Kamis, 24 Januari 2013

Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja



Saya memutuskan keluar sebentar untuk menghirup udara segar, malam hari ini. Terlalu banyak kejadian di hari ini, membuat semuanya begitu terasa berat. Lorong panjang bewarna putih tampak tak berujung. Sesesak perasaan yang saya punya.
Mengenalmu adalah suatu keanehan yang pernah saya rasakan. Saya tak pernah berpikir berpaling dengan wanita lain kala itu. Tapi nyatanya saya mampu berpaling padamu? Ah, cinta mengapa serumit ini? Mengapa kita harus berputar-putar terlebih dulu sebelum sampai di tempat tujuan?
            Pintu utama lorong rumah sakit kemudian terbuka, seseorang masuk ke dalam yang kemudian saya kenal sebagai sosok Anjar. Matanya merah, hidungnya sembab. Habis menangis kah dia? Kemana saja dia selama ini, mengapa baru mengeluarkan air mata sekarang? Rasanya ingin sekali menghajarnya.
            “Van, bilang ke aku, orang yang tadi siang aku lihat di Tawang Mangu bukan Rinta! Bukan kan Van? Jawab!” ujar Anjar memburu saya dengan pertanyaaan, mengenai salah satu senior di kampus kami.
            Saya dan Anjar saling berhadapan. Mata kami saling bertatapan tajam. Anjar nampaknya berusaha mengelak bahwa orang yang dilihatanya sedari siang tadi adalah senior kami.
            “Menurut kamu itu siapa, Njar? Itu orang yang jelas-jelas kamu tolak cintanya. Kamu puas sekarang melihat Rinta menderita?” saya benar-benar tidak dapat menahan emosi.
            Bagaimana bisa Anjar baru menyadari perasaannya saat ini, setelah dengan lugas menolak cinta, seniornya itu? Anjar terdiam. Air matanya mulai jatuh. Tampangnya tampak berantakan.
            “Njar, jawab pertanyaan saya!” ujar saya.
            “Aku, aku. Prinsip, aku. Gak akan bisa. Aku, Aku, jatuh hati,Van. Rinta, Van, Rinta!” jawab Anjar tak jelas dan terbata-bata.
 “Aku, gak mau, Van. Gak mau, gak mau, gak mau. Rinta Van, Rinta! Aku gak mau kehilangan dia. Gak mau!” ujar Anjar mulai meracau.
            Kini saya yang terdiam kelu menyadari bahwa Anjar benar-benar memiliki perasaan dengan senior kami itu.
            “Sejak kapan, Van? Sejak kapan Rinta seperti itu? jawab, Van. Aku mohon, jawab!” ujar Anjar mulai narik-narik kerah baju saya. Anjar masih menangis, air matanya mulai membasahi baju saya.
            “Sudah lama,” jawab saya tak tau harus menjawab apa.
“Dia, sakit apa Van? Kenapa?” tanya Anjar semakin keras menarik kerah baju saya.
            “Anticardiopilin antibody sindrom. Saya juga tidak tau, tapi Rinta divonis hanya punya umur dua tahun lagi,” jawab saya bergetar.
            Anjar beringsut jatuh terduduk. “Gak, mungkin, gak! Biar aku saja yang mati, biar aku saja. Rinta harus sembuh. Rinta harus sembuh! Rinta gak boleh mati!” ceracau Anjar tak ingin menerima kenyataan ini.
            Tamparan keras mendarat tajam di pipi Anjar.  Saya menamparnya.
            “Jangan pernah berkata seperti itu, Njar! Dia orang yang kuat dan kamu, satu-satunya orang yang bisa membuatnya bertahan di sini. Tenang saja! Rinta akan sembuh!” kata saya berusaha menguatkannya.
Entah ada angin apa sampai saya malah berusaha menyakinkan Anjar bahwa dia adalah satu-satunya harapan kamu untuk bisa sembuh. Mungkin karena saya menyadari saya tak akan pernah mampu masuk diantara kamu dan Anjar. Biar saya mencintaimu, sendiri.
Pilihan yang ada ditangan saya saat ini hanya dua, melihatmu pergi tak kembali, atau melihatmu bahagia bersama Anjar diakhir-akhir harimu. Apapun keputusan Tuhan nantinya, saya iklaskan. Tapi yang perlu kamu tahu doa saya untkmu pada Tuhan hanya satu. “Apapun yang terjadi nanti, Tuhan. Izinkan lah saya tetap mencintainya,  jangan biarkan dia kemana-mana. Setidaknya iarkan dia tetap hidup dihatiku saja!”



sebelumnya di:Genggaman Tangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar