Aku memasuki kelas. Ini hari pertama
aku mengajar di sekolah luar biasa. Di daerah kumuh tempat dulu aku tinggal.
Ada seorang bocah lelaki sedang
memperhatiakanku dengan seksama. Ia
duduk di baris ke tiga paling depan, pojok kanan. Senyumnya sesekali muncul,
mendengarkan cerita-ceritaku di depan. Beberapa kali ia menjawab pertanyaan
dariku, namun ia selalu menjadi orang ketiga yang menjawab pertanyaanku. Dengan
sigap ia akan mengacungkan tangan, menjawab dengan bahasa tubuh seadanya,
nampaknya ia tuna wicara. Aku tak tau pasti namun kupikir ia memang ingin
menjadi orang terakhir, setidaknya dalam perlombaan.
Aku
sempat mengobrol dengan Linda salah satu guru di sekolah ini, sebelum masuk kelas. Menurut pengakuan Linda,
ada seorang anak yang rajin dan pintar, namun sayangnya keterbatasan bicara
merupakan kekurangannya. Nampaknya orang yang dimaksud Linda adalah bocah
lelaki di barisan ketiga tersebut.
Ia datang menghampiriku yang sedang
berberes, dengan wajah tanpa dosa, ketika waktu pulang sekolah.
“Ibu sedang apa?” tanyanya menggunakan
bahasa isyarat.
“Sedang
melihat hasil gambar-gambar kalian. Kamu sedang apa?” tanyaku berusaha
berinteraksi dengan bahasa isyarat pula.
Ia berjalan ke arah samping, memelukku
erat, “Ibu, aku sayang Ibu!” ucap menggunakan bahasa isyarat ketika telah
melepas pelukan.
Nafasku tersengal seketika, saat ia
memelukku. Ada genangan-genangan deras membasahi lorong hatiku. Sakit namun
begitu menyejukkan. Air mataku tertahan menetes. Aku tak boleh cengeng! Mengapa
aku harus menangis dipeluk oleh seorang bocah SLB?
Aku memperhatikan wajahnya. Sorot
matanya tampak begitu kukenali. Hitam bolanya, tebal bulu matanya, mengingatkan
seseorang yag harus kulenyapkan jauh-jauh. Percuma, pikiranku kembali
mengingatkanku tentangmu.
Hey, mungkin tak pernah ada yang tau,
aku bukan gadis baik-baik. Aku pernah menjadi ayam kampus. Dua kali mengugurkan
janin dalam kandunganku. Sampai aku menemukan satu-satunya orang yang kupercaya
kala itu, kamu. Namun sayangnya kamu sama dengan pria-pria brengsek lainnya.
Hanya memanfaatkanku.
Aku hamil dan kamu berjanji akan
bertanggungjawab. Sayangnya, saat aku hamil tua, kamu menghilang dan ada
segerombolan orang membiusku. Ketika sadar, perutku tak lagi berisi. Darah
segar terus keluar dari selangkanganku. Jika
saja bayi itu dilahirkan, mungkin akan menjadi orang ketiga pertama yang
kulahirkan dari rahimku. Kamu pernah bayangkan perihnya hal itu bagiku?
Kehilangan dua orang yang kamu sayangi sekaligus?
“Ibu, juga sayang kamu. Orang tua kamu
belum jemput?” kembali menggunakan bahasa istirahat.
“Akmal, ayo!” ucap seseorang dari luar
pintu kelas.
Aku tertegun, mendapati sosokmu. Ada
keheningan yang menjalar seperkian menit. Sebelum kamu menyapaku.
“Rani?” tanyamu.
Airmataku pecah seperkiandetik, apa
maksudnya ini? Bocah lelaki ini anak siapa?
“Ran, Akmal anak kita……” tambahmu
menggantung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar