Gw mungkin orang pendendam tapi gue bukan orang yang akan
menyimpan dendam dan melupakannya tiba-tiba. Gue lebih suka to the point dan marah-marah saat itu
juga dan kemudian melupakan. Atau seenggaknya gue lebih milih diem
dibanding berbicara. Tapi apa semua orang kayak gitu? Gak kan, semua orang
punya reaksi yang berbeda-beda tentang dendam, dan di situlah masalahnya……
Jujur, gue bukan seorang muslim yang taat. Solat aja kadang-kadang
absen, ngaji cuma 1 bulan sekali dan pengetahuan gue tentang agama mungkin bisa
dibilang minim. Gue Cuma berusaha
menjadi lebih baik setiap harinya walau malas kadang mengganggu.
Gue orang lebih suka membaca dan mendengar dibanding menanggapi, Sillent reader mungkin, jadi ketika ada
berita-berita miring tentang islam/muslim gue pasti cuma diem sambil melihat
respon orang-orang. Semisal pernyataan tersirat akhir-akhir ini tentang rohis tempat
bermulanya teroris. Gue gak bisa bilang gak, dan gue gak bisa bilang iya karena
pernah jadi rohis juga *heran ya, orang g bener kayak gue bisa jadi rohis* dan
pastinya sistem rohis dan bimbingan rohis di sekolah-sekolah kan beda. Waktu jaman
SMP gue ikutan sih, kayaknya biasa-biasa aja deh. Waktu SMA sih gue g ikutan dengan alasan gue
g suka dengan paham yang dianut oleh beberapa anak rohis SMA gue tapi itu bukan
berarti rohis di SMA gue mengarah teroris ya.. gak sama sekali! Balik
tentang isu rohis yang mengarah ke teroris gue masih aja diem, sambil baca-baca
respon orang. Gue lebih milih diem daripada ikutan berbicara dan ke bawa emosi.
Karena 1 respon yang salah bisa membuat hancurnya perpecahan kan?
Dan
pagi ini gue baru aja baca isu serupa tentang muslim. Isu ‘trailer film Innocence Of Muslims’, film apa sih
itu? kenapa pada ribut? Gue lagsung googling
mencari penjelasan dan sayangnya trailer
itu tidak bisa dibuka di Indonesia. Jadi gue hanya bisa melihat beberapa
adegan yang sungguh menjatuhkan, lewat rekaman berita dibeberapa stasiun tv
luar negri yang menjelaskan film ini, dari hasil pencarian yang saya lakukan
film ini sukses membunuh duta besar AS di Libya. Inilah yang sering saya sebut
DENDAM.
Jujur
saya kecewa, bukan hanya tentang isi film yang menghina rasullah tetapi juga
film ini bisa menimbulkan konflik yang bermula dari masalah sepele ini. Lalu harus
siapa yang disalahkan atas meninggalnya beberapa orang di Libya? Kemarahan penduduk
Libya kah? para pemeran dan semua orang yang terlibat dalam film itu kah? atau
kah, sesimple masalahnya, yaitu film tersebut.
Masalah
yang muncul tak hanya sampai di sana. gunjang-ganjing saling menuduh pun riuh
di comment-comment youtube. Siapa kah
yang benar? Nonsen! Mungkin ini hanya semacam euphoria dari film tersebut,
namun dapat memberi luka yang dalam. Hal-hal semacam ini yang dapat menimbulkan
dendam. Kenapa? Karena film ini menyakiti hati para muslim, dan menyulut emosi
sesaat di Libya, tindakan ini kemudian menyakiti hati warga AS, LALU SIAPA LAGI
KAH YANG AKAN DISAKITI DAN TERSAKITI AKIBAT FILM INI?
Harus
kah saya diam, haruskan saya berkomentar, haruskah hati saya ikut terluka
dengan komentar-komentar pedas yang siap mengkritik komentar saya? Lagi-lagi
ini hanya masalah kecil yang bermulai dengan kata DENDAM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar