Jumat, 13 Januari 2012

Dag - Dig - Dug


“DOR!” dag – dig – dug, jantungku bergetar dengan kencangnya. Sial! Lagi – lagi aku  dikageti oleh Pak Rido salah satu pegawai di lab tempatku training.
“Hahaha,” tawa renyah dari Siska patner kerjaku menyusul sekian detik dari si aa’, panggilan akrab Pak Rido.
Hari ini kalau dihitung sudah yang ke tujuh kalinya aku dikageti dan sebanyak itu pula aku kaget. Padahal terkadang yang dikageti itu Siska tapi yang kaget malah aku. Siska yang memang bukan orang dengan tipikal kagetan seolah bersekongkol dengan aa’ untuk mengerjaiku. Baru juga sehari training, dia sudah berani mengisengi kami berdua, tapi selalu aku yang kena. Baru 3 hari saja aku sudah capek kaget melulu. Cepat mati kali, training lama – lama di sini.
Keisengan aa’ ternyata bukan hanya kepada anak training seperti kami berdua. Sampai mbak house keeping saja kena ulahnya. Tadi pagi ia menyembunyikan sepatu mbak itu saat sedang bersih – bersih diruang lab. Kemudian meninggalkan mbak itu untuk mengambil sampel. Sepulangnya kami dari mengambil sampel, mbak itu masih kebingungan mencari sepatunya.
“Pak Rido, sepatu saya mana? “ tanyanya pelan.
“Ih, gak tau, yang taruh kan mbak. Kok tanya saya?”
“Pak, saya masih harus kerja nih,” ucap mbak itu lirih.
Setelah perdebatan panjang, tanpa perlawanan dari si mbak, akhirnya si aa’ mengembalikan sepatu mbak itu.
***
“Bruk” bunyi botol – botol pengenceran dari beling sengaja dibanting oleh  aa’ untuk mengagetkan Siska, tapi siska tak bergeming. Entah bolot atau memang tidak sensitif. Justru aku dan mbak house keeping kemarin yang kaget, mengganggu kesibukannya yang sedang konsentrasi mebersihkan sela – sela kaca  lab.
                “Adeu, kalian merekatkan hubungannya dengan cara kaget – kagetan gitu ya?” ucap Siska menggodaku dengan aa’.
                “Hmm, kamu cemburu ya?” tanya si aa’ pada Siska, membuatku tanpa sadar kegeeran.
Aduh, kalau diisengin terus kayak gini mungkin aku akan jatuh cinta sama si aa’. Aa’ gak jahat – jahat juga kok suka kasih cemilan dari sampel, seperti kitkat dan youhurt lagi. Emang bisa gitu berjodoh sama aa’?
***
“Kamu akadnya Sabtu atau Minggu?” tanya Pak Rahmanselaku ketua lab pada si aa’ di sela waktu kosong bersama beberapa pegawai lab lainnya.
Jleb, seperti ditusuk, lama – lama serangan jantung juga nih. Si aa mau nikah gitu? Kok gak bilang – bilang? Gak penting juga sih bilang – bilang ke aku dan Siska, kami kan cuma anak bawang.
“Sabtu pak kebetulan sekalian pestanya. Pada datang ya,” jawab aa’ sambil senyum misuh – misuh.
“Calonmu siapa sih namanya? Enyu ya?” tanya pegawai lainnya.
“Hehehe, iya pak jangan bilang – bilang dulu ya pak. Rahayu pak namanya, memang sering dipanggil enyu sih sama temannya”, jawab si aa’ masih tersenyum.
Buru – buru aku izin ke toilet, untuk menghindari sakit hati. Sesampainya aku di toilet ada mbak house keeping yang waktu itu, dia sedang membersihkan toilet. Aku yang memang sebenarnya tidak ada keperluan ke toilet, iseng untuk menanyakan nama mbak itu. Sudah hampir 1 bulan tapi belum tau nama.
“Mbak, namanya siapa? Kita belum kenalan,” tanyaku.
“Rahayu, mbak, biasa dipanggil enyu. Nama mbak siapa?” jawab mbak itu singkat.
Dag- dig – dug jantungku berdetak kencang. Tidak salah dengarkan? Mbak ini calonnya si aa’?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar