Tak pernah ada
lagi banyolan-banyolan dari Anjelin. Tak pernah ada lagi tawa ceriwisnya atau
sekadar ceritanya. Anjelin ini tipe anak manja yang hobi curhat ke orang-orang.
Sudah begitu pasti aku yang selalu kena, untuk mendengarkan curhatannya.
Sepertinya karena aku orangnya lumayan bisa menjaga rahasia. Kalau dia lagi
bete sama salah seorang dari kami pasti orang yang pertama diceritakan pasti
aku.
Anjelin berubah
drastis sejak berpacaran dengan Bagas, salah satu senior di kampus. Waktu-waktu
senggang Anjelin tak lagi dihabiskan untuk aku, Rena, Sita dan Aini. Anjelin
lebih sering pulang terburu-buru sehabis kuliah. Saat itu sih aku maklum, namanya juga si Bagas
pacar pertamanya Anjelin. Tapi. Sekarang?
Liburan
semester kemarin akhirnya, Anjelin berhasil dibujuk ikut jalan-jalan ke Anyer.
Ada yang berubah dari Anjelin, bukan saja sikapnya tapi juga fisiknya. Aku baru
menyadari ketika itu. Badan Anjelin sedikit besar, terutama bagian perutnya.
Apalagi saat ia menggunakan baju renang di Pantai ketika itu. Aku curiga
habis-habisan dong ketika itu. Jangan-jangan Anjelin hamil?
Iseng-iseng
aku tanyakan kebenaran dari pikiranku itu. Sayangnya, Anjelin hanya diam,
dengam muka yang sedikit memerah. Sejak pulang dari Anyer Anjelin benar-benar
tak berkabar.
Sekarang
tiba-tiba namanya tak ada di daftar absensi di seluruh mata kuliah semester
tiga ini. Di tanya ke ruang subbagian akademik ternyata Anjelin cuti kuliah.
Siapa juga yang tak curiga? Jangan-jangan Anjelin benar-benar hamil di luar
nikah. Apalagi anak-anak di luar kampus juga menyangka hal yang sama. Ya,
Tuhan, tapi masa sih?
Selama
seminggu ini aku sempat menanyakan kabarnya via sms, bbm, whatsapp bahkan Line.
Nihil, tak ada satupun pertanyaanku yang ia balas. Kami berempat, sahabat
baiknya, akhirnya memutuskan datang ke rumah Anjelin, daripada menyangka yang
tidak-tidak.
***
“Kamu tuh kenapa
sih, Ras? Gak pernah mau berubah! Gak mau koreksi diri!” ucap Anjelin marah
padaku-masih terbaring di kasur tempat tidurnya.
“A.. aku,”
jawabku membela diri ketika dituding tiba-tiba. Ini pasti si Anjelin lagi emosi
deh, makanya jadi marah-marah gak jelas.
“Kamu tuh ya,
pasti yang nyebarin gosip yang enggak-enggak! Kamu kenapa sih selalu mau campur
urusan orang lain? Aku tumor rahim! Puas kamu?” cerocos Anjelin mampu
membisukan suaraku. Air matanya jatuh seketika.
“Aku, enggak
nyebarin gosip apa-apa,Lin,” ucapku saat aku mulai bisa membaca situasi yang
terjadi.
“Iya, gak
nyebarin gosip apa-apa, tapi ngomongin pemikiran kamu yang seenak udelnya di
Twitter kan?” ucap Anjelin mengelap air mata. Aku, Rena, Aini dan Sita seketika
diam bagai patung.
“Mas Bagas tadi
cerita, katanya temannya ada yang menanyakan kenapa aku sampai cuti kuliah.
Temannya nyangka kalau aku hamil. Memangnya kalau cewek cuti kuliah itu harus hamil?”
tambah Anjelin.
“Lin, tenang
dulu Lin,” ucap Rena berusaha menenangkan.
“Iya, jangan
nangis dong kamu kan punya kita, kita gak nuduh kamu hamil kok!” tambah Aini.
“Tapi dia, tuh!
Aku kesel! Sakit hati, tau gak! Aku tuh punya penyakit bukan hamil! Belum puas
dia nuduh aku pas liburan kemarin?” Anjelin menunjukku beberapa kali. Ia masih
menangis, menutup kedua matanya.
Kini hanya aku
yang terdiam kelu, sebagai sang tertuduh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar