Kamis, 11 Oktober 2012

Menunggu



Aku memandang jam tanganku. Waktu terus berputar dan rasa kalut terus menghantui. Aku tak suka ini! menunggu adalah pekerjaan yang membosankan dan menakutkan. Aku suka sendirian pergi berkelana namun bukan berarti aku suka menunggu sendirian.
“A, dimana? Aku solat dulu ya. J ” smsku setenang mungkin, seolah waktu hampir satu jam ini tak terbuang sia-sia.
Selesai solat kulirik jam tangan. Sudah 15 menit berlalu dari sms terakhir dariku, masih belum ada balasan. Langit sore ini begitu pekat. Hujan rintik-rintik mulai turun di jalan Braga, memperkeruh rasa kalutku yang muncul tanpa sebab. Sesibuk itu kah seorang pemimpin himpunan kampus? Sesulit itu kah membalas sms dari orang terkasih?
Hujan semakin menderas, kemudian kenangan-kenangan indah di jalan Braga bersamanya hidup kembali. Hanya kenangan-kenangan ini yang membuatku mampu bertahan menunggunya di sini. Jika tidak sudah kutinggal tempat ini sedari tadi, seperti yang sudah sebelumnya kubilang bahwa aku tak suka menunggu!
“May, lagi apa? haduh, bete nih,” smsku pada Maya teman dekatku.
“Lagi lihat hujan. Menunggu pelangi bersinar. J bete kenapa Lin?” balasnya Maya dengan puitis.
Ah, pujangga satu ini! Ardi belum datang juga. Padahal udah 1 setengah jam nunggu. L
“Hahaha. Sabar. Mungkin sedang terjebak macet. Kamu lagi dimana?”
“Braga. Berteduh di tahu gejrot langganan kita.”
Tunggu ya. paling sebentar lagi aa’nya datang. Kamu ngeceng-ngeceng pelanggan yang kece aja dulu. Haha
“Wuu, udah ah, mau ngegalau sendiri aja aku mah. Tar gangguin kamu nungguin pelangi.” Balasku memutuskan percakapan, setelah mendapat energi tambahan untuk menunggu, dari Maya sahabatku.
Entah sudah yang keberapa kalinya aku melirik jam tangan. Hujan sudah mulai reda. Oke, baiklah sudah 2 jam 18 menit aku menunggu. Mau sampai kapan, menunggu? Mungkin sampai gila! Benar-benar sudah gila nampaknya, bisa menunggu orang hampir 3 jam, padahal mana ada kata ‘menunggu’ di kamusku.
“Hey!Maaf ya neng Lina. Kamu sudah lama menunggu ya?” ujar seseorang menepuk pundakku dari belakang. Meluruhkan, emosiku. Tanpa melihat pun aku tau, itu pasti dia. Bodohnya tak ada kata yang sanggup kuucapkan, selain tersenyum manis.
“Maaf, ya Lina sayang. Kamu udah lama banget ya nunggu? Tadi aku sibuk banget!”
“Gak, apa-apa. kamu kok tau aku ada di sini? Kita kan gak janjian di sini?” tanyaku masih tak percaya dia sudah hadir di depanku. Di tempat yang bahkan tak pernah kusebutkan tempatnya.
“Hahaha, aku kan punya radar untuk menemukanmu, kemana pun kamu pergi,” ucapnya sambil tersenyum, mampu membuatku luluh seketika.
Ya, mungkin sesederhana itu. sesederhana aku mencintainya. Menunggu bahkan bukan suatu hal yang tabu jika itu untuknya. Seperti itu kan, yang namanya mencintai? Harus saling mengerti, harus saling memahami, harus saling belajar untuk memaklumi.


13277474381270911661
***

“Iya, pelangiku. J Aku sudah sampai di Braga. Tadi Lina sempat nanya kenapa aku bisa tau, kalau dia ada ditempat langganan tahu gejerot kita. Untung aku jago ngeles. Makasih ya, makan siangnya. Cah kangkung kamu enak. Love u.” secepat kilat sebuah sms singkat “tanpa nama’ masuk ke dalam HP Maya. Secepat kilat itu hatinya membuncah bahagia, melupakan persahabatan yang sudah lama ia jalin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar