Minggu, 13 Januari 2013

Mencintaimu


Semua orang mengecamku ketika aku kembali padamu. Tak pernah ada yang setuju aku denganmu. Tak pernah! Bukan karena kekuranganku dan juga bukan karena kelebihanmu. Aku dan kamu itu seimbang tak punya kelebihan dan tak punya kekurangan. Kamu yang punya prinsip tak ingin berpacaran dan aku yang enggan berpacaran. Pada bagian mana sebuah kisah ini akan bersatu?
Perkenalanku denganmu berlangsung cukup singkat, saat mabim SMA. Kupikir akan sesingkat itu pula hubungan kita, toh aku hanya murid baru dan kamu kakak kelasku. Tidak lebih. Tapi nyatanya hubungan kita berlanjut terlalu jauh. Banyak memang yang tidak tau sedekat apa hubunganku denganmu. Toh, pada akhirnya aku pun tak pernah tau.
Aku menganggapmu sama seperti teman-teman lainnya, yang notabene memang kebanyakan lelaki. Tak pernah lebih, hingga tiba-tiba kau nyatakan perasaanmu padaku. Aku di kala itu hanya merasakan perasaan aneh yang bergejolak. Benarkah aku mencintaimu? Kata-kata itu terus terngiang ditelingaku. Mengahantui bunga tidurku.
Tak lama setelah itu kamu mulai menjauh. Salah apakah aku padamu? Karena tak kunjung memberikan jawaban pasti padamu kah? Sungguh, aku bingung, aku tak tau harus bagaimana mengahadapimu ketika itu. Mungkin benar, aku telah jatuh hati padamu.
Seperti disengat listrik saat kutau kini kamu sedang dekat dengan seorang gadis yang merupakan adik kelas kita berdua. Kecaman penuh hujat datang dari beberap gadis di kelasku. “Apaan tuh? dasar, playboy! Ih, kasihan Kak Mia!” , “Ih, ganteng-ganteng brengsek banget!” Ya, kamu kala itu memang dekat dengan Kak Mia. Dan tak ada yang pernah tau, aku adalah korban perasaanmu yang begitu labil. Rasanya ingin sekali marah pada gadis-gadis di kelas. Kata siapa kamu brengsek? Kata siapa kamu playboy? Hey, yang sungguh-sungguh tau tentang kebaikan hatimu kan aku bukan mereka! Tidak, mungkin Tuhan lebih tau banyak.
Setelah itu tak banyak kabar yang aku dengar tentangmu kecuali kamu menjalin hubungan dengan adik kelas itu. Kebenaran tentang itu pun tak kuketahui banyak karena kamu benar-benar menghilang dariku. Aku pun tak ingin ambil pusing, kamu tau kan aku orang yang egois dan bergengsi tinggi? Walau kamu pergi dariku jangan harap aku mengemismu kembali!
Nyatanya kamu kembali kan? Kamu datang padaku, memulai semuanya dari awal. Memintaku memaafkanmu, pada kesalahan yang tak pernah kurasakan. Kamu kembali, seolah membawa kembali bunga tidurku. Aku pun tak bisa mengelakkan perasaan yang dulu telah ku kubur jauh-jauh.
Sms singkat darimu, membuat pipiku merona seketika. Kita janji bertemu di sebuah hotel ternama. Peduli setan dengan cemoohan orang-orang. Yang merasakan cinta ini kan hanya aku dan kamu, bukan mereka.
Hari ini, ya hari ini. Aku tak ingin lagi kehilanganmu. Aku janji, hanya aku yang akan ada di hari-harimu hingga akhir hayat. Hanya aku yang pantas memilikimu! Dan akan kuserahkan kehormatanku padamu.
***
Suara pintu kosan di dobrak keras. Seseorang dari balik tubuhku berteriak “Jangan bergerak! Anda Kami tahan!”
Aku kebingungan. Ada apa ini? Kenapa harus ada pengganggu ketika aku sedang menonton ceritamu, potongan-potongan tubuhmu yang sengaja harus di buramkan di TV?
Aku tertawa, “Ada apa? Kenapa saya dituduh yang tidak-tidak?”
“Anda saudara Fahmi?”
“Ya!” Jawabku singkat.
“Anda menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan Tuan Ardi di hotel karena nama anda tecatat sebagai tamu terakhir Tuan Ardi,” ucap seseorang lainnya hendak memborgol tanganku.
Aku hanya tersenyum meremehkan. Sekarang kamu yakin kan aku sangat mencintaimu? Bahkan aku rela kehilangan kehormatanku, demi mendapatkanmu. janji ku sudah kutepati kan? Aku adalah orang yang akan ada dihari-hari terakhirmu.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar