Mungkin
banyak yang tak tau dimana letak desa tempat Tinggal Ruminah. Sebuah desa
terpencil tempat para penduduk kota biasa mencari seorang calon istri atau
paling tidak selingkuhan. Sedangkan para lelaki di desa itu kebanyakan bekerja
sebagai buruh. Ah, untuk menutupi betapa hinanya desa tempat tinggalnya Ruminah
maka kita samarkan saja nama desa itu menjadi desa X.
Sudah
bukan barang aneh, gadis-gadis muda di desa X sengaja dipinang oleh penduduk
kota. Sudah bukan barang aneh lagi desas-desus mengenai calon suami dari para
gadis tersebut nantinya. Beberapa kebanyakan bilang harus siap mati jika telah
dilamar. Beberapa bilang gadis-gadis pinangan ini kelak akan dijual untuk
dijadikan PSK atau kalau beruntung akan dijadikan istri muda dari lelaki
dedengkot yang usianya pun tinggal menunggu hari.
Di
desa X ini lah Ruminah hidup. Menanti lamaran membuat Ruminah kecil sering
ketakutan sendiri, apalagi usianya sudah menginjak 16 tahun, usia matang di
desanya untuk dilamar. Masalahnya siapa kah yang akan melamarnya? Lelaki yang
punya kelainan? Seorang germo? Atau kakek-kakek tua?
Ruminah
hanya bisa pasrah ketika ayahnya menanyaan kesiapan Ruminah dilamar. Ruminah
hanya mengangguk. Ruminah terpaksa memupuskan cintanya kepada Danu teman
kecilnya. Terlebih Danu sekarang entah ada dimana. Tapi Ruminah percaya janji
Danu. Dulu sebelum Danu pergi keluar dari desa ia berjanji kelak akan melamar
Ruminah. Ah, beginilah nasib gadis desa X menanti lamaran, mencari peruntungan
dari gambling.
Menanti
lamaran itu kadang menjemukan ketika bahkan kamu tak tau siapa yang akan melamar. Ruminah hanya bisa berdoa bahwa ia akan bahagia . Ah, Tidak! Tidak
hanya dia yang harus bahagia tapi juga kedua orang tuanya, jadi Ruminah hanya
berharap kecil bahwa lelaki yang akan melamarnya seorang lelaki kaya, dengan
doa khusus Danu lah lelaki kaya itu.
Hari
itu pun datang juga. Ruminah dijemput oleh seseorang yang tak ia kenal. Orang
itu memberikan sejumlah uang kepada orang tua Ruminah. Ia menyatakan bahwa ia
adalah bawahan dari sang pelamar. Ruminah juga harus menyeberangi pulai untuk
bertemu dengan sang pelamar. Beribu-ribu kali Ruminah memanjatkan nama Danu.
Ruminah percaya janji Danu. Bukannya cinta tentang kepercayaan? Ah, siapa kah
yang akan menjadi suami Ruminah kelak?
***
Danu tertegun
mendapati sosok yang datang ke tempatnya. Bukan Ruminah ini! Bukan Ruminah ini
yang Danu inginkan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar