Kamis, 24 Januari 2013

Tunggu aku di Situ, Aku Sedang Menujumu!



        Aku kembali lagi ke Tanah Sunda, setelah hampir lima tahun menentap di Tabalong, merintis usaha minyak kelapa. Sesampainya di rumah, aku iseng membuka semua jaringan dunia mayaku. Sudah hampir setahun ini aku tak kembali ke rumah, selama itu pula tentunya aku tak membuka internet. Maklum Tabalong masih masuk wilayah pedalaman.
         Aku iseng membuka chating messenger. Banyak chat masuk di grup anak_bolang yang tentunya hanya beranggotakan aku, Vandi, Sindi, Mia dan Satria. Aku tertegun membaca salah satu chat ‘Inna lillahi wa inna lillahi Roji’un. Telah berpulang, sahabat kita tercinta Vandi Andani, kemarin sore, saat perjalanan menuju Swiss. Jenazahnya sudah dapat dievakuaisi dan kembali ke Indonesia hari Rabu  nanti. Mohon doanya.’ Terkirim sekitar dua bulan yang lalu.
        Air mataku pecah. Secepat itukah Vandi pulang? Bukankah masih ada pertengkaran kecil antara aku dan dia yang tak pernah terucap secara langsung? Sekarang bagaimana aku harus mempertanggung-jawabkannya? Rasa getir memasuki rongga dada. Rasa bersalah dan sesal membuatku hanya mampu membaca chat secara acak dan terburu-buru menuju ke TPU Karet. Tunggu Van, tunggu Aku di situ!
         Jarak antara Bandung-Jakarta yang cukup jauh membuatku mampu mengendarai sekaligus mengenang masa lalu.
       Berulang kali aku berusaha melupakanmu Rinta, berusaha menganggapnya tak pernah ada, tapi aku tau semua usahaku akan percuma saja.
Kamu tiba-tiba menghilang. Tak pernah ada kabar lagi, selepas ia dibawa pulang ke Jakarta oleh Ayah dan kakaknya. Penyakitnya tambah parah selama di Solo. Berkali-kali ia dibawa ke UGD. Dokter di Solo pun sudah menyerah.
    Sejak liburan kali itu kamu tak pernah lagi datang di kampus. Pernah beberapa kali secara sembunyi-sembunyi, aku menanyakan status kemahasiswaanmu di kampus. Menurut Pak Ahmad, kepala sub bagian akademik, kamu sedang mengambil cuti. Semester selanjutnya pun kamu tak pernah terlihat. Sampai suatu hari aku tau, namamu tak lagi terdaftar di kampus ini.
    Di kampus pun Sindi, Satria dan Ami yang dulu selalu ramai menggodaku atau Vandi dengan Rinta tak pernah lagi membicarakan soal Rinta. Seolah-olah Rinta tidak pernah menjadi mahasiswa di fakultas ini. Sejak liburan kali itu pun aku dan Vandi jarang berbicara. Kami tetap berlima, namun ada jarak antara aku dan Vandi. Ah, Vandi, maafkan aku. Ini semua bukan salahmu. Ini tentu salahku, menyakiti perasaan Rinta terlalu dalam. Jika memang masih ada kesempatan tunggulah aku di situ-di tempatmu berada-yang entah ada dimana,aku sedang menujumu!
    Kalau tidak ingat Tuhan, mungkin aku sudah menjadi gila. Mengapa aku terlalu bodoh untuk menolak cintamu? Kini hingga hampir sepuluh tahun berlalu hati ini masih untukmu. Hey, masih adakah kamu di dunia ini?
    Sesampainya di pemakaman, aku segera menuju komplek tempat Vandi dimakamkan. Aku sengaja membelikan sebuket bunga mawar merah, untuk menyatakan aku kalah dan bersalah menyesali rasa benci yang datang tanpa sebab pada Vandi. Ada rasa sesak mengaung-ngaung di hatiku. Ini terlalu menyakitkan. Sebenci apapun, sekesal apapun aku pada Vandi tak pernah aku berpikir kalau Vandi akan pulang duluan. Bagaimanapun Vandi adalah sahabatku, bahkan ia orang yang paling dekat denganku dibandingkan ke tiga sahabatku.
    Aku melihat seorang wanita, memakai gaun hitam, menggunakan selendang hitam menutupi sebagian kepalanya, membawa tas gendong bayi di bagian depan tubuhnya, duduk di samping pusara Vandi. Wanita itu kah istrimu, Van? Sungguh, menyedihkan masibnya, harus ditinggalkanmu.
      Aku mendekati dan menghampiri wanita itu. Ingin turut memberi ungkapan belasungkawa. Karena bukan hanya wanita itu saja yang merasakan kepedihan. Aku pun merasakan hal yang sama.
      “Permisi, ini makam Vandi kan?” tanyaku dari belakang berusaha menyapa sesopan mungkin.
            Wanita itu tampak kaget mendengar suaraku, terlihat dari reflek punggungnya yang bergerak. Ia memalingkan muka ke arahku. Kini giliran aku yang kaget mendapati sosok wanita itu. Sosok yang telah lama kucari.
        “Anjar?” tanyanya tak kalah kaget. Ia berusaha mengahapus air matanya yang jatuh.
         “Rinta?”
        Tak pernah kubayangkan akan kembali bertemu denganmu. Terlebih di tempat ini. Terima kasih Van, telah menjaga Rinta dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar