Aku ini seorang pemenang. Dan aku enggan mengalah. Siapa yang tak ingin
menjadi seorang pemenang? Bukan kah menjadi seorang pemenang itu menyenangkan?
Berdiri diatas panggung kemenangan, tersenyum dengan tepukan ramai orang-orang.
Kamu tahu kan aku tak suka mengalah? Kamu tahu kan aku suka tantangan?
Kamu tahu kan aku ini seorang pemenang. Selalu. Dan aku pun tahu, kelak aku
akan menang.
Semua orang bilang aku ini bodoh, bisa-bisanya masih mengharapmu. Tidak
hanya sekali , dua kali, aku mendapatkan kecaman untuk segera melupakanmu. Tapi
bisa apa aku?
Aku bukan orang yang suka menyerah. Aku rasa kamu tahu itu. Bukan kah
sebuah keberhasilan akan tercapai saat kita memahami kegagalan dan terus
berusaha? Dan semua upaya itu aku lakukan untukmu. Boleh kan?
Aku tahu, mungkin aku bukan hanya sekedar bodoh namun juga gila. Tujuh
tahun bukan waktu yang singkat. Kamu jelas tahu itu. Selama tujuh tahun ini aku
masih saja mendoakanmu. Bahkan bahwa kenyataannya kamu menolakku mentah-mentah,
pada kenyataannya kamu menyuruhku menjauh pergi, pada kenyataannya kamu
bergidik mual tuk sekedar menatapku.
Aku suka menang. Karena itu berulang kali aku membuat para lelaki itu
kalah. Tidak hanya sekali, dua kali. kamu tahu? Semua itu aku lakukan hanya
demi sebuah kemenangan. Ya, itu kamu!
Kamu mungkin tidak tahu. Keyakinanku hanya satu, bahwa kamu adalah cinta
sejatiku. “Miris”. Itu kan yang ingin
kamu katakan saat kita saling bertemu pandang? Nyatanya hanya suara angin yang
bersua saat kita melepas pandang.
Aku yakin dan aku sanggup menunggu
bahkan 100 tahun lagi, jika itu maumu.
Iya aku tahu, kamu akan tersenyum menghina jika kata-kata itu kulontarkan dari
mulutku.
Sungguh selama tujuh tahun ini
kupercayakan keajaiban dari doa yang kupanjatkan pada illahi. Demi menanti hari
ini. Ya, demi hari ini. Kamu menggunakan pakaian putih rapih kontras dengan
merahnya pelaminan. Kamu tersenyum manis padaku. Aku pun balik tersenyum.
Sungguh ini begitu manis. Kamu sambut tanganku dengan lembut lalu kamu dekap
erat diriku. Beberapa detik kemudian aku melepas rangkulanmu.
“Selamat ya, Van………….,” ucapku terpotong, tak mampu melanjutkan.
“Iya,” kamu tersenyum canggung padaku.
“Langgeng sama istrimu,” tambahku tercekat.
Bukankah kini memang aku telah menang? Ya, tentu saja aku lah pemenangnya.
Menang untuk menyakini bahwa kamu adalah satu-satunya cinta sejatiku? Lalu
mengapa ada sesak yang membuncah ketika kemenangan itu terjalin? Bukan kah
kemenangan itu menyenangkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar