Semua orang
mengecamku ketika aku kembali padamu. Tak pernah ada yang setuju aku denganmu. Tak
pernah! Bukan karena kekuranganku dan juga bukan karena kelebihanmu. Aku dan
kamu itu seimbang tak punya kelebihan dan tak punya kekurangan. Kamu yang punya
prinsip tak ingin berpacaran dan aku yang enggan berpacaran. Pada bagian mana
sebuah kisah ini akan bersatu?
Perkenalanku denganmu
berlangsung cukup singkat, saat mabim SMA. Kupikir akan sesingkat itu pula
hubungan kita, toh aku hanya murid baru dan kamu kakak kelasku. Tidak lebih. Tapi
nyatanya hubungan kita berlanjut terlalu jauh. Banyak memang yang tidak tau
sedekat apa hubunganku denganmu. Toh, pada akhirnya aku pun tak pernah tau.
Aku menganggapmu
sama seperti teman-teman lainnya, yang notabene memang kebanyakan lelaki. Tak pernah
lebih, hingga tiba-tiba kau nyatakan perasaanmu padaku. Aku di kala itu hanya
merasakan perasaan aneh yang bergejolak. Benarkah aku mencintaimu? Kata-kata itu
terus terngiang ditelingaku. Mengahantui bunga tidurku.
Tak lama setelah
itu kamu mulai menjauh. Salah apakah aku padamu? Karena tak kunjung memberikan
jawaban pasti padamu kah? Sungguh, aku bingung, aku tak tau harus bagaimana
mengahadapimu ketika itu. Mungkin benar, aku telah jatuh hati padamu.
Seperti disengat
listrik saat kutau kini kamu sedang dekat dengan seorang gadis yang merupakan
adik kelas kita berdua. Kecaman penuh hujat datang dari beberap gadis di
kelasku. “Apaan tuh? dasar, playboy!
Ih, kasihan Kak Mia!” , “Ih, ganteng-ganteng brengsek banget!” Ya, kamu kala
itu memang dekat dengan Kak Mia. Dan tak ada yang pernah tau, aku adalah korban
perasaanmu yang begitu labil. Rasanya ingin sekali marah pada gadis-gadis di kelas.
Kata siapa kamu brengsek? Kata siapa kamu playboy?
Hey, yang sungguh-sungguh tau tentang kebaikan hatimu kan aku bukan mereka!
Tidak, mungkin Tuhan lebih tau banyak.
Setelah itu tak
banyak kabar yang aku dengar tentangmu kecuali kamu menjalin hubungan dengan adik
kelas itu. Kebenaran tentang itu pun tak kuketahui banyak karena kamu
benar-benar menghilang dariku. Aku pun tak ingin ambil pusing, kamu tau kan aku
orang yang egois dan bergengsi tinggi? Walau kamu pergi dariku jangan harap aku
mengemismu kembali!
Nyatanya kamu
kembali kan? Kamu datang padaku, memulai semuanya dari awal. Memintaku memaafkanmu,
pada kesalahan yang tak pernah kurasakan. Kamu kembali, seolah membawa kembali
bunga tidurku. Aku pun tak bisa mengelakkan perasaan yang dulu telah ku kubur
jauh-jauh.
Sms singkat
darimu, membuat pipiku merona seketika. Kita janji bertemu di sebuah hotel
ternama. Peduli setan dengan cemoohan orang-orang. Yang merasakan cinta ini kan
hanya aku dan kamu, bukan mereka.
Hari ini, ya
hari ini. Aku tak ingin lagi kehilanganmu. Aku janji, hanya aku yang akan ada
di hari-harimu hingga akhir hayat. Hanya aku yang pantas memilikimu! Dan akan
kuserahkan kehormatanku padamu.
***
Suara pintu
kosan di dobrak keras. Seseorang dari balik tubuhku berteriak “Jangan bergerak!
Anda Kami tahan!”
Aku kebingungan.
Ada apa ini? Kenapa harus ada pengganggu ketika aku sedang menonton ceritamu, potongan-potongan
tubuhmu yang sengaja harus di buramkan di TV?
Aku tertawa, “Ada
apa? Kenapa saya dituduh yang tidak-tidak?”
“Anda saudara
Fahmi?”
“Ya!” Jawabku
singkat.
“Anda menjadi
tersangka utama dalam kasus pembunuhan Tuan Ardi di hotel karena nama anda
tecatat sebagai tamu terakhir Tuan Ardi,” ucap seseorang lainnya hendak
memborgol tanganku.
Aku hanya
tersenyum meremehkan. Sekarang kamu yakin kan aku sangat mencintaimu? Bahkan aku
rela kehilangan kehormatanku, demi mendapatkanmu. janji ku sudah kutepati kan? Aku
adalah orang yang akan ada dihari-hari terakhirmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar