Kamis, 24 Januari 2013

Tunggu aku di Situ, Aku Sedang Menujumu!



        Aku kembali lagi ke Tanah Sunda, setelah hampir lima tahun menentap di Tabalong, merintis usaha minyak kelapa. Sesampainya di rumah, aku iseng membuka semua jaringan dunia mayaku. Sudah hampir setahun ini aku tak kembali ke rumah, selama itu pula tentunya aku tak membuka internet. Maklum Tabalong masih masuk wilayah pedalaman.
         Aku iseng membuka chating messenger. Banyak chat masuk di grup anak_bolang yang tentunya hanya beranggotakan aku, Vandi, Sindi, Mia dan Satria. Aku tertegun membaca salah satu chat ‘Inna lillahi wa inna lillahi Roji’un. Telah berpulang, sahabat kita tercinta Vandi Andani, kemarin sore, saat perjalanan menuju Swiss. Jenazahnya sudah dapat dievakuaisi dan kembali ke Indonesia hari Rabu  nanti. Mohon doanya.’ Terkirim sekitar dua bulan yang lalu.
        Air mataku pecah. Secepat itukah Vandi pulang? Bukankah masih ada pertengkaran kecil antara aku dan dia yang tak pernah terucap secara langsung? Sekarang bagaimana aku harus mempertanggung-jawabkannya? Rasa getir memasuki rongga dada. Rasa bersalah dan sesal membuatku hanya mampu membaca chat secara acak dan terburu-buru menuju ke TPU Karet. Tunggu Van, tunggu Aku di situ!
         Jarak antara Bandung-Jakarta yang cukup jauh membuatku mampu mengendarai sekaligus mengenang masa lalu.
       Berulang kali aku berusaha melupakanmu Rinta, berusaha menganggapnya tak pernah ada, tapi aku tau semua usahaku akan percuma saja.
Kamu tiba-tiba menghilang. Tak pernah ada kabar lagi, selepas ia dibawa pulang ke Jakarta oleh Ayah dan kakaknya. Penyakitnya tambah parah selama di Solo. Berkali-kali ia dibawa ke UGD. Dokter di Solo pun sudah menyerah.
    Sejak liburan kali itu kamu tak pernah lagi datang di kampus. Pernah beberapa kali secara sembunyi-sembunyi, aku menanyakan status kemahasiswaanmu di kampus. Menurut Pak Ahmad, kepala sub bagian akademik, kamu sedang mengambil cuti. Semester selanjutnya pun kamu tak pernah terlihat. Sampai suatu hari aku tau, namamu tak lagi terdaftar di kampus ini.
    Di kampus pun Sindi, Satria dan Ami yang dulu selalu ramai menggodaku atau Vandi dengan Rinta tak pernah lagi membicarakan soal Rinta. Seolah-olah Rinta tidak pernah menjadi mahasiswa di fakultas ini. Sejak liburan kali itu pun aku dan Vandi jarang berbicara. Kami tetap berlima, namun ada jarak antara aku dan Vandi. Ah, Vandi, maafkan aku. Ini semua bukan salahmu. Ini tentu salahku, menyakiti perasaan Rinta terlalu dalam. Jika memang masih ada kesempatan tunggulah aku di situ-di tempatmu berada-yang entah ada dimana,aku sedang menujumu!
    Kalau tidak ingat Tuhan, mungkin aku sudah menjadi gila. Mengapa aku terlalu bodoh untuk menolak cintamu? Kini hingga hampir sepuluh tahun berlalu hati ini masih untukmu. Hey, masih adakah kamu di dunia ini?
    Sesampainya di pemakaman, aku segera menuju komplek tempat Vandi dimakamkan. Aku sengaja membelikan sebuket bunga mawar merah, untuk menyatakan aku kalah dan bersalah menyesali rasa benci yang datang tanpa sebab pada Vandi. Ada rasa sesak mengaung-ngaung di hatiku. Ini terlalu menyakitkan. Sebenci apapun, sekesal apapun aku pada Vandi tak pernah aku berpikir kalau Vandi akan pulang duluan. Bagaimanapun Vandi adalah sahabatku, bahkan ia orang yang paling dekat denganku dibandingkan ke tiga sahabatku.
    Aku melihat seorang wanita, memakai gaun hitam, menggunakan selendang hitam menutupi sebagian kepalanya, membawa tas gendong bayi di bagian depan tubuhnya, duduk di samping pusara Vandi. Wanita itu kah istrimu, Van? Sungguh, menyedihkan masibnya, harus ditinggalkanmu.
      Aku mendekati dan menghampiri wanita itu. Ingin turut memberi ungkapan belasungkawa. Karena bukan hanya wanita itu saja yang merasakan kepedihan. Aku pun merasakan hal yang sama.
      “Permisi, ini makam Vandi kan?” tanyaku dari belakang berusaha menyapa sesopan mungkin.
            Wanita itu tampak kaget mendengar suaraku, terlihat dari reflek punggungnya yang bergerak. Ia memalingkan muka ke arahku. Kini giliran aku yang kaget mendapati sosok wanita itu. Sosok yang telah lama kucari.
        “Anjar?” tanyanya tak kalah kaget. Ia berusaha mengahapus air matanya yang jatuh.
         “Rinta?”
        Tak pernah kubayangkan akan kembali bertemu denganmu. Terlebih di tempat ini. Terima kasih Van, telah menjaga Rinta dengan baik.

Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja



Saya memutuskan keluar sebentar untuk menghirup udara segar, malam hari ini. Terlalu banyak kejadian di hari ini, membuat semuanya begitu terasa berat. Lorong panjang bewarna putih tampak tak berujung. Sesesak perasaan yang saya punya.
Mengenalmu adalah suatu keanehan yang pernah saya rasakan. Saya tak pernah berpikir berpaling dengan wanita lain kala itu. Tapi nyatanya saya mampu berpaling padamu? Ah, cinta mengapa serumit ini? Mengapa kita harus berputar-putar terlebih dulu sebelum sampai di tempat tujuan?
            Pintu utama lorong rumah sakit kemudian terbuka, seseorang masuk ke dalam yang kemudian saya kenal sebagai sosok Anjar. Matanya merah, hidungnya sembab. Habis menangis kah dia? Kemana saja dia selama ini, mengapa baru mengeluarkan air mata sekarang? Rasanya ingin sekali menghajarnya.
            “Van, bilang ke aku, orang yang tadi siang aku lihat di Tawang Mangu bukan Rinta! Bukan kan Van? Jawab!” ujar Anjar memburu saya dengan pertanyaaan, mengenai salah satu senior di kampus kami.
            Saya dan Anjar saling berhadapan. Mata kami saling bertatapan tajam. Anjar nampaknya berusaha mengelak bahwa orang yang dilihatanya sedari siang tadi adalah senior kami.
            “Menurut kamu itu siapa, Njar? Itu orang yang jelas-jelas kamu tolak cintanya. Kamu puas sekarang melihat Rinta menderita?” saya benar-benar tidak dapat menahan emosi.
            Bagaimana bisa Anjar baru menyadari perasaannya saat ini, setelah dengan lugas menolak cinta, seniornya itu? Anjar terdiam. Air matanya mulai jatuh. Tampangnya tampak berantakan.
            “Njar, jawab pertanyaan saya!” ujar saya.
            “Aku, aku. Prinsip, aku. Gak akan bisa. Aku, Aku, jatuh hati,Van. Rinta, Van, Rinta!” jawab Anjar tak jelas dan terbata-bata.
 “Aku, gak mau, Van. Gak mau, gak mau, gak mau. Rinta Van, Rinta! Aku gak mau kehilangan dia. Gak mau!” ujar Anjar mulai meracau.
            Kini saya yang terdiam kelu menyadari bahwa Anjar benar-benar memiliki perasaan dengan senior kami itu.
            “Sejak kapan, Van? Sejak kapan Rinta seperti itu? jawab, Van. Aku mohon, jawab!” ujar Anjar mulai narik-narik kerah baju saya. Anjar masih menangis, air matanya mulai membasahi baju saya.
            “Sudah lama,” jawab saya tak tau harus menjawab apa.
“Dia, sakit apa Van? Kenapa?” tanya Anjar semakin keras menarik kerah baju saya.
            “Anticardiopilin antibody sindrom. Saya juga tidak tau, tapi Rinta divonis hanya punya umur dua tahun lagi,” jawab saya bergetar.
            Anjar beringsut jatuh terduduk. “Gak, mungkin, gak! Biar aku saja yang mati, biar aku saja. Rinta harus sembuh. Rinta harus sembuh! Rinta gak boleh mati!” ceracau Anjar tak ingin menerima kenyataan ini.
            Tamparan keras mendarat tajam di pipi Anjar.  Saya menamparnya.
            “Jangan pernah berkata seperti itu, Njar! Dia orang yang kuat dan kamu, satu-satunya orang yang bisa membuatnya bertahan di sini. Tenang saja! Rinta akan sembuh!” kata saya berusaha menguatkannya.
Entah ada angin apa sampai saya malah berusaha menyakinkan Anjar bahwa dia adalah satu-satunya harapan kamu untuk bisa sembuh. Mungkin karena saya menyadari saya tak akan pernah mampu masuk diantara kamu dan Anjar. Biar saya mencintaimu, sendiri.
Pilihan yang ada ditangan saya saat ini hanya dua, melihatmu pergi tak kembali, atau melihatmu bahagia bersama Anjar diakhir-akhir harimu. Apapun keputusan Tuhan nantinya, saya iklaskan. Tapi yang perlu kamu tahu doa saya untkmu pada Tuhan hanya satu. “Apapun yang terjadi nanti, Tuhan. Izinkan lah saya tetap mencintainya,  jangan biarkan dia kemana-mana. Setidaknya iarkan dia tetap hidup dihatiku saja!”



sebelumnya di:Genggaman Tangan

Rabu, 23 Januari 2013

Bangunkan Aku, Pukul Tujuh!


“Bangunkan aku pukul tujuh!’ ucapmu setiap hari sebelum terlarut dalam buaian mimpi. Seolah-olah istrimu akan melupakan hal tersebut jika kamu tak mengigatkannya.
Aku pun hanya bisa tersenyum saat kamu berceloteh seperti itu. Selalu seperti itu. Layaknya manusia normal lainnya, beberapa kali istrimu lupa membangunkan, atau bisa dikatakan istrimu pun terlambat bangun pagi. Kala itu aku hanya tertawa puas. Eh, tapi aku mah baik, aku tidak ingin kamu terlambat kerja. Jadi sesekali aku menggantikan istrimu membangunkan, tentunya tanpa sepengetahuannya.
Kadang ada rasa cemburu ketika pagi hari istrimu membangunkan dan kamu membalasnya dengan ciuman mesra. Jika rasa itu muncul ingin sekali aku mencekik leher istrimu. Ah, tapi kan aku baik, jadi mana mungkin melakukan hal itu.
Sampai suatu ketika kesempatan itu datang. Istrimu meninggal dunia, tentunya bukan aku penyebabnya! Kamu tampak begitu sedih, hampir sebulan lebih mengurung diri. Aku tak ayalnya menyesali meninggalnya istrimu. Mana aku tau kamu akan nelangsa seperti ini.
“Lelaki mana yang tak tahan wanita” ungkapan itu tampaknya benar. Sebulan lebih berlalu, tiba-tiba kamu datang kembali membawa wanita baru. Gelagatnya kamu dan wanita itu belum menikah. Rasanya ingin tertawa seligus bersedih melihat ironisnya hati manusia yang cepat berubah.
“Bangunkan aku pukul tujuh!” ucapmu, kali ini tentunya bukan pada istrinya, tapi pada wanita yang entah kamu pungut dari jalan mana.
Wanita itu hanya tersenyum, sambil bermanja-manja. Ah, ini pasti akan menyedihkan, jika istrimu tau hal ini.

“Guru lagi lihat apa sih? Hihihi, Ini kan sudah jan 7 lewat! Nanti kita bisa terbakar!” ucap seseorang, mengusikku yang sedang memperhatikanmu dari batang pohon mangga.
“Ih, mengganggu saja sih! Kamu pasti suka menonton TV ya? Hihihihi, Kata siapa kuntilanak bakal kebakar kena sinar matahari?!” ucapku sedikit ketus kepadanya.
Dia hanya mengangguk saja, entah dia yang memang dasarnya bodoh atau memang lemot. Ah, kenapa sih, aku harus mengajarkan para kunti baru? Terlepas dari itu mengapa harus dia, istri kamu?

Minggu, 20 Januari 2013

Menanti Lamaran



            Mungkin banyak yang tak tau dimana letak desa tempat Tinggal Ruminah. Sebuah desa terpencil tempat para penduduk kota biasa mencari seorang calon istri atau paling tidak selingkuhan. Sedangkan para lelaki di desa itu kebanyakan bekerja sebagai buruh. Ah, untuk menutupi betapa hinanya desa tempat tinggalnya Ruminah maka kita samarkan saja nama desa itu menjadi desa X.
            Sudah bukan barang aneh, gadis-gadis muda di desa X sengaja dipinang oleh penduduk kota. Sudah bukan barang aneh lagi desas-desus mengenai calon suami dari para gadis tersebut nantinya. Beberapa kebanyakan bilang harus siap mati jika telah dilamar. Beberapa bilang gadis-gadis pinangan ini kelak akan dijual untuk dijadikan PSK atau kalau beruntung akan dijadikan istri muda dari lelaki dedengkot yang usianya pun tinggal menunggu hari.
            Di desa X ini lah Ruminah hidup. Menanti lamaran membuat Ruminah kecil sering ketakutan sendiri, apalagi usianya sudah menginjak 16 tahun, usia matang di desanya untuk dilamar. Masalahnya siapa kah yang akan melamarnya? Lelaki yang punya kelainan? Seorang germo? Atau kakek-kakek tua?
            Ruminah hanya bisa pasrah ketika ayahnya menanyaan kesiapan Ruminah dilamar. Ruminah hanya mengangguk. Ruminah terpaksa memupuskan cintanya kepada Danu teman kecilnya. Terlebih Danu sekarang entah ada dimana. Tapi Ruminah percaya janji Danu. Dulu sebelum Danu pergi keluar dari desa ia berjanji kelak akan melamar Ruminah. Ah, beginilah nasib gadis desa X menanti lamaran, mencari peruntungan dari gambling.
            Menanti lamaran itu kadang menjemukan ketika bahkan kamu tak tau siapa yang akan melamar. Ruminah hanya bisa berdoa bahwa ia akan bahagia . Ah, Tidak! Tidak hanya dia yang harus bahagia tapi juga kedua orang tuanya, jadi Ruminah hanya berharap kecil bahwa lelaki yang akan melamarnya seorang lelaki kaya, dengan doa khusus Danu lah lelaki kaya itu.
            Hari itu pun datang juga. Ruminah dijemput oleh seseorang yang tak ia kenal. Orang itu memberikan sejumlah uang kepada orang tua Ruminah. Ia menyatakan bahwa ia adalah bawahan dari sang pelamar. Ruminah juga harus menyeberangi pulai untuk bertemu dengan sang pelamar. Beribu-ribu kali Ruminah memanjatkan nama Danu. Ruminah percaya janji Danu. Bukannya cinta tentang kepercayaan? Ah, siapa kah yang akan menjadi suami Ruminah kelak?
***
Danu tertegun mendapati sosok yang datang ke tempatnya. Bukan Ruminah ini! Bukan Ruminah ini yang Danu inginkan!

Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?



Kamu tersenyum manis ketika aku datang mengunjungimu. Kamu nampak tak berubah, masih sama sepertinya. Kadang membuatku khawatir namun terkadang membuatku bersyukur memilikimu. Kamu memelukku manja. Memamerkan sebuah coretan warna membentuk sebuah gambar. Aku kemudian, tersenyum, menyadari betapa hebatnya dirimu.
Puas memamerkan gambarmu padaku, kamu memberikanku sebuah balon bewarna biru muda. Seolah-olah aku masih anak-anak. Ah, kamu, masih saja tau apa kesukaanku. Warna biru muda.  Kamu masih satu-satunya orang yang aku sayang hingga saat ini, apapun pendapat orang lain terhadapmu. Tak ada yang lebih penting darimu. Untukmu apapun akan kulakukan.
Kamu memaksaku dengan manja, untuk makan  semangkuk ice-cream di salah satu kedai. Anehnya, saat sampai di sana kamu bukan memesan semangkuk ice-cream malah semangkuk mie rebus. Membuat pusing salah seorang pelayan karena tak ada menu mie rebus di sana. Kamu tetap memaksa layaknya anak kecil, ingin memakan mie rebus di kedai itu.
Ah, andai aku bisa menuruti perkataanmu. Andai memang ada mie rebus di kedai itu, pasti akan kubeli berapapun harganya. Untuk kamu, apa sih yang enggak boleh? Tapi di kedai itu benar-benar tidak menjual mie rebus. Beberapa kali aku membujuk agar mengganti menu pesanan, sebanyak itu pula kamu memaksa dengan rengekan. Aku juga mulai membujukmu untuk pindah tempat, tapi kamu tetap merajukku ingin makan di sini. Membuatku kebingungan.
“Saya, hmm, mau mie rebus. Saya, hmm, mau mie. Titik. Mau mie. Mau mie. Tamu itu raja. Raja. Jangan pernah menyalahkan raja,” katamu setengah berteriak pada pelayan yang sudah beberapa kali menyatakan bahwa menu mie rebus tak tersedia di sana. Menimbulkan pandangan aneh para pengunjung ke arah kita berdua.
“Mohon, maaf tapi di sini tak menyadiakan mie rebus,” ucap pelayan itu sekali lagi.
“Mie, mie, mie!” serumu lagi.
Sorot mata pengunjung kedai mulai tajam mengarah ke kita berdua. Beberapa orang mulai berbisik-bisik, tentang betapa anehnya dirimu. Sejenak terdengar pula orang berkata “Oh, pantas. Sepertinya keterbelakangan mental!”          Aku hanya mampu terdiam melihat aksi bersikerasmu dan padangan aneh orang-orang sekitar. Aku mulai ingin menangis melihatmu seperti ini. Apa yang bisa kulakukan? Jika memang di sini menjual mie rebus akan kubelikan padamu sebanyak apapun mangkuk yang kamu pesan. Tapi di sini tidak ada mengertilah.
“Ayah, ayah mau pesan ice cream apa? Di sini tak ada mie rebus, kalau ayah mau pesan mie rebus kita cari di luar saja ya,”
Kamu hanya mengangguk menyetujui. Untuk kamu apa sih yang enggak boleh , Yah?

Sabtu, 19 Januari 2013

Cintaku Mentok di Kamu



Ah, lagi-lagi sms dari kamu. Bisa kah kamu tak meng-smsku? Aku bisa apa, mendapati kamu terus-terusan meng-sms? Orang bilang yang namanya jatuh hati itu tak dapat ditepis. Kamu tau, aku mulai terbuai dengan semua sms-sms intens darimu. Lama-lama, aku bisa jatuh hati denganmu.
            Gery berkali-kali bilang padaku, memangnya salah mencintai seorang gadis? Masalahnya mau kah kamu menerimaku? Menerima segala kekuranganku?
            Siapa yang tak kenal dengan ku di kampus? Beberapa perempuan bahkan dengan terang-terangan menyatakan perasaan padaku. Kamu seharusnya hanya salah satu fans ku, tak lebih. Tapi entah mengapa bayangan kamu mulai masuk di hari-hariku, menelusup pelan.
            Kamu berbeda. Caramu masuk, sungguh mengganggu dengan lembut. Intens tapi tak agresif, bersikeras tapi tidak memaksa. Tapi kamu yakin mau denganku? Aku tak se-perfect orang bayangkan. Bukankan semua orang punya kelemahan? Aku pun juga begitu, kelemahan yang cukup fatal malah.
            “Heh, maneh teh ngelamun wae! Keur naon? Pasti maneh teh dapat sms dari gadis itu lagi? Bener nteu?  Urang teh nteu carei jeung maneh. Tapi kan kita lagi mau cari nafkah!” semprot Gery menasehatiku.
            Aku pun menuruti perkataan Gery, bagaimanapun juga Gery yang merekrutku ke sini. Dan aku cukup bersyukur, karena sedikit banyak pekerjaan ini dapat menutupi biaya kuliahku. Ah, kamu jangan sms aku dulu ya. Aku ingin konsen cari uang dulu.
***
Ada seorang gadis yang menubrukku karena syok diisengi Gery saat sedang berkunjung di pancake . Ya Tuhan! Aku syok. Itu kamu! Begitu pun kamu syok menemukanku mengenakan baju ketat bewarna shocking pink, dengan wajah full make-up. Tentunya bukan hanya kamu yang kaget tapi juga ketiga temanmu.
***
            “Nico!” panggilmu Senin pagi ini di kampus. Bagaimana ini? Sebentar lagi pekerjaanku akan ketahuan. Sebentar lagi aku pasti akan di keluarkan dari kampus. Aku segera pergi, pura-pura tak mendengar.
            Ada derap langkah mendekatiku. Aku percepat langkahku.
            “Nic! Lo kenapa sih? Kita harus bicara!”
Aku akhirnya menyerah, memberhentikan langkahku. Aku tak tega kalau-kalau kamu membeberkan ceritaku dengan jeritan kencang.
            “Mau bicara apa?” tanyaku datar.
            “Di Braga, itu lo kan?”
            “Kapan?”
            “Sabtu, malam kemarin,”
            Aku hanya mengangguk tak sanggup membela diri. “Lalu?”
            “Kenapa?”
            “Perlu lo apa bertanya ke gue?”
            “Gue rasa lo paham banget tentang perasaan gue,”
            “Yang mana?” tanyaku pura-pura polos.
            “Nico! Lo, tuh ya, gue suka sama lo! Gak karena lo pfff……” teriak kamu seenak udelnya. Untung aku sempat menutup mulutnya. Bisa-bisa reputasiku hancur kalau kamu jerit keras-keras seperti itu.
            “Iya, gue tau,” kataku akhirnya.
            “Gupffff,” ucapmu masih memaksa untuk berbicara.
            “Sudah Nin, sudah, cukup! Gue juga jatuh hati dengan lo, Nina Angraini. Yang lo liat itu memang kerjaan part time gue sekarang, tapi yang perlu lo tau gue normal,” ucapku keceplosan sendiri. Kenapa aku jadi menyatakan cinta sekaligus curhat gini ke kamu?
            Perlahan tapi pasti aku mulai meregangkan tanganku yang menutup mulutnya. Kamu kemudian menjinjitkan kakinya dan berbisik padaku.
            “Makasih sudah jujur. Apapun kamu. Cintaku mentok di kamu,” ucapmu berbisik mampu membuat jantungku berdetak kencang.
           

cerita sebelumnya : Bales Kangenku, Dong!


ket:
Heh, maneh teh ngelamun wae! Keur naon? Pasti maneh teh dapat sms dari gadis itu lagi? Bener nteu?  Urang teh nteu carei jeung maneh. Tapi kan kita lagi mau cari nafkah!” | heh, kamu melamun saja! langi ngapain?  pasti kamu dapat sms dari gadis itu lagi ya? benar tidak? aku mah gak marah, tapi kan kita lagi cari nafkah!


Bales Kangen Ku, Dong!


‘Lo, part time? Wah, keren! Dmn?’
Aku kembali membuka hp-ku membaca ulang sms apa yang aku kirim 30 menit yang lalu. Tidak ada yang salah, smsnya pun sudah terkirim. Tapi kenapa belum ada balasan darimu?
Iya, aku tau ini baru setengah jam. Toh dulu aku juga sering lama membalas sms dari orang-orang, tapi entah mengapa membalas sms darimu itu pengecualiaan. Kamu kemana sih? Part time dimana? Kenapa tak pernah cerita-cerita. Kamu tau tidak? Aku perlu memberanikan diri, menghilangkan gengsiku, untuk sekadar bertanya hal ini ke kamu.
“Nin, khusuk banget sih megangin hp-nya? Nunggu balesan dari siapa sih? Ciciw,” Goda Hana padaku.
“Halah, paling nunggu balasan dari Nico,” tambah Arin sambil menyuap pancake kejunya.
“Eh, iya gimana kabar lo sama Nico,Nin?” tanya Fira, to the point.
Aku hanya tersenyum kecut. Aku bahkan tidak tau jelasnya hubungan kita berdua. HTS-san kok rasanya juga tidak. Berasa selama ini kayaknya hanya aku yang jatuh cinta sendiri. Ah, siapa sih yang tidak akan jatuh hati padamu? Baik, manis, sabar, penolong, ganteng, tinggi, putih. Pokoknya tipe pria idaman istri, deh!
 “Udah sih move-on aja kalau gak ada perkembangan juga. Masih ada cowok jelek lainnya dibanding Nico,” ucap Arin masih dengan cara berbicara yang menyelekit tajam.
“Hus, kamu nih, ngomongnya,” ucap Fira menasehati Arin.
“Udeh, udeh, dibanding ngomongin cowo mending makan pancake-nya sayang kalau dingin. Mahal-mahal di pesen,” ucap Hana menengahi.
Mereka bertiga kemudian mulai sibuk dengan pancake yang mereka pesan, di salah satu kedai di Braga. Beginilah kerjaan gadis single di malam minggu, hang-out tak jelas.
Aku mulai memakan pancake keju yang kupesan. Sesekali mataku melirik hp, berharap ada pesan masuk dari kamu. Nihil! Kamu tau tidak, aku kangen kamu! Kenapa sih selalu aku yang kangen? Sesekali, bales kangen aku, dong!
Satu jam setengah ngalor-ngidul di salah satu pancake kaki lima, selama itu pula kamu tak membalas smsku. Aku berusaha mengecek hp-ku. Percuma! Tak ada balasan. Gilanya, aku kangen banget denganmu. Aku tak sabar kalau harus menunggu hari Senin mendatang.
‘ Part timenya sibuk y? semangat y! :) ’ 
            Aku menimbang-nimbang antara ingin meng-sms kamu lagi atau menunggu sms balasan darimu. Tapi rasanya aku kok agresif sekali jika harus meng-sms kamu lagi.
            “Neng, ninggali hape wae, tingali aqiqah dong, cyin!” ucap seseorang mendesah di sampingku.
Aku terlonjak kaget mendapati bencong menggunakan dress merah sepaha ada di samping tempatku duduk. Tanganku tanpa sengaja memencet tombol send di hp. Aku jatuh menubruk seseorang di belakangku. dua hp jatuh, bersama kecrekan menimbulkan bunyi tumpul dan gaduh.
“Maaf, maaf,” ucapku meminta maaf. Aku berusaha mengambil hp yang terjatuh. satu punyaku dan satu punya orang yang kutubruk dari belakang. Sebuah pesan singkat masuk ke hp orang itu. Tanpa sengaja terbuka olehku. Aku kembali syok mendapati bahwa orang yang aku tubruk juga seorang bencong menggunakan baju pink mencolok. Sepertinya temannya si bencong ber-dress merah.
Dengan gemetar aku mengembalikan hp-nya. Aku memfokuskan ke salah satu titik agar tak melihat wajah bencong itu, aku takut! Layar hp yang masih kupegang itu menjadi fokusku. Aku tertegun tanpa sengaja membaca pesan masuk dari hp tersebut,
‘ Part timenya sibuk y? semangat y! :) ’ 
            Nico?!


cerita selanjutnya: Cintaku Mentok di Kamu


ket:
 Neng, ninggali hape wae, tingali aqiqah dong, cyin!” | "Neng. liatin hp saja, lihat aku ding, cyin!"

Kamis, 17 Januari 2013

Sambungan Hati Jarak Jauh



Hari ini ada yang aneh. Ada yang berubah. Aku masih merindukanmu, tapi tidak dengan air mata, aku bahkan tidak peduli dengan rasa rindu yang menusuk.
Ku biarkan saja semuanya terluka, sampai batas waktu tak terbatas. Toh kamu takan pernah kembali. Silih hari berganti, lelaki satu persatu berdatangan, namun selalu kubandingkan denganmu. Nyatanya hanya kamu yang aku kembali harapkan.
Kali ini ada yang berbeda. Senyum seseorang muncul menyelinap entah dari mana. Rasa jahilku kembali bermunculan namun bukan padamu. Aneh! Aku melihatnya di tengah keramain. Rasanya ingin menyapa. Rasanya ingin mendekat padanya. Untuk apa? Bukannya hati ini milikmu? Entahlah aku pun tak mengerti.
Kuketik tuts di hp-ku. Tak ada lagi namamu dalam inbox sms ku. Aku meng-sms dia, dengan keisengan tingkat dewa. Dia secepat kilat membalas. Kulirik dia dari kejauhan, dia sedang tersenyum ke arah panggung. Dia melirik ke arah sekitar, saat tanda sms terkirim, masuk ke hp-ku. Sedang mencari aku kah dia?
Aku berusaha kembali fokus ke panggung namun mataku kembali melirik ke arahnya. Dia kembali berpaling dan mata kami saling bertemu. Secepat kilat ku membuang muka. Aneh, ada rasa nyeri menyelinap. Apa aku jatuh hati lagi? Anehnya bukan denganmu. Memangnya bisa? Ah,  entah lah. Lebih baik aku fokus ke panggung.
Selesai acara itu,  dia menghampiriku. Ramai, namun tak ada kata yang terucap diantara kami. Senyumnya mengembang, penuh syarat. Untukku kah itu? Kenapa rasa ini begitu mengebu-gebu? Jatuh hati kah aku padanya si lelaki manis ini?
Nanti kalau aku sudah tidak ada, jangan cari yang perokok ya. Pokoknya pacar kamu yang boleh merokok cuma aku! Heh, kok malah diam sih? Pokoknya hati kita akan selalu menyambung di dimensi linear manapun, ” kata-katamu dulu teringat kembali.
Tenang saja pokoknya aku akan cari pengganti aku buat kamu. Ketika orang itu ada aku akan mengatakan ‘ya’. Jadi sekarang jangan cari-cari dulu ya,” tambahmu lagi ketika itu.
Hei, kamu! Aku merindukanmu! Aku menunggu kata-kata ‘ya’ dari sambungan hati kita.
Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Asap mulai menjalar. Mengepung pertahananku. Aku sesak! Dia menghirup kembali rokoknya. aku terdiam. Sejurus kemudian aku berusaha mematikan perasaan ini dan namamu kembali tersebut di hati.
Kenapa kamu pulang terlebih dahulu, mas? Kenapa kamu bisa menjadi pengecualianku, satu-satunya perokok yang bertepi dihatiku. Sampai kapan aku harus percaya kamu masih mampu menyampaikan sambungan hati jarak jauh dari dimensi linear yang berbeda? Memangnya bisa sambungan hati jarak jauh antara dunia dengan yaumul barzahk? Bodohnya aku masih mempercayai janjimu, mas!

Rabu, 16 Januari 2013

Cuti Sakit Hati



Tak pernah ada lagi banyolan-banyolan dari Anjelin. Tak pernah ada lagi tawa ceriwisnya atau sekadar ceritanya. Anjelin ini tipe anak manja yang hobi curhat ke orang-orang. Sudah begitu pasti aku yang selalu kena, untuk mendengarkan curhatannya. Sepertinya karena aku orangnya lumayan bisa menjaga rahasia. Kalau dia lagi bete sama salah seorang dari kami pasti orang yang pertama diceritakan pasti aku.
Anjelin berubah drastis sejak berpacaran dengan Bagas, salah satu senior di kampus. Waktu-waktu senggang Anjelin tak lagi dihabiskan untuk aku, Rena, Sita dan Aini. Anjelin lebih sering pulang terburu-buru sehabis kuliah. Saat  itu sih aku maklum, namanya juga si Bagas pacar pertamanya Anjelin. Tapi. Sekarang?
            Liburan semester kemarin akhirnya, Anjelin berhasil dibujuk ikut jalan-jalan ke Anyer. Ada yang berubah dari Anjelin, bukan saja sikapnya tapi juga fisiknya. Aku baru menyadari ketika itu. Badan Anjelin sedikit besar, terutama bagian perutnya. Apalagi saat ia menggunakan baju renang di Pantai ketika itu. Aku curiga habis-habisan dong ketika itu. Jangan-jangan Anjelin hamil?
            Iseng-iseng aku tanyakan kebenaran dari pikiranku itu. Sayangnya, Anjelin hanya diam, dengam muka yang sedikit memerah. Sejak pulang dari Anyer Anjelin benar-benar tak berkabar.
            Sekarang tiba-tiba namanya tak ada di daftar absensi di seluruh mata kuliah semester tiga ini. Di tanya ke ruang subbagian akademik ternyata Anjelin cuti kuliah. Siapa juga yang tak curiga? Jangan-jangan Anjelin benar-benar hamil di luar nikah. Apalagi anak-anak di luar kampus juga menyangka hal yang sama. Ya, Tuhan, tapi masa sih?
            Selama seminggu ini aku sempat menanyakan kabarnya via sms, bbm, whatsapp bahkan Line. Nihil, tak ada satupun pertanyaanku yang ia balas. Kami berempat, sahabat baiknya, akhirnya memutuskan datang ke rumah Anjelin, daripada menyangka yang tidak-tidak.
***
“Kamu tuh kenapa sih, Ras? Gak pernah mau berubah! Gak mau koreksi diri!” ucap Anjelin marah padaku-masih terbaring di kasur tempat tidurnya.
“A.. aku,” jawabku membela diri ketika dituding tiba-tiba. Ini pasti si Anjelin lagi emosi deh, makanya jadi marah-marah gak jelas.
“Kamu tuh ya, pasti yang nyebarin gosip yang enggak-enggak! Kamu kenapa sih selalu mau campur urusan orang lain? Aku tumor rahim! Puas kamu?” cerocos Anjelin mampu membisukan suaraku. Air matanya jatuh seketika.
“Aku, enggak nyebarin gosip apa-apa,Lin,” ucapku saat aku mulai bisa membaca situasi yang terjadi.
“Iya, gak nyebarin gosip apa-apa, tapi ngomongin pemikiran kamu yang seenak udelnya di Twitter kan?” ucap Anjelin mengelap air mata. Aku, Rena, Aini dan Sita seketika diam bagai patung.
“Mas Bagas tadi cerita, katanya temannya ada yang menanyakan kenapa aku sampai cuti kuliah. Temannya nyangka kalau aku hamil. Memangnya kalau cewek cuti kuliah itu harus hamil?” tambah Anjelin.
“Lin, tenang dulu Lin,” ucap Rena berusaha menenangkan.
“Iya, jangan nangis dong kamu kan punya kita, kita gak nuduh kamu hamil kok!” tambah Aini.
“Tapi dia, tuh! Aku kesel! Sakit hati, tau gak! Aku tuh punya penyakit bukan hamil! Belum puas dia nuduh aku pas liburan kemarin?” Anjelin menunjukku beberapa kali. Ia masih menangis, menutup kedua matanya.
Kini hanya aku yang terdiam kelu, sebagai sang tertuduh.


Selasa, 15 Januari 2013

Orang Ketiga Pertama


Aku memasuki kelas. Ini hari pertama aku mengajar di sekolah luar biasa. Di daerah kumuh tempat dulu aku tinggal.
Ada seorang bocah lelaki sedang memperhatiakanku dengan seksama.  Ia duduk di baris ke tiga paling depan, pojok kanan. Senyumnya sesekali muncul, mendengarkan cerita-ceritaku di depan. Beberapa kali ia menjawab pertanyaan dariku, namun ia selalu menjadi orang ketiga yang menjawab pertanyaanku. Dengan sigap ia akan mengacungkan tangan, menjawab dengan bahasa tubuh seadanya, nampaknya ia tuna wicara. Aku tak tau pasti namun kupikir ia memang ingin menjadi orang terakhir, setidaknya dalam perlombaan.
            Aku sempat mengobrol dengan Linda salah satu guru di sekolah ini,  sebelum masuk kelas. Menurut pengakuan Linda, ada seorang anak yang rajin dan pintar, namun sayangnya keterbatasan bicara merupakan kekurangannya. Nampaknya orang yang dimaksud Linda adalah bocah lelaki di barisan ketiga tersebut.
Ia datang menghampiriku yang sedang berberes, dengan wajah tanpa dosa, ketika waktu pulang sekolah.
“Ibu sedang apa?” tanyanya menggunakan bahasa isyarat.
            “Sedang melihat hasil gambar-gambar kalian. Kamu sedang apa?” tanyaku berusaha berinteraksi dengan bahasa isyarat pula.
Ia berjalan ke arah samping, memelukku erat, “Ibu, aku sayang Ibu!” ucap menggunakan bahasa isyarat ketika telah melepas pelukan.
Nafasku tersengal seketika, saat ia memelukku. Ada genangan-genangan deras membasahi lorong hatiku. Sakit namun begitu menyejukkan. Air mataku tertahan menetes. Aku tak boleh cengeng! Mengapa aku harus menangis dipeluk oleh seorang bocah SLB?
Aku memperhatikan wajahnya. Sorot matanya tampak begitu kukenali. Hitam bolanya, tebal bulu matanya, mengingatkan seseorang yag harus kulenyapkan jauh-jauh. Percuma, pikiranku kembali mengingatkanku tentangmu.
Hey, mungkin tak pernah ada yang tau, aku bukan gadis baik-baik. Aku pernah menjadi ayam kampus. Dua kali mengugurkan janin dalam kandunganku. Sampai aku menemukan satu-satunya orang yang kupercaya kala itu, kamu. Namun sayangnya kamu sama dengan pria-pria brengsek lainnya. Hanya memanfaatkanku.
Aku hamil dan kamu berjanji akan bertanggungjawab. Sayangnya, saat aku hamil tua, kamu menghilang dan ada segerombolan orang membiusku. Ketika sadar, perutku tak lagi berisi. Darah segar terus keluar dari selangkanganku.  Jika saja bayi itu dilahirkan, mungkin akan menjadi orang ketiga pertama yang kulahirkan dari rahimku. Kamu pernah bayangkan perihnya hal itu bagiku? Kehilangan dua orang yang kamu sayangi sekaligus?
“Ibu, juga sayang kamu. Orang tua kamu belum jemput?” kembali menggunakan bahasa istirahat.
“Akmal, ayo!” ucap seseorang dari luar pintu kelas.
Aku tertegun, mendapati sosokmu. Ada keheningan yang menjalar seperkian menit. Sebelum kamu menyapaku.
“Rani?” tanyamu.
Airmataku pecah seperkiandetik, apa maksudnya ini? Bocah lelaki ini anak siapa?
“Ran, Akmal anak kita……” tambahmu menggantung.

Senin, 14 Januari 2013

Pukul Dua Dini Hari


            Aku memandangi dengan terkesima kumpulan para pendaki yang merayap pelan di atas. Cahaya dari headlamp yang mereka kenakan menerangi gelapnya malam. Walau cahaya bintang tak mampu dikalahkan.
            Aku melirik sekilas ke arah jam tangan yang aku gunakan. Jam 01.10 dini hari. Masih terlalu dini untuk memulai kegiatan sehari-hari. Tapi kali ini beda, puncak Mahameru harus tersentuh. Gelapnya malam tentunya tak akan membuat sadar seberapa berat medan pasir yang harus ditelusuri.
***
Darah kental mengalir sempurna dari lubang hidungku. Sesak, nafas terasa, seiring menusuknya dingin malam. Pandanganku mulai bias. Terangnya cahaya headlamp dari para pendaki mulai padam.
 ***
            Sorot cahaya menyadarkanku. “Hey, kamu sudah tidak apa-apa?” tanya seorang lelaki membangunkanku.
            Pandanganku masih sedikit kabur, bau anyir darah semilir masih tercium pekat. Menempel dihidungku.
            “Kamu, aklitimasi sepertinya,” tambah lelaki itu lagi.
            Aku hanya terdiam. Meraba hidungku. Kepalaku masih sedikit pusing. Rasa mual menyerang.
            Aku memandang ke sekeliling. Masih sama dengan pemandangan yang kulihat terakhir kali. padang pasir dan bebatuan berwarna hitam. Mengapa sepi? Kemana pendaki yang lainnya?
            Lelaki itu hanya tersenyum, bingung mungkin karena sedari tadi tak aku acuhkannya.
Aku menunggu teman-temanku datang, tapi mengapa tempat ini begitu sepi? Kemana teman-temanku? Sudah jauh di atas kah?
Aku melirik jam tangan. Ada yang ganjil. Kenapa masih jam 01.12 pagi? Hanya dua menit kah aku pingsan?
“Makasih ya, sudah menolong. Hei, aku mau lanjut jalan. Kamu mau bareng?” aku mulai tak betah menunggu teman-teman yang tak kunjung datang.
“Tidak, aku masih mau menunggu di sini. Aku tak bisa kemana-mana,” jawabnya singkat.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Tidak kenapa-kenapa. Ingin menunggu teman setidaknya sampai pukul 2 nanti,”
“Aku tinggal kamu sendirian tidak apa-apa?”
“Iya. Hati-hati ya. Nanti jangan menengok ke belakang,” tambah lelaki itu.
“Hah? Kenapa?”
“Anggap saja sama seperti mitos tanjakan cinta,” ucapnya sambil tersenyum.
“Baiklah. Oh iya, namamu siapa?”
“Fransisco. Biasa dipanggil Iko,”
“Oh, manaku Vara. Aku duluan ya,”
‘Iya, jika ada yang mencariku bilang saja aku ada di sini. Hati-hati ingat pesanku,” ucap lelaki itu.
Aku berjalan mengikuti nasehat Iko. Lambat laun, aku mulai melihat beberapa orang di atas. Cahaya dari headlamp para pendaki mulai terlihat lagi. Bergerombol menuju ke arah puncak.
***
 “Kamu darimana aja?” tanya Andro mengagetkanku. Andro bisa dibilang ketua tim perjalanan kali ini. Ia sudah beberapa kali menjabani puncak Mahameru. Bahkan ia pernah menjadi salah satu ranger di Mahameru.
“Aku? Dari sana,” menunjuk ke arah semak-semak kiri jurang.
“Kamu dari sana?” Andro masih tak percaya dan aku pun juga tak percaya aku datang dari arah sana. “Sama siapa?”
“Iko,”
“Iko?”
“Fransisko,”
“ Fransisco Ranjani?”
“Gak tau, kenapa memangnya Dro? Anak-anak yang lain yang mana?”
“sudah duluan. Mungkin kalau yang namanya Fransisco Ranjani, sama dengan nisan yang ini,” tunjuk Andro pada sebuah batu bertuliskan Fransisco Ranjani dengan sebuah foto kecil yang nampak aku kenal.
“Dia meninggal?”
“Menurut kamu kalau ada nisannya gimana?”
Ada perasaan sesak di dada.
“Kenapa?”
“Hipotermia dan aklitimasi. Dia menunggu temannya datang menjemput. Temannya menyangka ia sudah menuju puncak duluan. Ia terjatuh ke arah kanan jalan. Jasadnya belum ditemukan. Terakhir ia berinteraksi dengan teman-temannya jam 2 dini hari.
 Ada jeda, hingga air mataku kali ini benar-benar jatuh.
“Kapan?” tanyaku singkat.
“Tiga bulan yang lalu,”

Minggu, 13 Januari 2013

Mencintaimu


Semua orang mengecamku ketika aku kembali padamu. Tak pernah ada yang setuju aku denganmu. Tak pernah! Bukan karena kekuranganku dan juga bukan karena kelebihanmu. Aku dan kamu itu seimbang tak punya kelebihan dan tak punya kekurangan. Kamu yang punya prinsip tak ingin berpacaran dan aku yang enggan berpacaran. Pada bagian mana sebuah kisah ini akan bersatu?
Perkenalanku denganmu berlangsung cukup singkat, saat mabim SMA. Kupikir akan sesingkat itu pula hubungan kita, toh aku hanya murid baru dan kamu kakak kelasku. Tidak lebih. Tapi nyatanya hubungan kita berlanjut terlalu jauh. Banyak memang yang tidak tau sedekat apa hubunganku denganmu. Toh, pada akhirnya aku pun tak pernah tau.
Aku menganggapmu sama seperti teman-teman lainnya, yang notabene memang kebanyakan lelaki. Tak pernah lebih, hingga tiba-tiba kau nyatakan perasaanmu padaku. Aku di kala itu hanya merasakan perasaan aneh yang bergejolak. Benarkah aku mencintaimu? Kata-kata itu terus terngiang ditelingaku. Mengahantui bunga tidurku.
Tak lama setelah itu kamu mulai menjauh. Salah apakah aku padamu? Karena tak kunjung memberikan jawaban pasti padamu kah? Sungguh, aku bingung, aku tak tau harus bagaimana mengahadapimu ketika itu. Mungkin benar, aku telah jatuh hati padamu.
Seperti disengat listrik saat kutau kini kamu sedang dekat dengan seorang gadis yang merupakan adik kelas kita berdua. Kecaman penuh hujat datang dari beberap gadis di kelasku. “Apaan tuh? dasar, playboy! Ih, kasihan Kak Mia!” , “Ih, ganteng-ganteng brengsek banget!” Ya, kamu kala itu memang dekat dengan Kak Mia. Dan tak ada yang pernah tau, aku adalah korban perasaanmu yang begitu labil. Rasanya ingin sekali marah pada gadis-gadis di kelas. Kata siapa kamu brengsek? Kata siapa kamu playboy? Hey, yang sungguh-sungguh tau tentang kebaikan hatimu kan aku bukan mereka! Tidak, mungkin Tuhan lebih tau banyak.
Setelah itu tak banyak kabar yang aku dengar tentangmu kecuali kamu menjalin hubungan dengan adik kelas itu. Kebenaran tentang itu pun tak kuketahui banyak karena kamu benar-benar menghilang dariku. Aku pun tak ingin ambil pusing, kamu tau kan aku orang yang egois dan bergengsi tinggi? Walau kamu pergi dariku jangan harap aku mengemismu kembali!
Nyatanya kamu kembali kan? Kamu datang padaku, memulai semuanya dari awal. Memintaku memaafkanmu, pada kesalahan yang tak pernah kurasakan. Kamu kembali, seolah membawa kembali bunga tidurku. Aku pun tak bisa mengelakkan perasaan yang dulu telah ku kubur jauh-jauh.
Sms singkat darimu, membuat pipiku merona seketika. Kita janji bertemu di sebuah hotel ternama. Peduli setan dengan cemoohan orang-orang. Yang merasakan cinta ini kan hanya aku dan kamu, bukan mereka.
Hari ini, ya hari ini. Aku tak ingin lagi kehilanganmu. Aku janji, hanya aku yang akan ada di hari-harimu hingga akhir hayat. Hanya aku yang pantas memilikimu! Dan akan kuserahkan kehormatanku padamu.
***
Suara pintu kosan di dobrak keras. Seseorang dari balik tubuhku berteriak “Jangan bergerak! Anda Kami tahan!”
Aku kebingungan. Ada apa ini? Kenapa harus ada pengganggu ketika aku sedang menonton ceritamu, potongan-potongan tubuhmu yang sengaja harus di buramkan di TV?
Aku tertawa, “Ada apa? Kenapa saya dituduh yang tidak-tidak?”
“Anda saudara Fahmi?”
“Ya!” Jawabku singkat.
“Anda menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan Tuan Ardi di hotel karena nama anda tecatat sebagai tamu terakhir Tuan Ardi,” ucap seseorang lainnya hendak memborgol tanganku.
Aku hanya tersenyum meremehkan. Sekarang kamu yakin kan aku sangat mencintaimu? Bahkan aku rela kehilangan kehormatanku, demi mendapatkanmu. janji ku sudah kutepati kan? Aku adalah orang yang akan ada dihari-hari terakhirmu.   


Kenalan Yuk!


            Selesai belanja di pasar segera kupacu motor tua keluaran 2005, kembali ke rumah. Kata mama akan ada tamu penting yang datang berkunjung. Sayangnya mama dan papa sedang tidak ada di sini. Mereka berdua sedang survei tempat lokasi wisata yang rencananya akan dijadikan base camp baru. Mama dan papa ini sangat suka berpetualang. Hobi mereka berdua inilah, yang menyebabkan mereka bisa membuat jasa perjalanan adventure. Di sinilah aku sekarang harus terdampar di sebuah desa kecil yang cukup terpencil, tempat wisata alam yang cukup menjanjikan bagi para wisatawan Jakarta yang butuh refreshing.
            Ini bukan kali pertamanya aku pindah-pindah tempat tinggal. Sudah entah keberapa kalinya aku harus pindah-pindah sekolah, menyesuaiakan situasi dengan daerah dan penduduk sekitar. Seperti sekarang ini aku harus menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Aku juga harus menempuh perjalanan 1 jam untuk dapat sampai di sekolah.


           Sesampainya di resort, tamu penting sudah datang. Ada lima orang, tiga pria dan dua wanita, nampaknya sebuah keluarga. Dilihat dari gaya berpakaian sudah pasti mereka orang kota. Ada satu yang sederhana, tanpa make-up. Manis. Kisaran umur mungkin seumuran denganku atau paling tidak lebih muda satu tahun.
            Tak banyak perkataan yang terucap dari bibirku. Aku hanya sesekali tersenyum, itu pun saat Kang Rudi menyebutkan kalau aku ini anak pemilik resort. Tak ingin menghabiskan waktu, tamu penting ini segera menuju arena rafting, kebetulan yang memegang adalah Kang Rudi. Aku sendiri memegang divisi paintball.



            Entah mengapa mataku terus tertuju pada gadis tanpa make-up itu. Ia tampak begitu rileks, padahal air sungai sudah menerjangnya beberapa kali. Iya hanya tertawa kecil. Biasanya gadis seumuran dia pasti sudah jerit-jerit tak jelas sambil berusaha memeluk Kang Rudi, maklumlah Kang Rudi ini memang ganteng. Hal inilah yang membuatku semakin tertarik padanya. Sayangnya aku tak tau namanya karena datang terlambat saat acara perkenalan tadi.
            Senyumnya yang manis, tawanya yang kadang menggelegar membuat perpaduan yang unik padanya. Ingin sekali rasanya tau namanya, berkenalan dengannya. Tapi mulut ini seakan terkunci rapat, bahakan untuk mengatakan kalimat sederhana, “Kenalan yuk!”
*
            Pagi ini papa-mama akan pulang ke resort, mungkin akan sampai di resort setelah tamu penting ini selesai bermain paintball. Kebetulan yang ajaib membuatku satu tim dengan gadis itu. Sama seperti sebelumnya ia hanya berhiaskan bedak tipis senada warna kulitnya. Ah, nampaknya aku benar-benar telah jatuh hati padanya. Bagaimana ini?


            Progress cepatnya saat main paintball aku dan dia saling membuka komunikasi. Beberapa kali ia bertanya bagaimana cara menggunakan paintball gun, nampaknya ia belum pernah main ini sebelumnya. Sayangnya sampai detik ini pun aku belum tahu namanya. Dasar, lelaki pengecut!
            Saat selesai bermain, mama dan papah ternyata sudah pulang. Ada yang ganjil. Gadis itu kemudian lari menghampiri mama, memeluk mama. “Kakak, apa kabar? Kangen!”
            “Baik, kamu gimana Rin?” melepas pelukan gadis itu. “Om, mama, apa kabar?” tambah mama sambil menyalami kedua orang tua gadis itu.
Om, mama? Maksudnya? Aku masih tak mengerti.
“Arin, kelakuan Dani gimana di sini? gak bandel kan?” tanya papa pada salah seorang dari tamu penting.
“Baik kok kak,” ucap gadis itu sambil tersenyum.
“Dani, udah kenal kan? Ini om Rangga dan mama Ina, Om dan tantenya mama jadi jatuhnya sama kayak datuk dan oma, kalau yang ini Radit, Diko dan Arin, sepupunya mama, Om dan tantenya kamu,” ucap mama menjelaskan.
Aku hanya bisa mengangguk, berusaha memahami apa yang baru saja mama bicarakan.