Oke lanjut lagi ya.. udah lumayan
basi sih, udah dua minggu yg lalu, tapi ya, daripada punya PR terus dan gue
udah keburu lupa ingatan. Let’s go aja deh. ini tulisan sebelumnya à Telaga Bodas *1 (Perjalan yang mengubah pola pikir gue)
Memasuki
kecamatan Wanaraja, perumahan penduduk terlihat
di sekitar jalan utama namun tak sampai 5 menit berjalan, perumahan
mulai jarang terlihat. Jalan utama ini teraspal dengan baik tak ada jalan
rusak. Sekitar 20 menit berjalan kita mulai curiga karena menemukan sebuah SD tercetak alamatnya dengan alamat Jl.
Telaga Bodas no. sekian *gue lupa*. Jangan-jangan kita salah, jangan–jangan ini
cuma semacam nama jalan yang sering ada di kecamatan seperti di dekat rumah gue
ada jalan namanya jalan Surya Kencana, bukan berarti rumah gue dekat dengan
surya kencana yang ada di Gunung Gede kan?
![]() |
| Rumah penduduk masih berdekatan |
![]() |
| Rumah Penduduk mulai berjarak |
![]() |
| awal-awal perjalanan |
Bermodal nekat
kami melanjutkan perjalanan, begitu ada beberapa bapak-bapak yang sedang
duduk-duduk di lapangan yang terletak di kanan jalan, langsung Halim dan Dudin
bertanya. dan tau gak jawaban si bapak-bapak itu? Ini sedikit gue translate ya, rada lupa bapaknya ngomong
apa waktu itu.
“Bener
kok, ini jalan yang menuju Telaga Bodas. Lurus, lurus aja terus. Paling jam 4
lah nyampe, hahaha,”
jawab
si bapak itu terkekeh.
Gue cuma bisa terdiam sambil
berdoa tawa si bapak itu memang mengartikan candaan. Jam dua pasti nyampe kok, gak akan sejauh yang bapak itu bilang,
hibur gue dalam hati.
Jalan
sekitar 40 menitan, gue udah mulai ngos-ngosan, padahal jalan dari tadi masih
rata dan datar belum ada tanjakan. Abay, Halim dan Dudin mulai mencari
tumpangan. Beberapa kali truk dengan bak terbuka pembawa pasir atau batu-bata
melewati kami. Panas siang mulai menerjang. Apalagi tak ada pohon yang
terlihat. Kanan kiri jalan mulai sepi, jarak antar satu rumah dengan rumah
lainnya mulai membesar, diselingi dengan beberapa pengeringan daun tembakau dan
terkadang batu bata, nampaknya 2 komoditi ini adalah mata pencarian penduduk
Wanaraja. Dua kali menyetop truk-yang kalau sebutuan si dewi mah dolang-dua
kali pula tak digubris. Yang ketiga digubris dengan senyum, namun tetap ditolak
dengan halus. Ya tuhan, nasib, ya nasib.
Ke
empat kalinya saya sudah tak begitu peduli namun kali ini si bapak mengizin kan
kami naik, padahal truknya penuh batu bata dan tiga kuli yang duduk di bak
terbuka tersebut. Siap-siap gue naik ke bak terbuka dan…. Gue gak bisa naik ke
atas bak terbuka ternyata.heu. si bapak
supir nampaknya kasihan ngeliat gue, akhirnya gue dan Dewi duduk di depan. Gue
udah parno sendiri aja, gue kan paling gak bisa memulai pembicaraan, dan gue
gak bisa terbuka sama orang yang belum gue kenal, jadi lah percakapan di
dominasi Dewi dengan si bapak supir sementara gue hanya menjadi pendengar yang
baik. Dari obrolan Dewi yang menggunakan bahasa sunda dan gue gak ngerti sampai
akhirnya si bapak mengakui bahwa dia bukan orang sunda tapi orang Sulawesi.
Dari obrolan singkat itu juga gue sedikit terkesima dengan si bapak yang
menyekolahkan anaknya sampai di jenjang perkuliahan. Si anak bahkan sempat
bercita-cita masuk ekomoni Unpad namun sayang tidak lolos dan dari cerita si bapak
anaknya sekarang kuliah di UIN Bandung.
15 menit dapat
tumpangan gratis dan cerita seru dari si bapak, kami berempat harus turun,
karena tujuan si bapak bukan ke Telaga Bodas. *gue lupa mau ke mana si bapak*
kata si bapak sih, kalau jalan cepat 1 jam lagi kalau jalan santai 2 jalm lagi.
Hmm, okelah kalau dua jam lagi gue sedikit lega. Begitu turus sebenernya gue
rada syok jalan tidak lagi beraspal dengan mulus, penuh bebatuan dan menanjak
saudara-saudara! Mampus deh eike mesti lebih strong nih!
![]() |
perjalanan, saat dari tumpangan truk gratis
|
![]() |
| perjalanan begitu menakjubkan namun pemandangannya tak kalah menakjubkan.. :) |
Ternyata jalan
mendatar dan menanjak itu rasanya beda banget! Padahal menanjakknya juga gak
terlalu vertical, tapi gue udah mulai ngos-ngosan lagi. Belum lagi angin
meniupkan debu yang gak nanggung-nanggung. Gue beristirahat sebentar di depan
musolah. Di desa ini nampaknya banyak musolah, Dewi dengan setia menunggui gue
yang sudah terseok-seok. *makasih ya dew J*
si Dewi yang ramahnya gak ketolongan itu selalu nyapa penduduk yang ia temui
sementara gue Cuma bisa senyum udha gak kuat ngomong. Penduduk nampaknya pada
syok pas kita bilang mau ke Telaga Bodas, siang-siang begini, puasa pula. Ada
seorang nenek yang berpayungan dan ketika di sapa Dewi, ia nampak syok.
“neng daék kamana, beurang-beurang kieu?’
( neng, mau kemana, siang siang begini?)
“Nuju, ka talaga bodas, bu..” (ke
telaga bodas bu)
‘”Jalan kaki? Ya, ampun panas, neng.
Nanti hitam. Berapa orang? sewa mobil bak aja atuh. Nanti capek lagi
puasa-puasa gini,” ß udah ah, gue nyerah, ini pokoknya kurang lebih kayak gini aja
artinya.
Bukan hanya nenek
yang kita temui di jalan yang syok, beberapa penduduk desa juga syok, bahkan
memberikan kami jalan pintas menuju Telaga Bodas. Namun karena takut nyasar
kamu memilih jalan utama. Perjalanan dilanjutkan dengan perkebebunan warga,
dari sini jalan mulai mengecil dan menanjak tajam di beberapa titik, gue
beristirahat beberapa menit sebelum memasuki perkebunan warga.
![]() |
| beberapa rumah sebelum menuju perkebunan warga |
![]() |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar