Hari ini ada
yang aneh. Ada yang berubah. Aku masih merindukanmu, tapi tidak dengan air mata, aku bahkan tidak peduli dengan rasa rindu yang
menusuk.
Ku biarkan saja
semuanya terluka, sampai batas waktu tak terbatas. Toh kamu takan pernah
kembali. Silih hari berganti, lelaki satu persatu berdatangan, namun selalu
kubandingkan denganmu. Nyatanya hanya kamu yang aku kembali harapkan.
Kali ini ada
yang berbeda. Senyum seseorang muncul menyelinap entah dari mana. Rasa jahilku
kembali bermunculan namun bukan padamu. Aneh! Aku melihatnya di tengah
keramain. Rasanya ingin menyapa. Rasanya ingin mendekat padanya. Untuk apa? Bukannya
hati ini milikmu? Entahlah aku pun tak mengerti.
Kuketik tuts di
hp-ku. Tak ada lagi namamu dalam inbox sms ku. Aku meng-sms dia, dengan
keisengan tingkat dewa. Dia secepat kilat membalas. Kulirik dia dari kejauhan,
dia sedang tersenyum ke arah panggung. Dia melirik ke arah sekitar, saat tanda
sms terkirim, masuk ke hp-ku. Sedang mencari aku kah dia?
Aku berusaha
kembali fokus ke panggung namun mataku kembali melirik ke arahnya. Dia kembali
berpaling dan mata kami saling bertemu. Secepat kilat ku membuang muka. Aneh,
ada rasa nyeri menyelinap. Apa aku jatuh hati lagi? Anehnya bukan denganmu. Memangnya
bisa? Ah, entah lah. Lebih baik aku
fokus ke panggung.
Selesai acara itu,
dia menghampiriku. Ramai, namun tak ada
kata yang terucap diantara kami. Senyumnya mengembang, penuh syarat. Untukku kah
itu? Kenapa rasa ini begitu mengebu-gebu? Jatuh hati kah aku padanya si lelaki
manis ini?
“Nanti kalau aku sudah tidak ada, jangan cari
yang perokok ya. Pokoknya pacar kamu yang boleh merokok cuma aku! Heh, kok
malah diam sih? Pokoknya hati kita akan selalu menyambung di dimensi linear
manapun, ” kata-katamu dulu teringat kembali.
“Tenang saja pokoknya aku akan cari pengganti
aku buat kamu. Ketika orang itu ada aku akan mengatakan ‘ya’. Jadi sekarang
jangan cari-cari dulu ya,” tambahmu lagi ketika itu.
Hei, kamu! Aku merindukanmu!
Aku menunggu kata-kata ‘ya’ dari sambungan hati kita.
Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Asap mulai menjalar. Mengepung pertahananku. Aku sesak! Dia menghirup kembali rokoknya. aku terdiam. Sejurus kemudian aku berusaha mematikan perasaan ini dan namamu kembali tersebut di hati.
Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Asap mulai menjalar. Mengepung pertahananku. Aku sesak! Dia menghirup kembali rokoknya. aku terdiam. Sejurus kemudian aku berusaha mematikan perasaan ini dan namamu kembali tersebut di hati.
Kenapa kamu pulang terlebih dahulu, mas? Kenapa
kamu bisa menjadi pengecualianku, satu-satunya perokok yang bertepi dihatiku. Sampai
kapan aku harus percaya kamu masih mampu menyampaikan sambungan hati jarak jauh
dari dimensi linear yang berbeda? Memangnya bisa sambungan hati jarak jauh antara dunia dengan yaumul barzahk? Bodohnya aku masih mempercayai janjimu, mas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar