Ada apa sih di kota tua? kota tua lebih sering sekedar dijadikan
ajang foto – foto narsis bagi para pengunjung umumnya, atau sebagai objek yang
patut dimiliki bagi para pecinta fotografi. Lantas hanya sebatas itu kah
kegunaan kota tua di mata masyarakat? Mm, mungkin, saya jugat tidak tau. Tapi
kota tua menurut saya mempunyai keindahan tersendiri.
Kota tua itu aset budaya. Wajah lukisan sejarah yang tidak
dapat diceritakan dengan lisan. Di sana kita seakan dia ajak kembali ke masa –
masa lampau yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Di kota tua juga
terdapat museum – museum yang turut mendukung. Di sana terdapat beberapa
museum, yang paling terkenal adalah museum fatahilah dan museum bank Indonesia.
Tetapi selain itu ada museum, wayang, museum senirupa dan keramik, museum
bahari dan masih banyak lagi. Hal ini
lah yang membuat saya kembali ke kota tua sore kemarin.
museum - musein yang ada di koat tua *
Berawal dari ajakan iseng teman SMP saya yang sudah sangat
cukup lama tak bertemu. Saya yang memang dari dulu lebih bela – belain ke
museum dari pada ke mall, tentunya langsung meng-iya-kan ajakan teman saya ini.
Apalagi beliau tidak mempunyai waktu kosong karena sudah bekerja, kapan lagi
bisa bertemu dengannya? Jadi dengan
mengatakan ‘iya’ sambil lalu. Hoplah! jadilah kami berdua pergi ke kota tua
tanpa tujuan.
Berangkat jam 12.30 siang dari Bunderan pamulang, dengan
total ongkos hanya 17rb pulang –pergi, sampailah kami di kota tua. dengan
rincian awal 3rb naik angkot kearah ciputat. Turun diciputat naik kea rah Blok
M. Di sini anda dapat memilih mau naik
bus ber AC atau tidak. Kalau ber-AC naiklah bus dengan kode 76 dengan ongkos
7rb. Mau lebih menghemat? Naik bus P21 dengan ongkos hanya 2rb. Sampai di blok M, anda akan di cuci mata
dengan kepadatan para penjual menjajakan dagangannya, mulai dari sepatu hingga
baju lengakap di sana. Kalau tujuannya ke blok M ya berarti udah selesai deh
perjalanannya . #nahloh. Oke – oke,
kalau laper mata sih biasanya bisa bertahan di sini 1-2 jam untuk sekedar
membeli atau hanya tawar – menawar dengan pedagang, siapa tau dapat jodoh.
*hadeu, makin ngaco nih*
gerbang KA. KOTA malam hari*
Iya, iya lanjut ya perjalanannya. Dari blok M mari kita
mengarah ke arah bawah membeli tiket bus way dan menuju kota tua. Ongkos busway
Alhamdulillah sampe saat ini masih 3,5rb. Naik bus way hinggga pemberhentian
terakhir maka sampai lah di kota tua. Jadi angkos sekali perjalanan hanya
8,5rb. Pulang pergi jadi 17rb deh, kalau nak P21 sih tapi. :P Turun dari bus
way kita menuju ke bawah, melewati jalan
stasiun KA. Kota, keluar stasiun sebentar sampai lah kita di kota tua.
Salah banget kalau ke Kota Tua di tahun baru. Tepatnya tanggal
1 Januari. Penuh, ramai pengunjung, membeludak bagai pasar malam dan tentunya
semua museum tutup! Itu lah yang ada di
benak saya awal sore kemarin mengunjungi kota tua. Apa mau dikata sudah sampai
mengapa tidak mencoba menikmati?
suasana ramai pengunjung *
Kecewa tentu ada, Kami pun bergerak perlahan-karena penuh
pengunjung-saya mencari objek yang bisa saya lihat. Terdengar suara keroncong
dan kecapi dari kejauhan. Saya dan teman saya mengikuti suara tersebut ternyata
ada 2 ondel – ondel yang sedang manari – nari menarik perhatian para pengunjung
yang tentunya beberapanya adalah bule. Hehehehe. Mendengar alunan suara music
khas betawi ini membuat saya terpaku. SENANG! Seru. J
*alih -alih sedang menari nari, sang ondel - ondel mau juga di foto
Kemudian mata saya menjalar ke sekeliling ternyata ada
beberapa yang menjual wayang ondel – ondel dan menjajahkan kantong kosong untuk
meminta uang, beberapa yang lainnya sibuk memainkan alat music khas betawi.
Ternyata ada hiburan juga walaupun museum pada tutup karena libur. Seakan tidak
mau mengambil kesempatan langkah ini para pedang dan menjajakkan dagangannya
semakin memadati jalan. Beberapa senimana juga tidak mau kalah layaknya tarian
ondel – ondel di sudut lainnya, tapatnya di tengah – tengah kota tua ada beberapa
seniman yang memainkan atraksi debus. Setelah puas mengagumi tarian – tarian
ondel – ondel ini saya langsung mengunjungi debus yang tak kalah ramai
pengunjung.
*foto dengan si kobra siapa berani?
*debus itu memilukan
Alih – alih hanya melihat sekilas, teman saya hanya bertahan
selama 15 menit, karena tidak kuat dengan atraksi anak kecil yang di ikat –
ikat dan di cambuk – cambuk. Pengen sih melihat sampa selesai tapi karena teman
saya tidak kuat dan saya juga tidak terlalu ingin pengelihatan terkontaminasi
dengan atraksi yang menyayat hati ini. Maka saya dan teman saya memutuskan
untuk berjalan – jalan lagi mencari seuatu yang baru untuk dapat di lihat.
Berjalan sedikit dari tengah saya menemukan bapak – bapak
yang sedang memegang ular kobra. Ternyata bapak itu menyediakan kesempatan foto
bareng dengan ular kobra dengan biaya 5rb/ foto. Haduh, hati pengen banget sih
ikutan. Tapi kalau di foto sambil diliatin orang banyak gitu, rada gimana ya?
Lagian kasian juga sama si ular, harus menahan ekspresi berfoto – foto dengan
orang banyak dan harus kehilangan instingnya sebagai pemburu. *sotoy gitu saya,
sok tau tentang ular*
Di kota tua ini selain dapat menikmati dan mempelajari ke indahan
budaya dalam bentuk museum kita juga dapat berkeliling menikmati suasana jaman
dulu dengan menaiki sepeda ontel plus topi cantik dengan ongkos 10rb selama 30
menit atau 15rb selama 1 jam. So saya beranjak ingin tapi lagi - lagi saya
terpojok, melihat penuhnya lalu lalang pengunjung. Tapi, tapi hasrad bersepedah
saya dan teman saya masih meraung – raung dalam hati. Akhirnya kami menyewa
sepeda ontel bewarna hijau toska. Baru berjalan sebentar rantainya copot. Jeng
– jeng! Untung belum terlalu jauh bersepedah. Kembali lah kami berdua ke tempat
penyewaan tadi dan mengantinya dengan warna ungu.
*sepeda ontel plus topi cantik
Sudah puas dengan jalan – jalan saya. Giliran keinginana
teman saya yang terpendam itu yang mulai beraksi. CABUL! = Cari bule. Sarap
emang itu orang, bule manis dapat tapi beliau hanya terdiam. Beberapa kali searching-menemukan-speachless, akhirnya beliau mempunyai keberanian juga untuk berfoto
dengan bule. Dan lagi – lagi saya yang jadi tumbalnya, ikut di suruh foto
dengan si bule.
*si moe berhasil menahlukkan bule
Misi teman saya terlaksana, perut pun lapar. Hahaha. Misi
selanjutnya adalah memenuhi perut. Lapar, bo! Di kota tua ini banyak penjual
makanan, mulai dari cimol, kentang goreng, tahu gejrot, kerak telor, somay,
soto daging, mia ayam, batagor, bakso sampai arum manis dan es potong pun
tersedia. Setelah membading – bandingkan harga akhirnya kami memutuskan membeli
gorengan. Jauh – jauh ke kota tua tetep ya gorengan makanan andalannya. J
*salah satu pedangang kerak telor
Sambil menikmati gorengan kami mengelilingi jalan sekitar.
Selain pedangan baju, jam gelang, dan sepatu yang bertebaran dimana – mana
ternyata ada juga bapak – bapak yang mengelar tikar untuk meramal garis tangan,
bergeser sedikit pamandangan sudah beralih pada seorang bapak – bapak yang
mempromosikan obat untuk menghilangkan karang gigi serta memasangkan behel.
Sudah capek berjalan – jalan kami duduk di bola batu, menunggu
hingga malam. tujuannya untuk mendapatkan view
temaram dari lampu di sekeliling kota tua dengan pemandangan air mancur di
tengahnya yang tak kalah eksotis.
Menunggu hingga pukul 6 lewat ternyata air mancur tak
kunjung menyala. Mulai curiga si air mancur libur juga. Alih – alih menunggu
air mancur, mata teman saya yang ahli cabul (cari bule) itu tiba – tiba
menemukan bule yang menurutnya ”tipe gue banget!” mata saya langsung mencari.
Jika mata beliau terpaku dengan si bule bertopi, pandangan saya malah melenceng
sedikit ke teman di sebelahnya. Menjingjing ransel dengan baju biru dengan
rambut coklat kekuningan. Senyumnya, membuat saya lumer. Hadoh! Makin di lihat
makin jatuh hati.
Lain halnya dengan saya, teman saya galau seketika. ingin
foto dengan si cowok bertopi itu tapi keberaniannya menciut. Mendatangi mereka
yang sedang makan atau terdiam di kejauhan sambil memandangi? Ternyata pilihan
yang kedua lah yang kami pilih, melihat si bule yang sedang makanan. Si bule
demenannya teman saya sibuk makan dan demanannya saya sedang asik memakan
rambutan saudara - saudara! Jangan ditanya, caranya memakan rambutan membuat
saya terkesima. Membuka kulit rambutan dengan cara Menggigit kulinya dengan
mulut. Lucu, kayak anak kecil.
Saya berusaha mengalihkan padangan ke air macur yang saya
tunggu tapi tak kunjung menyala juga,
perhatian saya kembali tertujug pada si bule itu, aduh! Melting! Walau tak
sempat berkenalan tapi melihatnya dari kejauhan sudah cukup. J
segala ke kurangan kota tua hari ini seakan terbayar sudah. Akhirnya saat kedua
bule itu pergi kamu memutuskan untuk pulang.
*ketika malam mulai menyambut
Saran saya sih kalau memang ingin menikmati kota tua dengan
tentram pilih lah hari – hari biasa bukan hari liburan. Siapakan 50rb juga
sudah cukup untuk memasuki museum – museum yang ada di sana. Kisarah harga di
museum antara 2rb-10rb. mm,, mungkin ada serunya juga jalan – jalan
saaat liburan. Kapan lagi bisa menyaksikan ondel – ondel beraksi dan debus? Saya
rasa jika bukan saat liburan dan museum tidak libur kedua atraksi tersebut
tidak akan ada. Selamat berwisata. J
*suasana kota tua di malah ari yang nan eksotis :)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar