Minggu, 28 Oktober 2012

Jerawat



“Ren! Rena kan?” tanya seorang lelaki di belakangku, menyentuk pundakku saat jam istirahat mabim di fakultas. Sialnya aku sangat mengenal suara itu.
 Ya Tuhan, kenapa harus bertemu denganya setelah setengah mati aku berusaha melupakannya? Percuma saja liburan dua bulan setelah ujian akhir nasional dan tak bertegur sapa dengannya jika mendengar suaranya saja sudah membuatku mengingat kenangan-kenangan manis bersamanya.
            “Iya, Zi. Hehehe,” tawaku cengengesan entah untuk apa.
            “Kita satu fakultas ternyata! Gak nyangka, ih! Jangan bilang kita satu jurusan juga,”
            “Gak tau, gue jurusan Biologi. Kalau lo?” tanyaku harap-harap cemas.
Ya Tuhan please, jangan sampai aku satu jurusan juga sama dia. Cukup satu fakultas saja. Ya Tuhan, aku mohon. Sungguh aku ingin melupakannya, ingin melepasnya. Biar ia hanya jadi kisah kasih masa lalu. Cukup penantianku selama dua tahun jangan kau tambahkan lagi, aku tak sanggup! Biar rasa iklas melepasnya, Ya Tuhan.
“Ih, sama dong! hahaha, gak nyangka deh. Jauh-jauh kuliah di sini. Ketemunya lo lagi, lo lagi. Hahaha,” tawa Renzi pecah. DAMN! Apa yang harus aku lakukan?
“Ren, jerawat lo mana? Kok sekarang bersihan sih? Ke dukun mana lo?” tambah Renzi.
Ya Tuhan, ini benar-benar sudah gila kenapa aku bisa jatuh hati sama lelaki ini? lelaki yang suka menghina dan menjatuhkanku? Berbicara tentang jerawat aku jadi ingat pendapat abang sepupu aku tentang faktor ada tidaknya jerawat dengan tingkatan jatuh cinta. Dalam hati saat itu aku mengimani perkataan abang sepupuku itu. Kalau gini ceritanya sebentar lagi jerawat akan kembali bermunculan di wajahku dong?
“Sial. Rajin bebersih lah gue. Pake sabun pembersih muka doang, Zi!”
“Ah, gak mungkin. Lo baru jadi mahasiswa aja udah doyan bohong!”balas Renzi tajam.
“Ih beneran tau Zi! Kata abang gue kalau lagi gak lagi jatuh cinta sama orang atau dengan kata lain jomblo pasti mukanya bersih. Kalau ada jerawat lebih dari 10 tuh berarti lagi jatuh hati sama orang. Kalau jerawat penuh menghiasi muka berarti lagi bermasalah sama pacarnya atau kalau yang gak punya pacar pasti lagi memendam perasaannya ke orang yang dia taksir. Puas lo?” ucapku tersulut emosi.
Haduh ini kenapa pendapat si abang sepupu pake diceritain ke Renzi? Siap-siap aja nih aku bakal tambah dihina-hina sama dia. Tuhan, tolong aku!
“Oh gitu ya? Kalau muka gue indikasinya gimana?” tanya Renzi, membuatku menatap wajahnya lekat-lekat. Nihil tak ada jerawat. Dosa apa aku Tuhan? Mengapa kau menghukumku terlalu berat?
“Yah, mana gue tau!“ jawabku seketika berusaha menetralkan pesona wajah Renzi yang semakin menjadi-jadi berkelana di pikiranku.
“Ren, lo rela gak kalau jerawat lo tiba-tiba jadi lebih dari 10 lagi? Kaya pas jaman-jaman SMA?” ucap Renzi kembali menyatakan pertanyaan ambigu
“Zi, kok lo jahat banget sih sama gue. Enggak lah udah bagus kaya begini aja. Gak mau kayak dulu lagi,” ‘gak mau jelek lagi gara-gara naksir lo, Zi!’
“Yah, berarti lo gak mau pacaran dong? Padahal gue rela kok, kalau ada jerawat muncul di wajah gue lebih dari 10, demi lo,”
            “Hah?” ucapku mengambang. Masih bingung dengan pernyataan Renzi. Maksudnya apa?
Ya tuhan, kenapa jantungku jadi ikut berdetak kencang begini? Sebentar lagi pasti Renzi akan bilang kalau semua ini hanya bercanda.
            “Iya, gue rela jerawatan sebanyak apapun demi mendapatkan hati lo. Lo mau kan? Kalau lo gak mau beberapa hari lagi pasti bakal banyak jerawat muncul di seluruh wajah gue. Soalnya gue harus memendam perasaan sampe lo rela menimbun jerawat lebih dari 10 di wajah lo,” ucap Renzi padaku.
            Hening. Aku terdiam. Mukaku memerah seketika. Tuhan, ini kah jawaban atas keiklasanku melepasnya selama dua bulan ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar