Sabtu, 19 Januari 2013

Cintaku Mentok di Kamu



Ah, lagi-lagi sms dari kamu. Bisa kah kamu tak meng-smsku? Aku bisa apa, mendapati kamu terus-terusan meng-sms? Orang bilang yang namanya jatuh hati itu tak dapat ditepis. Kamu tau, aku mulai terbuai dengan semua sms-sms intens darimu. Lama-lama, aku bisa jatuh hati denganmu.
            Gery berkali-kali bilang padaku, memangnya salah mencintai seorang gadis? Masalahnya mau kah kamu menerimaku? Menerima segala kekuranganku?
            Siapa yang tak kenal dengan ku di kampus? Beberapa perempuan bahkan dengan terang-terangan menyatakan perasaan padaku. Kamu seharusnya hanya salah satu fans ku, tak lebih. Tapi entah mengapa bayangan kamu mulai masuk di hari-hariku, menelusup pelan.
            Kamu berbeda. Caramu masuk, sungguh mengganggu dengan lembut. Intens tapi tak agresif, bersikeras tapi tidak memaksa. Tapi kamu yakin mau denganku? Aku tak se-perfect orang bayangkan. Bukankan semua orang punya kelemahan? Aku pun juga begitu, kelemahan yang cukup fatal malah.
            “Heh, maneh teh ngelamun wae! Keur naon? Pasti maneh teh dapat sms dari gadis itu lagi? Bener nteu?  Urang teh nteu carei jeung maneh. Tapi kan kita lagi mau cari nafkah!” semprot Gery menasehatiku.
            Aku pun menuruti perkataan Gery, bagaimanapun juga Gery yang merekrutku ke sini. Dan aku cukup bersyukur, karena sedikit banyak pekerjaan ini dapat menutupi biaya kuliahku. Ah, kamu jangan sms aku dulu ya. Aku ingin konsen cari uang dulu.
***
Ada seorang gadis yang menubrukku karena syok diisengi Gery saat sedang berkunjung di pancake . Ya Tuhan! Aku syok. Itu kamu! Begitu pun kamu syok menemukanku mengenakan baju ketat bewarna shocking pink, dengan wajah full make-up. Tentunya bukan hanya kamu yang kaget tapi juga ketiga temanmu.
***
            “Nico!” panggilmu Senin pagi ini di kampus. Bagaimana ini? Sebentar lagi pekerjaanku akan ketahuan. Sebentar lagi aku pasti akan di keluarkan dari kampus. Aku segera pergi, pura-pura tak mendengar.
            Ada derap langkah mendekatiku. Aku percepat langkahku.
            “Nic! Lo kenapa sih? Kita harus bicara!”
Aku akhirnya menyerah, memberhentikan langkahku. Aku tak tega kalau-kalau kamu membeberkan ceritaku dengan jeritan kencang.
            “Mau bicara apa?” tanyaku datar.
            “Di Braga, itu lo kan?”
            “Kapan?”
            “Sabtu, malam kemarin,”
            Aku hanya mengangguk tak sanggup membela diri. “Lalu?”
            “Kenapa?”
            “Perlu lo apa bertanya ke gue?”
            “Gue rasa lo paham banget tentang perasaan gue,”
            “Yang mana?” tanyaku pura-pura polos.
            “Nico! Lo, tuh ya, gue suka sama lo! Gak karena lo pfff……” teriak kamu seenak udelnya. Untung aku sempat menutup mulutnya. Bisa-bisa reputasiku hancur kalau kamu jerit keras-keras seperti itu.
            “Iya, gue tau,” kataku akhirnya.
            “Gupffff,” ucapmu masih memaksa untuk berbicara.
            “Sudah Nin, sudah, cukup! Gue juga jatuh hati dengan lo, Nina Angraini. Yang lo liat itu memang kerjaan part time gue sekarang, tapi yang perlu lo tau gue normal,” ucapku keceplosan sendiri. Kenapa aku jadi menyatakan cinta sekaligus curhat gini ke kamu?
            Perlahan tapi pasti aku mulai meregangkan tanganku yang menutup mulutnya. Kamu kemudian menjinjitkan kakinya dan berbisik padaku.
            “Makasih sudah jujur. Apapun kamu. Cintaku mentok di kamu,” ucapmu berbisik mampu membuat jantungku berdetak kencang.
           

cerita sebelumnya : Bales Kangenku, Dong!


ket:
Heh, maneh teh ngelamun wae! Keur naon? Pasti maneh teh dapat sms dari gadis itu lagi? Bener nteu?  Urang teh nteu carei jeung maneh. Tapi kan kita lagi mau cari nafkah!” | heh, kamu melamun saja! langi ngapain?  pasti kamu dapat sms dari gadis itu lagi ya? benar tidak? aku mah gak marah, tapi kan kita lagi cari nafkah!


4 komentar: