Selasa, 15 Januari 2013

Orang Ketiga Pertama


Aku memasuki kelas. Ini hari pertama aku mengajar di sekolah luar biasa. Di daerah kumuh tempat dulu aku tinggal.
Ada seorang bocah lelaki sedang memperhatiakanku dengan seksama.  Ia duduk di baris ke tiga paling depan, pojok kanan. Senyumnya sesekali muncul, mendengarkan cerita-ceritaku di depan. Beberapa kali ia menjawab pertanyaan dariku, namun ia selalu menjadi orang ketiga yang menjawab pertanyaanku. Dengan sigap ia akan mengacungkan tangan, menjawab dengan bahasa tubuh seadanya, nampaknya ia tuna wicara. Aku tak tau pasti namun kupikir ia memang ingin menjadi orang terakhir, setidaknya dalam perlombaan.
            Aku sempat mengobrol dengan Linda salah satu guru di sekolah ini,  sebelum masuk kelas. Menurut pengakuan Linda, ada seorang anak yang rajin dan pintar, namun sayangnya keterbatasan bicara merupakan kekurangannya. Nampaknya orang yang dimaksud Linda adalah bocah lelaki di barisan ketiga tersebut.
Ia datang menghampiriku yang sedang berberes, dengan wajah tanpa dosa, ketika waktu pulang sekolah.
“Ibu sedang apa?” tanyanya menggunakan bahasa isyarat.
            “Sedang melihat hasil gambar-gambar kalian. Kamu sedang apa?” tanyaku berusaha berinteraksi dengan bahasa isyarat pula.
Ia berjalan ke arah samping, memelukku erat, “Ibu, aku sayang Ibu!” ucap menggunakan bahasa isyarat ketika telah melepas pelukan.
Nafasku tersengal seketika, saat ia memelukku. Ada genangan-genangan deras membasahi lorong hatiku. Sakit namun begitu menyejukkan. Air mataku tertahan menetes. Aku tak boleh cengeng! Mengapa aku harus menangis dipeluk oleh seorang bocah SLB?
Aku memperhatikan wajahnya. Sorot matanya tampak begitu kukenali. Hitam bolanya, tebal bulu matanya, mengingatkan seseorang yag harus kulenyapkan jauh-jauh. Percuma, pikiranku kembali mengingatkanku tentangmu.
Hey, mungkin tak pernah ada yang tau, aku bukan gadis baik-baik. Aku pernah menjadi ayam kampus. Dua kali mengugurkan janin dalam kandunganku. Sampai aku menemukan satu-satunya orang yang kupercaya kala itu, kamu. Namun sayangnya kamu sama dengan pria-pria brengsek lainnya. Hanya memanfaatkanku.
Aku hamil dan kamu berjanji akan bertanggungjawab. Sayangnya, saat aku hamil tua, kamu menghilang dan ada segerombolan orang membiusku. Ketika sadar, perutku tak lagi berisi. Darah segar terus keluar dari selangkanganku.  Jika saja bayi itu dilahirkan, mungkin akan menjadi orang ketiga pertama yang kulahirkan dari rahimku. Kamu pernah bayangkan perihnya hal itu bagiku? Kehilangan dua orang yang kamu sayangi sekaligus?
“Ibu, juga sayang kamu. Orang tua kamu belum jemput?” kembali menggunakan bahasa istirahat.
“Akmal, ayo!” ucap seseorang dari luar pintu kelas.
Aku tertegun, mendapati sosokmu. Ada keheningan yang menjalar seperkian menit. Sebelum kamu menyapaku.
“Rani?” tanyamu.
Airmataku pecah seperkiandetik, apa maksudnya ini? Bocah lelaki ini anak siapa?
“Ran, Akmal anak kita……” tambahmu menggantung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar