Rabu, 26 Desember 2012

HUJAN


Ara mengelus-elus rambutnya yang basah terkena rintik hujan. Ara lupa membaya payung, untungnya hanya hujan kecil. Tas ranselnya penuh muatan dan Ara masih harus menggenggam plastik belanjaan berisi camilan dan minuman ringan. Hari ini Ara akan pulang ke rumah, menyambut libur tahun baru bersama keluarga setelah hampir dua bulan ia tak pulang. Ara sebenarnya enggan pulang ke rumah, enggan menghadapi kenyataan bahwa kini ia tak lagi bersama Satria-pacarnya dulu.



Empat tahun bersama Satria dalam suka dan duka, bukanlah hal yang sepele. Namun melihat Satria menggenggam manis Nina-sahabat dekat Ara, bukanlah hal yang sepele juga. Satria kemudian lebih memilih Nina tanpa persetujuan Ara terlebih dahulu. Kini kembali ke rumahnya, kembali ke kota tempat tinggal Satria dan Nina tentunya hanya membuka luka lama.
Angkot coklat kemudian memperlambat gerakannya. Menurunkan dua orang penumpang di dekat tempat Ara berdiri. Hujan kemudian mulai melebat. Tak ingin berlama-lama dalam kekalutan, Ara segera masuk ke dalam angkot tersebut. Duduk di samping kanan pintu angkot. Mata Ara menyapu seluruh bagian Angkot. Ara biasa melakukan ini, entah untuk antisipasi atau untuk melupakan sesuatu.
Penumpang di dalam Angkot cukup sepi. Hanya ada 3 orang penumpang tanpa Ara. Satu di depan bersama pak supir, satu duduk di sebelahnya dan satu lagi duduk berhadapan dengan Ara. Mata Ara terpaku pada sosok di depanya. Seorang pria bermata coklat, berambut ikal sebahu, memakai kaus oblong berwarna putih, celana pendek selutut dan satu tas ransel berisi penuh. Nampaknya pria ini juga seorang mahasiswa di perguruan tinggi tempat Ara kuliah.
Satu persatu penumpang turun.
“Kiri, pak!”ucap pria yang sedari tadi Ara curi pandang. Ara mengalihkan pandangannya, seolah tak peduli.
Bunyi benda jatuh bersentuhan dengan tempat duduk kayu di depan pintu angkot. Mata Ara segera menyelusuri dari mana asal suara tersebut. Sebuah payung bewarna coklat terjatuh. Kemungkinan besar adalah milik pria bermat coklat tadi. Ara akan segera berteriak ketika menyadari pria itu sudah tak ada.
Tiga menit setelahnya angkot yang Ara tumpangi berhenti. Ara turun di pertigaan dekat dengan gerbang tol menuju rumahnya. Ara segera membayar ongkos dan segera berlari menuju halte, menunggu bus tiba, menunggu hujan mereda.
“Neng, payungnya!” ujar supir angkot setengah berjerit.
“Bukan punya saya pak,” jawab Ara jujur.
“Bawa saja, Neng. Ini hujan deras,” ucap supir angkot, mengambil payung yang masih terletak manis di kursi kayu dekat pintu.
Ara menerimanya setengah terpaksa. Bagaimana nanti sang pemilik mencarinya? Tapi jika tidak Ara bawa kemungkian besar tas ransel berisi laptop dan beberapa buku pelajaran yang ia bawa akan basah.

*
            Turun dari angkot berwarna hijau, Daru baru sadar payungnya tertinggal entah dimana. Sepertinya saat Daru mendengar samar suara sesuatu berdebum dengan kayu. Daru terpaksa menembus hujan deras, menyebrang jalan untuk sampai di pemberhentian bis yang ia biasa gunakan untuk pulang. sudah bis ketiga yang sejalan dengan tempat tinggalnya lewat tapi selalu penuh. Baru dibus yang ke empat Daru berhasil duduk dengan nyaman. Tentunya dengan melupakan pakaiannya yang basah kuyup. Ia setengah kedinginan dan meruntukin kebodohannya menghilangkan payung.
Daru terdiam beku melihat hujan yang semakin menderas dari balik kaca bis yang sudah berjalan. Daru benci hujan, tapi juga mencintai hujan. Daru benci hujan yang membunuh Kirana tunangannya.

Trotoar Ambles akibat Saluran Mampat di Jalan Wijaya II

Daru memejamkan matanya berusaha untuk tidur, berusaha untuk melupakan masa lalunya. Nihil, bayangan-bayangan tentang Kirana muncul kembali. Bagaimana bisa ia melupakan kejadian tragis tahun itu?
*
Ara terpaksa jalan kaki menuju tempat khusus untuk pemberhentian bis yang ia biasa tumpangin. Percuma menunggu di halte hampir lebih dari 15 menit. Tak ada bangku kosong di sana, orang-orang sudah merapat penuh, untuk sekedar meneduh di halte.
Udara dingin disertai hujan menerpa tajam Ara. Payung bahkan sudah tak dapat melindunginya lagi. Satu demi satu hujan memulai membasahi pundaknya yang tak tertutup payung. Ara masih berusaha keras menuju tempat pemberhentian. Tidak ada satupun bis jurusan yang searah rumahnya yang mau berhenti. Wajarlah tempat pemberhentian bus yang resmi hanya di halte dan pemberhentian khusus.


Ara berhasil mendapatkan tempat duduk di bangku khusus perokok. Ada rasa syukur dan jengah bersatu-satu, takut-takut ada yang merokok di depannya. Mata Ara mendelik mecari pria pemilik paying yang ia gunakan. Mungkin saja pria itu menaiki bus ini juga kan? Sepertinya percuma, apa yang bisa Ara lakukan jika ia duduk di bangku paling belakang bis?
Ara kembali mengenang Satria. Hah, lelah kadang setelah setengah percaya Satria sudah tidak ada di hatinya, namun lengah sedikit ternyata Satria masih ada. Ara bisa saja memaksa Satria untuk tidak mencampakannya. Namun satu kelakukan Satria yang membuat Ara memutuskan menyerah.
Kelakuan Satria yang tidak mau mengalah dan tidak mau disalahkan. Kejadian kala hujan itu, saat peertengkaran antara Satria dan Ara terjadi. Satria tak memperhatikan kemudi mobilnya. Satria menabrak seorang gadis. Satria kemudian kabur, tanpa memedulikan sang korban. Ara sangat benci sifat Satria yang satu ini.
*
            Daru terbangun. Ia sudah sampai di terminal Lebak Bulus. Sebagian besar penumpang sudah turun di Pasar Rebo tadi. Hujan masih deras mengguyur. Daru segera bergegas menerabas hujan.
*
            Ara terdiam sebentar seperti mengenali pria yang berdiri di depannya, menunggu giliran turun. Pria itu kemudian tergesa-gesa turun menerabas hujan deras. Ara menyadari sesuatu. Pria itu pemilik payung yang ia gunakan.
*
            Aneh, derasnya hujan tak lagi menusuk sisi kulit Daru. Daru mendelik saat meyadari sudah ada seorang gadis dibelakangnya. Memayunginya. Gadis itu basah kuyup.
            “Maaf, ini payungnya ketinggalan,” ucap gadis itu, setengah menggigil.
Daru terdiam kelu. Mengingat-ingat pertemuannya dengan Kirana dulu. Saat hujan deras mengguyur. Saat Daru tak membawa payung. Saat Daru mencekal habis-habisan karena ia ditunangkan dengan gadis yang tak dikenalnya, Kirana. 
Kami Mengharap Hujan Basahi Bumi (1)

*
            Dua mata saling bertemu. Memberi sebuah telepati yang hanya dimengerti oleh kedua pihak. Menimbulkan rona merah. Membakar dinginnya hujan malam. Sayangnya ini bukan cerita picisan. Ini kehidupan!  Entah Ara akan jatuh cinta dengan Daru, entah Daru akan bisa melupakan Kirana atau pertemuan ini akan berlalu begitu saja. Tidak akan ada yang pernah tau. Aelayaknya siklus hujan yang kadang menderas dan kadang menepi. Hanya hujan yang tau bagaimana kisah keduanya.

Jumat, 09 November 2012

Pemenang



Aku ini seorang pemenang. Dan aku enggan mengalah. Siapa yang tak ingin menjadi seorang pemenang? Bukan kah menjadi seorang pemenang itu menyenangkan? Berdiri diatas panggung kemenangan, tersenyum dengan tepukan ramai orang-orang.
Kamu tahu kan aku tak suka mengalah? Kamu tahu kan aku suka tantangan? Kamu tahu kan aku ini seorang pemenang. Selalu. Dan aku pun tahu, kelak aku akan menang.
Semua orang bilang aku ini bodoh, bisa-bisanya masih mengharapmu. Tidak hanya sekali , dua kali, aku mendapatkan kecaman untuk segera melupakanmu. Tapi bisa apa aku?
Aku bukan orang yang suka menyerah. Aku rasa kamu tahu itu. Bukan kah sebuah keberhasilan akan tercapai saat kita memahami kegagalan dan terus berusaha? Dan semua upaya itu aku lakukan untukmu. Boleh kan?
Aku tahu, mungkin aku bukan hanya sekedar bodoh namun juga gila. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Kamu jelas tahu itu. Selama tujuh tahun ini aku masih saja mendoakanmu. Bahkan bahwa kenyataannya kamu menolakku mentah-mentah, pada kenyataannya kamu menyuruhku menjauh pergi, pada kenyataannya kamu bergidik mual tuk sekedar menatapku.
Aku suka menang. Karena itu berulang kali aku membuat para lelaki itu kalah. Tidak hanya sekali, dua kali. kamu tahu? Semua itu aku lakukan hanya demi sebuah kemenangan. Ya, itu kamu!
Kamu mungkin tidak tahu. Keyakinanku hanya satu, bahwa kamu adalah cinta sejatiku. “Miris”. Itu kan yang ingin kamu katakan saat kita saling bertemu pandang? Nyatanya hanya suara angin yang bersua saat kita melepas pandang.
Aku yakin dan aku sanggup menunggu bahkan 100 tahun lagi,  jika itu maumu. Iya aku tahu, kamu akan tersenyum menghina jika kata-kata itu kulontarkan dari mulutku.
Sungguh  selama tujuh tahun ini kupercayakan keajaiban dari doa yang kupanjatkan pada illahi. Demi menanti hari ini. Ya, demi hari ini. Kamu menggunakan pakaian putih rapih kontras dengan merahnya pelaminan. Kamu tersenyum manis padaku. Aku pun balik tersenyum. Sungguh ini begitu manis. Kamu sambut tanganku dengan lembut lalu kamu dekap erat diriku. Beberapa detik kemudian aku melepas rangkulanmu.
“Selamat ya, Van………….,” ucapku terpotong, tak mampu melanjutkan.
“Iya,” kamu tersenyum canggung padaku.
“Langgeng sama istrimu,” tambahku tercekat.
Bukankah kini memang aku telah menang? Ya, tentu saja aku lah pemenangnya. Menang untuk menyakini bahwa kamu adalah satu-satunya cinta sejatiku? Lalu mengapa ada sesak yang membuncah ketika kemenangan itu terjalin? Bukan kah kemenangan itu menyenangkan?

Minggu, 28 Oktober 2012

Jerawat



“Ren! Rena kan?” tanya seorang lelaki di belakangku, menyentuk pundakku saat jam istirahat mabim di fakultas. Sialnya aku sangat mengenal suara itu.
 Ya Tuhan, kenapa harus bertemu denganya setelah setengah mati aku berusaha melupakannya? Percuma saja liburan dua bulan setelah ujian akhir nasional dan tak bertegur sapa dengannya jika mendengar suaranya saja sudah membuatku mengingat kenangan-kenangan manis bersamanya.
            “Iya, Zi. Hehehe,” tawaku cengengesan entah untuk apa.
            “Kita satu fakultas ternyata! Gak nyangka, ih! Jangan bilang kita satu jurusan juga,”
            “Gak tau, gue jurusan Biologi. Kalau lo?” tanyaku harap-harap cemas.
Ya Tuhan please, jangan sampai aku satu jurusan juga sama dia. Cukup satu fakultas saja. Ya Tuhan, aku mohon. Sungguh aku ingin melupakannya, ingin melepasnya. Biar ia hanya jadi kisah kasih masa lalu. Cukup penantianku selama dua tahun jangan kau tambahkan lagi, aku tak sanggup! Biar rasa iklas melepasnya, Ya Tuhan.
“Ih, sama dong! hahaha, gak nyangka deh. Jauh-jauh kuliah di sini. Ketemunya lo lagi, lo lagi. Hahaha,” tawa Renzi pecah. DAMN! Apa yang harus aku lakukan?
“Ren, jerawat lo mana? Kok sekarang bersihan sih? Ke dukun mana lo?” tambah Renzi.
Ya Tuhan, ini benar-benar sudah gila kenapa aku bisa jatuh hati sama lelaki ini? lelaki yang suka menghina dan menjatuhkanku? Berbicara tentang jerawat aku jadi ingat pendapat abang sepupu aku tentang faktor ada tidaknya jerawat dengan tingkatan jatuh cinta. Dalam hati saat itu aku mengimani perkataan abang sepupuku itu. Kalau gini ceritanya sebentar lagi jerawat akan kembali bermunculan di wajahku dong?
“Sial. Rajin bebersih lah gue. Pake sabun pembersih muka doang, Zi!”
“Ah, gak mungkin. Lo baru jadi mahasiswa aja udah doyan bohong!”balas Renzi tajam.
“Ih beneran tau Zi! Kata abang gue kalau lagi gak lagi jatuh cinta sama orang atau dengan kata lain jomblo pasti mukanya bersih. Kalau ada jerawat lebih dari 10 tuh berarti lagi jatuh hati sama orang. Kalau jerawat penuh menghiasi muka berarti lagi bermasalah sama pacarnya atau kalau yang gak punya pacar pasti lagi memendam perasaannya ke orang yang dia taksir. Puas lo?” ucapku tersulut emosi.
Haduh ini kenapa pendapat si abang sepupu pake diceritain ke Renzi? Siap-siap aja nih aku bakal tambah dihina-hina sama dia. Tuhan, tolong aku!
“Oh gitu ya? Kalau muka gue indikasinya gimana?” tanya Renzi, membuatku menatap wajahnya lekat-lekat. Nihil tak ada jerawat. Dosa apa aku Tuhan? Mengapa kau menghukumku terlalu berat?
“Yah, mana gue tau!“ jawabku seketika berusaha menetralkan pesona wajah Renzi yang semakin menjadi-jadi berkelana di pikiranku.
“Ren, lo rela gak kalau jerawat lo tiba-tiba jadi lebih dari 10 lagi? Kaya pas jaman-jaman SMA?” ucap Renzi kembali menyatakan pertanyaan ambigu
“Zi, kok lo jahat banget sih sama gue. Enggak lah udah bagus kaya begini aja. Gak mau kayak dulu lagi,” ‘gak mau jelek lagi gara-gara naksir lo, Zi!’
“Yah, berarti lo gak mau pacaran dong? Padahal gue rela kok, kalau ada jerawat muncul di wajah gue lebih dari 10, demi lo,”
            “Hah?” ucapku mengambang. Masih bingung dengan pernyataan Renzi. Maksudnya apa?
Ya tuhan, kenapa jantungku jadi ikut berdetak kencang begini? Sebentar lagi pasti Renzi akan bilang kalau semua ini hanya bercanda.
            “Iya, gue rela jerawatan sebanyak apapun demi mendapatkan hati lo. Lo mau kan? Kalau lo gak mau beberapa hari lagi pasti bakal banyak jerawat muncul di seluruh wajah gue. Soalnya gue harus memendam perasaan sampe lo rela menimbun jerawat lebih dari 10 di wajah lo,” ucap Renzi padaku.
            Hening. Aku terdiam. Mukaku memerah seketika. Tuhan, ini kah jawaban atas keiklasanku melepasnya selama dua bulan ini?

Minggu, 14 Oktober 2012

Tentang Waktu



“Win, itu dia orangnya. Ayo sini saya kenalkan,” ucap Pak Ramli menunjuk seseorang di kitchen room, resort.
                Padanganku teralih, menuju orang yang dimaksud. Orang itu maju mendekati kami. Aku tertegun. Wajah itu. raut itu.
                “Selamat pagi Chef Mardi. Ini Wina, orang yang akan menulis wisata-wisata kuliner di Kepulauan Riau. Win, Ini Chef Mardi,” ucap Pak Ramli lagi.
                “Mardi,” ucap orang itu hendak menjabatkan tangannya padaku. Aku hanya bergeming, tak mampu bertindak untuk melakukan apapun.
Orang itu Mardi! Ya Mardi, orang yang dulu pernah mencampakkan perasaanku yang baru saja tumbuh. Kenapa ia harus ada di sini? Sejauh ini? sejauh jarak Jakarta Batam?
                “Win?” senggol pelan Pak Ramli.
                “Eh, Oh. Wina,” ucapku akhirnya menyambut tangan Mardi.
***
                “Apa kabar Win?” ucap Mardi memecahkan keheningan yang sudah tercipta hampir 1 jam saat menuju salah satu temapat penjualan bingka bakar di  Kepulauan Riau.
                “Baik,” jawabku dingin. Kemudian keheningan kembali tercipta.
Aku kembali sibuk dengan pikiranku. Ya tuhan, kenapa liputan kali ini harus penuh konflik batin? Kenapa aku harus dipertemuakan lagi dengan Mardi? Kenapa pikira-pikiran lalu, saat aku jatuh hati padanya terulang kembali? Kenapa harus Mardi, yang masih saja mampu mengganggu pikiranku hingga detik ini? kenapa harus Mardi, orang yang jelas menolakku mentah-mentah, yang menjatuhkan harga diriku?
Oke, memang aku yang gila. Bisa-bisanya aku menyatakan perasaanku, padahal jelas-jelas hal itu tidak ada dalam kamusmu. Tapi kan aku hanya menyatakan perasaanku bukan lalu mengajaknya untuk berpacaran. Lalu mengapa setelah aku menyatakan perasaanku dia malah menjauh? Kenapa banyak pertanyaanku yang tak digubrisnya? Kenapa seoalah-olah kita tak saling mengenal? Kenapa saat bertemu tak saling menyapa malah seolah-olah menyibukkan sesuatu?
Tanpa harus ada Mardi di sini pun sebenarnya aku bisa liputan sendiri. Memang sih, aku hanya penulis di sebuah majalah travelling, tapi dulu aku juga kuliah di jurusan pangan, paling tidak masih ngerti lah kalau harus liputan tentang makanan kuliner. Toh buktinya aku juga harus nge-liput bareng Mardi yang jelas-jelas temen sekampus dulu. Lulus kuliah juga aku duluan berarti kan pinteran aku ketimbang Mardi.
“Win, udah nyampe. Turun yuk,” ucap Mardi menyentuh tanganku, menyentak kebisuaan di mobil selama diperjalanan. Aku meliriknya tajam tanda tak suka dengan apa yang ia perbuat.
***
“Win, gue mau ngomong sama lo,” membuka pembicaraan ketika menu makan telah selesai dipesan. Sialnya, aku hanya berdua dengannya, Pak Romli tiba-tiba ada urusan mendadah. Duh, Gusti!
“Ngomong apa?” tanyaku sinis. Kupaksakan kali ini menatap matanya tanda bahwa aku tak pernah kalah.
“Maaf,” jawab Mardi.
Aku terdiam. Hati ini mencelos, melihat ketulisan dari sorot matanya. Maaf untuk apa? memangnya kali ini aku menyatakan cinta lagi padanya? Emosi ku kembali tersulut, rasa benci dan kesal kembali menyeruak. Tak ada yang bisa kulakukan selain menahan air mata “Untuk?” tanyaku kelu.
“Untuk semua yang pernah gue lakukan ke lo dulu. Untuk semua kebohongan hati selama ini. Win, gue jatuh hati sama lo. Udah lama. Sebelum lo bilang lo punya perasaan ke gue,”
Aku membatu. Hanya air mata kini benar-benar tak bisa tertahan. Seolah menyakinkan selama ini aku terus menunggunya.
“Win. Lo mau maafin gue kan?”
“…..”
“Win, gue….. Gue cuma hanya takut bakal menghancurkan reputasi lo dulu. Lo tau gue kan? anak koruptor? Gue gak mau lo dihujat yang gak-gak sama anak-anak yang lain!”
Aku kembali mengingat masa lalu. Justru karena Mardi anak koruptor, hubungan kita bisa jadi dekat. Banyak percakapan, senda-gurau, bahkan curahan hati yang tersampaikan. Memang tak banyak yang tau kalau kami berdua dekat. Lantas jika akhirnya menjalin hubungan apa salah? Perduli apa aku dengan omongan orang lain? Yang korupsi kan orang tuanya, bukan Mardi!
“Terus kalau lo anak koruptor, Lo berhak ngejauhin gue? Lo berhak gak peduli sama gue? seolah-olah gue ini, mahluk yang menjijikan  yang gak pantes berinteraksi dengan lo?” emosiku kembali menjalar. Meminta penjelasan yang selama ini tak pernah terjawab.
“Maaf, Win kalau gue salah. Tapi hanya itu cara satu-satunya untuk membunuh perasaan gue ke lo,” ucap Mardi mengelus lembut pipiku yang basah.
“Gue sayang sama lo, Di,” ucap gue, memecahkan pertahan yang selama ini gue ciptakan.
“Gue juga Win. Hingga detik ini pun masih sama. Lo mau kan maafin gue?”
Aku hanya mengangguk tak mampu berkata. Terlalu banyak yang terungkap. Ada rasa bahagia yang kembali menyeruak di hati namun ada juga rasa kelu yang tak sanggup dijelaskan. Aku harus bagaimana?
                “Win, boleh kan kita memulai semuanya dari awal dalam ikatan pernikahan?”
                Pertanyaan ini. Pertanyaan yang pernah terbanyangkan, bahkan sebelum kami bertemu kembali di sini. Pertanyaan yang seharusnya menjawab semua pertanyaan dan permintaanku selama ini pada Tuhan. Gusti, boleh kah, aku masih memendam perasaan pada Mardi saat ini?
                “Mardi. Makasih. Makasih….” ucapku lirih, sambil tersenyum pias. Sedetik kemudian, Mardi memelukku dari belakang. Hatiku bergetar. “Tapi gue gak bisa, Di. Minggu lalu gue udah dilamar sama Pak Ramli, dan gue setuju. Maaf,”
                Mardi melepaskan dekapannya dariku. Aku memalingkan wajahku agar aku dapat melihatnya. Semua seolah berbalik. Mardi terdiam, berusaha menahan air matanya dan aku yang menyatakan kata ‘maaf’. Hanya waktu yang mampu menjelaskan pertanyaan.

Kamis, 11 Oktober 2012

Menunggu



Aku memandang jam tanganku. Waktu terus berputar dan rasa kalut terus menghantui. Aku tak suka ini! menunggu adalah pekerjaan yang membosankan dan menakutkan. Aku suka sendirian pergi berkelana namun bukan berarti aku suka menunggu sendirian.
“A, dimana? Aku solat dulu ya. J ” smsku setenang mungkin, seolah waktu hampir satu jam ini tak terbuang sia-sia.
Selesai solat kulirik jam tangan. Sudah 15 menit berlalu dari sms terakhir dariku, masih belum ada balasan. Langit sore ini begitu pekat. Hujan rintik-rintik mulai turun di jalan Braga, memperkeruh rasa kalutku yang muncul tanpa sebab. Sesibuk itu kah seorang pemimpin himpunan kampus? Sesulit itu kah membalas sms dari orang terkasih?
Hujan semakin menderas, kemudian kenangan-kenangan indah di jalan Braga bersamanya hidup kembali. Hanya kenangan-kenangan ini yang membuatku mampu bertahan menunggunya di sini. Jika tidak sudah kutinggal tempat ini sedari tadi, seperti yang sudah sebelumnya kubilang bahwa aku tak suka menunggu!
“May, lagi apa? haduh, bete nih,” smsku pada Maya teman dekatku.
“Lagi lihat hujan. Menunggu pelangi bersinar. J bete kenapa Lin?” balasnya Maya dengan puitis.
Ah, pujangga satu ini! Ardi belum datang juga. Padahal udah 1 setengah jam nunggu. L
“Hahaha. Sabar. Mungkin sedang terjebak macet. Kamu lagi dimana?”
“Braga. Berteduh di tahu gejrot langganan kita.”
Tunggu ya. paling sebentar lagi aa’nya datang. Kamu ngeceng-ngeceng pelanggan yang kece aja dulu. Haha
“Wuu, udah ah, mau ngegalau sendiri aja aku mah. Tar gangguin kamu nungguin pelangi.” Balasku memutuskan percakapan, setelah mendapat energi tambahan untuk menunggu, dari Maya sahabatku.
Entah sudah yang keberapa kalinya aku melirik jam tangan. Hujan sudah mulai reda. Oke, baiklah sudah 2 jam 18 menit aku menunggu. Mau sampai kapan, menunggu? Mungkin sampai gila! Benar-benar sudah gila nampaknya, bisa menunggu orang hampir 3 jam, padahal mana ada kata ‘menunggu’ di kamusku.
“Hey!Maaf ya neng Lina. Kamu sudah lama menunggu ya?” ujar seseorang menepuk pundakku dari belakang. Meluruhkan, emosiku. Tanpa melihat pun aku tau, itu pasti dia. Bodohnya tak ada kata yang sanggup kuucapkan, selain tersenyum manis.
“Maaf, ya Lina sayang. Kamu udah lama banget ya nunggu? Tadi aku sibuk banget!”
“Gak, apa-apa. kamu kok tau aku ada di sini? Kita kan gak janjian di sini?” tanyaku masih tak percaya dia sudah hadir di depanku. Di tempat yang bahkan tak pernah kusebutkan tempatnya.
“Hahaha, aku kan punya radar untuk menemukanmu, kemana pun kamu pergi,” ucapnya sambil tersenyum, mampu membuatku luluh seketika.
Ya, mungkin sesederhana itu. sesederhana aku mencintainya. Menunggu bahkan bukan suatu hal yang tabu jika itu untuknya. Seperti itu kan, yang namanya mencintai? Harus saling mengerti, harus saling memahami, harus saling belajar untuk memaklumi.


13277474381270911661
***

“Iya, pelangiku. J Aku sudah sampai di Braga. Tadi Lina sempat nanya kenapa aku bisa tau, kalau dia ada ditempat langganan tahu gejerot kita. Untung aku jago ngeles. Makasih ya, makan siangnya. Cah kangkung kamu enak. Love u.” secepat kilat sebuah sms singkat “tanpa nama’ masuk ke dalam HP Maya. Secepat kilat itu hatinya membuncah bahagia, melupakan persahabatan yang sudah lama ia jalin.

Jumat, 28 September 2012

Ehem!


“ehem,” kurang lebih begitulah saya, saat menyapanya.
Tak banyak percakapan yang terjadi, hanya senyum manis yang ia sunggingkan, sesederhanan itu.  Sayangnya setelah mengenalnya lebih jauh, ia tak sehening senyumnya. Ya, dia sangat bawel, bahkan bisa membuat saya jengah jika terlalu sering berdekatan. namun ada rasa nyeri yang menyeruak setiap kali tak berjumpa dengannya, dengan senyum manisnya.
                Seakan semua menjadi pelik saat ia menanyakan tebakannya benar atau salah mengenai ‘saya ada hati padanya’ . Saya dengan percaya diri menentang tebakannya. Namun apa yang terjadi saat ini? Jantung saya berdebar lebih kencang setiap bertemu dengannya, bahkan mata elang saya mencari sosoknya ketika saya berpas-pasan dengan salah satu temannya.  Bodohnya tak ada satu kata pun terucap dari bibir saya saat bertemu dengannya, bahkan suara ‘ehem..’ pun tak lagi saya keluarkan. Saya hanya berdiam diri dalam luka.
                Kata teman saya itu namanya jatuh hati, cinta pertama. Jatuh hati ? Apa rasanya? Saya belum pernah jatuh hati, dan saya ingin merasakan cinta pertama saya pada istri saya kelak. Lantas ia kah yang akan menjadi istri saya kelak?
                “Ehem, ehem,” suara batuk yang disengaja itu keluar begitu saja tanpa saya sadari saat berpas-pasan dengannya. Kebetulan saya sedang tidak bersama dengan teman saya, begitupula dengannya. Ingin saya ralat rasanya suara batu itu, namun terlambat ia melihat saya.
                “Oh, Hai!” jawabnya singkat. Tak ada lagi senyum yang dulu sering saya lihat.
****
Hanya batuk? Memangnya batuk itu bentuk kataan sapaan di tahun 2012? Kamu jahat! Gak gentle! Mungkin kamu memang cinta pertamaku, dan masih di hatiku hingga detik ini., tapi aku rasa kamu bukan orang yang cocok jadi imamku kelak, jika menyapapun kamu tak bisa.



Sabtu, 22 September 2012

Lost



Kamu menangis lagi. Sudah entah untuk yang keberapa kalinya dalam enam bulan ini kamu menangis demi seorang laki-laki. Dan sudah entah untuk yang keberapa kalinya kamu memintaku menemanimu. Hey kamu tidak sendiri! Ada mereka sahabat-sahabatmu yang akan selalu menemanimu. Mungkin kamu tak tau, tapi aku selalu memperhatikan ketulusan mereka saat menemanimu yang sedang terjatuh.
Kamu juga punya aku kan? jangan sedih lagi ya, karena kamu tak sendiri. Ada aku yang selalu ada denganmu yang siap tersesat bersamamu. Ups, mungkin kamu yang akan tersesat bersamaku. Hahaha. Sudah ih, hapus air matanya!
Kamu lalu menghapus airmatamu, kemudian mengengamku erat, membuat simpul nelayan, menggantungkanku diantara teralis gorden jendela kosanmu. Lalu kamu paksa aku menggenggam lehermu kuat di udara. Kamu  tersenyum.

Ya, aku hanya seikat tali tambang.

BUNDA


Aku sayang bunda, tiga kata itulah yang mendeskripsikan aku tentang perasaanku ke bunda.
Tak banyak cerita yang aku ingat tentang beliau karena semakin berjalannya waktu ingatanku tentang masa lalu pun semakin menghilang. Kata orang, kamu sangat menyayangiku. Aku selalu ditimang, selalu dimanja. Hmm, andai aku bisa mengingat masa lalu tentangmu.

Aku mengelusmu, mungkin selayaknya yang sering kamu lakukan padaku dulu.
“Pergi kamu!” usir seorang gadis mendorongku jatuh terjerembab kepelukanmu. Bahkan hingga detik ini kamu masih saja mencintaiku. Kamu memelukku dengan lembut.
“Giska, jaga kelakuanmu!” jerit lelaki yang ada di belakangnya. Aku tak mengerti dengan apa yang mereka perdebatkan, nampaknya mereka seorang kekasih yang sedang bertengkar.
“Tapi, Pah! Dia telah membunuh bunda!” ucap gadis itu lagi.
Siapa? Siapa yang berani membunuh bunda? Bunda masih di sini kok, dia bahkan mendekapku saat ini. aneh!  Aku segera berdiri medekati gadis itu untuk bertanya.
“Giska, dia adikmu! Dia, hanya tidak tau apa-apa,nak,” ucap lelaki itu mulai melembut.
“Dia itu siapa sih? Kalian siapa sih? Bunda baru saja memelukku. Kalian jangan asal tuduh-tuduh orang lain. Dosa tau!” ucapku ikut ambil berbicara.
“Aku benci dia Pah! Aku gak akan mau ke makam bunda kalau masih ada dia! Kenapa dia masih terus-terusan di makam ini seperti orang tolol? Kenapa dia tidak dimasukkan kepenjara atau rumah sakit jiwa sekalian!” ucap gadis itu meracau. Aneh. Sepertinya dia yang gila.
“Giska, kamu kembali lah ke mobil. Ayah tak ingin berdebat. Ayah tak ingin ikut gila seperti adikmu, dan membunuh orang lain karena bertengkar denganmu.”
Aku kemudian bergeming. Dasar manusia jaman sekarang! kalau gila malah nuduh-nuduh yang lain. Masa batu nisan dibilang gila? Memangnya batu nisan orang?

Minggu, 16 September 2012

Tentang Dendam


 Gw mungkin orang pendendam tapi gue bukan orang yang akan menyimpan dendam dan melupakannya tiba-tiba. Gue lebih suka to the point dan marah-marah saat itu juga dan kemudian melupakan. Atau seenggaknya gue lebih milih diem dibanding berbicara. Tapi apa semua orang kayak gitu? Gak kan, semua orang punya reaksi yang berbeda-beda tentang dendam, dan di situlah masalahnya……
Jujur, gue bukan seorang muslim yang taat. Solat aja kadang-kadang absen, ngaji cuma 1 bulan sekali dan pengetahuan gue tentang agama mungkin bisa dibilang minim.  Gue Cuma berusaha menjadi lebih baik setiap harinya walau malas kadang mengganggu.
Gue orang lebih suka membaca dan mendengar dibanding menanggapi, Sillent reader mungkin, jadi ketika ada berita-berita miring tentang islam/muslim gue pasti cuma diem sambil melihat respon orang-orang. Semisal pernyataan tersirat akhir-akhir ini tentang rohis tempat bermulanya teroris. Gue gak bisa bilang gak, dan gue gak bisa bilang iya karena pernah jadi rohis juga *heran ya, orang g bener kayak gue bisa jadi rohis* dan pastinya sistem rohis dan bimbingan rohis di sekolah-sekolah kan beda. Waktu jaman SMP gue ikutan sih, kayaknya biasa-biasa aja deh.  Waktu SMA sih gue g ikutan dengan alasan gue g suka dengan paham yang dianut oleh beberapa anak rohis SMA gue tapi itu bukan berarti rohis di SMA gue mengarah teroris ya.. gak sama sekali! Balik tentang isu rohis yang mengarah ke teroris gue masih aja diem, sambil baca-baca respon orang. Gue lebih milih diem daripada ikutan berbicara dan ke bawa emosi. Karena 1 respon yang salah bisa membuat hancurnya perpecahan kan?
Dan pagi ini gue baru aja baca isu serupa tentang muslim. Isu ‘trailer film Innocence Of Muslims’, film apa sih itu? kenapa pada ribut? Gue lagsung googling mencari penjelasan dan sayangnya trailer itu tidak bisa dibuka di Indonesia. Jadi gue hanya bisa melihat beberapa adegan yang sungguh menjatuhkan, lewat rekaman berita dibeberapa stasiun tv luar negri yang menjelaskan film ini, dari hasil pencarian yang saya lakukan film ini sukses membunuh duta besar AS di Libya. Inilah yang sering saya sebut DENDAM.
Jujur saya kecewa, bukan hanya tentang isi film yang menghina rasullah tetapi juga film ini bisa menimbulkan konflik yang bermula dari masalah sepele ini. Lalu harus siapa yang disalahkan atas meninggalnya beberapa orang di Libya? Kemarahan penduduk Libya kah? para pemeran dan semua orang yang terlibat dalam film itu kah? atau kah, sesimple masalahnya, yaitu film tersebut.
Masalah yang muncul tak hanya sampai di sana. gunjang-ganjing saling menuduh pun riuh di comment-comment youtube. Siapa kah yang benar? Nonsen! Mungkin ini hanya semacam euphoria dari film tersebut, namun dapat memberi luka yang dalam. Hal-hal semacam ini yang dapat menimbulkan dendam. Kenapa? Karena film ini menyakiti hati para muslim, dan menyulut emosi sesaat di Libya, tindakan ini kemudian menyakiti hati warga AS, LALU SIAPA LAGI KAH YANG AKAN DISAKITI DAN TERSAKITI AKIBAT FILM INI?
Harus kah saya diam, haruskan saya berkomentar, haruskah hati saya ikut terluka dengan komentar-komentar pedas yang siap mengkritik komentar saya? Lagi-lagi ini hanya masalah kecil yang bermulai dengan kata DENDAM. 


Jumat, 24 Agustus 2012

Telaga Bodas *3

sebelumnya di ---> Telaga Bodas *2

Mulai dari perkebunan lokal milik penduduk ini lah mulai ketahuan aslinya satu-satu, gue yang boyor mampus, Dewi yang masih kayak dewi khayangan yang baik hati dan penuh senyum, Dudin yang Banci kamera, Halim si om-om penyemangat dan suka masak, dan si Abay dengan jiwa pemimpinnya. Nanya-nanya penduduk desa selalu aja, bilangnnya sejam lagi. Padahal ini udah mau jam 3 sore, ngok. Gue pikir 1 jam lagi itu ya, 1 jamnya  penduduk desa yang dengan kata lain bisa 2-3 jam lagi bagi yang tidak terbiasa.
Pemandangan dari atas Perkebunan warga
Jalan setapak di perkebunan warga


gue udah mulai boyor lagi, heu
Dudin udah mulai keliatan banci kameranya

jalan terakhir sebelum  memasuki kawasan hutan

bukit yang bisa-bisanya Dewi bilang cokodot dan brownies
Setelah melewati perkebunan dan desa terakhir perjalanan mulai berliku dan memasuki hutan namun jalan utama kembali besar seperti sebelumnya. Setengah jam berjalanan, pepohonan mulai dengan ketinggian rendah, pohon cantigi terlihat dan bau belerang mulai tercium.
pepohonan yang ketinggian rendah *sungguh menipu*

 Rasanya senang banget! Berarti bentar lagi lah ya nyampe. Setengah jam, 1 jam…. Kenapa belum nyampe-nyampe juga? Mana bau belerangnya ilang lagi. *mulai stress* Badan gue udah gak bener baru jalan gak nyampe 10 menit gue udah mau duduk melulu bawaannya. Si Halim mulai dengan menyemangati gue sampe manggil-manggil gue casis (calon siswa). *udah bete kali ye die sama gue* hahahaha, berulang kali gue nyuruh dia duluan, tapi tetep dia nungguin gue, makasih ya Halim. You’re my hero! J
Si Halim yang terus-terusan nyemangatin gue
Jam 4 kurang dan ternyata kita baru nyampe di pertigaan antara Telaga Bodas, Tasik dan Garut! Ya salam, beneran latihan tracking ke Semeru ini mah gue! hampir setengah jam kami di pertigaan, beristirahat melepas lelah. Gue udah bisa senyum-senyum lagi. Jam 4 lewat kami melanjutkan perjalanan dengan harapan jam 5 kurang bisa sampai di Telaga Bodas. Gue yang boyor ini disuruh jalan duluan bareng si Dewi.
plang pertigaan jalan antara Telaga Bodas, Garut dan Tasik
Pemandangan setelah dari pertigaan 
Jalannya penuh dengan PHP. Udah ya lurus sampe mentok, ternyata masih ada belokannya lagi, beberapa kali selalu seperti itu. sampai jam 5 kurang kami sampai di tempat bertulis kan Telaga 2. Dari jauh terlihat air terjun, dan pertambangan kecil milik pertamina, namun tidak ada tanda-tanda adanya Telaga. Di sini gue bisa-bisanya bersumpah serapah, gue mau bermalam di sini aja udah cukup gak perlu sampai Telaga Bodas juga gak apa-apa, besok gak mau puasa. *niat gue udah gak bener nih*

Istirahat sebentar Abay bertemu dengan dua bapak-bapak bocengan naik motor yang hendak turun ke bawah. Si bapak menyetop motornya dan kami mengobrol panjang lebar. si bapak menunjukan bahwa dekat dari tempat kami beristirahat ada telaga 2 namun tak ada yang menyadari. Kata si bapak 1 jam kurang lah sampai di Telaga Bodas utama. *dari tadi 1 jam terus, gue udah mau nangis darah aja nih*
plang yang kami temukan di semak-semak
Setelah si ke dua bapak itu pergi kami melanjutkan perjalanan. Kurang lebih 10 menit jalan kami baru sadar,emang Telaga 2 letaknya di tempat kami beristirahat tadi namun tertutup dengan pertambangan pertamina. *siake* 
Telaga 2 yang tak terlihat mata
Telaga 2 dari dekat
Kami kembali melanjutkan perjalanan dan gue kembali kelelahan. Rasa syukur datang saat ada saung OPALIN (organisasi pencinta lingkungan dan hutan) yang terlihat, Dudin bahkan sampai sujud Syukur. DAN LO TAU GAK?! Si Telaga Bodas muncul juga! ALLAHUAKBAR!
gue langsung semangat 45' liat bendera opalin
Dudin sujud syukur *di belakang plang itu langsung Telaga Bodas*
Telaga Bodas yang beerkabut sore hari
si Abay nunjuk-nunjuk bahagia
Si Dewi mau di Foto jug akhirnya


santai-santai sebentar
Setelah menemukan Telaga Bodas. Kami segera mencari saung yang diceritakan dua bapak di telaga 2 tadi. Sekitar setengah 6 Sore kami baru sampai saung yang disebutkan tadi. Di dekat saung itu ada kolam air panas. Hua, rasanya surga banget nyelupin kaki di sana abis capek-capek gini. J
saung yang bapak tadi bilang
kolam air panas nih
yang tadinya gak ada niatan nge-camp terpaksa harus nge-camp karena hari mulai gelap dan gak mungkin pulang malam ini juga. Demi-nya! Gak nyesel deh bermalam di sana, bintang-bintangnya terang banget! Beberapa ada yang jatuh malah. Jam 8 malem gue udah mulai ngantuk bahkan ajakan Dewi untuk solat tarawih berjamaah gue tolak. *maaf ya Dew* tapi ya tapi tetep aja gue gak bisa tidur. Dingin mampus! Baru jam 10an pas anak-anak mau tidur gue baru bisa tidur karena tendanya jadi anget! J
                Untung sumpah serapah gue gak kesampaian karena gue tetep sahur dan puasa besokknya. Selesai sahur kita kembali tidur lagi. Makasih ya Om Halim yang udah mau masakin buat kita. J jam 7an pas gue bangun si Dewi udah gak ada di tempat ternyata dia udah main air di kolam air panas. 

*lupa sama aurat* heu


di sekitaran sini nih banyak ditemukan pakaian dalam
Sayang di sekitaran air panas banyak ditemukan pakaian dalam. -____- di sana ada mitosnya kalau ak ninggalin pakaian dalam abis mandi di sana bakal diikuti penunggu di sana. gue gak tau sih benar apa kagak tapi yang pasti itu cuma ngerusak lingkungan kan? gue dan anak-anak kagak ada yang buang pakaian dalam di sana? kita kan vinta lingkungan *gue curiga sih, gara-gara kita gak ada yang bawa pakaian dalam ganti :P * 
Hmm, udah deh kebanyakan cerita juga males bacanya toh? Langsung aja deh liat foto-fotonya. J
sulfur yang mengendap di bebatuan
kayak di bawah laut ya? :)


Dewi kayangan turun dari langit :)
kolam air panas



*susur Telaga Bodas pun dimulai*








luapan dari bawah bumi
Telaga Bodas


gak tau ini apa tapi kayak permata.. :)
Pasukan lengkap









Telaga Bodas *2


Oke lanjut lagi ya.. udah lumayan basi sih, udah dua minggu yg lalu, tapi ya, daripada punya PR terus dan gue udah keburu lupa ingatan. Let’s go aja deh. ini tulisan sebelumnya  à Telaga Bodas *1 (Perjalan yang mengubah pola pikir gue)

Memasuki kecamatan Wanaraja, perumahan penduduk terlihat  di sekitar jalan utama namun tak sampai 5 menit berjalan, perumahan mulai jarang terlihat. Jalan utama ini teraspal dengan baik tak ada jalan rusak. Sekitar 20 menit berjalan kita mulai curiga karena menemukan sebuah  SD tercetak alamatnya dengan alamat Jl. Telaga Bodas no. sekian *gue lupa*. Jangan-jangan kita salah, jangan–jangan ini cuma semacam nama jalan yang sering ada di kecamatan seperti di dekat rumah gue ada jalan namanya jalan Surya Kencana, bukan berarti rumah gue dekat dengan surya kencana yang ada di Gunung Gede kan?
Rumah penduduk masih berdekatan
Rumah Penduduk mulai berjarak

awal-awal perjalanan 
Bermodal nekat kami melanjutkan perjalanan, begitu ada beberapa bapak-bapak yang sedang duduk-duduk di lapangan yang terletak di kanan jalan, langsung Halim dan Dudin bertanya. dan tau gak jawaban si bapak-bapak itu? Ini sedikit gue translate ya, rada lupa bapaknya ngomong apa waktu itu.

“Bener kok, ini jalan yang menuju Telaga Bodas. Lurus, lurus aja terus. Paling jam 4 lah nyampe, hahaha,” jawab si bapak itu terkekeh.
Gue cuma bisa terdiam sambil berdoa tawa si bapak itu memang mengartikan candaan. Jam dua pasti nyampe kok, gak akan sejauh yang bapak itu bilang, hibur gue dalam hati.

          Jalan sekitar 40 menitan, gue udah mulai ngos-ngosan, padahal jalan dari tadi masih rata dan datar belum ada tanjakan. Abay, Halim dan Dudin mulai mencari tumpangan. Beberapa kali truk dengan bak terbuka pembawa pasir atau batu-bata melewati kami. Panas siang mulai menerjang. Apalagi tak ada pohon yang terlihat. Kanan kiri jalan mulai sepi, jarak antar satu rumah dengan rumah lainnya mulai membesar, diselingi dengan beberapa pengeringan daun tembakau dan terkadang batu bata, nampaknya 2 komoditi ini adalah mata pencarian penduduk Wanaraja. Dua kali menyetop truk-yang kalau sebutuan si dewi mah dolang-dua kali pula tak digubris. Yang ketiga digubris dengan senyum, namun tetap ditolak dengan halus. Ya tuhan, nasib, ya nasib.
          Ke empat kalinya saya sudah tak begitu peduli namun kali ini si bapak mengizin kan kami naik, padahal truknya penuh batu bata dan tiga kuli yang duduk di bak terbuka tersebut. Siap-siap gue naik ke bak terbuka dan…. Gue gak bisa naik ke atas bak terbuka ternyata.heu.  si bapak supir nampaknya kasihan ngeliat gue, akhirnya gue dan Dewi duduk di depan. Gue udah parno sendiri aja, gue kan paling gak bisa memulai pembicaraan, dan gue gak bisa terbuka sama orang yang belum gue kenal, jadi lah percakapan di dominasi Dewi dengan si bapak supir sementara gue hanya menjadi pendengar yang baik. Dari obrolan Dewi yang menggunakan bahasa sunda dan gue gak ngerti sampai akhirnya si bapak mengakui bahwa dia bukan orang sunda tapi orang Sulawesi. Dari obrolan singkat itu juga gue sedikit terkesima dengan si bapak yang menyekolahkan anaknya sampai di jenjang perkuliahan. Si anak bahkan sempat bercita-cita masuk ekomoni Unpad namun sayang tidak lolos dan dari cerita si bapak anaknya sekarang kuliah di UIN Bandung.
15 menit dapat tumpangan gratis dan cerita seru dari si bapak, kami berempat harus turun, karena tujuan si bapak bukan ke Telaga Bodas. *gue lupa mau ke mana si bapak* kata si bapak sih, kalau jalan cepat 1 jam lagi kalau jalan santai 2 jalm lagi. Hmm, okelah kalau dua jam lagi gue sedikit lega. Begitu turus sebenernya gue rada syok jalan tidak lagi beraspal dengan mulus, penuh bebatuan dan menanjak saudara-saudara! Mampus deh eike mesti lebih strong nih!
perjalanan, saat dari tumpangan truk gratis


perjalanan begitu menakjubkan namun pemandangannya tak kalah menakjubkan.. :)


Ternyata jalan mendatar dan menanjak itu rasanya beda banget! Padahal menanjakknya juga gak terlalu vertical, tapi gue udah mulai ngos-ngosan lagi. Belum lagi angin meniupkan debu yang gak nanggung-nanggung. Gue beristirahat sebentar di depan musolah. Di desa ini nampaknya banyak musolah, Dewi dengan setia menunggui gue yang sudah terseok-seok. *makasih ya dew J* si Dewi yang ramahnya gak ketolongan itu selalu nyapa penduduk yang ia temui sementara gue Cuma bisa senyum udha gak kuat ngomong. Penduduk nampaknya pada syok pas kita bilang mau ke Telaga Bodas, siang-siang begini, puasa pula. Ada seorang nenek yang berpayungan dan ketika di sapa Dewi, ia nampak syok.
“neng daék kamana, beurang-beurang kieu?’ ( neng, mau kemana, siang siang begini?)
“Nuju, ka talaga bodas, bu..” (ke telaga bodas bu)
‘”Jalan kaki? Ya, ampun panas, neng. Nanti hitam. Berapa orang? sewa mobil bak aja atuh. Nanti capek lagi puasa-puasa gini,” ß udah ah, gue nyerah, ini pokoknya kurang lebih kayak gini aja artinya.
Bukan  hanya nenek yang kita temui di jalan yang syok, beberapa penduduk desa juga syok, bahkan memberikan kami jalan pintas menuju Telaga Bodas. Namun karena takut nyasar kamu memilih jalan utama. Perjalanan dilanjutkan dengan perkebebunan warga, dari sini jalan mulai mengecil dan menanjak tajam di beberapa titik, gue beristirahat beberapa menit sebelum memasuki perkebunan warga.


beberapa rumah sebelum menuju perkebunan warga





*bersambung*

Baca cerita selanjutnya di sini ya :) --> Telaga Bodas *3