Minggu, 15 Januari 2012

Aku, Maunya Kamu, Titik!

                “Eh, lo mau gak gue kenalin sama Ratih?  Beneran deh dia perfect banget. Tipe cewe idaman,”  ucapmu tersenyum sambil menyesap kopi di cafe tempat kita bertemu. Jarang melihatmu membuatku kadang merasa kamu semakin kurus. Apalagi dengan bajumu yang sangat kebesaran itu.
                Selalu saja pertemuan jarang ini kamu habiskan dengan menjodoh – jodohkanku dengan temanmu. Sejak 8 tahun yang lalu, tepatnya, saat hatiku mantap memilihmu. Tak pernah sadar kah dirimu?
                “Tuhkan pasti cuma senyum doang, serius nih. Kasian kan lo udah umur 27 tahun belum nikah juga, dulu katanya lo mau nikah muda,” ucapmu. Lagi – lagi dengan sindiran tentang nikah muda. Belum puas kah kamu selalu menertawakan ku?
                “Abis lo pasti cuma ceng – cengin doang. Mana? Kenyataannya gak ada satu pun kan yang lo kenalin ke gue?” tanyaku memancing. Berharap ada mimik cemburu di wajahmu.
                “Asik, akhirnya si abang mau juga. Oke, fix nih ya, fix!”ucapmu memastikan. Masih, tanpa dengan mimik yang sama, tanpa kecemburuan. Apa sedetik pun aku tak pernah ada di hatimu?
                “Iya, tapi hanya kenalan saja ya? Karena...” sengaja kugantungkan kalimatku. Menunggu reaksimu.
                “Karena apa bang?” tanyamu terlihat begitu antusias seperti biasanya, tanpa mimik cemburu. Ya, tuhan, kamu tau? Aku  begitu lelah selalu menantimu. Menantimu mengekspresikan sejuta inginmu padaku. Tak pernah ada kah?
                “Karena aku maunya kamu. Titik!” ucapku akhirnya. Sudah cukup, 8 tahun menunggumu bukan hal yang mudah. Jika bukan aku mau mu, aku akan mundur. Tapi aku maunya kamu, titik.
                Hening. Kamu diam, menunduk dan kemudian bulir air menetes dari wajahmu. Kamu kenapa? Terharu kah? Terluka kah? Tak pernah sedikit pun aku melihatmu seperti ini. Salah kah aku?
                “Tapi..., gue..,  gue.., kanker, Dit. Kanker rahim. Besok, rahim gue.., harus diangkat, hahaha. gue gak akan bisa punya anak, Dit. Gue gak akan bisa jadi apa yang lo mau selama ini,” ucapmu sambil mengangkat wajahmu, menghapus air matamu dan berusaha tertawa. Tapi hanya tawa getir yang kulihat.
                Jangan ditanya perasaaku sekarang. Aku kaget. Bukan karena ceritamu barusan tapi karena ekspresimu yang tak pernah kulihat selama ini. Ekspresi yang mungkin selalu menghantuimu tanpa aku selama ini. Aku menghampiri kursimu. Ku peluk kau erat, kubisikan kata – kata “Aku, maunya kamu, Bukan yang lainnya. Bukan  juga rahimmu. Apa kamu mau menjadi pendamping hidupku?”
                “Aku, juga maunya kamu, sedari dulu. Tapi aku takut menyakitimu,” balasmu pelan sambil terisak dipunggungku.  Membuatku sadar kamu selalu mebutuhkanku selama ini. Hanya aku yang selama ini selalu menyangkalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar