Ara mengelus-elus rambutnya yang basah terkena rintik hujan.
Ara lupa membaya payung, untungnya hanya hujan kecil. Tas ranselnya penuh
muatan dan Ara masih harus menggenggam plastik belanjaan berisi camilan dan
minuman ringan. Hari ini Ara akan pulang ke rumah, menyambut libur tahun baru
bersama keluarga setelah hampir dua bulan ia tak pulang. Ara sebenarnya enggan
pulang ke rumah, enggan menghadapi kenyataan bahwa kini ia tak lagi bersama
Satria-pacarnya dulu.

Empat tahun bersama Satria dalam suka dan duka, bukanlah hal yang sepele. Namun melihat Satria menggenggam manis Nina-sahabat dekat Ara, bukanlah hal yang sepele juga. Satria kemudian lebih memilih Nina tanpa persetujuan Ara terlebih dahulu. Kini kembali ke rumahnya, kembali ke kota tempat tinggal Satria dan Nina tentunya hanya membuka luka lama.
Angkot coklat kemudian memperlambat gerakannya. Menurunkan
dua orang penumpang di dekat tempat Ara berdiri. Hujan kemudian mulai melebat.
Tak ingin berlama-lama dalam kekalutan, Ara segera masuk ke dalam angkot
tersebut. Duduk di samping kanan pintu angkot. Mata Ara menyapu seluruh bagian
Angkot. Ara biasa melakukan ini, entah untuk antisipasi atau untuk melupakan
sesuatu.
Penumpang di dalam Angkot cukup sepi. Hanya ada 3 orang
penumpang tanpa Ara. Satu di depan bersama pak supir, satu duduk di sebelahnya
dan satu lagi duduk berhadapan dengan Ara. Mata Ara terpaku pada sosok di depanya.
Seorang pria bermata coklat, berambut ikal sebahu, memakai kaus oblong berwarna
putih, celana pendek selutut dan satu tas ransel berisi penuh. Nampaknya pria
ini juga seorang mahasiswa di perguruan tinggi tempat Ara kuliah.
Satu persatu penumpang turun.
“Kiri, pak!”ucap pria yang sedari tadi Ara curi pandang. Ara
mengalihkan pandangannya, seolah tak peduli.
Bunyi benda jatuh bersentuhan dengan tempat duduk kayu di
depan pintu angkot. Mata Ara segera menyelusuri dari mana asal suara tersebut.
Sebuah payung bewarna coklat terjatuh. Kemungkinan besar adalah milik pria
bermat coklat tadi. Ara akan segera berteriak ketika menyadari pria itu sudah
tak ada.
Tiga menit setelahnya angkot yang Ara tumpangi berhenti. Ara
turun di pertigaan dekat dengan gerbang tol menuju rumahnya. Ara segera
membayar ongkos dan segera berlari menuju halte, menunggu bus tiba, menunggu
hujan mereda.
“Neng, payungnya!” ujar supir angkot setengah berjerit.
“Bukan punya saya pak,” jawab Ara jujur.
“Bawa saja, Neng. Ini hujan deras,” ucap supir angkot,
mengambil payung yang masih terletak manis di kursi kayu dekat pintu.
Ara menerimanya setengah terpaksa. Bagaimana nanti sang
pemilik mencarinya? Tapi jika tidak Ara bawa kemungkian besar tas ransel berisi
laptop dan beberapa buku pelajaran yang ia bawa akan basah.
*
Turun dari angkot berwarna hijau,
Daru baru sadar payungnya tertinggal entah dimana. Sepertinya saat Daru
mendengar samar suara sesuatu berdebum dengan kayu. Daru terpaksa menembus hujan
deras, menyebrang jalan untuk sampai di pemberhentian bis yang ia biasa gunakan
untuk pulang. sudah bis ketiga yang sejalan dengan tempat tinggalnya lewat tapi
selalu penuh. Baru dibus yang ke empat Daru berhasil duduk dengan nyaman.
Tentunya dengan melupakan pakaiannya yang basah kuyup. Ia setengah kedinginan
dan meruntukin kebodohannya menghilangkan payung.
Daru terdiam beku melihat hujan yang semakin menderas dari
balik kaca bis yang sudah berjalan. Daru benci hujan, tapi juga mencintai hujan.
Daru benci hujan yang membunuh Kirana tunangannya.


Daru memejamkan matanya berusaha untuk tidur, berusaha untuk melupakan masa lalunya. Nihil, bayangan-bayangan tentang Kirana muncul kembali. Bagaimana bisa ia melupakan kejadian tragis tahun itu?
*
Ara terpaksa jalan kaki menuju tempat khusus untuk
pemberhentian bis yang ia biasa tumpangin. Percuma menunggu di halte hampir
lebih dari 15 menit. Tak ada bangku kosong di sana, orang-orang sudah merapat
penuh, untuk sekedar meneduh di halte.
Udara dingin disertai hujan menerpa tajam Ara. Payung bahkan
sudah tak dapat melindunginya lagi. Satu demi satu hujan memulai membasahi
pundaknya yang tak tertutup payung. Ara masih berusaha keras menuju tempat
pemberhentian. Tidak ada satupun bis jurusan yang searah rumahnya yang mau
berhenti. Wajarlah tempat pemberhentian bus yang resmi hanya di halte dan
pemberhentian khusus.


Ara berhasil mendapatkan tempat duduk di bangku khusus perokok. Ada rasa syukur dan jengah bersatu-satu, takut-takut ada yang merokok di depannya. Mata Ara mendelik mecari pria pemilik paying yang ia gunakan. Mungkin saja pria itu menaiki bus ini juga kan? Sepertinya percuma, apa yang bisa Ara lakukan jika ia duduk di bangku paling belakang bis?
Ara kembali mengenang Satria. Hah, lelah kadang setelah
setengah percaya Satria sudah tidak ada di hatinya, namun lengah sedikit
ternyata Satria masih ada. Ara bisa saja memaksa Satria untuk tidak
mencampakannya. Namun satu kelakukan Satria yang membuat Ara memutuskan
menyerah.
Kelakuan Satria yang tidak mau mengalah dan tidak mau
disalahkan. Kejadian kala hujan itu, saat peertengkaran antara Satria dan Ara
terjadi. Satria tak memperhatikan kemudi mobilnya. Satria menabrak seorang
gadis. Satria kemudian kabur, tanpa memedulikan sang korban. Ara sangat benci
sifat Satria yang satu ini.
*
Daru terbangun. Ia sudah sampai di
terminal Lebak Bulus. Sebagian besar penumpang sudah turun di Pasar Rebo tadi. Hujan
masih deras mengguyur. Daru segera bergegas menerabas hujan.
*
Ara terdiam sebentar seperti
mengenali pria yang berdiri di depannya, menunggu giliran turun. Pria itu
kemudian tergesa-gesa turun menerabas hujan deras. Ara menyadari sesuatu. Pria
itu pemilik payung yang ia gunakan.
*
Aneh, derasnya hujan tak lagi
menusuk sisi kulit Daru. Daru mendelik saat meyadari sudah ada seorang gadis dibelakangnya.
Memayunginya. Gadis itu basah kuyup.
“Maaf, ini payungnya ketinggalan,”
ucap gadis itu, setengah menggigil.
Daru terdiam kelu. Mengingat-ingat pertemuannya dengan Kirana
dulu. Saat hujan deras mengguyur. Saat Daru tak membawa payung. Saat Daru
mencekal habis-habisan karena ia ditunangkan dengan gadis yang tak dikenalnya,
Kirana.

*
Dua mata saling bertemu. Memberi sebuah
telepati yang hanya dimengerti oleh kedua pihak. Menimbulkan rona merah. Membakar
dinginnya hujan malam. Sayangnya ini bukan cerita picisan. Ini kehidupan! Entah Ara akan jatuh cinta dengan Daru, entah Daru
akan bisa melupakan Kirana atau pertemuan ini akan berlalu begitu saja. Tidak akan
ada yang pernah tau. Aelayaknya siklus hujan yang kadang menderas dan kadang menepi. Hanya hujan yang tau bagaimana kisah keduanya.












































