Senin, 14 Januari 2013

Pukul Dua Dini Hari


            Aku memandangi dengan terkesima kumpulan para pendaki yang merayap pelan di atas. Cahaya dari headlamp yang mereka kenakan menerangi gelapnya malam. Walau cahaya bintang tak mampu dikalahkan.
            Aku melirik sekilas ke arah jam tangan yang aku gunakan. Jam 01.10 dini hari. Masih terlalu dini untuk memulai kegiatan sehari-hari. Tapi kali ini beda, puncak Mahameru harus tersentuh. Gelapnya malam tentunya tak akan membuat sadar seberapa berat medan pasir yang harus ditelusuri.
***
Darah kental mengalir sempurna dari lubang hidungku. Sesak, nafas terasa, seiring menusuknya dingin malam. Pandanganku mulai bias. Terangnya cahaya headlamp dari para pendaki mulai padam.
 ***
            Sorot cahaya menyadarkanku. “Hey, kamu sudah tidak apa-apa?” tanya seorang lelaki membangunkanku.
            Pandanganku masih sedikit kabur, bau anyir darah semilir masih tercium pekat. Menempel dihidungku.
            “Kamu, aklitimasi sepertinya,” tambah lelaki itu lagi.
            Aku hanya terdiam. Meraba hidungku. Kepalaku masih sedikit pusing. Rasa mual menyerang.
            Aku memandang ke sekeliling. Masih sama dengan pemandangan yang kulihat terakhir kali. padang pasir dan bebatuan berwarna hitam. Mengapa sepi? Kemana pendaki yang lainnya?
            Lelaki itu hanya tersenyum, bingung mungkin karena sedari tadi tak aku acuhkannya.
Aku menunggu teman-temanku datang, tapi mengapa tempat ini begitu sepi? Kemana teman-temanku? Sudah jauh di atas kah?
Aku melirik jam tangan. Ada yang ganjil. Kenapa masih jam 01.12 pagi? Hanya dua menit kah aku pingsan?
“Makasih ya, sudah menolong. Hei, aku mau lanjut jalan. Kamu mau bareng?” aku mulai tak betah menunggu teman-teman yang tak kunjung datang.
“Tidak, aku masih mau menunggu di sini. Aku tak bisa kemana-mana,” jawabnya singkat.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Tidak kenapa-kenapa. Ingin menunggu teman setidaknya sampai pukul 2 nanti,”
“Aku tinggal kamu sendirian tidak apa-apa?”
“Iya. Hati-hati ya. Nanti jangan menengok ke belakang,” tambah lelaki itu.
“Hah? Kenapa?”
“Anggap saja sama seperti mitos tanjakan cinta,” ucapnya sambil tersenyum.
“Baiklah. Oh iya, namamu siapa?”
“Fransisco. Biasa dipanggil Iko,”
“Oh, manaku Vara. Aku duluan ya,”
‘Iya, jika ada yang mencariku bilang saja aku ada di sini. Hati-hati ingat pesanku,” ucap lelaki itu.
Aku berjalan mengikuti nasehat Iko. Lambat laun, aku mulai melihat beberapa orang di atas. Cahaya dari headlamp para pendaki mulai terlihat lagi. Bergerombol menuju ke arah puncak.
***
 “Kamu darimana aja?” tanya Andro mengagetkanku. Andro bisa dibilang ketua tim perjalanan kali ini. Ia sudah beberapa kali menjabani puncak Mahameru. Bahkan ia pernah menjadi salah satu ranger di Mahameru.
“Aku? Dari sana,” menunjuk ke arah semak-semak kiri jurang.
“Kamu dari sana?” Andro masih tak percaya dan aku pun juga tak percaya aku datang dari arah sana. “Sama siapa?”
“Iko,”
“Iko?”
“Fransisko,”
“ Fransisco Ranjani?”
“Gak tau, kenapa memangnya Dro? Anak-anak yang lain yang mana?”
“sudah duluan. Mungkin kalau yang namanya Fransisco Ranjani, sama dengan nisan yang ini,” tunjuk Andro pada sebuah batu bertuliskan Fransisco Ranjani dengan sebuah foto kecil yang nampak aku kenal.
“Dia meninggal?”
“Menurut kamu kalau ada nisannya gimana?”
Ada perasaan sesak di dada.
“Kenapa?”
“Hipotermia dan aklitimasi. Dia menunggu temannya datang menjemput. Temannya menyangka ia sudah menuju puncak duluan. Ia terjatuh ke arah kanan jalan. Jasadnya belum ditemukan. Terakhir ia berinteraksi dengan teman-temannya jam 2 dini hari.
 Ada jeda, hingga air mataku kali ini benar-benar jatuh.
“Kapan?” tanyaku singkat.
“Tiga bulan yang lalu,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar