Kamis, 26 Januari 2012

Menikahkah denganku!


Banyak yang berubah darinya. kini dirinya nampak lebih kurus. Seakan mendukung wajahnya juga terlihat lebih tirus. Secara keseluruhan dia lebih manis. Sama seperti dirinya aku juga kini telah berubah. Karena satu janji pada diriku sendiri, aku tak akan menemuinya hingga aku bisa berubah diriku.
Masih teringat saat – saat kedekatanku denganya. Kedekatan yang manis, yang membuatku hingga kini masih sendiri, menunggunya memandang ke arahku. Semua orang selalu menyangka kami adalah sepasang kekasih. Berbagai julukan mendarat begitu saja padanya, sekan menuduh kalau dia memiliki perasaan padaku.
Masih teringat dengan jelas malam itu. Saat dimana bintang bermandikan cahaya bulan menghiasi langit malam, berpadu dengan keindahan edelweiss di padang Surya Kencana. Aku yang sedang menikmati keindahan nan romantis itu sambil duduk  di depan api unggun bersama anak – anak cowok lainnya, diomeli habis – habisan olehnya karena merokok. Dia  bilang tak bisa menghirup asap rokok. Seakan tidak peduli kami terus merokok tanpa menghiraukan omelannya.
Kemudian dua hari setelah kepulangan kami, dia masuk rumah sakit dan divonis paru – paru basah. Sejak saat itu aku malu bertemu dengannya, malu walau hanya untuk bertegur sapa dengannya. Aku merasa bersalah padanya. Sejak itu aku berjanji aku tak akan mengusiknya hingga aku benar – benar bisa berhenti merokok.
Kekuatannya pun nampak tak berubah. Masih sama kuatnya, masih sama bersemangatnya ketika pertama kali dia, diriku dan yang lainnya mendaki puncak Gunung Gede - Pangrango. Berawal dari message singkat Ardi yang mengajak reunian di Gunung Gede minggu lalu, kami semua berkumpul lagi malam ini di Surya Kencana.
Hari ini tak akan kuleawati kesempatan itu. aku akan mengungkapkan perasaan ku padanya. Tak akan ada lagi halangan, toh kini aku tak merokok, semua ini memang kulakukan untuknya. Aku tak ingin menyia – nyiakan waktu lagi.
“Nad, menikah lah dengan ku,”  ucapku padanya singkat. Sama seperti saat itu, dibawah bintang yang bermandikan cahaya bulan di tengah pemandangan padang edelweiss, Surya Kencana di depan api unggun. Kuberikan seikat bunga edelweiss yang baru saja kupetik lambang kesetiaan hatiku padanya.
Kemudian dia tersipu malu, “Iya,” jawabnya mengambil seikat bunga dari tanganku.
                “WOY!” teriak seseorang mengagetkan ku. “Ngelamun aja nih! Nanti kesambet baru tau rasa lo!” ucap dirinya yang kini duduk di sebelahku. Ah, sial! Ternyata tadi hanya anganku. Oke kali ini tidak boleh hanya sekedar  angan. Harus sekarang!
 “Nad…” belum selesai ku berkata.
 Ardi tiba – tiba sudah berteriak pada yang lainnya, “Guys, tujuan gue ngundang kalian ke sini selain reunian juga sekalian mau ngumumin kalau minggu depan gue, bakalan nikah sama Nad…”
“AAAAA,” jerit Akbar panik, perhatian yang lain langsung beralih ke Akbar. Nad? Nad siapa? Nadia? Ah, sial nih Akbar, ternyata dia jerit cuma karena liat lintah.
“Ah, siaul lo Bar! Ganggu berita penting aja,” ucap Ardi. “to the poin aja deh, gue mau nikah sama Nadia minggu depan pada datang ya,” ucap Ardi lagi, yang lain bersorak ramai termasuk dirinya. Nadia kemudian tersenyum malu.
Fiuh, ternyata Nadia, bukan Nadira. Orang yang kusukai itu ya Nadira.
“Nad, menikahlah dengan ku, mau?” tanyaku pada dirinya yang masih duduk di sebalahku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar