“DOR!” dag – dig – dug, jantungku
bergetar dengan kencangnya. Sial! Lagi – lagi aku dikageti oleh Pak Rido salah satu pegawai di
lab tempatku training.
“Hahaha,” tawa renyah dari Siska
patner kerjaku menyusul sekian detik dari si aa’, panggilan akrab Pak Rido.
Hari ini kalau dihitung sudah yang
ke tujuh kalinya aku dikageti dan sebanyak itu pula aku kaget. Padahal terkadang
yang dikageti itu Siska tapi yang kaget malah aku. Siska yang memang bukan
orang dengan tipikal kagetan seolah bersekongkol dengan aa’ untuk mengerjaiku. Baru
juga sehari training, dia sudah
berani mengisengi kami berdua, tapi selalu aku yang kena. Baru 3 hari saja aku
sudah capek kaget melulu. Cepat mati kali, training
lama – lama di sini.
Keisengan aa’ ternyata bukan hanya
kepada anak training seperti kami
berdua. Sampai mbak house keeping
saja kena ulahnya. Tadi pagi ia menyembunyikan sepatu mbak itu saat sedang
bersih – bersih diruang lab. Kemudian meninggalkan mbak itu untuk mengambil
sampel. Sepulangnya kami dari mengambil sampel, mbak itu masih kebingungan
mencari sepatunya.
“Pak Rido, sepatu saya mana? “
tanyanya pelan.
“Ih, gak tau, yang taruh kan mbak.
Kok tanya saya?”
“Pak, saya masih harus kerja nih,”
ucap mbak itu lirih.
Setelah perdebatan panjang, tanpa perlawanan dari si
mbak, akhirnya si aa’ mengembalikan sepatu mbak itu.
***
“Bruk” bunyi botol – botol pengenceran
dari beling sengaja dibanting oleh aa’
untuk mengagetkan Siska, tapi siska tak bergeming. Entah bolot atau memang
tidak sensitif. Justru aku dan mbak house
keeping kemarin yang kaget, mengganggu kesibukannya yang sedang konsentrasi
mebersihkan sela – sela kaca lab.
“Adeu,
kalian merekatkan hubungannya dengan cara kaget – kagetan gitu ya?” ucap Siska
menggodaku dengan aa’.
“Hmm,
kamu cemburu ya?” tanya si aa’ pada Siska, membuatku tanpa sadar kegeeran.
Aduh, kalau diisengin terus kayak gini mungkin aku
akan jatuh cinta sama si aa’. Aa’ gak jahat – jahat juga kok suka kasih cemilan
dari sampel, seperti kitkat dan youhurt lagi. Emang bisa gitu berjodoh sama aa’?
***
“Kamu akadnya Sabtu atau Minggu?”
tanya Pak Rahmanselaku ketua lab pada si aa’ di sela waktu kosong bersama beberapa
pegawai lab lainnya.
Jleb, seperti ditusuk, lama – lama serangan jantung
juga nih. Si aa mau nikah gitu? Kok gak bilang – bilang? Gak penting juga sih
bilang – bilang ke aku dan Siska, kami kan cuma anak bawang.
“Sabtu pak kebetulan sekalian pestanya.
Pada datang ya,” jawab aa’ sambil senyum misuh – misuh.
“Calonmu siapa sih namanya? Enyu ya?”
tanya pegawai lainnya.
“Hehehe, iya pak jangan bilang –
bilang dulu ya pak. Rahayu pak namanya, memang sering dipanggil enyu sih sama temannya”,
jawab si aa’ masih tersenyum.
Buru – buru aku izin ke toilet, untuk menghindari
sakit hati. Sesampainya aku di toilet ada mbak house keeping yang waktu itu, dia sedang membersihkan toilet. Aku yang
memang sebenarnya tidak ada keperluan ke toilet, iseng untuk menanyakan nama
mbak itu. Sudah hampir 1 bulan tapi belum tau nama.
“Mbak, namanya siapa? Kita belum
kenalan,” tanyaku.
“Rahayu, mbak, biasa dipanggil
enyu. Nama mbak siapa?” jawab mbak itu singkat.
Dag- dig – dug jantungku berdetak kencang. Tidak salah
dengarkan? Mbak ini calonnya si aa’?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar