Senin, 02 Januari 2012

Menyelami keindahan budaya di Jakarta


Ada apa sih di kota tua? kota tua lebih sering sekedar dijadikan ajang foto – foto narsis bagi para pengunjung umumnya, atau sebagai objek yang patut dimiliki bagi para pecinta fotografi. Lantas hanya sebatas itu kah kegunaan kota tua di mata masyarakat? Mm, mungkin, saya jugat tidak tau. Tapi kota tua menurut saya mempunyai keindahan tersendiri.
Kota tua itu aset budaya. Wajah lukisan sejarah yang tidak dapat diceritakan dengan lisan. Di sana kita seakan dia ajak kembali ke masa – masa lampau yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Di kota tua juga terdapat museum – museum yang turut mendukung. Di sana terdapat beberapa museum, yang paling terkenal adalah museum fatahilah dan museum bank Indonesia. Tetapi selain itu ada museum, wayang, museum senirupa dan keramik, museum bahari dan masih banyak lagi.  Hal ini lah yang membuat saya kembali ke kota tua sore kemarin.








museum - musein yang ada di koat tua *

Berawal dari ajakan iseng teman SMP saya yang sudah sangat cukup lama tak bertemu. Saya yang memang dari dulu lebih bela – belain ke museum dari pada ke mall, tentunya langsung meng-iya-kan ajakan teman saya ini. Apalagi beliau tidak mempunyai waktu kosong karena sudah bekerja, kapan lagi bisa bertemu dengannya?  Jadi dengan mengatakan ‘iya’ sambil lalu. Hoplah! jadilah kami berdua pergi ke kota tua tanpa tujuan.
Berangkat jam 12.30 siang dari Bunderan pamulang, dengan total ongkos hanya 17rb pulang –pergi, sampailah kami di kota tua. dengan rincian awal 3rb naik angkot kearah ciputat. Turun diciputat naik kea rah Blok M.  Di sini anda dapat memilih mau naik bus ber AC atau tidak. Kalau ber-AC naiklah bus dengan kode 76 dengan ongkos 7rb. Mau lebih menghemat? Naik bus P21 dengan ongkos hanya 2rb.  Sampai di blok M, anda akan di cuci mata dengan kepadatan para penjual menjajakan dagangannya, mulai dari sepatu hingga baju lengakap di sana. Kalau tujuannya ke blok M ya berarti udah selesai deh perjalanannya . #nahloh.  Oke – oke, kalau laper mata sih biasanya bisa bertahan di sini 1-2 jam untuk sekedar membeli atau hanya tawar – menawar dengan pedagang, siapa tau dapat jodoh. *hadeu, makin ngaco nih*
gerbang KA. KOTA malam hari*
Iya, iya lanjut ya perjalanannya. Dari blok M mari kita mengarah ke arah bawah membeli tiket bus way dan menuju kota tua. Ongkos busway Alhamdulillah sampe saat ini masih 3,5rb. Naik bus way hinggga pemberhentian terakhir maka sampai lah di kota tua. Jadi angkos sekali perjalanan hanya 8,5rb. Pulang pergi jadi 17rb deh, kalau nak P21 sih tapi. :P Turun dari bus way kita menuju ke bawah, melewati  jalan stasiun KA. Kota, keluar stasiun sebentar sampai lah kita di kota tua. 
Salah banget kalau ke Kota Tua di tahun baru. Tepatnya tanggal 1 Januari. Penuh, ramai pengunjung, membeludak bagai pasar malam dan tentunya semua museum tutup!  Itu lah yang ada di benak saya awal sore kemarin mengunjungi kota tua. Apa mau dikata sudah sampai mengapa tidak mencoba menikmati?



 suasana ramai pengunjung *

Kecewa tentu ada, Kami pun bergerak perlahan-karena penuh pengunjung-saya mencari objek yang bisa saya lihat. Terdengar suara keroncong dan kecapi dari kejauhan. Saya dan teman saya mengikuti suara tersebut ternyata ada 2 ondel – ondel yang sedang manari – nari menarik perhatian para pengunjung yang tentunya beberapanya adalah bule. Hehehehe. Mendengar alunan suara music khas betawi ini membuat saya terpaku. SENANG! Seru. J




 *alih -alih sedang menari nari, sang ondel - ondel mau juga di foto

Kemudian mata saya menjalar ke sekeliling ternyata ada beberapa yang menjual wayang ondel – ondel dan menjajahkan kantong kosong untuk meminta uang, beberapa yang lainnya sibuk memainkan alat music khas betawi. Ternyata ada hiburan juga walaupun museum pada tutup karena libur. Seakan tidak mau mengambil kesempatan langkah ini para pedang dan menjajakkan dagangannya semakin memadati jalan. Beberapa senimana juga tidak mau kalah layaknya tarian ondel – ondel di sudut lainnya, tapatnya di tengah – tengah kota tua ada beberapa seniman yang memainkan atraksi debus. Setelah puas mengagumi tarian – tarian ondel – ondel ini saya langsung mengunjungi debus yang tak kalah ramai pengunjung.

*foto dengan si kobra siapa berani?



*debus itu memilukan
Alih – alih hanya melihat sekilas, teman saya hanya bertahan selama 15 menit, karena tidak kuat dengan atraksi anak kecil yang di ikat – ikat dan di cambuk – cambuk. Pengen sih melihat sampa selesai tapi karena teman saya tidak kuat dan saya juga tidak terlalu ingin pengelihatan terkontaminasi dengan atraksi yang menyayat hati ini. Maka saya dan teman saya memutuskan untuk berjalan – jalan lagi mencari seuatu yang baru untuk dapat di lihat.
Berjalan sedikit dari tengah saya menemukan bapak – bapak yang sedang memegang ular kobra. Ternyata bapak itu menyediakan kesempatan foto bareng dengan ular kobra dengan biaya 5rb/ foto. Haduh, hati pengen banget sih ikutan. Tapi kalau di foto sambil diliatin orang banyak gitu, rada gimana ya? Lagian kasian juga sama si ular, harus menahan ekspresi berfoto – foto dengan orang banyak dan harus kehilangan instingnya sebagai pemburu. *sotoy gitu saya, sok tau tentang ular*   
Di kota tua ini selain dapat menikmati dan mempelajari ke indahan budaya dalam bentuk museum kita juga dapat berkeliling menikmati suasana jaman dulu dengan menaiki sepeda ontel plus topi cantik dengan ongkos 10rb selama 30 menit atau 15rb selama 1 jam. So saya beranjak ingin tapi lagi - lagi saya terpojok, melihat penuhnya lalu lalang pengunjung. Tapi, tapi hasrad bersepedah saya dan teman saya masih meraung – raung dalam hati. Akhirnya kami menyewa sepeda ontel bewarna hijau toska. Baru berjalan sebentar rantainya copot. Jeng – jeng! Untung belum terlalu jauh bersepedah. Kembali lah kami berdua ke tempat penyewaan tadi dan mengantinya dengan warna ungu.



*sepeda ontel plus topi cantik
Sudah puas dengan jalan – jalan saya. Giliran keinginana teman saya yang terpendam itu yang mulai beraksi. CABUL! = Cari bule. Sarap emang itu orang, bule manis dapat tapi beliau hanya terdiam. Beberapa kali searching-menemukan-speachless, akhirnya beliau mempunyai keberanian juga untuk berfoto dengan bule. Dan lagi – lagi saya yang jadi tumbalnya, ikut di suruh foto dengan si bule.

*si moe berhasil menahlukkan bule
Misi teman saya terlaksana, perut pun lapar. Hahaha. Misi selanjutnya adalah memenuhi perut. Lapar, bo! Di kota tua ini banyak penjual makanan, mulai dari cimol, kentang goreng, tahu gejrot, kerak telor, somay, soto daging, mia ayam, batagor, bakso sampai arum manis dan es potong pun tersedia. Setelah membading – bandingkan harga akhirnya kami memutuskan membeli gorengan. Jauh – jauh ke kota tua tetep ya gorengan makanan andalannya. J
*salah satu pedangang kerak telor 
Sambil menikmati gorengan kami mengelilingi jalan sekitar. Selain pedangan baju, jam gelang, dan sepatu yang bertebaran dimana – mana ternyata ada juga bapak – bapak yang mengelar tikar untuk meramal garis tangan, bergeser sedikit pamandangan sudah beralih pada seorang bapak – bapak yang mempromosikan obat untuk menghilangkan karang gigi serta memasangkan behel.
Sudah capek berjalan – jalan kami duduk di bola batu, menunggu hingga malam. tujuannya untuk mendapatkan view temaram dari lampu di sekeliling kota tua dengan pemandangan air mancur di tengahnya yang tak kalah eksotis.
Menunggu hingga pukul 6 lewat ternyata air mancur tak kunjung menyala. Mulai curiga si air mancur libur juga. Alih – alih menunggu air mancur, mata teman saya yang ahli cabul (cari bule) itu tiba – tiba menemukan bule yang menurutnya ”tipe gue banget!” mata saya langsung mencari. Jika mata beliau terpaku dengan si bule bertopi, pandangan saya malah melenceng sedikit ke teman di sebelahnya. Menjingjing ransel dengan baju biru dengan rambut coklat kekuningan. Senyumnya, membuat saya lumer. Hadoh! Makin di lihat makin jatuh hati.
Lain halnya dengan saya, teman saya galau seketika. ingin foto dengan si cowok bertopi itu tapi keberaniannya menciut. Mendatangi mereka yang sedang makan atau terdiam di kejauhan sambil memandangi? Ternyata pilihan yang kedua lah yang kami pilih, melihat si bule yang sedang makanan. Si bule demenannya teman saya sibuk makan dan demanannya saya sedang asik memakan rambutan saudara - saudara! Jangan ditanya, caranya memakan rambutan membuat saya terkesima. Membuka kulit rambutan dengan cara Menggigit kulinya dengan mulut. Lucu, kayak anak kecil.

Saya berusaha mengalihkan padangan ke air macur yang saya tunggu tapi tak kunjung  menyala juga, perhatian saya kembali tertujug pada si bule itu, aduh! Melting! Walau tak sempat berkenalan tapi melihatnya dari kejauhan sudah cukup. J segala ke kurangan kota tua hari ini seakan terbayar sudah. Akhirnya saat kedua bule itu pergi kamu memutuskan untuk pulang.

*ketika malam mulai menyambut
Saran saya sih kalau memang ingin menikmati kota tua dengan tentram pilih lah hari – hari biasa bukan hari liburan. Siapakan 50rb juga sudah cukup untuk memasuki museum – museum yang ada di sana. Kisarah harga di museum antara 2rb-10rb. mm,, mungkin ada serunya juga jalan – jalan saaat liburan. Kapan lagi bisa menyaksikan ondel – ondel beraksi dan debus? Saya rasa jika bukan saat liburan dan museum tidak libur kedua atraksi tersebut tidak akan ada. Selamat berwisata. 







*suasana kota tua di malah ari yang nan eksotis :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar