghampiri kursimu. Ku peluk kau
erat, kubisikan kata – kata “Aku, maunya kamu, Bukan yang lainnya. Bukan juga rahimmu. Apa kamu mau menjadi pendamping
hidupku?”
“Aku,
juga maunya kamu, sedari dulu. Tapi aku takut menyakitimu,” balasmu pelan
sambil terisak dipunggungku. Membuatku
sadar kamu selalu mebutuhkanku selama ini. Hanya aku yang selama ini selalu
menyangkalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar