Saya
memutuskan keluar sebentar untuk menghirup udara segar, malam hari ini. Terlalu
banyak kejadian di hari ini, membuat semuanya begitu terasa berat. Lorong
panjang bewarna putih tampak tak berujung. Sesesak perasaan yang saya punya.
Mengenalmu adalah suatu keanehan
yang pernah saya rasakan. Saya tak pernah berpikir berpaling dengan wanita lain
kala itu. Tapi nyatanya saya mampu berpaling padamu? Ah, cinta mengapa serumit ini? Mengapa kita harus berputar-putar
terlebih dulu sebelum sampai di tempat tujuan?
Pintu utama lorong rumah sakit kemudian
terbuka, seseorang masuk ke dalam yang kemudian saya kenal sebagai sosok Anjar.
Matanya merah, hidungnya sembab. Habis menangis kah dia? Kemana saja dia selama
ini, mengapa baru mengeluarkan air mata sekarang? Rasanya ingin sekali
menghajarnya.
“Van, bilang ke aku, orang yang tadi siang aku lihat di Tawang Mangu bukan Rinta! Bukan kan Van? Jawab!” ujar Anjar memburu saya dengan
pertanyaaan, mengenai salah satu senior di kampus kami.
Saya dan Anjar saling berhadapan.
Mata kami saling bertatapan tajam. Anjar nampaknya berusaha mengelak bahwa
orang yang dilihatanya sedari siang tadi adalah senior kami.
“Menurut kamu itu siapa, Njar? Itu
orang yang jelas-jelas kamu tolak cintanya. Kamu puas sekarang melihat Rinta
menderita?” saya benar-benar tidak dapat menahan emosi.
Bagaimana
bisa Anjar baru menyadari perasaannya saat ini, setelah dengan lugas menolak
cinta, seniornya itu? Anjar terdiam. Air matanya mulai jatuh. Tampangnya tampak
berantakan.
“Njar, jawab pertanyaan saya!” ujar
saya.
“Aku, aku. Prinsip, aku. Gak akan
bisa. Aku, Aku, jatuh hati,Van. Rinta, Van, Rinta!” jawab Anjar tak jelas dan
terbata-bata.
“Aku, gak mau, Van. Gak mau, gak mau, gak mau.
Rinta Van, Rinta! Aku gak mau kehilangan dia. Gak mau!” ujar Anjar mulai
meracau.
Kini saya yang terdiam kelu
menyadari bahwa Anjar benar-benar memiliki perasaan dengan senior kami itu.
“Sejak kapan, Van? Sejak kapan Rinta
seperti itu? jawab, Van. Aku mohon, jawab!” ujar Anjar mulai narik-narik kerah
baju saya. Anjar masih menangis, air matanya mulai membasahi baju saya.
“Sudah lama,” jawab saya tak tau
harus menjawab apa.
“Dia,
sakit apa Van? Kenapa?” tanya Anjar semakin keras menarik kerah baju saya.
“Anticardiopilin
antibody sindrom. Saya juga tidak tau, tapi Rinta divonis hanya punya umur
dua tahun lagi,” jawab saya bergetar.
Anjar beringsut jatuh terduduk.
“Gak, mungkin, gak! Biar aku saja yang mati, biar aku saja. Rinta harus sembuh.
Rinta harus sembuh! Rinta gak boleh mati!” ceracau Anjar tak ingin menerima
kenyataan ini.
Tamparan keras mendarat tajam di pipi
Anjar. Saya menamparnya.
“Jangan pernah berkata seperti itu,
Njar! Dia orang yang kuat dan kamu, satu-satunya orang yang bisa membuatnya
bertahan di sini. Tenang saja! Rinta akan sembuh!” kata saya berusaha menguatkannya.
Entah
ada angin apa sampai saya malah berusaha menyakinkan Anjar bahwa dia adalah
satu-satunya harapan kamu untuk bisa sembuh. Mungkin karena saya menyadari saya
tak akan pernah mampu masuk diantara kamu dan Anjar. Biar saya mencintaimu,
sendiri.
Pilihan
yang ada ditangan saya saat ini hanya dua, melihatmu pergi tak kembali, atau
melihatmu bahagia bersama Anjar diakhir-akhir harimu. Apapun keputusan Tuhan
nantinya, saya iklaskan. Tapi yang perlu kamu tahu doa saya untkmu pada Tuhan
hanya satu. “Apapun yang terjadi nanti,
Tuhan. Izinkan lah saya tetap mencintainya,
jangan biarkan dia kemana-mana. Setidaknya iarkan dia tetap hidup
dihatiku saja!”
sebelumnya di:Genggaman Tangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar