Kamu itu lucu, selalu bilang tak
ingin pacaran tapi sikapmu yang kamu berikan padaku layaknya orang pacaran. Kamu
itu lucu, selalu mengelak jika aku sudah mulai membicarakan masalah cinta. Tingkah
lakumu itu lucu, saat aku mulai mengejekmu tentang statusmu yang masih saja
selalu single hingga menginjak usia
24 tahun.
Apapun yang kamu lakukan selalu
terlihat lucu bagiku. Entah itu memang benar – benar lucu atau hanya pribahasaku
saja menyebutmu lucu yang dengan kata lain berarti aneh. Semua hal tentangmu
yang lucu kadang membuatku berkelakuan tak kalah lucunya. Menjadi stalker-mu, melakukan hal annoying seperti menelponmu dengan private number, menangisimu untuk hal
yang tak jelas. Lucunya hal itu akau lakukan ketika kamu mulai menjaga jarak
dariku. Bisa apa aku? Aku hanya sekertarismu.
***
Kamu itu lucu, selalu meledek saya single padahal kamu juga single. Kamu itu lucu selalu menyendiri
dengan HP mu saat sedang luang entah untuk apa. Kemudian saya akan disibuk
dengan stalker yang mengubungi entah
siapa. Atau harus saya sebutkan kalau
orang itu kamu? Saya pernah memergokimu sedang mencoba menghubungi saya. Kala itu
saya sengaja meng-hold, dan tanpa
kamu sadari saya berada dibelakangmu. Menemukan nama saya di HPmu.
“Pak, saya di miscall sama orang, gak tau siapa. Saya takut, tiba – tiba orang
itu sms saya dan dia tau saya kerja di sini. Bagaimana ini?” ucapmu kalut,
ketika dengan tiba – tiba memasuki ruang kantorku. Tumben kamu memanggil saya
dengan sebutan ‘pak’ dan berkata ‘saya’. Itulah kamu yang lucu, selalu berlaku
sopan saat sedang panik, sama halnya ketika ada pertemuan dengan dewan direksi.
“Ya, mana saya tau, itu kan urusanmu
bukan urusan saya. Kenapa kamu berwajah kalut dan langsung masuk ke ruangan
saya?” tanya saya menahan senyum. Kamu belum tau saja, yang meng-sms mu itu
saya. Memangnya cuma kamu yang bisa bertingkah laku curang seperti itu?
“Ah, iya,” ucapmu kecewa seperti
menyadari bahwa yang kamu lakukan adalah kebodohan.
***
Aku kalut, bagaimana tidak ada yang
meng-sms ku entah siapa, dan aku paling takut didekati oleh orang yang tak
dkenal. Bodohnya aku malah masuk ke ruanganmu, orang yang sekarang semakin hari
semakin lucu kesombongannya.
“Hey, tunggu! Lo udah tau siapa yang
meng-sms lo? Kok main pergi begitu saja dari ruangan ini?” tanyamu penuh arti saatku
akan menarik pintu ruangan ini. Kamu itu lucu tadi mengusirku kini bertanya
padaku dengan iba. Eh, atau sedang tersenyum picik ya?
Kamu kemudian tersenyum kepadaku,”Kamu
itu lucu ya, makanya kalau mau jadi stalker
belajar dulu, sama ahlinya. Saya janji kok bakal mengajarinya kalau kamu
mau,” ucapmu lucu tadi ngomongnya gue-lo sekarang saya-kamu.
“Maksud kamu?” tanyaku masih tak
mengerti ucapannya.
“Kamu itu lucu, kenapa harus jadi stalker kalau ruangan kita bahkan tak
berjarak lebih dari 5 meter?” ucapmu kali ini tersenyum menyeriangai, penuh
kemenangan.
Kamu
itu lucu, bisa mempermainkanku seperti ini hingga aku terlihat lucu di di hadapanmu
dan kali ini kamu tersenyum puas. Kamu lucu karena mulai belajar mempermainkan orang
dariku. Kali ini objeknya adalah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar