Kamis, 12 Januari 2012

Halo, Siapa Namamu?

Wajah itu  nampak kukenali, entah siapa. Dia memandangiku terus, dari balik sekat pemisah antara ruang lab uji dengan ruang cold kitchen di perusahaan tempatku magang. Seorang bapak – bapak kutaksir menginjak awal usia 30 tahun. Ragu, kubalas tatapan itu dengan senyum. Dia membalasnya, memberi perasaan nyaman direlung hatiku, kemudian kembali  sibuk dengan pekerjaannya. Entah apa, mungkin mengemas slice fruits.
Hampir seminggu bekerja di Lab. hampir selama itu pula bapak itu sering memandangiku dan terkadang tersenyum. Seharusnya aku takut dengan bapak itu, mengingat tingkat laku anehnya yang selalu menatapku dari balik kaca cold kitchen, anehnya ada perasaan hangat yang menyeruak di hati ketika bapak itu tersenyum. Menimbulkan perasaan aneh. Apakah ini cinta? Apa tidak salah?
Kadang tebesit pemikiran untuk menyapanya dikala waktu istirahat datang, di kantin perusahaan. Mungkin dengan kalimat pembuka, ‘Halo, siapa namamu?’. Tapi hingga kini tak pernah sedikit pun kutemui wajahnya di kantin. Tidak istirahatkah beliau?
***
Hari ini tempat magangku di rolling, kali ini di bagian cold kitchen, hot kitchen and hot dish. Ada perasaan bedebar, akan segera betemu dengan bapak itu. Aku harus bisa mengenalnya. Harus! Rasa penasaranku kembali timbul, aneh memang.
Di pandu oleh seorang pembimbing lapanganku, aku menyusuri segala bagian yang ada di ruang tersebut. Selama itu pula ku edarkan pandangaku kesegala penjuru, bahkan para pekerjanya. Tapi tak kutemui sosok bapak itu bahkan ditempatnya selalu berdiri mematung, menatapku. Tempat itu nampak telah lama kosong, kemana bapak itu? Sedang libur kah?
Pemikiran – pemikiran panjang bergemuruh di kepalaku. Sakit hati ini, seperti merindukan seseorang yang telah lama tak jumpa. Hingga rasanya ingin menangis. Bapak itu kah yang menyebabkanku seperti ini? Tapi mengapa? Semakin dipikirkan, senyum bapak itu semakin terbayang.
“Bu, mengapa bagian itu nampak kosong? Kemana bapak yang sering kerja di sana?” tanyaku pada pembimbing, menunjuk bagian pojok yang berhadapan langsung dengan kaca cold kitchen.
Kali ini rasa penasaranku mengalahkan semuanya. Pembimbingku nampak kaget dan terdiam sesaat. Apa pertanyaanku begitu lancang? “Kapan kamu melihatnya? tempat itu sudah lama kosong,” jawab pembimbingku ragu. Aku binggung. Lalu siapa yang selama ini aku lihat?
“Seminggu ini, selama saya magang di lab. Uji,” jawabku. Pembimbingku itu menatap mataku memastikan jawabanku, seakan yang kuucapkan hanya sebuah lelucon.
“Kamu yakin? Tunggu wajahmu nampak begitu....,” ucapsnnya menggantungkan kalimat. Tangan kanannya mendekap mulutnya syarat kekagetan. Aku hanya terdiam dengan pikiranku sendiri. Menunggu kalimatnya yag menggantung.
“Itu, itu tempat Pak Dibyo Subrata bekerja, salah satu pegawai... di ruang ini. sudah belasan tahun yang lalu, beliau  meninggal. Kecelakaan... di tempat itu karena...karena kesalahan teknis,” ucap pembimbingku itu terbata – bata.
Aku mencelos, nama itu, nama yang sudah lama tak pernah kudengar. Nama orang dulu pernah hadir dalam kehidupanku. Pernah menjadi bagian penting dalam keseharianku. Nama yang sempat kulupakan. Air mataku kemudian terjatuh tanpa sadar. Nama itu, bapak itu, adalah orang yang pernah merawatku. Ya, dia ayahku yang telah tiada 17 tahun yang lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar