Ah, lagi-lagi
sms dari kamu. Bisa kah kamu tak meng-smsku? Aku bisa apa, mendapati kamu
terus-terusan meng-sms? Orang bilang yang namanya jatuh hati itu tak dapat
ditepis. Kamu tau, aku mulai terbuai dengan semua sms-sms intens darimu. Lama-lama,
aku bisa jatuh hati denganmu.
Gery
berkali-kali bilang padaku, memangnya
salah mencintai seorang gadis? Masalahnya mau kah kamu menerimaku? Menerima segala
kekuranganku?
Siapa
yang tak kenal dengan ku di kampus? Beberapa perempuan bahkan dengan terang-terangan
menyatakan perasaan padaku. Kamu seharusnya hanya salah satu fans ku, tak
lebih. Tapi entah mengapa bayangan kamu mulai masuk di hari-hariku, menelusup
pelan.
Kamu
berbeda. Caramu masuk, sungguh mengganggu dengan lembut. Intens tapi tak
agresif, bersikeras tapi tidak memaksa. Tapi kamu yakin mau denganku? Aku tak
se-perfect orang bayangkan. Bukankan semua
orang punya kelemahan? Aku pun juga begitu, kelemahan yang cukup fatal malah.
“Heh, maneh teh ngelamun wae! Keur naon? Pasti
maneh teh dapat sms dari gadis itu lagi? Bener nteu? Urang teh nteu carei jeung maneh. Tapi kan
kita lagi mau cari nafkah!” semprot Gery menasehatiku.
Aku
pun menuruti perkataan Gery, bagaimanapun juga Gery yang merekrutku ke sini. Dan
aku cukup bersyukur, karena sedikit banyak pekerjaan ini dapat menutupi biaya
kuliahku. Ah, kamu jangan sms aku dulu ya. Aku ingin konsen cari uang dulu.
***
Ada seorang
gadis yang menubrukku karena syok diisengi Gery saat sedang berkunjung di pancake . Ya Tuhan! Aku syok. Itu kamu! Begitu
pun kamu syok menemukanku mengenakan baju ketat bewarna shocking pink, dengan wajah full
make-up. Tentunya bukan hanya kamu yang kaget tapi juga ketiga temanmu.
***
“Nico!”
panggilmu Senin pagi ini di kampus. Bagaimana ini? Sebentar lagi pekerjaanku
akan ketahuan. Sebentar lagi aku pasti akan di keluarkan dari kampus. Aku segera
pergi, pura-pura tak mendengar.
Ada
derap langkah mendekatiku. Aku percepat langkahku.
“Nic!
Lo kenapa sih? Kita harus bicara!”
Aku akhirnya menyerah,
memberhentikan langkahku. Aku tak tega kalau-kalau kamu membeberkan ceritaku
dengan jeritan kencang.
“Mau
bicara apa?” tanyaku datar.
“Di
Braga, itu lo kan?”
“Kapan?”
“Sabtu, malam kemarin,”
Aku
hanya mengangguk tak sanggup membela diri. “Lalu?”
“Kenapa?”
“Perlu
lo apa bertanya ke gue?”
“Gue
rasa lo paham banget tentang perasaan gue,”
“Yang
mana?” tanyaku pura-pura polos.
“Nico!
Lo, tuh ya, gue suka sama lo! Gak karena lo pfff……” teriak kamu seenak udelnya.
Untung aku sempat menutup mulutnya. Bisa-bisa reputasiku hancur kalau kamu
jerit keras-keras seperti itu.
“Iya,
gue tau,” kataku akhirnya.
“Gupffff,”
ucapmu masih memaksa untuk berbicara.
“Sudah
Nin, sudah, cukup! Gue juga jatuh hati dengan lo, Nina Angraini. Yang lo liat
itu memang kerjaan part time gue
sekarang, tapi yang perlu lo tau gue normal,” ucapku keceplosan sendiri. Kenapa
aku jadi menyatakan cinta sekaligus curhat gini ke kamu?
Perlahan
tapi pasti aku mulai meregangkan tanganku yang menutup mulutnya. Kamu kemudian
menjinjitkan kakinya dan berbisik padaku.
“Makasih
sudah jujur. Apapun kamu. Cintaku mentok di kamu,” ucapmu berbisik mampu
membuat jantungku berdetak kencang.
cerita sebelumnya : Bales Kangenku, Dong!
ket:
Heh, maneh teh ngelamun wae! Keur naon? Pasti maneh teh dapat sms dari gadis itu lagi? Bener nteu? Urang teh nteu carei jeung maneh. Tapi kan kita lagi mau cari nafkah!” | heh, kamu melamun saja! langi ngapain? pasti kamu dapat sms dari gadis itu lagi ya? benar tidak? aku mah gak marah, tapi kan kita lagi cari nafkah!
hehe.. lucu :)
BalasHapuswhahahahaha, makasih ya... :)
Hapuslangsung penasaran. baca cerita sebelumnya ah... :D
BalasHapuswhahahaha, ini ceritanya emang rada absurd.. dapet ide gara2 liat bencong di jalan...
Hapus