Minggu, 16 September 2012

Tentang Dendam


 Gw mungkin orang pendendam tapi gue bukan orang yang akan menyimpan dendam dan melupakannya tiba-tiba. Gue lebih suka to the point dan marah-marah saat itu juga dan kemudian melupakan. Atau seenggaknya gue lebih milih diem dibanding berbicara. Tapi apa semua orang kayak gitu? Gak kan, semua orang punya reaksi yang berbeda-beda tentang dendam, dan di situlah masalahnya……
Jujur, gue bukan seorang muslim yang taat. Solat aja kadang-kadang absen, ngaji cuma 1 bulan sekali dan pengetahuan gue tentang agama mungkin bisa dibilang minim.  Gue Cuma berusaha menjadi lebih baik setiap harinya walau malas kadang mengganggu.
Gue orang lebih suka membaca dan mendengar dibanding menanggapi, Sillent reader mungkin, jadi ketika ada berita-berita miring tentang islam/muslim gue pasti cuma diem sambil melihat respon orang-orang. Semisal pernyataan tersirat akhir-akhir ini tentang rohis tempat bermulanya teroris. Gue gak bisa bilang gak, dan gue gak bisa bilang iya karena pernah jadi rohis juga *heran ya, orang g bener kayak gue bisa jadi rohis* dan pastinya sistem rohis dan bimbingan rohis di sekolah-sekolah kan beda. Waktu jaman SMP gue ikutan sih, kayaknya biasa-biasa aja deh.  Waktu SMA sih gue g ikutan dengan alasan gue g suka dengan paham yang dianut oleh beberapa anak rohis SMA gue tapi itu bukan berarti rohis di SMA gue mengarah teroris ya.. gak sama sekali! Balik tentang isu rohis yang mengarah ke teroris gue masih aja diem, sambil baca-baca respon orang. Gue lebih milih diem daripada ikutan berbicara dan ke bawa emosi. Karena 1 respon yang salah bisa membuat hancurnya perpecahan kan?
Dan pagi ini gue baru aja baca isu serupa tentang muslim. Isu ‘trailer film Innocence Of Muslims’, film apa sih itu? kenapa pada ribut? Gue lagsung googling mencari penjelasan dan sayangnya trailer itu tidak bisa dibuka di Indonesia. Jadi gue hanya bisa melihat beberapa adegan yang sungguh menjatuhkan, lewat rekaman berita dibeberapa stasiun tv luar negri yang menjelaskan film ini, dari hasil pencarian yang saya lakukan film ini sukses membunuh duta besar AS di Libya. Inilah yang sering saya sebut DENDAM.
Jujur saya kecewa, bukan hanya tentang isi film yang menghina rasullah tetapi juga film ini bisa menimbulkan konflik yang bermula dari masalah sepele ini. Lalu harus siapa yang disalahkan atas meninggalnya beberapa orang di Libya? Kemarahan penduduk Libya kah? para pemeran dan semua orang yang terlibat dalam film itu kah? atau kah, sesimple masalahnya, yaitu film tersebut.
Masalah yang muncul tak hanya sampai di sana. gunjang-ganjing saling menuduh pun riuh di comment-comment youtube. Siapa kah yang benar? Nonsen! Mungkin ini hanya semacam euphoria dari film tersebut, namun dapat memberi luka yang dalam. Hal-hal semacam ini yang dapat menimbulkan dendam. Kenapa? Karena film ini menyakiti hati para muslim, dan menyulut emosi sesaat di Libya, tindakan ini kemudian menyakiti hati warga AS, LALU SIAPA LAGI KAH YANG AKAN DISAKITI DAN TERSAKITI AKIBAT FILM INI?
Harus kah saya diam, haruskan saya berkomentar, haruskah hati saya ikut terluka dengan komentar-komentar pedas yang siap mengkritik komentar saya? Lagi-lagi ini hanya masalah kecil yang bermulai dengan kata DENDAM. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar