Sabtu, 21 Januari 2012

Senyum, untukmu yang Lucu


            Kamu itu lucu, selalu bilang tak ingin pacaran tapi sikapmu yang kamu berikan padaku layaknya orang pacaran. Kamu itu lucu, selalu mengelak jika aku sudah mulai membicarakan masalah cinta. Tingkah lakumu itu lucu, saat aku mulai mengejekmu tentang statusmu yang masih saja selalu single hingga menginjak usia 24 tahun.
            Apapun yang kamu lakukan selalu terlihat lucu bagiku. Entah itu memang benar – benar lucu atau hanya pribahasaku saja menyebutmu lucu yang dengan kata lain berarti aneh. Semua hal tentangmu yang lucu kadang membuatku berkelakuan tak kalah lucunya. Menjadi stalker-mu, melakukan hal annoying seperti menelponmu dengan private number, menangisimu untuk hal yang tak jelas. Lucunya hal itu akau lakukan ketika kamu mulai menjaga jarak dariku. Bisa apa aku? Aku hanya sekertarismu.
           
***
            Kamu itu lucu, selalu meledek saya single padahal kamu juga single. Kamu itu lucu selalu menyendiri dengan HP mu saat sedang luang entah untuk apa. Kemudian saya akan disibuk dengan stalker yang mengubungi entah siapa.  Atau harus saya sebutkan kalau orang itu kamu? Saya pernah memergokimu sedang mencoba menghubungi saya. Kala itu saya sengaja meng-hold, dan tanpa kamu sadari saya berada dibelakangmu. Menemukan nama saya di HPmu.
            “Pak, saya di miscall sama orang, gak tau siapa. Saya takut, tiba – tiba orang itu sms saya dan dia tau saya kerja di sini. Bagaimana ini?” ucapmu kalut, ketika dengan tiba – tiba memasuki ruang kantorku. Tumben kamu memanggil saya dengan sebutan ‘pak’ dan berkata ‘saya’. Itulah kamu yang lucu, selalu berlaku sopan saat sedang panik, sama halnya ketika ada pertemuan dengan dewan direksi.    
            “Ya, mana saya tau, itu kan urusanmu bukan urusan saya. Kenapa kamu berwajah kalut dan langsung masuk ke ruangan saya?” tanya saya menahan senyum. Kamu belum tau saja, yang meng-sms mu itu saya. Memangnya cuma kamu yang bisa bertingkah laku curang seperti itu?
            “Ah, iya,” ucapmu kecewa seperti menyadari bahwa yang kamu lakukan adalah kebodohan.
***
            Aku kalut, bagaimana tidak ada yang meng-sms ku entah siapa, dan aku paling takut didekati oleh orang yang tak dkenal. Bodohnya aku malah masuk ke ruanganmu, orang yang sekarang semakin hari semakin lucu kesombongannya.
            “Hey, tunggu! Lo udah tau siapa yang meng-sms lo? Kok main pergi begitu saja dari ruangan ini?” tanyamu penuh arti saatku akan menarik pintu ruangan ini. Kamu itu lucu tadi mengusirku kini bertanya padaku dengan iba. Eh, atau sedang tersenyum picik ya?
            Kamu kemudian tersenyum kepadaku,”Kamu itu lucu ya, makanya kalau mau jadi stalker belajar dulu, sama ahlinya. Saya janji kok bakal mengajarinya kalau kamu mau,” ucapmu lucu tadi ngomongnya gue-lo sekarang saya-kamu.
            “Maksud kamu?” tanyaku masih tak mengerti ucapannya.
            “Kamu itu lucu, kenapa harus jadi stalker kalau ruangan kita bahkan tak berjarak lebih dari 5 meter?” ucapmu kali ini tersenyum menyeriangai, penuh kemenangan.
Kamu itu lucu, bisa mempermainkanku seperti ini hingga aku terlihat lucu di di hadapanmu dan kali ini kamu tersenyum puas. Kamu lucu karena mulai belajar mempermainkan orang dariku. Kali ini objeknya adalah aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar