Wajah itu nampak kukenali, entah siapa. Dia
memandangiku terus, dari balik sekat pemisah antara ruang lab uji dengan ruang cold kitchen di perusahaan tempatku
magang. Seorang bapak – bapak kutaksir menginjak awal usia 30 tahun. Ragu, kubalas
tatapan itu dengan senyum. Dia membalasnya, memberi perasaan nyaman direlung hatiku,
kemudian kembali sibuk dengan
pekerjaannya. Entah apa, mungkin mengemas slice
fruits.
Hampir seminggu bekerja
di Lab. hampir selama itu pula bapak itu sering memandangiku dan terkadang tersenyum.
Seharusnya aku takut dengan bapak itu, mengingat tingkat laku anehnya yang
selalu menatapku dari balik kaca cold kitchen, anehnya ada perasaan hangat yang
menyeruak di hati ketika bapak itu tersenyum. Menimbulkan perasaan aneh. Apakah
ini cinta? Apa tidak salah?
Kadang tebesit
pemikiran untuk menyapanya dikala waktu istirahat datang, di kantin perusahaan.
Mungkin dengan kalimat pembuka, ‘Halo, siapa namamu?’. Tapi hingga kini tak
pernah sedikit pun kutemui wajahnya di kantin. Tidak istirahatkah beliau?
***
Hari ini tempat
magangku di rolling, kali ini di
bagian cold kitchen, hot kitchen and hot
dish. Ada perasaan bedebar, akan segera betemu dengan bapak itu. Aku harus
bisa mengenalnya. Harus! Rasa penasaranku kembali timbul, aneh memang.
Di pandu oleh seorang
pembimbing lapanganku, aku menyusuri segala bagian yang ada di ruang tersebut. Selama
itu pula ku edarkan pandangaku kesegala penjuru, bahkan para pekerjanya. Tapi tak
kutemui sosok bapak itu bahkan ditempatnya selalu berdiri mematung, menatapku.
Tempat itu nampak telah lama kosong, kemana bapak itu? Sedang libur kah?
Pemikiran – pemikiran
panjang bergemuruh di kepalaku. Sakit hati ini, seperti merindukan seseorang
yang telah lama tak jumpa. Hingga rasanya ingin menangis. Bapak itu kah yang
menyebabkanku seperti ini? Tapi mengapa? Semakin dipikirkan, senyum bapak itu
semakin terbayang.
“Bu, mengapa bagian itu
nampak kosong? Kemana bapak yang sering kerja di sana?” tanyaku pada
pembimbing, menunjuk bagian pojok yang berhadapan langsung dengan kaca cold
kitchen.
Kali ini rasa
penasaranku mengalahkan semuanya. Pembimbingku nampak kaget dan terdiam sesaat.
Apa pertanyaanku begitu lancang? “Kapan kamu melihatnya? tempat itu sudah lama
kosong,” jawab pembimbingku ragu. Aku binggung. Lalu siapa yang selama ini aku
lihat?
“Seminggu ini, selama
saya magang di lab. Uji,” jawabku. Pembimbingku itu menatap mataku memastikan
jawabanku, seakan yang kuucapkan hanya sebuah lelucon.
“Kamu yakin? Tunggu
wajahmu nampak begitu....,” ucapsnnya menggantungkan kalimat. Tangan kanannya
mendekap mulutnya syarat kekagetan. Aku hanya terdiam dengan pikiranku sendiri.
Menunggu kalimatnya yag menggantung.
“Itu, itu tempat Pak
Dibyo Subrata bekerja, salah satu pegawai... di ruang ini. sudah belasan tahun
yang lalu, beliau meninggal.
Kecelakaan... di tempat itu karena...karena kesalahan teknis,” ucap
pembimbingku itu terbata – bata.
Aku mencelos, nama itu,
nama yang sudah lama tak pernah kudengar. Nama orang dulu pernah hadir dalam
kehidupanku. Pernah menjadi bagian penting dalam keseharianku. Nama yang sempat
kulupakan. Air mataku kemudian terjatuh tanpa sadar. Nama itu, bapak itu,
adalah orang yang pernah merawatku. Ya, dia ayahku yang telah tiada 17 tahun
yang lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar