Sabtu, 22 September 2012

BUNDA


Aku sayang bunda, tiga kata itulah yang mendeskripsikan aku tentang perasaanku ke bunda.
Tak banyak cerita yang aku ingat tentang beliau karena semakin berjalannya waktu ingatanku tentang masa lalu pun semakin menghilang. Kata orang, kamu sangat menyayangiku. Aku selalu ditimang, selalu dimanja. Hmm, andai aku bisa mengingat masa lalu tentangmu.

Aku mengelusmu, mungkin selayaknya yang sering kamu lakukan padaku dulu.
“Pergi kamu!” usir seorang gadis mendorongku jatuh terjerembab kepelukanmu. Bahkan hingga detik ini kamu masih saja mencintaiku. Kamu memelukku dengan lembut.
“Giska, jaga kelakuanmu!” jerit lelaki yang ada di belakangnya. Aku tak mengerti dengan apa yang mereka perdebatkan, nampaknya mereka seorang kekasih yang sedang bertengkar.
“Tapi, Pah! Dia telah membunuh bunda!” ucap gadis itu lagi.
Siapa? Siapa yang berani membunuh bunda? Bunda masih di sini kok, dia bahkan mendekapku saat ini. aneh!  Aku segera berdiri medekati gadis itu untuk bertanya.
“Giska, dia adikmu! Dia, hanya tidak tau apa-apa,nak,” ucap lelaki itu mulai melembut.
“Dia itu siapa sih? Kalian siapa sih? Bunda baru saja memelukku. Kalian jangan asal tuduh-tuduh orang lain. Dosa tau!” ucapku ikut ambil berbicara.
“Aku benci dia Pah! Aku gak akan mau ke makam bunda kalau masih ada dia! Kenapa dia masih terus-terusan di makam ini seperti orang tolol? Kenapa dia tidak dimasukkan kepenjara atau rumah sakit jiwa sekalian!” ucap gadis itu meracau. Aneh. Sepertinya dia yang gila.
“Giska, kamu kembali lah ke mobil. Ayah tak ingin berdebat. Ayah tak ingin ikut gila seperti adikmu, dan membunuh orang lain karena bertengkar denganmu.”
Aku kemudian bergeming. Dasar manusia jaman sekarang! kalau gila malah nuduh-nuduh yang lain. Masa batu nisan dibilang gila? Memangnya batu nisan orang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar