Aku
memandangi dengan terkesima kumpulan para pendaki yang merayap pelan di atas. Cahaya
dari headlamp yang mereka kenakan
menerangi gelapnya malam. Walau cahaya bintang tak mampu dikalahkan.
Aku
melirik sekilas ke arah jam tangan yang aku gunakan. Jam 01.10 dini hari. Masih
terlalu dini untuk memulai kegiatan sehari-hari. Tapi kali ini beda, puncak
Mahameru harus tersentuh. Gelapnya malam tentunya tak akan membuat sadar
seberapa berat medan pasir yang harus ditelusuri.
***
Darah kental
mengalir sempurna dari lubang hidungku. Sesak, nafas terasa, seiring menusuknya
dingin malam. Pandanganku mulai bias. Terangnya cahaya headlamp dari para pendaki mulai padam.
***
Sorot
cahaya menyadarkanku. “Hey, kamu sudah tidak apa-apa?” tanya seorang lelaki
membangunkanku.
Pandanganku
masih sedikit kabur, bau anyir darah semilir masih tercium pekat. Menempel dihidungku.
“Kamu,
aklitimasi sepertinya,” tambah lelaki itu lagi.
Aku
hanya terdiam. Meraba hidungku. Kepalaku masih sedikit pusing. Rasa mual
menyerang.
Aku
memandang ke sekeliling. Masih sama dengan pemandangan yang kulihat terakhir
kali. padang pasir dan bebatuan berwarna hitam. Mengapa sepi? Kemana pendaki
yang lainnya?
Lelaki
itu hanya tersenyum, bingung mungkin karena sedari tadi tak aku acuhkannya.
Aku menunggu
teman-temanku datang, tapi mengapa tempat ini begitu sepi? Kemana teman-temanku?
Sudah jauh di atas kah?
Aku melirik jam
tangan. Ada yang ganjil. Kenapa masih jam 01.12 pagi? Hanya dua menit kah aku
pingsan?
“Makasih ya,
sudah menolong. Hei, aku mau lanjut jalan. Kamu mau bareng?” aku mulai tak
betah menunggu teman-teman yang tak kunjung datang.
“Tidak, aku
masih mau menunggu di sini. Aku tak bisa kemana-mana,” jawabnya singkat.
“Kenapa?”
tanyaku bingung.
“Tidak
kenapa-kenapa. Ingin menunggu teman setidaknya sampai pukul 2 nanti,”
“Aku tinggal
kamu sendirian tidak apa-apa?”
“Iya. Hati-hati
ya. Nanti jangan menengok ke belakang,” tambah lelaki itu.
“Hah? Kenapa?”
“Anggap saja
sama seperti mitos tanjakan cinta,” ucapnya sambil tersenyum.
“Baiklah. Oh iya,
namamu siapa?”
“Fransisco. Biasa
dipanggil Iko,”
“Oh, manaku
Vara. Aku duluan ya,”
‘Iya, jika ada
yang mencariku bilang saja aku ada di sini. Hati-hati ingat pesanku,” ucap
lelaki itu.
Aku berjalan
mengikuti nasehat Iko. Lambat laun, aku mulai melihat beberapa orang di atas. Cahaya
dari headlamp para pendaki mulai
terlihat lagi. Bergerombol menuju ke arah puncak.
***
“Kamu darimana aja?” tanya Andro
mengagetkanku. Andro bisa dibilang ketua tim perjalanan kali ini. Ia sudah
beberapa kali menjabani puncak Mahameru. Bahkan ia pernah menjadi salah satu ranger di Mahameru.
“Aku? Dari sana,”
menunjuk ke arah semak-semak kiri jurang.
“Kamu dari sana?”
Andro masih tak percaya dan aku pun juga tak percaya aku datang dari arah sana.
“Sama siapa?”
“Iko,”
“Iko?”
“Fransisko,”
“ Fransisco
Ranjani?”
“Gak tau, kenapa
memangnya Dro? Anak-anak yang lain yang mana?”
“sudah duluan. Mungkin
kalau yang namanya Fransisco Ranjani, sama dengan nisan yang ini,” tunjuk Andro
pada sebuah batu bertuliskan Fransisco Ranjani dengan sebuah foto kecil yang nampak
aku kenal.
“Dia meninggal?”
“Menurut kamu
kalau ada nisannya gimana?”
Ada perasaan
sesak di dada.
“Kenapa?”
“Hipotermia dan
aklitimasi. Dia menunggu temannya datang menjemput. Temannya menyangka ia sudah
menuju puncak duluan. Ia terjatuh ke arah kanan jalan. Jasadnya belum ditemukan.
Terakhir ia berinteraksi dengan teman-temannya jam 2 dini hari.
Ada jeda, hingga air mataku kali ini
benar-benar jatuh.
“Kapan?” tanyaku
singkat.
“Tiga bulan yang
lalu,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar