Minggu, 20 Januari 2013

Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?



Kamu tersenyum manis ketika aku datang mengunjungimu. Kamu nampak tak berubah, masih sama sepertinya. Kadang membuatku khawatir namun terkadang membuatku bersyukur memilikimu. Kamu memelukku manja. Memamerkan sebuah coretan warna membentuk sebuah gambar. Aku kemudian, tersenyum, menyadari betapa hebatnya dirimu.
Puas memamerkan gambarmu padaku, kamu memberikanku sebuah balon bewarna biru muda. Seolah-olah aku masih anak-anak. Ah, kamu, masih saja tau apa kesukaanku. Warna biru muda.  Kamu masih satu-satunya orang yang aku sayang hingga saat ini, apapun pendapat orang lain terhadapmu. Tak ada yang lebih penting darimu. Untukmu apapun akan kulakukan.
Kamu memaksaku dengan manja, untuk makan  semangkuk ice-cream di salah satu kedai. Anehnya, saat sampai di sana kamu bukan memesan semangkuk ice-cream malah semangkuk mie rebus. Membuat pusing salah seorang pelayan karena tak ada menu mie rebus di sana. Kamu tetap memaksa layaknya anak kecil, ingin memakan mie rebus di kedai itu.
Ah, andai aku bisa menuruti perkataanmu. Andai memang ada mie rebus di kedai itu, pasti akan kubeli berapapun harganya. Untuk kamu, apa sih yang enggak boleh? Tapi di kedai itu benar-benar tidak menjual mie rebus. Beberapa kali aku membujuk agar mengganti menu pesanan, sebanyak itu pula kamu memaksa dengan rengekan. Aku juga mulai membujukmu untuk pindah tempat, tapi kamu tetap merajukku ingin makan di sini. Membuatku kebingungan.
“Saya, hmm, mau mie rebus. Saya, hmm, mau mie. Titik. Mau mie. Mau mie. Tamu itu raja. Raja. Jangan pernah menyalahkan raja,” katamu setengah berteriak pada pelayan yang sudah beberapa kali menyatakan bahwa menu mie rebus tak tersedia di sana. Menimbulkan pandangan aneh para pengunjung ke arah kita berdua.
“Mohon, maaf tapi di sini tak menyadiakan mie rebus,” ucap pelayan itu sekali lagi.
“Mie, mie, mie!” serumu lagi.
Sorot mata pengunjung kedai mulai tajam mengarah ke kita berdua. Beberapa orang mulai berbisik-bisik, tentang betapa anehnya dirimu. Sejenak terdengar pula orang berkata “Oh, pantas. Sepertinya keterbelakangan mental!”          Aku hanya mampu terdiam melihat aksi bersikerasmu dan padangan aneh orang-orang sekitar. Aku mulai ingin menangis melihatmu seperti ini. Apa yang bisa kulakukan? Jika memang di sini menjual mie rebus akan kubelikan padamu sebanyak apapun mangkuk yang kamu pesan. Tapi di sini tidak ada mengertilah.
“Ayah, ayah mau pesan ice cream apa? Di sini tak ada mie rebus, kalau ayah mau pesan mie rebus kita cari di luar saja ya,”
Kamu hanya mengangguk menyetujui. Untuk kamu apa sih yang enggak boleh , Yah?

2 komentar: