Minggu, 14 Oktober 2012

Tentang Waktu



“Win, itu dia orangnya. Ayo sini saya kenalkan,” ucap Pak Ramli menunjuk seseorang di kitchen room, resort.
                Padanganku teralih, menuju orang yang dimaksud. Orang itu maju mendekati kami. Aku tertegun. Wajah itu. raut itu.
                “Selamat pagi Chef Mardi. Ini Wina, orang yang akan menulis wisata-wisata kuliner di Kepulauan Riau. Win, Ini Chef Mardi,” ucap Pak Ramli lagi.
                “Mardi,” ucap orang itu hendak menjabatkan tangannya padaku. Aku hanya bergeming, tak mampu bertindak untuk melakukan apapun.
Orang itu Mardi! Ya Mardi, orang yang dulu pernah mencampakkan perasaanku yang baru saja tumbuh. Kenapa ia harus ada di sini? Sejauh ini? sejauh jarak Jakarta Batam?
                “Win?” senggol pelan Pak Ramli.
                “Eh, Oh. Wina,” ucapku akhirnya menyambut tangan Mardi.
***
                “Apa kabar Win?” ucap Mardi memecahkan keheningan yang sudah tercipta hampir 1 jam saat menuju salah satu temapat penjualan bingka bakar di  Kepulauan Riau.
                “Baik,” jawabku dingin. Kemudian keheningan kembali tercipta.
Aku kembali sibuk dengan pikiranku. Ya tuhan, kenapa liputan kali ini harus penuh konflik batin? Kenapa aku harus dipertemuakan lagi dengan Mardi? Kenapa pikira-pikiran lalu, saat aku jatuh hati padanya terulang kembali? Kenapa harus Mardi, yang masih saja mampu mengganggu pikiranku hingga detik ini? kenapa harus Mardi, orang yang jelas menolakku mentah-mentah, yang menjatuhkan harga diriku?
Oke, memang aku yang gila. Bisa-bisanya aku menyatakan perasaanku, padahal jelas-jelas hal itu tidak ada dalam kamusmu. Tapi kan aku hanya menyatakan perasaanku bukan lalu mengajaknya untuk berpacaran. Lalu mengapa setelah aku menyatakan perasaanku dia malah menjauh? Kenapa banyak pertanyaanku yang tak digubrisnya? Kenapa seoalah-olah kita tak saling mengenal? Kenapa saat bertemu tak saling menyapa malah seolah-olah menyibukkan sesuatu?
Tanpa harus ada Mardi di sini pun sebenarnya aku bisa liputan sendiri. Memang sih, aku hanya penulis di sebuah majalah travelling, tapi dulu aku juga kuliah di jurusan pangan, paling tidak masih ngerti lah kalau harus liputan tentang makanan kuliner. Toh buktinya aku juga harus nge-liput bareng Mardi yang jelas-jelas temen sekampus dulu. Lulus kuliah juga aku duluan berarti kan pinteran aku ketimbang Mardi.
“Win, udah nyampe. Turun yuk,” ucap Mardi menyentuh tanganku, menyentak kebisuaan di mobil selama diperjalanan. Aku meliriknya tajam tanda tak suka dengan apa yang ia perbuat.
***
“Win, gue mau ngomong sama lo,” membuka pembicaraan ketika menu makan telah selesai dipesan. Sialnya, aku hanya berdua dengannya, Pak Romli tiba-tiba ada urusan mendadah. Duh, Gusti!
“Ngomong apa?” tanyaku sinis. Kupaksakan kali ini menatap matanya tanda bahwa aku tak pernah kalah.
“Maaf,” jawab Mardi.
Aku terdiam. Hati ini mencelos, melihat ketulisan dari sorot matanya. Maaf untuk apa? memangnya kali ini aku menyatakan cinta lagi padanya? Emosi ku kembali tersulut, rasa benci dan kesal kembali menyeruak. Tak ada yang bisa kulakukan selain menahan air mata “Untuk?” tanyaku kelu.
“Untuk semua yang pernah gue lakukan ke lo dulu. Untuk semua kebohongan hati selama ini. Win, gue jatuh hati sama lo. Udah lama. Sebelum lo bilang lo punya perasaan ke gue,”
Aku membatu. Hanya air mata kini benar-benar tak bisa tertahan. Seolah menyakinkan selama ini aku terus menunggunya.
“Win. Lo mau maafin gue kan?”
“…..”
“Win, gue….. Gue cuma hanya takut bakal menghancurkan reputasi lo dulu. Lo tau gue kan? anak koruptor? Gue gak mau lo dihujat yang gak-gak sama anak-anak yang lain!”
Aku kembali mengingat masa lalu. Justru karena Mardi anak koruptor, hubungan kita bisa jadi dekat. Banyak percakapan, senda-gurau, bahkan curahan hati yang tersampaikan. Memang tak banyak yang tau kalau kami berdua dekat. Lantas jika akhirnya menjalin hubungan apa salah? Perduli apa aku dengan omongan orang lain? Yang korupsi kan orang tuanya, bukan Mardi!
“Terus kalau lo anak koruptor, Lo berhak ngejauhin gue? Lo berhak gak peduli sama gue? seolah-olah gue ini, mahluk yang menjijikan  yang gak pantes berinteraksi dengan lo?” emosiku kembali menjalar. Meminta penjelasan yang selama ini tak pernah terjawab.
“Maaf, Win kalau gue salah. Tapi hanya itu cara satu-satunya untuk membunuh perasaan gue ke lo,” ucap Mardi mengelus lembut pipiku yang basah.
“Gue sayang sama lo, Di,” ucap gue, memecahkan pertahan yang selama ini gue ciptakan.
“Gue juga Win. Hingga detik ini pun masih sama. Lo mau kan maafin gue?”
Aku hanya mengangguk tak mampu berkata. Terlalu banyak yang terungkap. Ada rasa bahagia yang kembali menyeruak di hati namun ada juga rasa kelu yang tak sanggup dijelaskan. Aku harus bagaimana?
                “Win, boleh kan kita memulai semuanya dari awal dalam ikatan pernikahan?”
                Pertanyaan ini. Pertanyaan yang pernah terbanyangkan, bahkan sebelum kami bertemu kembali di sini. Pertanyaan yang seharusnya menjawab semua pertanyaan dan permintaanku selama ini pada Tuhan. Gusti, boleh kah, aku masih memendam perasaan pada Mardi saat ini?
                “Mardi. Makasih. Makasih….” ucapku lirih, sambil tersenyum pias. Sedetik kemudian, Mardi memelukku dari belakang. Hatiku bergetar. “Tapi gue gak bisa, Di. Minggu lalu gue udah dilamar sama Pak Ramli, dan gue setuju. Maaf,”
                Mardi melepaskan dekapannya dariku. Aku memalingkan wajahku agar aku dapat melihatnya. Semua seolah berbalik. Mardi terdiam, berusaha menahan air matanya dan aku yang menyatakan kata ‘maaf’. Hanya waktu yang mampu menjelaskan pertanyaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar