Aku sayang bunda, tiga kata itulah yang
mendeskripsikan aku tentang perasaanku ke bunda.
Tak banyak cerita yang aku ingat
tentang beliau karena semakin berjalannya waktu ingatanku tentang masa lalu pun
semakin menghilang. Kata orang, kamu sangat menyayangiku. Aku selalu ditimang, selalu dimanja. Hmm, andai aku bisa mengingat masa lalu tentangmu.
Aku mengelusmu,
mungkin selayaknya yang sering kamu lakukan padaku dulu.
“Pergi kamu!” usir
seorang gadis mendorongku jatuh terjerembab kepelukanmu. Bahkan hingga detik
ini kamu masih saja mencintaiku. Kamu memelukku dengan lembut.
“Giska, jaga
kelakuanmu!” jerit lelaki yang ada di belakangnya. Aku tak mengerti dengan apa
yang mereka perdebatkan, nampaknya mereka seorang kekasih yang sedang
bertengkar.
“Tapi, Pah! Dia telah
membunuh bunda!” ucap gadis itu lagi.
Siapa? Siapa yang berani membunuh bunda? Bunda
masih di sini kok, dia bahkan mendekapku saat ini. aneh! Aku segera berdiri medekati gadis itu untuk
bertanya.
“Giska, dia
adikmu! Dia, hanya tidak tau apa-apa,nak,” ucap lelaki itu mulai melembut.
“Dia itu siapa
sih? Kalian siapa sih? Bunda baru saja memelukku. Kalian jangan asal
tuduh-tuduh orang lain. Dosa tau!” ucapku ikut ambil berbicara.
“Aku benci dia
Pah! Aku gak akan mau ke makam bunda kalau masih ada dia! Kenapa dia masih
terus-terusan di makam ini seperti orang tolol? Kenapa dia tidak dimasukkan
kepenjara atau rumah sakit jiwa sekalian!” ucap gadis itu meracau. Aneh. Sepertinya
dia yang gila.
“Giska, kamu
kembali lah ke mobil. Ayah tak ingin berdebat. Ayah tak ingin ikut gila seperti
adikmu, dan membunuh orang lain karena bertengkar denganmu.”
Aku kemudian
bergeming. Dasar manusia jaman sekarang! kalau gila malah nuduh-nuduh yang
lain. Masa batu nisan dibilang gila? Memangnya batu nisan orang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar