Banyak
yang berubah darinya. kini dirinya nampak lebih kurus. Seakan mendukung
wajahnya juga terlihat lebih tirus. Secara keseluruhan dia lebih manis. Sama seperti
dirinya aku juga kini telah berubah. Karena satu janji pada diriku sendiri, aku
tak akan menemuinya hingga aku bisa berubah diriku.
Masih
teringat saat – saat kedekatanku denganya. Kedekatan yang manis, yang membuatku
hingga kini masih sendiri, menunggunya memandang ke arahku. Semua orang selalu
menyangka kami adalah sepasang kekasih. Berbagai julukan mendarat begitu saja
padanya, sekan menuduh kalau dia memiliki perasaan padaku.
Masih
teringat dengan jelas malam itu. Saat dimana bintang bermandikan cahaya bulan menghiasi
langit malam, berpadu dengan keindahan edelweiss di padang Surya Kencana. Aku yang
sedang menikmati keindahan nan romantis itu sambil duduk di depan api unggun bersama anak – anak cowok
lainnya, diomeli habis – habisan olehnya karena merokok. Dia bilang tak bisa menghirup asap rokok. Seakan tidak
peduli kami terus merokok tanpa menghiraukan omelannya.
Kemudian
dua hari setelah kepulangan kami, dia masuk rumah sakit dan divonis paru – paru
basah. Sejak saat itu aku malu bertemu dengannya, malu walau hanya untuk
bertegur sapa dengannya. Aku merasa bersalah padanya. Sejak itu aku berjanji aku
tak akan mengusiknya hingga aku benar – benar bisa berhenti merokok.
Kekuatannya
pun nampak tak berubah. Masih sama kuatnya, masih sama bersemangatnya ketika
pertama kali dia, diriku dan yang lainnya mendaki puncak Gunung Gede - Pangrango.
Berawal dari message singkat Ardi
yang mengajak reunian di Gunung Gede minggu lalu, kami semua berkumpul lagi malam
ini di Surya Kencana.
Hari
ini tak akan kuleawati kesempatan itu. aku akan mengungkapkan perasaan ku
padanya. Tak akan ada lagi halangan, toh kini aku tak merokok, semua ini memang
kulakukan untuknya. Aku tak ingin menyia – nyiakan waktu lagi.
“Nad,
menikah lah dengan ku,” ucapku padanya
singkat. Sama seperti saat itu, dibawah bintang yang bermandikan cahaya bulan
di tengah pemandangan padang edelweiss, Surya Kencana di depan api unggun. Kuberikan
seikat bunga edelweiss yang baru saja kupetik lambang kesetiaan hatiku padanya.
Kemudian
dia tersipu malu, “Iya,” jawabnya mengambil seikat bunga dari tanganku.
“WOY!” teriak seseorang
mengagetkan ku. “Ngelamun aja nih! Nanti kesambet baru tau rasa lo!” ucap
dirinya yang kini duduk di sebelahku. Ah, sial! Ternyata tadi hanya anganku. Oke
kali ini tidak boleh hanya sekedar
angan. Harus sekarang!
“Nad…” belum selesai ku berkata.
Ardi tiba – tiba sudah berteriak pada yang
lainnya, “Guys, tujuan gue ngundang kalian
ke sini selain reunian juga sekalian mau ngumumin kalau minggu depan gue,
bakalan nikah sama Nad…”
“AAAAA,”
jerit Akbar panik, perhatian yang lain langsung beralih ke Akbar. Nad? Nad
siapa? Nadia? Ah, sial nih Akbar, ternyata dia jerit cuma karena liat lintah.
“Ah,
siaul lo Bar! Ganggu berita penting aja,” ucap Ardi. “to the poin aja deh, gue mau nikah sama Nadia minggu depan pada datang
ya,” ucap Ardi lagi, yang lain bersorak ramai termasuk dirinya. Nadia kemudian
tersenyum malu.
Fiuh,
ternyata Nadia, bukan Nadira. Orang yang kusukai itu ya Nadira.
“Nad,
menikahlah dengan ku, mau?” tanyaku pada dirinya yang masih duduk di sebalahku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar