Kamis, 26 Januari 2012

testimoni tentang #15HariNgeblogFF

#15HariNgeblogFF udahan dong.. :(
sedih deh..seru loh ikut ginian..
pulang PKL bela - belain langsung ngadep laptop buat flash fiction bukannya nyicil laporan PKL..
trus suka lama karena binggung. mau buat apa.
abis judulnya seringnya cinta - cintaan melulu. padahal lagi patah hati nih.. #eh *malah curcol*
jadinya suka mikir panjang, cari - cari bahan yang beda dari biasanya dan yang gak ada hubungannya sama 1 orang yang akhir - akhir ini saelalu ada dipikiran saya. ya tapi karena makin hari judul dan temanya makin cinta - cintaan ujung2nya jadi suka galau maksi. Antara mau curhat atau emang nulis cerita. hehehehe

makin ke sini makin bingung, berasa write's blocker beneran. jadi ada beberapa yang gak ikut, apa lagi yang odol2 itu, jadi inget sesuatu. hahahaha

aduh, ini kenapa jadi curcol yak?
hahaha pada intinya saya seneng bisa ikutan ini. karena mau gak mau saya harus bisa mikir panjang dengan judul yang ditawarkan. membuat saya membuka pikiran lebih luas. terus adanya acara ini juga buat saya bisa baca dan ngerti tulisan temen - temen yang lainnya. inspiratif banget. seru banget loh, bisa baca tulisan dari mereka. lumayan bisa mengisi kesuntukan selama jam istirahat PKL...
seru deh, pokoknya ikut ginian. blog saya juga jadi di baca orang.
bisa baca cerita - cerita secara gratis lagi.
hehehe

makasih banget loh buat mbak unge @wangims dan mas momo @momo_dm selaku admin yang punya ide brilian buat acara kayak gini.. :)
terima kasih.. :D

Menikahkah denganku!


Banyak yang berubah darinya. kini dirinya nampak lebih kurus. Seakan mendukung wajahnya juga terlihat lebih tirus. Secara keseluruhan dia lebih manis. Sama seperti dirinya aku juga kini telah berubah. Karena satu janji pada diriku sendiri, aku tak akan menemuinya hingga aku bisa berubah diriku.
Masih teringat saat – saat kedekatanku denganya. Kedekatan yang manis, yang membuatku hingga kini masih sendiri, menunggunya memandang ke arahku. Semua orang selalu menyangka kami adalah sepasang kekasih. Berbagai julukan mendarat begitu saja padanya, sekan menuduh kalau dia memiliki perasaan padaku.
Masih teringat dengan jelas malam itu. Saat dimana bintang bermandikan cahaya bulan menghiasi langit malam, berpadu dengan keindahan edelweiss di padang Surya Kencana. Aku yang sedang menikmati keindahan nan romantis itu sambil duduk  di depan api unggun bersama anak – anak cowok lainnya, diomeli habis – habisan olehnya karena merokok. Dia  bilang tak bisa menghirup asap rokok. Seakan tidak peduli kami terus merokok tanpa menghiraukan omelannya.
Kemudian dua hari setelah kepulangan kami, dia masuk rumah sakit dan divonis paru – paru basah. Sejak saat itu aku malu bertemu dengannya, malu walau hanya untuk bertegur sapa dengannya. Aku merasa bersalah padanya. Sejak itu aku berjanji aku tak akan mengusiknya hingga aku benar – benar bisa berhenti merokok.
Kekuatannya pun nampak tak berubah. Masih sama kuatnya, masih sama bersemangatnya ketika pertama kali dia, diriku dan yang lainnya mendaki puncak Gunung Gede - Pangrango. Berawal dari message singkat Ardi yang mengajak reunian di Gunung Gede minggu lalu, kami semua berkumpul lagi malam ini di Surya Kencana.
Hari ini tak akan kuleawati kesempatan itu. aku akan mengungkapkan perasaan ku padanya. Tak akan ada lagi halangan, toh kini aku tak merokok, semua ini memang kulakukan untuknya. Aku tak ingin menyia – nyiakan waktu lagi.
“Nad, menikah lah dengan ku,”  ucapku padanya singkat. Sama seperti saat itu, dibawah bintang yang bermandikan cahaya bulan di tengah pemandangan padang edelweiss, Surya Kencana di depan api unggun. Kuberikan seikat bunga edelweiss yang baru saja kupetik lambang kesetiaan hatiku padanya.
Kemudian dia tersipu malu, “Iya,” jawabnya mengambil seikat bunga dari tanganku.
                “WOY!” teriak seseorang mengagetkan ku. “Ngelamun aja nih! Nanti kesambet baru tau rasa lo!” ucap dirinya yang kini duduk di sebelahku. Ah, sial! Ternyata tadi hanya anganku. Oke kali ini tidak boleh hanya sekedar  angan. Harus sekarang!
 “Nad…” belum selesai ku berkata.
 Ardi tiba – tiba sudah berteriak pada yang lainnya, “Guys, tujuan gue ngundang kalian ke sini selain reunian juga sekalian mau ngumumin kalau minggu depan gue, bakalan nikah sama Nad…”
“AAAAA,” jerit Akbar panik, perhatian yang lain langsung beralih ke Akbar. Nad? Nad siapa? Nadia? Ah, sial nih Akbar, ternyata dia jerit cuma karena liat lintah.
“Ah, siaul lo Bar! Ganggu berita penting aja,” ucap Ardi. “to the poin aja deh, gue mau nikah sama Nadia minggu depan pada datang ya,” ucap Ardi lagi, yang lain bersorak ramai termasuk dirinya. Nadia kemudian tersenyum malu.
Fiuh, ternyata Nadia, bukan Nadira. Orang yang kusukai itu ya Nadira.
“Nad, menikahlah dengan ku, mau?” tanyaku pada dirinya yang masih duduk di sebalahku.


SAH!



            Aku masih tersegal – segal. Entah ini yang keberapa kalinya aku melakukan *seri. Masih menunggu sebuah kepastian. Tiga hari ini nampaknya seperti sebuah penantian yang masih menggantung. Kala letih ini datang tak ada lagi niatan, hanya ingin pulang ke rumah.
            Badan ini rasanya sudah lengket. Penuh dengan lumpur entah tanah hujan atau tanah rawa. Pakaian ku juga tak kalah heboh berantakannya. Harga diri bahkan tak lagi penting. Aku hanya ingin pulang. Tak apa bila harus kutinggalkan harga diriku di sini, aku mulai tak peduli.
            “TUTUP MATANYA LEBIH KUAT! IKUTI SAYA!” teriak seseorang menarikku dengan kasar.  Aku kini bahkan merasa seperti ditelanjangi. Sudah tak ada lagi harga diri ini.
            Aku terpaksa mengikuti orang yang menarikku. Aku hampir terperosok entah di mana. Aku tak dapat melihat. Mataku ditutup rapat oleh sehelai kain. Ingin rasanya menjerit. Aku tak rela kalau harus diperlakukan seperti ini terus. Ingin menangis rasanya. Ketika tiba – tiba tubuhku diguyur oleh air entah dari mana. Air ini bahkan tak hentinya mengguyurku. Hawa dingin mulai menusuk dinding pertahanan tubuhku. Aku mengigil.
            Kemudian orang yang tadi membentakku tadi melepaskan tarikan tangannya dan mengaitkan kedua tanganku entah dengan siapa. Mau diapakan lagi aku ini? Aku sungguh letih, tak kuat jika harus di permainkan seperti ini. Suasana semakin sepi, hanya suara gemericik air yang mengguyurku. Ini dimana? Aku mulai ingin menangis.
Beban di pundakku terasa semakin berat. Ya tuhan, aku gak kuat. Aku letih. Ingin pulang! Diantara gemericik air kemudian terdengar suara lembut mengalun.
“Indonesia tanah air beta…
Pusaka abadi nan jaya…
Indonesia sejak dulu kala….
Tetap di puja-puja bangsa….”
            Kemudian ikatan mataku ada yang melepas. aku terjerembab melihat pemandangan di depanku. Air mataku jatuh.
            “Selamat ya kamu sah!  Sah menjadi anggota muda* sispala!" Peluk erat, Kak Dio kakak kelas ku, sekaligus senior di ekskul pencinta alam sekolah ku.

“Di sana tempat lahir beta…
Dibuai dibesarkan bunda…
Tempat berlindung di hari tua..
Tempat akhir menutup mata..”
 Lirik Indonesia pusaka masih mengalun lembut dari para kakak kelas dan alumni yang ikut hadir dalam acara *diklatsar sispala
“Sungguh indah tanah air beta…
Tiada bandingnya di dunia…
Karya indah Tuhan Maha Kuasa…
Bagi bangsa yang memujanya…
Indonesia ibu pertiwi....
Kau kupuja kau kukasihi…
Tenagaku bahkan pun jiwaku…
Kepadamu rela kuberi…”
            Rasanya lega bukan main. Dilantik dibawah guyuran air terjun, yang di sinari rembulan malam bersama teman – teman seperjuangan yang ada di samping kanan dan kiriku, sungguh indah. Amarah dan segala gundah yang menerjang tiga hari ini pupus sudah. Bahkan cariel yang melekat dipunggungku yang tadi terasa berat karena terguyur, menjadi tak terasa lagi. Airku masih mengalir mengingat hal – hal apa saja yang terjadi selama tiga hari ini. Mulai dari harus makan cacing, membuat biovac dari ponco, hingga menemukan celana dalam teman cowok pun terjadi. Tiga hari ini akan menjadi hal terindah dalam kisah ku. Ketika kata “sah!’ terucap dari mulut Kak Dio.

Keterangan:
Seri:  1 kali seri sama dengan 10 kali Push up
Diklatsar: pendidikan dan latihan dasar
sispala: siswa pecinta alam


#PS: berdasarkan kenangan pelantikan anggota muda moonpala. angkatan VIII . angin terpa purnama.

Rabu, 25 Januari 2012

Ini Bukan Judul Terakhir



            Saya sedang menyaksikan pemandangan seru ke dua remaja-lelaki dan gadis itu-di rumah makan tempat mereka bertemu. Pamandangan yang selalu saya lihat di pagi hari dan terkadang di malam hari. Pemandangan yang terkadang lucu ketika mereka berdua mulai kikuk. Kemudian badan saya terelus pelan saat dirinya hadir, menyapa saya. Mengajak saya bicara. Kemudia kami berdua sibuk dengan pikiran masing – masing, menikmati pemandangan ke dua remaja tersebut.
            “Baca ya,” ujar gadis itu tersenyum
            “Ah, lo seneng banget sih jejelin gue cerpen picisan lo itu. gue males bacanya tau,” ujar lelaki itu tajam.
            Seolah tak peduli gadis itu kemudian merajuk. “Ih, lo kok jahat banget sih. Gue kan butuh tanggepan orang. Kritik dan saran dari orang itu sangat membangun loh. Baca ya, baca. Nanti dikasih hadiah deh.”
            “Apa?” tanya lelaki itu nampak sangat bersemangat.
            “Yakin, mau tau sekarang? Nanti gak surprise dong?”
            “Mulai nih penyakitnya kambuh. Gak cerita, gak hadiah, sama aja yah selalu gantung gak jelas,” ujar lelaki itu mulai jengkel.
            “Tapi cerpen yang gue buat gak pernah gantung kan? hahaha” tawa gadis itu terdengar renyah dan saya hanya bisa menahan pilu dari sini.
            “Ya udah, ah, males baca cerpennya,” ujar lelaki itu mengancam.
            “Uduh, ngambek. Cup – cup – cup. Baca ya,” ujar gadis itu sambil tersenyum. “Hadiah adalah, jeng – jeng. Baca cerpen gue yang selanjutnya. Soalnya, ini bukan judul terakhir. Hahaha, masih banyak yang lainnya, gue janji,” ujar gadis itu lagi sambil tertawa renyah.
Selalu ini yang saya tunggu dari pertemuan mereka selama ini. Senyum dan tawa renyah gadis itu, seolah tanpa beban. Tapi kali ini rasanya saya tidak rela melihat gadis itu tersenyum.
“Dih, najong. Iye, iye gue baca. Apa sih yang gak buat kamu?” goda lelaki itu akhirnya.
“Hah?” tanya gadis itu tidak lagi tersenyum, kali ini mimik bingung terlintas di wajahnya.
“Emang, lo doang yang bisa ngejailin gue? Hahaha. Pasti udah GR ya?” tanya lelaki.  Hal – hal konyol seperti ini yang selalu saya liat diantara mereka berdua dan kadang dapat menghibur saya yang selalu sendiri. Saya rasa ada cinta yang terucap diantara mereka berdua.
“Jahat, ih! Udah ah, gue balik duluan. Banyak tugas nih,” ujar gadis itu mengakhiri pemandangan yang selalu seru untuk saya lihat.
            Tidak sampai 10 menit kemudian, dirinya tak lagi mengamati kedua remaja itu. Dirinya fokus memandangi gadis itu. Ketika itu juga gadis itu hilang bersama dirinya yang sedari tadi bertopang pada punggung saya.  Saya kemudian memandang gadis itu pias.
Gadis itu tertabrak mobil, terpelanting, darahnya bercipratan tak berarah, termasuk ke badan saya. Seketika gadis itu terbujur, tak bernyawa. Saya ingin sekali merengkuhnya, menolongnya, menyelamatkannya. Tapi bisa apa saya? Saya hanya pohon tua yang berada di depan rumah makan tempat kedua remaja itu sering bertemu. Lelaki itu kemudian berlari, menghampiri ketika menyadari apa yang terjadi.
Dirinya tadi tiba – tiba hadir. Duduk di punggung ranting saya, bercerita akan segera menjemput gadis itu. Ya, dirinya itu adalah malaikat maut. Janji gadis itu tak akan pernah mungkin tertepati. Memang ini bukan judul terakhir untuk lembaran lelaki itu tapi ini judul terakhir untuk gadis itu.

Senin, 23 Januari 2012

Merindukanmu Itu Seru!


Hari ini aku mau menulis diari, tentang kamu lagi, boleh kan? Aku jadi kayak anak kecil deh, nulis diari. Aku rindu sikapmu yang selalu salah tingkah kalau aku mulai menggombal. Apalagi saat aku mulai menggodamu tetang prinsipmu yang tidak mau pacaran dan mau nikah muda itu. Jika sudah begini, yang aku lakukan hanya membuka semua inbox yang menghubungkanku dengan kamu. entah HP, entah message FB, entah  DM twitter. Semuanya aku jamah, demi mengingat hal – hal konyol yang ada pernah terjadi antara kita.
Kamu tau? aku rindu main menang – kalah sama kamu, rindu bego – begoin kamu, rindu memojokkanmu, rindu mem-bully kamu yang kenyataannya adalah seniorku. Aku tau aku ini bodoh. Seharusnya kalau memang rindu padamu, aku harus menghubungimu. Tapi sejak hari itu rasanya kita seperti sedang bermain menang – kalah. Siapa yang menghubungi duluan maka dia yang kalah. Hari dimana kamu bilang kamu ingin menjauh dariku, karena risih terlalu dekat denganku. Hatiku terasa begitu nyeri, hari itu adalah hari dimana angina mulai memperkenalkan diri.
***
Aku benci tinggal di sini! Ini bukan liburan namanya.Aku ingin pulang. Ingin menemuimu. Ingin cepat – cepat masuk kuliah. aku menyesal waktu itu tak mau mengalah. Karena kini bahkan aku tak akan sanggup untuk menyampaikan rinduku padamu, walau hanya sekedar lewat sms.
Merindukanmu kini terasa semakin seru, bagai bermain petak umpet bersama angina. Ada waktu dimana aku harus kalah dan tertangkap olehnya. Kemudian aku harus menunggu 15 sampai 20 menit untuk dapat bersembunyi lagi darinya. Lucunya mama selalu berdoa agar aku bisa bersembunyi darinya. Mah, ini hanya permainan kok.
Aku bahkan selalu tidak dapat menang dari angina. Aku hanya bisa bersembunyi sebelum dia menangkapku. Jika dia berhasil, aku hanya berharap aku bisa kembali bersembunyi. Semakin aku merindukanmu. Semakin banyak pula aku harus bermain petak umpet dengan angina. ini mungkin hal yang paling seru yang dapat kulakukan saat merindukanmu.
Aku akhirnya berhasil menang darimu walau tidak pada angina. Kamu menghubungiku, tiga kali dalam waktu dua pekan ini. Tapi tidak ada pertanyaan tentang diriku. Hanya menanyakan bibit strawberi dariku yang mulai layu. Mana mungkin tidak layu kalau kamu tanam di daerah perindustrian yang panasnya total itu. Menanam strawberi itu perlu perawatan ekstra. Rasanya aku ingin menjadi bibit strawberi, biar kamu juga merawatku.
Mungkin inilah cara tuhan, untuk membuatku, merindukanmu begitu seru. Bermain petak umpet bersama angina dan aku selalu kalah. Aku hanya berharap bisa selalu bermain petak umpet dan terus bersembunyi. Rindu ini terasa semakin seru ketika aku mulai berharap kamu hadir dan melamarku di sini. Miris ya, hayalanku? Memangnya aku siapamu.
Bermain dengan angina pectoris unstable kini juga semakin seru seperti berkejar – kejaran menunggumu menjemput dengan lamaran atau menunggu angina menjemputku ke sisi tuhan terlebih dulu.




#PS: cerita ini ringkasan cerpen Strawberry Is You, dari sisi Sita.
http://niza-lilac.blogspot.com/2011/12/strawberry-is-you.html
#Note:
Angina pectoris unstable adalah sindron klinik berbahaya karena ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai O2 miokard yang dapat berubah menjadi infrark ataupun kematian. Gejala awal dari angina unstable adalah rasa nyeri, tertekan pada sekitar daerah hati, baik ulu hati, tenggorokan dan leher. Penyakit ini bisa muncul secara tiba – tiba saat beraktifitas berat, stress (deg – degan, senang, sedih) dan saat sedang beristirahat. jika sudah muncul diberi obat beta bloker, nitrogliserin maupun Ca-antagonis.


Minggu, 22 Januari 2012

Tentangmu yang Selalu Manis


            Aku masih dapat mengingat dengan jelas kamu berlari lincah dengan riang gembira dengan rambut dikuncir dua. Kemudian menimbulkan senyum manis bagi yang melihatmu. “Kamu itu manis,” kata ibumu pelan, selalu di setiap pagimu. Membuatmu percaya memang kamu ditakdirkan untuk selalu manis.
            Senyummu, tutur bicaramu, rona wajahmu, sifatmu, selama ini selalu manis yang ku tau. Walaupun orang – orang yang kamu sayang telah tiada kecuali aku, kamu masih dapat tersenyum manis dengan tegarnya.  Tak akan habis kata jika aku menjelaskan tentangmu yang selalu manis. Kamu selalu tergambar dengan jelas di memoarku. Membuatku ingin selalu menjadi dirimu, walau mungkin itu sangat sulit.
            “Ana, sudah beres? Tamu, di kamar 207 sudah menunggumu. Aku harap kamu memberi layanan yang memuaskan seperti biasanya,” ujarnya membuyarkan kenangan tentangmu. Dia orang yang memberi kehidupan padaku saat ini.
            Aku kembali memoles pewarna bibir di depan cermin dan merapikan penampilanku. Memastikan bahwa penampilanku terlihat manis untuk memuaskan pelangganku. ‘Kamu akan terlihat selalu manis,’ ucapku menyakinkan gadis di sebrang cermin sana. Jujur aku merindukanmu tentangmu yang selalu manis, dulu. Ya, kamu adalah gadis di dalam cermin itu. Tentangmu yang akan selalu manis, walau kini kamu hanya akan terlihat manis untuk memuaskan nafsu sesaat. Itulah kamu, parasku di depan cermin.

Sabtu, 21 Januari 2012

Senyum, untukmu yang Lucu


            Kamu itu lucu, selalu bilang tak ingin pacaran tapi sikapmu yang kamu berikan padaku layaknya orang pacaran. Kamu itu lucu, selalu mengelak jika aku sudah mulai membicarakan masalah cinta. Tingkah lakumu itu lucu, saat aku mulai mengejekmu tentang statusmu yang masih saja selalu single hingga menginjak usia 24 tahun.
            Apapun yang kamu lakukan selalu terlihat lucu bagiku. Entah itu memang benar – benar lucu atau hanya pribahasaku saja menyebutmu lucu yang dengan kata lain berarti aneh. Semua hal tentangmu yang lucu kadang membuatku berkelakuan tak kalah lucunya. Menjadi stalker-mu, melakukan hal annoying seperti menelponmu dengan private number, menangisimu untuk hal yang tak jelas. Lucunya hal itu akau lakukan ketika kamu mulai menjaga jarak dariku. Bisa apa aku? Aku hanya sekertarismu.
           
***
            Kamu itu lucu, selalu meledek saya single padahal kamu juga single. Kamu itu lucu selalu menyendiri dengan HP mu saat sedang luang entah untuk apa. Kemudian saya akan disibuk dengan stalker yang mengubungi entah siapa.  Atau harus saya sebutkan kalau orang itu kamu? Saya pernah memergokimu sedang mencoba menghubungi saya. Kala itu saya sengaja meng-hold, dan tanpa kamu sadari saya berada dibelakangmu. Menemukan nama saya di HPmu.
            “Pak, saya di miscall sama orang, gak tau siapa. Saya takut, tiba – tiba orang itu sms saya dan dia tau saya kerja di sini. Bagaimana ini?” ucapmu kalut, ketika dengan tiba – tiba memasuki ruang kantorku. Tumben kamu memanggil saya dengan sebutan ‘pak’ dan berkata ‘saya’. Itulah kamu yang lucu, selalu berlaku sopan saat sedang panik, sama halnya ketika ada pertemuan dengan dewan direksi.    
            “Ya, mana saya tau, itu kan urusanmu bukan urusan saya. Kenapa kamu berwajah kalut dan langsung masuk ke ruangan saya?” tanya saya menahan senyum. Kamu belum tau saja, yang meng-sms mu itu saya. Memangnya cuma kamu yang bisa bertingkah laku curang seperti itu?
            “Ah, iya,” ucapmu kecewa seperti menyadari bahwa yang kamu lakukan adalah kebodohan.
***
            Aku kalut, bagaimana tidak ada yang meng-sms ku entah siapa, dan aku paling takut didekati oleh orang yang tak dkenal. Bodohnya aku malah masuk ke ruanganmu, orang yang sekarang semakin hari semakin lucu kesombongannya.
            “Hey, tunggu! Lo udah tau siapa yang meng-sms lo? Kok main pergi begitu saja dari ruangan ini?” tanyamu penuh arti saatku akan menarik pintu ruangan ini. Kamu itu lucu tadi mengusirku kini bertanya padaku dengan iba. Eh, atau sedang tersenyum picik ya?
            Kamu kemudian tersenyum kepadaku,”Kamu itu lucu ya, makanya kalau mau jadi stalker belajar dulu, sama ahlinya. Saya janji kok bakal mengajarinya kalau kamu mau,” ucapmu lucu tadi ngomongnya gue-lo sekarang saya-kamu.
            “Maksud kamu?” tanyaku masih tak mengerti ucapannya.
            “Kamu itu lucu, kenapa harus jadi stalker kalau ruangan kita bahkan tak berjarak lebih dari 5 meter?” ucapmu kali ini tersenyum menyeriangai, penuh kemenangan.
Kamu itu lucu, bisa mempermainkanku seperti ini hingga aku terlihat lucu di di hadapanmu dan kali ini kamu tersenyum puas. Kamu lucu karena mulai belajar mempermainkan orang dariku. Kali ini objeknya adalah aku.

Jumat, 20 Januari 2012

Inilah, Aku Tanpa Mu


Beginilah aku tanpamu. Semua orang memandangku aneh. Pandangan iba sengaja dimunculkan di mimik wajah mereka, entah mereka tulus atau hanya berpura - pura. Pastinya aku merasa risih dipandang dengan iba seperti itu, hanya karena tanpamu.
Aku tak akan pernah lupa semua kebaikan dan ketulusan hati yang telah kamu berikan padaku. Kamu bahkan selalu rela menungguiku hingga selesai, saat aku ingin ke kamar mandi. Kamu selalu melindungiku, melindungiku dari segala hal yang yang berbahaya. Bahkan kamu selalu sigap menolongku ketika aku tak mampu melakukan sesuatu. Kamu juga ajari aku untuk mencintai seseorang. Kamu  dan aku bagaikan garpu dan pisau saat digunakan pada steak ataupun main course lainnya. Kau sebagai garpunya yang menahan dan menguatku saat memotong se-slice daging steak. Sungguh kini aku sendiri tanpamu.
Masih ku ingat kata – kata terakhirmu, “Aku ingin hidup, Nes!” pandangmu penuh arti padaku.
“Aku juga ingin hidup. Kita pasti berhasil. Operasi ini pasti akan sukses. Kita akan hidup sendiri dan tetap saling melengkapi,” ucapku berusaha tersenyum.
“Aku, juga ingin seperti itu. aku ingin bebas. Aku takut bila salah satu dari kita tak terselamatkan. Bahkan aku ingin hidup bila mungkin tanpamu. Aku ingin hidup, Nes!” ucapmu dengan pasti di kalimat terakhirmu. Kamu kemudian menangis, entah untuk apa. Untukku, untuk operasi ini atau untuk kehidupanmu saja?
Aku terdiam, aku tak tau harus berbuat apa. Menangis sepertimu kah? Untuk apa? untuk sisa – sisa waktu terakhirku mungkin? Lebih baik aku pikirkan cara lain untuk bertahan hidup kan? Sepertimu yang ingin bebas bahkan ingin hidup tanpaku. Kemudian, aku muak sendiri. Aku harus bisa! Ya, kalau kamu bisa berpikiran seperti itu, mengapa aku tak bisa?
“Sudahlah aku berharap yang terbaik bagimu. Ini, permen untuk menenangkanmu,” tangan kiriku menepuk pelan tangannya sambil memberikan sebuah permen yang telah kubuat secara rahasia padanya.
Kamu kemudian tersenyum, sambil berkata, ”Semoga, kita berdua bisa bebas dan bisa hidup!” aku rasa itu senyum palsumu. Jelas – jelas tadi kamu ingin hidup tanpaku.
Beberapa menit kemudian kamu menghisap permen yang kuberikan. Sebuah obat yang kubungkus dengan plastik permen, biar terlihat nyata itu adalah permen. Kamu memang paling mudah ditipu! Sebut saja permen itu adalah permen beta bloker, kutemukan tadi saat kita sedang general chek- up untuk persiapan operasi. Kulihat lagi sekilas sepesifikasinya sebelum kuberikan itu padamu. Beta bloker, obat untuk penderita angina pectoris dengan cara kerjanya menghambat sistem adrenergenik terhadap miokard yang menyebabkan kronotropik dan inotropik positif, sehingga denyut jantung dan curah jantung berkurang. Sangat baik bagi penderita angina pectoris tapi tidak untuk orang normal, sepertimu.
10 menit sebelum operasi, kamu sudah lenyap. Hilang dari dunia ini. Ini yang kamu mau kan bebas tanpa aku. Kita kini tak perlu berpura – pura saling membantu walau hati saling iri satu sama lain. Inilah aku tanpamu, berpura – pura sedih walau hati merasa nyaman dan tersenyum bebas. Bebas darimu, wahai kembar siamku. Kini tak ada lagi perasaaan aneh yang menggganjal di bagian perut kiriku, yang selalu kurasakan selama 17 tahun ini.

Kamis, 19 Januari 2012

Aku Benci Kamu, Hari Ini!


Aku senang, ketika kamu masuk perlahan dalam kehidupanku mewarnai hidupku. Aku senang ketika kamu membutuhkanku. Aku senang saat kamu menceritakan kehidupan sehari - harimu, padaku. Aku senang saat kamu kalah dariku. Aku senang bisa mengejekmu. Aku senang saat kamu benar - benar merasa kehilanganku. Aku senang saat kamu menunjukkan muka sendumu.
Aku juga senang saat kamu memberiku sesuatu yang sangat kusuka, buah dari kebun kecil di rumahmu. Aku juga senang saat kau memberiku seloyang tart  kecil padaku, walau aku tak memintanya. Mungkin kamu memberikannya padaku karena ancamanku, entahlah. Aku juga senang saat kamu mau mengantarkanku membeli sesuatu yang kala itu sangat penting bagiku, sebuah odol. Walau mungkin itu karena aku paksa. Masih terlalu banyak hal yang membuatku senang karena dirimu. Yang paling aku senangi adalah ketika kamu mau menuruti semua paksaanku.
Apa kamu tau? Aku benci semua hal yang berkebalikan dari rasa senangku. Termasuk yang aku senangi darimu. Aku benci saat kau tak lagi membutuhkanku. Aku benci saat kau tak menceritakan kehidupan sehari - harimu. Aku benci saat kamu menang dariku. Aku benci saat kamu mulai mengejekku. Aku benci saat kamu mengacuhkanku. Aku benci saat kamu dapat tersenyum lepas. Aku benci kamu, seperti hari ini ketika kamu memegang secangkir gelas cocktail  dan tersenyum melihatku duduk berdampingan dipelaminan dengan dirinya. Seseorang yang sangat berarti bagimu. Seseorang yang selalu kau anggap lebih penting dariku, kakakmu. Mungkin mulai hari ini aku harus belajar senang untuk membencimu.

Rabu, 18 Januari 2012

Sepucuk Surat ( bukan ) dariku


Bagaimana mungkin aku tak cemburu, ketika kau tiba – tiba hadir berdampingan dengannya, tanpa diriku. Kemudian yang lainnya seolah memandang aneh padamu pada saat penerbangan. Seolah bertanya kemana aku yang selalu hadir bersama denganmu. Dan aku hanya terdiam menahan rasa cemburuku, terpaku berusaha tidak tau apa yang telah terjadi. Tapi hati ini begitu meringis, merasa ini sangat tidak adil.
Apa kamu lupa? Saat kita bersama hampir semua orang menyukainya. Perbedaaan kita berdua yang selalu menjadikan kita selalu bersama – sama. Kamu lupa? Betapa manisnya diriku ketika bergumul dan menyatu dengan mu, menimbulkan rasa tersendiri yang terkesan netral. Hey, bahkan aku bisa menutupi kekuranganmu. Menetralkan dirimu yang terkadang asam jika dipandang secara sendiri.
Indahnya warnamu yang seragam denganku menimbulkan keserasian dengan rasa yang berbeda. Membuat yang lainnya iri jika kita disatukan. Kamu dan aku akan menjadi paduan yang paling serasi dan disenangi semua orang. Tapi kini? Mengapa kamu lebih memilihnya? Warnamu bahkan tak seragam dengannya. Dirinya bahkan tak dapat menutupi kekurangamu. Dan kamu hanya memandangku dari kejauhan tak melalukan apapun. Aku cemburu, tak sadar kah kau?
Sepucuk surat bukan dariku, hadir di meja quality assurance. Surat komplain dari penerbangan. Segera orang quality control  terbagi untuk mengecek store, cold kitchen chiller dan meal tray set up. Entah apa yang terjadi di store. Aku tak pernah tahu. Tiba – tiba secara mendadak aku dipisahkan denganmu. Dibuang! Kemudian sekarang dirimu berdampingan dengan slice kiwi yang berbeda warna dengan mu, wahai slice strawberi. Aku hanya bisa menangis di sini, di tray pembuangan, menelan sejuta rasa cemburu ketika kau berdampingan dengan slice kiwi. Menimbulkan sejuta tanya pada juice orange dan tiramisu di meal tray set up.
***
Sepucuk surat dari penerbangan pertama, hadir membuat kacau orang – orang departemen hygiene quality assurance. Beberapa passenger yang mengkonsumsi appetizer mengalami keracunan makanan. Inspeksi segera dilakukan, diduga ada masalah dengan anggur yang digunakan. Inisiatif cepat segera slice strawberi dipisahkan dengan anggur kemudian diganti dengan slice kiwi saat pengepakan di cold kitchen dan penyimpanan di chiller.


Juru mudi-rumah Sarah, 180112
Terinspirasi dari menu development makanan pesawat.

Senin, 16 Januari 2012

Jadilah Milikku, Mau?


Keringat menetes dari pelipisku. Sungguh make up ini terlalu gatal melekat di wajahku. Puas kamu sekarang? Menyuruhku berdandan bak barbie kemudian dibungkus dalam kotak besar sebagai kado ulang tahun untuk Beben. Segera kamu akhiri saja pidato panjangmu itu, kemudian aku berganti baju layaknya Maul, Yusep dan Sherloy. Kasual.
“Jadilah milikku, mau?” tanyamu entah pada siapa. Hening. Semua terdiam, lima pandangan mata langsung tertuju padaku, termasuk kamu. Pandangan lima sahabat karibku sedari kecil.
Ada apa? Mengapa semua mata memandangku? Kulirik Maul, kini dia tertunduk.
“Gue, gak minta jawaban lo sekarang sih, Jah. Gue bakal nunggu lo sampai mau. Sebab gue tau, alesan lo putus sama pacar lo karena long distance, dan gue gak bisa berharap banyak karena gue mau kuliah  di Jogja. Tapi kali ini gue gak mau lo jadi milik orang lain lagi,” ucapmu padaku, terlihat begitu manis.
Kamu tau? aku benci kata – kata itu. Benci! Kamu tau karena kata – kata sialan itu, Maul membenciku? Aku yang bodoh atau kamu yang terlalu bodoh? Tidak sadar kah sedari dulu Maul mencintaimu? Atau aku yang terlalu bodoh, kamu berteman denganku karena ada maunya?
***
            “Za, udah ya, ikhlasin. Nangis aja Za, kalau mau nangis. Jangan ditahan lagi. Lepasin kemudian kubur bersamanya di sini. Biar dia bisa tenang di sana,” Maul, menepuk ku pelan sambil menangis.
Sudah dua tahun kamu menghilang. Kalau waktu itu aku yang menjauh darimu karena aku tak bisa menghianati persahabatan, kini giliranmu yang melakukannya padaku. Begitu benci kah kau pada ku sekarang? Aku telepon, tak ada ada jawaban. Aku sms pending. Kamu kemana sih?
Kamu jahat! Kamu memintaku menjadi milik mu, aku tak bisa. Sungguh aku tak sanggup menyakiti Maul dan aku tak sanggup menghianati persahabatan. Sahabat ya sahabat , cinta ya cinta, jangan dipersatukan! Sekarang kamu menghilang.
Sepintar apapun aku menyembunyikan dan berusaha mengelak. Rasa ini milikmu, sedari dulu tanpa kusadari tumbuh perlahan menjadi bayang – bayang persahabatan. Aku sayang kamu. Apa ini tidak cukup? Jangan tanya apa arti sayang bagiku. Aku tak tau. Aku hanya tak ingin ada yang berubah dan tak ingin kehilanganmu. Jadi tolong hubungi aku segera. Jawab teleponku. Balas sms ku. Aku rindu kamu.
Dua tahun, Cel, dua tahun aku percaya kamu masih di sini, membohongi kenyataan. Apa kamu marah pada ku, membenciku hingga enggan membalas sms, atau sekedar menjawab teleponku? Kini kuberanikan diri mengunjungimu untuk pertama kalinya. mengunjungi tempat terakhirmu di sini, sebelum kecelakaan menjemputmu ke yaumul barzakh.
Maafin aku, Cel. Aku rindu kamu. Aku butuh kamu, aku tak bisa tanpa kamu. Walau sudah kucoba selama dua tahun ini, nampaknya selalu gagal. Maafkan aku, Cel ternyata aku memang milikmu. Maaf, karena aku hanya bisa menyadari cinta dikala kehilangan. Kamu masih ingat janjimu untuk menungguku kan? Masih ada kah sekarang? Bisa kah sekali saja kau hadir dan mengatakannnya lagi, ‘Jadilah milikku, mau?’. Sekali saja, walau hanya dalam mimpi.
Kebumen, 29 Desember 2011


Rinduku yang tak akan pernah tersampaikan.

Minggu, 15 Januari 2012

Aku, Maunya Kamu, Titik!

                “Eh, lo mau gak gue kenalin sama Ratih?  Beneran deh dia perfect banget. Tipe cewe idaman,”  ucapmu tersenyum sambil menyesap kopi di cafe tempat kita bertemu. Jarang melihatmu membuatku kadang merasa kamu semakin kurus. Apalagi dengan bajumu yang sangat kebesaran itu.
                Selalu saja pertemuan jarang ini kamu habiskan dengan menjodoh – jodohkanku dengan temanmu. Sejak 8 tahun yang lalu, tepatnya, saat hatiku mantap memilihmu. Tak pernah sadar kah dirimu?
                “Tuhkan pasti cuma senyum doang, serius nih. Kasian kan lo udah umur 27 tahun belum nikah juga, dulu katanya lo mau nikah muda,” ucapmu. Lagi – lagi dengan sindiran tentang nikah muda. Belum puas kah kamu selalu menertawakan ku?
                “Abis lo pasti cuma ceng – cengin doang. Mana? Kenyataannya gak ada satu pun kan yang lo kenalin ke gue?” tanyaku memancing. Berharap ada mimik cemburu di wajahmu.
                “Asik, akhirnya si abang mau juga. Oke, fix nih ya, fix!”ucapmu memastikan. Masih, tanpa dengan mimik yang sama, tanpa kecemburuan. Apa sedetik pun aku tak pernah ada di hatimu?
                “Iya, tapi hanya kenalan saja ya? Karena...” sengaja kugantungkan kalimatku. Menunggu reaksimu.
                “Karena apa bang?” tanyamu terlihat begitu antusias seperti biasanya, tanpa mimik cemburu. Ya, tuhan, kamu tau? Aku  begitu lelah selalu menantimu. Menantimu mengekspresikan sejuta inginmu padaku. Tak pernah ada kah?
                “Karena aku maunya kamu. Titik!” ucapku akhirnya. Sudah cukup, 8 tahun menunggumu bukan hal yang mudah. Jika bukan aku mau mu, aku akan mundur. Tapi aku maunya kamu, titik.
                Hening. Kamu diam, menunduk dan kemudian bulir air menetes dari wajahmu. Kamu kenapa? Terharu kah? Terluka kah? Tak pernah sedikit pun aku melihatmu seperti ini. Salah kah aku?
                “Tapi..., gue..,  gue.., kanker, Dit. Kanker rahim. Besok, rahim gue.., harus diangkat, hahaha. gue gak akan bisa punya anak, Dit. Gue gak akan bisa jadi apa yang lo mau selama ini,” ucapmu sambil mengangkat wajahmu, menghapus air matamu dan berusaha tertawa. Tapi hanya tawa getir yang kulihat.
                Jangan ditanya perasaaku sekarang. Aku kaget. Bukan karena ceritamu barusan tapi karena ekspresimu yang tak pernah kulihat selama ini. Ekspresi yang mungkin selalu menghantuimu tanpa aku selama ini. Aku menghampiri kursimu. Ku peluk kau erat, kubisikan kata – kata “Aku, maunya kamu, Bukan yang lainnya. Bukan  juga rahimmu. Apa kamu mau menjadi pendamping hidupku?”
                “Aku, juga maunya kamu, sedari dulu. Tapi aku takut menyakitimu,” balasmu pelan sambil terisak dipunggungku.  Membuatku sadar kamu selalu mebutuhkanku selama ini. Hanya aku yang selama ini selalu menyangkalnya.

Jumat, 13 Januari 2012

Dag - Dig - Dug


“DOR!” dag – dig – dug, jantungku bergetar dengan kencangnya. Sial! Lagi – lagi aku  dikageti oleh Pak Rido salah satu pegawai di lab tempatku training.
“Hahaha,” tawa renyah dari Siska patner kerjaku menyusul sekian detik dari si aa’, panggilan akrab Pak Rido.
Hari ini kalau dihitung sudah yang ke tujuh kalinya aku dikageti dan sebanyak itu pula aku kaget. Padahal terkadang yang dikageti itu Siska tapi yang kaget malah aku. Siska yang memang bukan orang dengan tipikal kagetan seolah bersekongkol dengan aa’ untuk mengerjaiku. Baru juga sehari training, dia sudah berani mengisengi kami berdua, tapi selalu aku yang kena. Baru 3 hari saja aku sudah capek kaget melulu. Cepat mati kali, training lama – lama di sini.
Keisengan aa’ ternyata bukan hanya kepada anak training seperti kami berdua. Sampai mbak house keeping saja kena ulahnya. Tadi pagi ia menyembunyikan sepatu mbak itu saat sedang bersih – bersih diruang lab. Kemudian meninggalkan mbak itu untuk mengambil sampel. Sepulangnya kami dari mengambil sampel, mbak itu masih kebingungan mencari sepatunya.
“Pak Rido, sepatu saya mana? “ tanyanya pelan.
“Ih, gak tau, yang taruh kan mbak. Kok tanya saya?”
“Pak, saya masih harus kerja nih,” ucap mbak itu lirih.
Setelah perdebatan panjang, tanpa perlawanan dari si mbak, akhirnya si aa’ mengembalikan sepatu mbak itu.
***
“Bruk” bunyi botol – botol pengenceran dari beling sengaja dibanting oleh  aa’ untuk mengagetkan Siska, tapi siska tak bergeming. Entah bolot atau memang tidak sensitif. Justru aku dan mbak house keeping kemarin yang kaget, mengganggu kesibukannya yang sedang konsentrasi mebersihkan sela – sela kaca  lab.
                “Adeu, kalian merekatkan hubungannya dengan cara kaget – kagetan gitu ya?” ucap Siska menggodaku dengan aa’.
                “Hmm, kamu cemburu ya?” tanya si aa’ pada Siska, membuatku tanpa sadar kegeeran.
Aduh, kalau diisengin terus kayak gini mungkin aku akan jatuh cinta sama si aa’. Aa’ gak jahat – jahat juga kok suka kasih cemilan dari sampel, seperti kitkat dan youhurt lagi. Emang bisa gitu berjodoh sama aa’?
***
“Kamu akadnya Sabtu atau Minggu?” tanya Pak Rahmanselaku ketua lab pada si aa’ di sela waktu kosong bersama beberapa pegawai lab lainnya.
Jleb, seperti ditusuk, lama – lama serangan jantung juga nih. Si aa mau nikah gitu? Kok gak bilang – bilang? Gak penting juga sih bilang – bilang ke aku dan Siska, kami kan cuma anak bawang.
“Sabtu pak kebetulan sekalian pestanya. Pada datang ya,” jawab aa’ sambil senyum misuh – misuh.
“Calonmu siapa sih namanya? Enyu ya?” tanya pegawai lainnya.
“Hehehe, iya pak jangan bilang – bilang dulu ya pak. Rahayu pak namanya, memang sering dipanggil enyu sih sama temannya”, jawab si aa’ masih tersenyum.
Buru – buru aku izin ke toilet, untuk menghindari sakit hati. Sesampainya aku di toilet ada mbak house keeping yang waktu itu, dia sedang membersihkan toilet. Aku yang memang sebenarnya tidak ada keperluan ke toilet, iseng untuk menanyakan nama mbak itu. Sudah hampir 1 bulan tapi belum tau nama.
“Mbak, namanya siapa? Kita belum kenalan,” tanyaku.
“Rahayu, mbak, biasa dipanggil enyu. Nama mbak siapa?” jawab mbak itu singkat.
Dag- dig – dug jantungku berdetak kencang. Tidak salah dengarkan? Mbak ini calonnya si aa’?


Kamis, 12 Januari 2012

Halo, Siapa Namamu?

Wajah itu  nampak kukenali, entah siapa. Dia memandangiku terus, dari balik sekat pemisah antara ruang lab uji dengan ruang cold kitchen di perusahaan tempatku magang. Seorang bapak – bapak kutaksir menginjak awal usia 30 tahun. Ragu, kubalas tatapan itu dengan senyum. Dia membalasnya, memberi perasaan nyaman direlung hatiku, kemudian kembali  sibuk dengan pekerjaannya. Entah apa, mungkin mengemas slice fruits.
Hampir seminggu bekerja di Lab. hampir selama itu pula bapak itu sering memandangiku dan terkadang tersenyum. Seharusnya aku takut dengan bapak itu, mengingat tingkat laku anehnya yang selalu menatapku dari balik kaca cold kitchen, anehnya ada perasaan hangat yang menyeruak di hati ketika bapak itu tersenyum. Menimbulkan perasaan aneh. Apakah ini cinta? Apa tidak salah?
Kadang tebesit pemikiran untuk menyapanya dikala waktu istirahat datang, di kantin perusahaan. Mungkin dengan kalimat pembuka, ‘Halo, siapa namamu?’. Tapi hingga kini tak pernah sedikit pun kutemui wajahnya di kantin. Tidak istirahatkah beliau?
***
Hari ini tempat magangku di rolling, kali ini di bagian cold kitchen, hot kitchen and hot dish. Ada perasaan bedebar, akan segera betemu dengan bapak itu. Aku harus bisa mengenalnya. Harus! Rasa penasaranku kembali timbul, aneh memang.
Di pandu oleh seorang pembimbing lapanganku, aku menyusuri segala bagian yang ada di ruang tersebut. Selama itu pula ku edarkan pandangaku kesegala penjuru, bahkan para pekerjanya. Tapi tak kutemui sosok bapak itu bahkan ditempatnya selalu berdiri mematung, menatapku. Tempat itu nampak telah lama kosong, kemana bapak itu? Sedang libur kah?
Pemikiran – pemikiran panjang bergemuruh di kepalaku. Sakit hati ini, seperti merindukan seseorang yang telah lama tak jumpa. Hingga rasanya ingin menangis. Bapak itu kah yang menyebabkanku seperti ini? Tapi mengapa? Semakin dipikirkan, senyum bapak itu semakin terbayang.
“Bu, mengapa bagian itu nampak kosong? Kemana bapak yang sering kerja di sana?” tanyaku pada pembimbing, menunjuk bagian pojok yang berhadapan langsung dengan kaca cold kitchen.
Kali ini rasa penasaranku mengalahkan semuanya. Pembimbingku nampak kaget dan terdiam sesaat. Apa pertanyaanku begitu lancang? “Kapan kamu melihatnya? tempat itu sudah lama kosong,” jawab pembimbingku ragu. Aku binggung. Lalu siapa yang selama ini aku lihat?
“Seminggu ini, selama saya magang di lab. Uji,” jawabku. Pembimbingku itu menatap mataku memastikan jawabanku, seakan yang kuucapkan hanya sebuah lelucon.
“Kamu yakin? Tunggu wajahmu nampak begitu....,” ucapsnnya menggantungkan kalimat. Tangan kanannya mendekap mulutnya syarat kekagetan. Aku hanya terdiam dengan pikiranku sendiri. Menunggu kalimatnya yag menggantung.
“Itu, itu tempat Pak Dibyo Subrata bekerja, salah satu pegawai... di ruang ini. sudah belasan tahun yang lalu, beliau  meninggal. Kecelakaan... di tempat itu karena...karena kesalahan teknis,” ucap pembimbingku itu terbata – bata.
Aku mencelos, nama itu, nama yang sudah lama tak pernah kudengar. Nama orang dulu pernah hadir dalam kehidupanku. Pernah menjadi bagian penting dalam keseharianku. Nama yang sempat kulupakan. Air mataku kemudian terjatuh tanpa sadar. Nama itu, bapak itu, adalah orang yang pernah merawatku. Ya, dia ayahku yang telah tiada 17 tahun yang lalu.

Jumat, 06 Januari 2012

His my coice


Aduh, senior yang satu itu manis banget sih kayak gula aren. Senyumnya itu loh mana tahan. Belum lagi postur tubuhnya. Mati kelepek – kelepek nih kayaknya kalau bisa kenalan sama dia. Mungkin gak ya bisa kenalan sama dia?
“Fir, bengong aja, eh udah tau belum lo magang di departemen apa?” tanya Farsya pada ku. Haduh ini pasti masalah ospek fakultas yang ke dua. Males ih, boleh gak sih gak ikutan? Capek.
“Gak, tau. Emang kenapa?”  tanyaku tidak antusias.
“Kita, satu departemen Fir! Untung gue ada temen, masa si Ratna, Ayi, Riska sama Hana satu departemen,” jawab Farsya sambil mencubit pipiku gemas. Ah, kebiasaan deh orang – orang selalu mencubit pipiku, dikira bakpau apa?
“Wah, bagus deh. Departemen apa?” semoga bukan yang aneh – aneh dan repot. Amin.
“BEM departemen Kastrat. Kajian strategi, fir. Jangan tanya gue itu bakal ngapain gue juga gak tau. yang lain masuk Hima departemen Sosial,”
Gimana dong nih? Semoga tugasnya gak aneh  – aneh dan seberat ospek – ospek yang sebelumnya deh.
***
‘Ya,ampun pasti tuhan maha baik. Ini gak salah kan? aku gak salah liat kan? Si senior yang manis kayak gula aren itu ada di bidang yang sama tempat aku magang? Ya tuhan, lemes banget ini badan’ lamunku dalam hati yang tanpa sadar mencubit pipi sendiri.
“Heh, itu yang di sana siapa namanya? Kenapa malah cubit – cubit pipi? Tenang aja, kamu sudah mirip miiko dari sana nya?” ucap si senior manis itu menunjuk seseorang. siapa sih tuh orang ganggu konsentrasi si senior manis itu aja deh! Aku menuju ke arah pandang si senior itu. ke arah di belakangku nampaknya. Tapi tidak ada satu pun yang sedang mencubit pipi.
“Hei, kok malah nengok ke belakang? Itu kamu maksud saya!”
“Hah?” aku panik!
***
            Ternyata hidup di perkuliahan itu emang indah ya? Si senior manis kayak gula aren itu namanya Kak Adi. Dia beda jurusan sama aku, tapi masih satu fakultas. Gara – gara kejadian tempo hari aku jadi dekat dengannya, belum lagi progam kerja kastrat yang menyebabkan aku satu program sama dia. Ah, mukjizat banget deh!
            “Dek, kamu kebiasaan deh pasti lagi ngayal lagi ya? Kebiasaan nyubit – nyubit pipi gitu. Malu woy ada temen kakak!” kata kakak ku membuyarkan lamunanku seketika. Kebiasaan deh si kakak suka banget ngeganggu. Udah ah, lanjutin bayangin kak Adi di kamar aja.
            Baru  mau beranjak sebentar, aku baru menyadari temannya si kakak itu Kak Adi. Haduh. Mampus ini mimpi aku semalam ya? Kok semua serba kebetulan?
            “kak Ferdi, itu Fira kan? Dia emang biasa nyubit nyubit pipi sendiri gitu ya?” tanya kak Adi tiba – tiba pada si kakak.
            “Iya, emang dia suka gak waras, Di. Eh, kamu kok bisa kenal dia sih?” tanya si kakak.
            Aduh, muka ku mau di taruh mana nih? Untuk yang kesekian kalinya aku melakukan hal tolol di depan Kak Adi. Mama tolong!
***
            Sejak saat itu hubungan aku sama Kak Adi makin dekat, sejak itu pula aku sering dipanggil bakpau atau miiko karena pipiku yang chubby dan kebiasaan panik ku yang suka cubit – cubit pipi sendiri. Kalau dekat lantas senang? Gak, juga tuh. Malah harus menerima kenyataan pahit. Setelah cukup kenal satu sama lain, bahkan aku yang gak cantik ini dengan pedenya merasa sebentar lagi bakal ditembak sama Kak Adi, aku sampai lupa kalau aku tidak secantik teman – teman ku. Oke, kata – kataku sebelumnya mungkin sedikit lebay tapi jujur aku ngerasa down banget ketika Kak Adi minta dicomblangin dengan temen dekatku sendiri, yaitu Riska. 
            Ya ya ya, mau di lihat dari ujung sedotan pun si Riska sama aku ya cantikan dia lah! Menyayat hati? Tentunya! Apalagi Kak Adi waktu itu bilang minta dicomblanginnya langsung di hadapanku dan Farsya tentunya. Tapi apa yang bisa aku lakukan selain membantu Kak Adi. Belum lagi saat ku beri tau pada Riska, dia hanya menanggapi dengan kata ‘Oh’ tapi mukanya memerah. Orang sepolos apapun kalau melihat wajah Riska juga tau pasti dia memiliki perasaan yang sama ke Kak Adi.
            Awalnya teman – teman dekat ku beserta Riska enggan mengikuti permintaan ku untuk mencomblangkan Riska dan Kak Adi, karena mereka tau aku cinta mati sama Kak Adi. Tapi bermodal kebohongan kalau aku hanya ngefans berat sama Kak Adi, akhirnya mereka percaya. Lagipula tidak dapat dipungkiri Riska juga naksir sama Kak Adi secara fisik. Gak tau deh kalau secara hati.
            Mencomblangi orang yang disukai dengan teman dekat itu punya kesan tersendiri. Aku senang bisa membantu Kak Adi, di lain sisi aku harus meringis setiap usaha comblangan yang kulakukan sukses. Awalnya sih berhasil, apalagi secara fisik tuh Kak Adi manis banget, siapa sih yang gak mau dideketin sama dia? 
            Makin ke sini kelakuan Kak Adi makin aneh dan aku jadi ilfeel. Gimana gak ilfeel coba? Masa simcard dia mau di kasih ke aku, terus aku yang sms-in si Riska. Gila gak tuh? Alesannya sih dia sibuk, masa sibuk sampe segitunya sih? Ya kali, masa aku yang sms? Yang naksir juga Kak Adi. Lagian kalau aku yang megang curiga malah aku buat hubungan mereka gak jalan. Awalnya si Kak Adi maksa, tapi akhirnya aku bisa nolak juga. Ini mah udah kelewatan namanya, maaf ya, Kak, kayakanya aku harus lapor ke Riska.
            Si Riska juga gak kalah heboh pas aku bilang kayak gitu ke dia. Awalnya sih dia bilang ilfeel tapi kayaknya pas ngeliat Kak Adi, langsung kelepek – kelepek lagi deh si Riska. Sakit? Udah lah jangan ditanya lagi. Atas usaha ku dengan Farsya, dengan aky lebih banyak punya ide, akhirnya Kak Adi bisa nge-date sama Riska. Waktu itu juga sempat dianter pulang kuliah sama Kak Adi.
Demi apapun sebenarnya aku jengah. Gak iklas sumpah! Apalagi keesokan harinya si Riska cerita secara rinci tentang date nya dengan Kak Adi. Iri! Tapi mau gimana yang disukai Kak Adi kan Riska bukan aku. Hal lainnya yang membuat aku bisa kena serangan jantung, seminggu kemudian Kak Adi minta dibantuin gimana caranya bisa nembak Riska tapi harus surprise. Gak usah nunggu, Riska surprise kak! Sekarang aja aku juga udah surprise kak.
Dan dengan bego nya seperti terbius oleh Kak Adi, atau aku yang terlalu bodohnya hingga mau menuruti keinginan Kak Adi. Bahkan  semua urusan surprise nembak buat Riska aku yang mengurus. Mulai dari tempat, suasana, jalan cerita, waktu kejadiannya dan siapa aja yang bakal ada di sana. Lama – lama aku bakat jadi sutradara juga nih.
Kampretnya, Kak Adi tiba – tiba bilang gak bisa hadir setelah dia setuju dan semua telah kususun secara rapih untuk membuat surprise pada acara penembakan Riska. Sibuk, sih katanya. Entah sibuk apa, sibuk ngegalau mau nembak kali. huh! Emosi sumpah, bete, kesel. Beneran ini mah aku ilfeel dan gak jatuh cinta lagi sama kak Adi. Makasih deh! Mikir dua kali kayaknya buat jatuh cinta sama dia. Omongannya gak bisa dipegang.
Masa Kak Adi mau nembaknya pas edelweiss di Semeru, mekar penuh, biar bisa dikasih ke Riska. Bagus sih, romantis, tapi kapan kali tu bunga mekar penuh? Emang dikira yang Naksir Riska cuma dia seorang apa? banyak kali!
***
Setelah kejadian nembak Riska gak jadi. Semuanya stuck, tidak ada pergerakan. Ini orang niat gak sih sebenarnya nembak Riska? Aku dan Farsya kan yang gak enak jadinya sama Riska. Aku sempat ngambek sama dia, dikira ngebuat surprise buat Riska itu gak menguras tenaga dan jiwa apa? Kayaknya Kak Adi tau kalau aku ngambek akhirnya di beliin aku silverqueen. Dikira aku anak kecil apa, dikasih coklat langsung gak ngambek? Mm, tapi? Tapi, tau ah! Kok aku jadi seneng gini sih?
 Belum selesai masalah satu muncul msalah baru, kata Ayi, Kak Dillan asdos di kelas aku, Ayi dan Farsya juga ada feeling sama Riska. Hadoh! Seperti terpecah oleh dua kubu, Ayi, Ratna dan Hana mendukung Kak Dillan sementara Aku dan Farsya mendukung Kak Adi. Mmm, aku mendukung Kak Adi? mungkin sih, habis hati ku kok lebih suka kalau si Riska berhubungan dengan Kak Dillan ya?
Seiring berjalannya waktu, si Kak Dillan makin yahud PDKT-nya. dan dari pdkt-nya sih bisa dibilang Kak Dillan lebih mandiri. Kak Dillan hanya minta dikenalin dan yang lainnya dia kerjakan sendiri. Gak seperti Kak Adi yang gila itu. setelah 4 bulan PDKT akhirnya Riska luluh juga hatinya sama Kak Dillan. Akhirnya mereka jadian. Rasanya tuh senang banget bisa liat Riska bisa jadian dengan Kak Dillan. Eh, ini bukan karena akhirnya si Riska gak jadian sama Kak Adi dan aku bebas memiliki perasaan ke Kak Adi loh ya.
Jujur ya, aku sih ngerasa sedih ngeliat cintanya si Kak Adi bertepuk sebelah tangan sekarang, tapi mau gimana lagi, aku rasa Kak Adi harus bisa menerima pelajaran bahwa jangan seenaknya mainin hatinya perempuan. Aduh, mulai nih aku sok bijak. Hahaha. Aku pikir ya, udahan gak akan ada hubungannya lagi aku sama si Kak Adi. Eh, tapi ternyata aku satu bidang sama dia di acara kampus. Dari situ aku jadi suka dianterin pulang sama dia. Gak sampe rumah sih, tapi ya lumayan lah ya. Lumayan mengoreskan rasa yang sebelumnya sudah ingin kututup.
*****
Salah gak sih sebenarnya aku suka sama Kak Adi. Masa sih kalau sekedar ngefans rasa ini bertahan hingga hampir 1,5 tahun? Ya, tuhan. Temen – temen yang lain akhirnya tau kalau aku masih ada hati sama Kak Adi. Kebanyakan diantara mereka sih kurang setuju karena mereka ikut menilai secara gak langsung sifat Kak Adi yang abnormal itu. tapi entah kenapa Ratna dan Riska malah mendukung penuh. Kalau si Riska kok aku curiga karena ingin membalas rasa bersalahnya padaku ya?
Pengen cari yang baru, tapi dimana. Cari mahasiswa baru aja apa? haduh! Itu tar aja deh kalau udah desperate. Lah, emang sekarang belum desperate gitu? Riska tak dapat, datang lagi wanita – wanita lainnya yang medekati. Sakit! Sakit jiwa nih lama – lama.
***
Sore ini satu pesan singkat masuk ke HP ku, “Fir, mau nemenin nyari peralatan KKN gak?” melihat  nama pengirim nya membuat deg – degan tak terkira. Kak Adi! Tumben ngajakin. Haduh tapi kan aku lagi menginap di rumah nenek. Aaa, pengen nemenin.
“Yah,lagi di rumah nenek kak. Kak Adi KKN kapan kak?” balas ku cepat.
“Besok, ini juga cuma minta ditemenin beli cemilan. Yah, gak bisa dong yah?”
“Iya kak gak bisa. L besok berangkat jam berapa? Aku datang deh besok melepas kepergian kakak. Eh, kakak KKN dimana?” balasku. Menyesal hari ini masih menginap dirumah nenek.
“Oh, yaudah gak apa – apa. bener ya besok datang. Di Subang berangkat jam 9 pagi.”
“Oke, sip kak, sip. :) ”.
***
Ya ampun udah jam 7! Aku kesiangan nih. Hp mana Hp? Kok gak bunyi sih alarm nya? haduh! Baru ketemu hp nya, 2 misscall masuk dan 1sms baru. Mungkin kah Kak Adi? Benar saja, itu sms dari Kak Adi. Segera kubaca sms dari Kak Adi Hei, kamu jd kekampus jam berapa?”
“Aku baru bangun, hahaha. Aku iringi dengan doa saja ya kak. Happy KKN kak. :) semoga selamat diperjalanan. :) Jangan kangen sama aku ya kak,  huahahaha :P ” sms balesan sok – sok kan banyak mengeluarkan senyum padalah hati mencelos tak sempat bertemu Kak Adi sebelum pergi KKN.
“Kalau kangen sama Fira gimana? Ahahaha balasan sms Kak Adi yang satu ini membuat aku melting seketika. Aduduh, gak kuat! Bales apa ini? Aku harus bales apa?
“Ya,tinggal panggil aku 3 kali aja kak. Ntar aku datang. Hahahah. Selamat mengabdi :) jawabku senetral mungkin akhirnya.
Kayaknya kalau kangen Fira tinggal makan bakpau nih.” Balasan kali ini malah membuatku tambah melting. ‘Haduh ini si Kak Adi bisa aja deh. Bisa – bisa cinta mati ini mah.’ Ucapku tanpa sadar lagi – lagi mencubit pipiku.
 “Yaudah deh aku menyerupai bakpau biar di inget Kak Adi. Gini nih kakak mah ga konsisten! Kemaren miiko sekarang bakpau #loh” Ini kenapa aku jadi ngegombal gini sih?
Lima menit kemudian ada sms balasan dari Kak Adi “Iya, kamu mirip dua – dua nya. pokoknya Kak Adi bakal selalu inget Fira kok , Fira juga gitu ya. :) Pasti kamu sekarang lagi nyubit – nyubit pipi deh.”
            Ini aku gak lagi salah baca kan? Pingsan yuk,pingsan! Aku harus balas apa ini? Bales ngegombal lagi? Kan aku yang mulai duluan. Ya, tuhan, kalau aku sama Kak Adi emang jodoh sama aku, jodoh kan lah. Aku benar – benar tidak ingin kehilanmgan moment- moment bahagia ini. Bolehkan aku berharap?