Rabu, 23 Januari 2013

Bangunkan Aku, Pukul Tujuh!


“Bangunkan aku pukul tujuh!’ ucapmu setiap hari sebelum terlarut dalam buaian mimpi. Seolah-olah istrimu akan melupakan hal tersebut jika kamu tak mengigatkannya.
Aku pun hanya bisa tersenyum saat kamu berceloteh seperti itu. Selalu seperti itu. Layaknya manusia normal lainnya, beberapa kali istrimu lupa membangunkan, atau bisa dikatakan istrimu pun terlambat bangun pagi. Kala itu aku hanya tertawa puas. Eh, tapi aku mah baik, aku tidak ingin kamu terlambat kerja. Jadi sesekali aku menggantikan istrimu membangunkan, tentunya tanpa sepengetahuannya.
Kadang ada rasa cemburu ketika pagi hari istrimu membangunkan dan kamu membalasnya dengan ciuman mesra. Jika rasa itu muncul ingin sekali aku mencekik leher istrimu. Ah, tapi kan aku baik, jadi mana mungkin melakukan hal itu.
Sampai suatu ketika kesempatan itu datang. Istrimu meninggal dunia, tentunya bukan aku penyebabnya! Kamu tampak begitu sedih, hampir sebulan lebih mengurung diri. Aku tak ayalnya menyesali meninggalnya istrimu. Mana aku tau kamu akan nelangsa seperti ini.
“Lelaki mana yang tak tahan wanita” ungkapan itu tampaknya benar. Sebulan lebih berlalu, tiba-tiba kamu datang kembali membawa wanita baru. Gelagatnya kamu dan wanita itu belum menikah. Rasanya ingin tertawa seligus bersedih melihat ironisnya hati manusia yang cepat berubah.
“Bangunkan aku pukul tujuh!” ucapmu, kali ini tentunya bukan pada istrinya, tapi pada wanita yang entah kamu pungut dari jalan mana.
Wanita itu hanya tersenyum, sambil bermanja-manja. Ah, ini pasti akan menyedihkan, jika istrimu tau hal ini.

“Guru lagi lihat apa sih? Hihihi, Ini kan sudah jan 7 lewat! Nanti kita bisa terbakar!” ucap seseorang, mengusikku yang sedang memperhatikanmu dari batang pohon mangga.
“Ih, mengganggu saja sih! Kamu pasti suka menonton TV ya? Hihihihi, Kata siapa kuntilanak bakal kebakar kena sinar matahari?!” ucapku sedikit ketus kepadanya.
Dia hanya mengangguk saja, entah dia yang memang dasarnya bodoh atau memang lemot. Ah, kenapa sih, aku harus mengajarkan para kunti baru? Terlepas dari itu mengapa harus dia, istri kamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar