“Win,
itu dia orangnya. Ayo sini saya kenalkan,” ucap Pak Ramli menunjuk seseorang di
kitchen room, resort.
Padanganku teralih, menuju orang
yang dimaksud. Orang itu maju mendekati kami. Aku tertegun. Wajah itu. raut
itu.
“Selamat pagi Chef Mardi. Ini Wina,
orang yang akan menulis wisata-wisata kuliner di Kepulauan Riau. Win, Ini Chef
Mardi,” ucap Pak Ramli lagi.
“Mardi,” ucap orang itu hendak
menjabatkan tangannya padaku. Aku hanya bergeming, tak mampu bertindak untuk
melakukan apapun.
Orang itu Mardi!
Ya Mardi, orang yang dulu pernah mencampakkan perasaanku yang baru saja tumbuh.
Kenapa ia harus ada di sini? Sejauh ini? sejauh jarak Jakarta Batam?
“Win?” senggol pelan Pak Ramli.
“Eh, Oh. Wina,” ucapku akhirnya
menyambut tangan Mardi.
***
“Apa kabar Win?” ucap Mardi
memecahkan keheningan yang sudah tercipta hampir 1 jam saat menuju salah satu
temapat penjualan bingka bakar di Kepulauan
Riau.
“Baik,” jawabku dingin. Kemudian
keheningan kembali tercipta.
Aku
kembali sibuk dengan pikiranku. Ya tuhan, kenapa liputan kali ini harus penuh
konflik batin? Kenapa aku harus dipertemuakan lagi dengan Mardi? Kenapa pikira-pikiran
lalu, saat aku jatuh hati padanya terulang kembali? Kenapa harus Mardi, yang
masih saja mampu mengganggu pikiranku hingga detik ini? kenapa harus Mardi,
orang yang jelas menolakku mentah-mentah, yang menjatuhkan harga diriku?
Oke,
memang aku yang gila. Bisa-bisanya aku menyatakan perasaanku, padahal
jelas-jelas hal itu tidak ada dalam kamusmu. Tapi kan aku hanya menyatakan
perasaanku bukan lalu mengajaknya untuk berpacaran. Lalu mengapa setelah aku
menyatakan perasaanku dia malah menjauh? Kenapa banyak pertanyaanku yang tak
digubrisnya? Kenapa seoalah-olah kita tak saling mengenal? Kenapa saat bertemu
tak saling menyapa malah seolah-olah menyibukkan sesuatu?
Tanpa
harus ada Mardi di sini pun sebenarnya aku bisa liputan sendiri. Memang sih, aku
hanya penulis di sebuah majalah travelling,
tapi dulu aku juga kuliah di jurusan pangan, paling tidak masih ngerti lah
kalau harus liputan tentang makanan kuliner. Toh buktinya aku juga harus
nge-liput bareng Mardi yang jelas-jelas temen sekampus dulu. Lulus kuliah juga aku
duluan berarti kan pinteran aku ketimbang Mardi.
“Win,
udah nyampe. Turun yuk,” ucap Mardi menyentuh tanganku, menyentak kebisuaan di
mobil selama diperjalanan. Aku meliriknya tajam tanda tak suka dengan apa yang
ia perbuat.
***
“Win,
gue mau ngomong sama lo,” membuka pembicaraan ketika menu makan telah selesai
dipesan. Sialnya, aku hanya berdua dengannya, Pak Romli tiba-tiba ada urusan
mendadah. Duh, Gusti!
“Ngomong
apa?” tanyaku sinis. Kupaksakan kali ini menatap matanya tanda bahwa aku tak
pernah kalah.
“Maaf,”
jawab Mardi.
Aku
terdiam. Hati ini mencelos, melihat ketulisan dari sorot matanya. Maaf untuk
apa? memangnya kali ini aku menyatakan cinta lagi padanya? Emosi ku kembali
tersulut, rasa benci dan kesal kembali menyeruak. Tak ada yang bisa kulakukan
selain menahan air mata “Untuk?” tanyaku kelu.
“Untuk
semua yang pernah gue lakukan ke lo dulu. Untuk semua kebohongan hati selama
ini. Win, gue jatuh hati sama lo. Udah lama. Sebelum lo bilang lo punya
perasaan ke gue,”
Aku
membatu. Hanya air mata kini benar-benar tak bisa tertahan. Seolah menyakinkan
selama ini aku terus menunggunya.
“Win.
Lo mau maafin gue kan?”
“…..”
“Win,
gue….. Gue cuma hanya takut bakal menghancurkan reputasi lo dulu. Lo tau gue
kan? anak koruptor? Gue gak mau lo dihujat yang gak-gak sama anak-anak yang
lain!”
Aku
kembali mengingat masa lalu. Justru karena Mardi anak koruptor, hubungan kita
bisa jadi dekat. Banyak percakapan, senda-gurau, bahkan curahan hati yang
tersampaikan. Memang tak banyak yang tau kalau kami berdua dekat. Lantas jika
akhirnya menjalin hubungan apa salah? Perduli apa aku dengan omongan orang
lain? Yang korupsi kan orang tuanya, bukan Mardi!
“Terus
kalau lo anak koruptor, Lo berhak ngejauhin gue? Lo berhak gak peduli sama gue?
seolah-olah gue ini, mahluk yang menjijikan yang gak pantes berinteraksi dengan lo?”
emosiku kembali menjalar. Meminta penjelasan yang selama ini tak pernah
terjawab.
“Maaf,
Win kalau gue salah. Tapi hanya itu cara satu-satunya untuk membunuh perasaan
gue ke lo,” ucap Mardi mengelus lembut pipiku yang basah.
“Gue
sayang sama lo, Di,” ucap gue, memecahkan pertahan yang selama ini gue
ciptakan.
“Gue
juga Win. Hingga detik ini pun masih sama. Lo mau kan maafin gue?”
Aku hanya
mengangguk tak mampu berkata. Terlalu banyak yang terungkap. Ada rasa bahagia
yang kembali menyeruak di hati namun ada juga rasa kelu yang tak sanggup
dijelaskan. Aku harus bagaimana?
“Win, boleh kan kita memulai
semuanya dari awal dalam ikatan pernikahan?”
Pertanyaan ini. Pertanyaan yang
pernah terbanyangkan, bahkan sebelum kami bertemu kembali di sini. Pertanyaan yang
seharusnya menjawab semua pertanyaan dan permintaanku selama ini pada Tuhan. Gusti, boleh kah, aku masih memendam
perasaan pada Mardi saat ini?
“Mardi. Makasih. Makasih….”
ucapku lirih, sambil tersenyum pias. Sedetik kemudian, Mardi memelukku dari
belakang. Hatiku bergetar. “Tapi gue gak bisa, Di. Minggu lalu gue udah dilamar
sama Pak Ramli, dan gue setuju. Maaf,”
Mardi melepaskan dekapannya
dariku. Aku memalingkan wajahku agar aku dapat melihatnya. Semua seolah
berbalik. Mardi terdiam, berusaha menahan air matanya dan aku yang menyatakan kata
‘maaf’. Hanya waktu yang mampu menjelaskan pertanyaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar