Sabtu, 22 November 2014

The Moment That I Miss You



            Lima belas jam yang lalu, ketika dua jam lagi proses perceraian akan dimulai. Aku yang terbiasa memaksa Anila menjadi dewasa sebelum waktunya, kini dipaksa untuk memahami tentang waktu olehnya.

            “Mah, Anila boleh tanya? Kenapa mama dulu mencintai Ayah? Memangnya cinta itu sudah hilang, Mah? Kalau seperti itu berarti waktu adalah bagian terjahat di dunia ini ya, Mah?”

Aku terhenyak tak mampu menjawabnya, mendengarkan pertanyaannya saat itu. Anila adalah buah hatiku, kadang aku lupa usianya tak lebih dari tujuh tahun.

            “Mah, Anila ingin mama bahagia, ingin Ayah bahagia. Bukan kah saat dulu mama mencinta Ayah, mama dan ayah bahagia?”

            Ingatanku kembali ke belasan tahun yang lalu. Saat kubertemu denganmu. Kamu lelaki berwajah manis, sekaligus memiliki sifat aneh dan menyebalkan. Kebetulan kamu ketua kelompok saat ospek jurusan dan yang menyebalkan kamu sering membolos saat ospek, jadilah aku dan kawan-kawan yang kena batunya. Tapi jangan ditanya tentang kecerdasanmu. Indeks prestasi 3,96 mampu kamu raih, di awal perkuliahan.

            Hampir semua teman-teman menyukaimu. Mereka tak pernah tau betapa menyebalkannya dirimu. Betapa kamu selalu mencelaku. Mengkritik semua kekuranganku. Dan aku sangat membenci sifatmu yang itu, sifat yang selalu mengkritik kekuranganku, entah tentang fisikku atau tentang sifatku.
            Kamu adalah satu-satunya patner in crime ku di kampus. Kita sering istirahat bareng, makan malam bareng sampai bolos kuliah pun bareng. Aku selalu kesal sama kamu, tapi kalau diajakin main sama kamu pasti aku mau. Aneh!  

Aku ingat, hari itu adalah hari tergila dalam hidupku. Hari dimana aku mulai menyadari bahwa aku terbiasa denganmu, atau mungkin juga mulai bisa memahami tingkah lakumu yang aneh! Saat itu, setelah makan malam di sebuah kafe, kamu mengajakku taruhan. Aku tentunya menolak keras. Namun ide gilamu mampu membuatku tertawa terbahak-bahak.

            “Kamu, mau gak ambil mic penyanyinya terus nyanyi satu bait aja? Nanti aku kasih uang seratus ribu? Mau gak?”ucapmu menunjuk penyanyi kafe, yang sedang menyanyi disudut depan kafe.
            “Enggak, sableng banget sih kamu!”
            “Ah, payah nih! Hmm, atau enggak kamu wes joget-joget aja di depan satu menit aja, atau 30 detik deh! Nanti aku bayar kamu seratus ribu,” ucapmu semakin gila.
            “Ih, kamu sok kaya banget sih? Mana sini duitnya? Nanti aku lakuin kalau kamu kasih. Gak ada kan? makan hari ini aja minta traktir aku, wek!” ucapku sambil memeletkan lidah, sambil menyindirnya.  
            “Nanti kalau aku udah kerja, aku janji aku bakal merawatmu. Oke? Aku janji bakal bawa kamu ke rumah sakit jiwa, Hahaha”.
            “Dasar, Woni sableng! Udah yuk, pulang besok pagi ada kuis loh! Ingat?” kamu sih enak memang pintar, aku perlu setengah mati untuk bisa mendapatkan nilai bagus.
            “Ih, tar dulu! Jadi kamu gak mau nih ngelakuin taruhan ini?”
            “Enggak.”
            “Ah, gak asik ah! Aku ngambek ah!”
            “Yaudah, terserah. Aku pulang ya?” ucapku tak peduli.
            “Ih, sebentar dulu. Beneran gak mau nih?” ucapmu dengan muka memelas.
            “Enggak, kenapa gak kamu aja? kenapa aku yang harus taruhan? Emangnya kamu berani?”
            “Berani. Tapi bayarannya lebih mahal daripada segepok uang, Kin,”
            “Dasar, kunyuk! Ketauan kan mau nya apa?”
            “HAHAHA, emang kamu tau mau aku apa?”
            “Biaya makan gratis selama seminggu?”
            “Memangnya, aku cowo matre banget? Aku gak akan minta itu kok. Aku cuma minta hal gampang. Gimana?”
            “Apa?”
            “Ada deh, bilang ‘iya’ dulu,”
            “OKE! DEAL! Tapi taruhannya kamu nyingkap rok penyanyi itu ya, gimana?”

            “Ah,gampang! Ayok, sekarang!” ucapmu menarikku seenaknya dari meja, membuatku syok, akan aksi nekatmu.

            Tak sampai semenit kita berdua sudah berada di barisan paling depan panggung kecil di kafe itu, tak sampai sedetik pula rok penyanyi itu kamu singkap, menimbulkan jerit keras dari sang penyanyi. Belum sempat aku melihat reaksi marah penyanyi itu kamu mengajakku berlari kencang keluar dari kafe. Beberapa orang menyoraki dan mengejar kita, beberapa lagi bersiul senang melihat aksimu. Kamu gila!

            Nafasku kala itu, belum beraturan, hampir setengah jam kita berlari dikejar masa, atas aksi gilamu. Kita berhasil bersembunyi diantara bilik-bilik kosan.

            “KAMU GILA TAU GAK SIH, WON!” teriakku setelah berhasil mengatur nafas.
            “Kan kamu yang menyuruh. Lupa? Hahahaha,"  kamu masih saja tertawa terbahak-bahak.
            “Ya, tapi kan gak gitu juga Won,”
“Eits, kamu masih, punya hutang loh sama aku! Hahaha,”
“Aku, gak minta apa-apa, Kin. Aku cuma minta, kamu mau kan nanti jadi istri dan ibu ibu dari anak-anakku?”
“Ah?” kala itu masih kebingungan.
“Kinan gembrot lemot banget, sih! aku suka kamu Kinan, aku sayang kamu! Jawabannya harus ‘iya’ loh, kan udah janji, wek!” ucapmu sambil memelet.
“Hahahaha, bencada ya, Won?”
“Serius! Eh, jangan kepedeaan ya gadis gembrot! Aku cuma minta kamu jadi istriku, bukan pacarku, tolong!”
“Ish, nyebelin!” ucapku menjawir telingamu. Saat itu ada rasa bahagia yang tak tertahan. Rasa benci yang sedari dulu kupupuk padamu hilang begitu saja.


Mungkin itu adalah kesalahan besarku, mulai mencintaimu dengan kebencian dan beberapa tahun ini aku mulai muak dengan segala sifatmu. Mengenang hari itu membuatku sadar, aku masih mencintaimu dan aku tak bisa hidup tanpamu.
  “Ibu Kinan?”
“Iya, saya, dok? Gimana keaadaan suami saya, dok?”
“Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan Bapak Woni.. Kecelakaan mobil itu telah mengenai sistem syaraf otaknya bapak Woni dan mengganggu sistem pernafasannya. Sekali lagi kami meminta maaf,”
“Saya, mencintainya dokter…” ucapku gamang. Aku masih belum dapat mencerna kata-kata dokter di depanku ini.

“Mama, jangan sedih ya,” ucap Anila memelukku yang masih saja terpaku sejak dokter pergi.
Aku jatuh terduduk di lantai, mulai menyadari, apa yang baru saja terjadi. Anila menepuk-nepuk pundakku pelan, mengajakku untuk duduk di salah satu kursi di ruang tunggu, membuatku semakin rapuh.





***

. “Aku benci kamu! Aku mau cerai! Aku mau cerai! Talak aja aku sekalian,Won!”
Aku terpaku mengingat kalimat itu. Kalimat yang beberapa kali pernah kuucapkan padamu. Kalimat yang pernah membuat Anila beberapa kali menangis.

            Aku benci, kamu, Won. Benci kamu yang meninggalkan aku sendiri, saat aku sadar aku masih mencintaimu, Won. Woni, aku mohon kamu kembali, jangan tinggalin aku sendiri, Won, Anila butuh kamu.   

Senin, 06 Oktober 2014

Korban Gosip

Semua orang di kantor mulai memperbincangkan kedekatan kita berdua. Awalnya saya tidak peduli tapi lama-lama saya pun mulai jera. Ketika sedang asik mengobrol denganmu saat istirahat pasti disangka sedang pacaran. Saya benar-benar tak suka ketika kamu menyatakan bahwa itu lah kenyataannya, bahwa kita pacaran. Kamu bahkan tak pernah sedikitpun menyatakan perasaanmu pada saya! Bagaimana mungkin kita pacaran?

Saya tak suka dengan gunjingan mereka yang mempermasalahkan kedekatan hubungan kita. Lagipula bagaimana caranya mereka bisa yakin bahwa kita berdua saling mencinta? Bukankah perasaan itu secara harfiah hanya milik, Tuhan? Hanya Tuhan yang mampu membolah-balikkan hati. Seperti ini, seperti saat ini ketika saya mulai menjadi cemburu padamu ketika kamu mengobrol mesra degan Mbak Vinka teman se-divisimu. Padahal dulu saya tak pernah memperdulikan hal itu.

Semakin hari kalian berdua semakin dekat. Apalagi dengan adanya project R n D marsamallow rasa green tea di luar kota, kalian semakin sibuk berdua. Tak ada lagi waktu untuk saya, walau hanya sekedar makan malam bersama. Dan mereka semakin gencar mengunjing dan menggosip bahwa saya sudah putus denganmu, atau selama ini hanya saya yang cinta padamu, bukan kamu.

Setiap kali mereka mengosip seperti itu rasanya saya sangat membencimu. Ini kah yang dinamakan jatuh hati? Jatuh hati yang tak pernah saya sadari seutuhnya. Sudah seperti itu saya hanya berdoa smoga saya bisa cepat-cepat melupakanmu. Agar hati yang baru bersemi ini tidak terlalu terluka.

Dulu pernah kamu bilang, entah saat makan malam berdua yang ke berapa kalinya, bahwa yang namanya patah hati dapat disebuhkan dengan cinta yang baru, dengan orang baru, selama itu tidak ada mana ada manusia yang bisa melupakan seseorang. Tentu saya menolak dengan keras ucapanmu. Saya pernah patah hati dan sembuh ketika orang yang saya cintai itu berpacaran dengan orang lain. Secepat itu, semudah itu evolusi hati saya. Maka dari itu saya paling tak suka ketika mereka sibuk mengosipkan tentang perasaan hati saya. Sekarang saat saya harus patah hati karenamu, saya hanya berharap kamu segera berpcaran dengan Mbak Vinka atau sekalian menikah dengannya.

***
Win, kamu apa kabar?
 Kangen!
Ping!
 Pengen cerita banyak sama kamu!
Diner ditempat biasa ya. C.U, your husband  

Sebuah bbm darimu mampu membuat galau seharian. Sudah beberapa hari ini saya tak memikirkanmu, kini bbm darimu mampu membuat hati saya, meringis. Your husband? Memangnya saya sudah menikah denganmu?  
Saya membalasnya bbm darimu dengan singkat.
Oke sip.
Jam biasa ya.
 Saya tak ingin terlihat terlalu antusias. Saya takut kecewa. Kecewa mungkin yang akan kamu ceritakan tentang Mbak Vinka.

***
Saya benar-benar patah hati kali ini. saya benar-benar akan melupakan kamu detik ini. Saya janji, ini hari terakhir kalinya saya mengharapkanmu! Saya janji, besok-besok saya akan menganggapmu sebagai teman baik saya, tidak lebih.

Aduh, gusti saya gak boleh keluar air mata. Tahan, Win, tahan! Masa saya nangis hanya gara-gara  hal sepele kayak gini?! Masa saya harus nangis karena secara gak langsung kamu bilang kamu sudah punya orang yang kamu cintai apa adanya.

 Masa kamu menolak secara halus Mbak Vinka yang jelas punya perasaan padamu cuma karena Pak Erik sudah menyatakan perasaannya duluan dan kamu pun juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Sungguh saya lupa, selain Mbak Vinka kamu juga pergi keluar kota dengan Pak Erik.  


Jumat, 22 Agustus 2014

Sebeku Udara Subuh Ini


Udara subuh ini begitu dingin. Angin sepoi-sepoi mengibarkan kemeja yang kukenakan. Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Namun suasana di sini sudah cukup ramai. Beberapa truk berisi sayur dan buah-buahan segar, hilir mudik. Tak jarang truk berisi daging hasil laut dari lepas pantai juga lewat.
                Aroma busuk percampuran dari air sisa pencucian, sayur yang telah layu daging yang telah berkapang dan lalat yang mengerumuni ayam-ayam, bersatupadu.  Aroma ini semilir menusuk indera penciumanku. Membuatku sedikit pusing, lupa bahwa dulu hampir setiap saat kucium aroma ini.
                Aku berusaha berkeliling dari satu sudut ke sudut lainnya. Mencari dengan susah payah, seseorang yang mungkin masih dapat aku kenali. Aku ragu, terlalu lama aku tak melihatmu. Masihkan aku dapat mengenalimu? Mungkin saja wajahmu telah berkeriput, mungkin saja kulitmu telah menghitam, mungkin saja rambutmu telah memutih, mungkin  sorot matamu telah meredup. Masihkah aku dapat mengenalimu, sedang fisikku telah berubah banyak?
                Beberapa orang yang sibuk bekerja, beberapa kali memandang ke arahku. Satu diantaranya memandangku dengan wajah penuh tanya, yang lainnya memandangku dengan hina. Mungkin mereka  terheran-heran dengan penampilanku yang cukup mencolok di pasar induk ini.
                Aku kembali mencari sosoknya. Melihat sekitaran pasar induk ini mengingatkan ku akan masa lalu yang sudah lama ku hapus dari memori. Namun seperti tombol restore, memori itu kembali muncul satu persatu. Teringat samar saat orang itu lebih memilihmu dibandingkan aku. Sungguh aku terluka. terlebih kau cantik,  dan aku tidak apa-apanya dibandingkan dirimu. Hari itu aku terluka, hari itu aku begitu membenci pasar induk ini, hari itu aroma busuk yang selalu kuabaikan tercium sangat menyengat.
                Aku benci. Benci semuanya tentang pasar ini, tentang kemacetan di jalan utama pasar ini, benci kamu dan sangat membenci orang itu. Rasa cintaku pada orang itu hilang seketika saat itu. Aku tau ini terlalu berlebih, mengingat dulu usiaku pun belum genap 10 tahun. Cara terampuh menyembunyikan kebencian adalah melupakan segalanya, membangun podasi egoistis yang tinggi, membuktikan aku dapat sukses tanpa kehadiran kamu ataupun orang itu.  
                Sekarang di sinilah aku berada. Mengenang masa kecil kita. menertawakan kebencianku yang belum lekang hingga saat ini. Namun ternyata aku membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu.
                “Rahmat?” tanya wanita tua yang menghampiriku. “Kau, kah itu Rahmat?” tanya wanita tua itu lagi. Dia menundukkan badannya berusaha memelukku erat. Aku  hanya terdiam. Penjagaku berusaha melepaskan pelukan wanita itu. Aku memberi isyarat pada penjagaku.
Aroma pasar ini melekat erat pada bajunya yang lusuh. Wanita tua ini melepaskan pelukannya menyadari kesalahannya yang memelukku tiba-tiba. Ia tampak lusuh, rambut putihnya sesekali tertiup angin. Keriput menghiasi seluruh bagian tubuhnya,  
                “Rahmat, ini aku Euis...” ucap wanita tua itu.
Euis?! Ini kah kamu Euis? Orang yang sedari tadi kucari? Orang yang kubenci selama berpuluh-puluh tahun ini? aku kembali mengamatinya lekat-lekat menyadari masih ada sosok wajahku pada wanita tua ini.
Wanita tua ini menitikkan air matanya tanpa sadar.
“Rahmat, kamu kemana saja? Aku selalu merindukanmu. Aku selalu menantikan kehadiranmu. Menanyakan keberadaanmu pada ibu. Rahmat percaya lah setiap malam ibu selalu menangis melihatku begitu merindukanmu. Akhirnya kamu datang Rahmat. Ibu sudah lama meninggal…” ucap wanita tua itu menggantung.
Dada ini terasa sesak mendapat pernyataan bahwa orang itu, orang sangat aku benci telah meninggal. Masih ada dendam yang tak tersampaikan masih ada pertanyaan yang ingin kutanyakan, dan ini sangatlah mustahil.
“Rahmat, sebelum meninggal ibu selalu bilang aku harus menemukanmu. Dia melakukan semua ini demi kebaikanmu, karena kamu anak lelaki, karena dulu kamu sering sakit-sakitan dan ibu hanya ingin melihatmu bahagia bersama keluarga yang dapat membuatmu bahagia.“
Aku hanya mengangguk, tak mampu berkata apa-apa. Setelah berpuluh-puluh tahun akhirnya aku menemukanmu kembali. Menemukan kembaranku yang dulu pernah kuanggap tak ada. Hati ini mencelos. Apakah  selama ini aku yang terlalu egois?
“Rahmat kamu kenapa? Kenapa kamu sekarang berada dikursi roda?”
“Aku…” aku hanya terdiam kelu, menyadari masih adakah hak-ku untuk menceritakan semuanya dan meminta tolong padanya?
“Rahmat?” tanya Euis sekali lagi.
“Aku sakit Euis. Leukimia. Sudah beberapa tahun belakangan ini. Dan aku… Dan aku… Aku..  butuh donor sumsum tulang belakangmu. Itu pun jika kamu mengizinkannya,” ucapku terbata-bata, tembok keegoisanmu runtuh seketika.
“Apapun, Rahmat. Apapun! Menyetujui semua keinginanmu juga salah satu permintaan terakhir dari ibu….”
Air mata ini jatuh seketika. Menyadari betapa bodohnya aku begitu membenci orang itu. Orang yang ingin kuhapus dari memori ingatanku, orang yang jelas-jelas telah mencampakkanku dulu, orang yang  dulu merawatku dengan sungguh-sungguh, orang yang begitu besar cintanya padaku, orang yang telah kusia-siakan selama ini. ibu.
Bu, Rahmat rindu ibu.



Jumat, 15 Agustus 2014

Secerah Bayangan di Cermin

Dia sedang asik mewarnai bibirnya dengan lipstik bewarna pastel sambil menghadap ke cermin. Saya kemudian menghampirinya. Ikut mematut-matut penampilan saya di cermin.
“Hai, pagi!” ucapnya tersenyum manis pada saya, sambil memamerkan bibirnya yang telah dibubuhi lipstik.
Saya sudah selesai dari tadi namun saya masih menunggunya menggelung rambut sebahunya ke belakang. Padahal dia tak pernah memintaku untuk menunggu. Saya asik memperhatikannya. Memastika bahwa saya cocok berdiri berdampingan dengannya. Saya kembali memperhatikan pantulan wajah saya dan dia di cermin. Ah,ini kah yang namanya jatuh hati? Melupakan logika dan hanya mengandalkan perasaan?
“Gimana gue udah kece kan hari ini?” tanyanya mampu menganggu lamunan saya.
“Dih, males!” ucap saya hambar. Saya terlalu takut jika perasaan saya yang sesungguhnya menjadi transparan.
“Hahaha, dasar! Santai aja keles balesnya. Ayo ih, udah mau mulai briefing!” ucapnya sambil menarik lengan kemeja saya, membuatnya menjadi sedikit kusut, membuat jantung saya berdetak tak karuan.         
**
Andai saja saya punya keberanian untuk menyatakan perasaan saya padanya. Namun saya rasa melihatnya tersenyum di samping saya saja sudah cukup. Jadi yang saya lakukan ketika dia sedang kesulitan menghadapi tingkah-laku pelanggan adalah menghampiri berusaha membuatmu tenang, walau saya tahu saya yang menjadi tak tenang karena jantung ini terus berdetak kencang.
Mengambil sebuah istilah mungkin dia punya hormon feromon yang mampu membuat saya mabuk kepayang. Yayaya, saya tahu mana mungkin seorang wanita memiliki hormon feromon. Tapi sungguh berdekatan dengannya membuat saya ingin memeluknya, mengecupnya dan tak mau melepaskannya lagi.
***
Saya rasa saya sudah gila. Tingkah laku saya semakin hari semakin tak bisa dikontrol. Dia bagai magnet yang terus ingin saya tempeli. Mematut penampilan di depan kaca bersamanya di pagi hari seperti sebuah prosedur yang harus saya lakukan.
 Keputusan saya sudah final. Saya harus berani menyakatan perasaan saya ini padanya. Demi kebaikan saya, agar saya tidak gila seperti ini. Tuhan, masih bolehkan saya berdoa untuk sebuah harapan semu ini padaMu?
***
Bunyi sirine nyaring terdengar. Memecahkan indera pendengaran saya. Saya masih terdiam kaku melihat kejadian setengah jam yang lalu. Hati ini terasa sangat sakit, namun tak sedikitpun airmata keluar dari mata saya. Ini kah yang namanya patah hati? Melihat orang yang kita sayangi, berlumuran darah, dan terbaring lemah?
Tuhan, apakah ini jawaban atas semua pertanyaan saya? Apa ini jawaban atas permohonan saya? Ya Tuhan, tolong selamatkan dia ya Tuhan! Saya mohon!”  
*****
Bu Dian, kenapa sih kalau ngaca di cermin lama banget, terus ekspresinya suka senyum-senyum sendiri?”

“Suuut, anak baru jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Sebelum kamu kerja di sini. Bu Dian punya patner dekat, namanya Bu Ami,  tapi minggu lalu Bu Ami jadi korban tabrak lari  dan meninggal dunia. Bu Dian dan Bu Ami, hobinya sebelum masuk store pasti ngaca lama-lama di cermin. Aku rasa Bu Dian masih sedikit syok  deh karena dia ada di tempat kejadian saat itu.”



Pesona Refleksi
 photo available at : http://www.pesona.co.id/refleksi/refleksi/bercermin.pada.ibu.3/001/001/33

Senin, 04 Agustus 2014

Catatan Hati Seorang Suami

Jatuh hati itu sederhana. Sesederhana membebat tulang yang patah, sesederhana membuat kopi pahit yang pekat. Kamu bilang yang tersulit itu mempercayai dan mempertahankan. Ketika itu aku sadar hanya kamu yang melakukan semua itu untuk saya.
 Kamu yang jelas-jelas menguatkan saya saat semua tudingan menyatakan saya pecinta sesama jenis.
 Kamu bilang “Mana mungkin kamu mencintai sesama jenis. Bukan kan Tuhan menciptakan manusia berbagai rupa, agar saling melengkapi bukan saling meniadakan dengan kesaman yang pasti?”
 Berkat kata-katamu lah aku meminangmu. Mempercayaimu menjadi ibu dari anak-anak kita. mempercayai diri saya bahwa saya mampu membahagiakanmu. Tapi tampaknya salah….
                Saya tak pernah tau bagaimana mulanya saya mengecewakanmu. Bagaimana mulanya kita tak sejalan lagi. Entah karena anak-anak kita, entah karena mengecewakanmu, entah karena kamu mulai nyaman dengan orang lain, atau kerena tanpa sadar saya telah menekan diri saya selama ini bahwa saya bukan pecinta sesama jenis.
                Kamu masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Sementara anak kita, Andin tampaknya telah memilih jalan lain. Memilih untuk menyerah akan dosa yang telah dilakukan oleh kedua orang tuanya ini.
Ya Tuhan, salahkah aku mencintai wanita yang satu ini? Wanita tangguh yang sanggup membiayai hidup kedua anaknya beserta suaminya? Wanita yang sanggup menerima cemoohan orang-orang karena saya yang tak lagi bekerja. Wanita yang sanggup menerima kenyataan bahwa ia memiliki penyakit kanker paru-paru karena suaminya yang busuk ini.
Kamu masih terbaring lemah berusaha menerima kenyataan. Mengiklaskan semua. Setelah hampir satu jam lebih kamu mengamuk. Tak iklas menerima kenyataan Andin telah pergi. Amukanmu berhenti ketika Dimas datang dan memohon padamu, untuk berhenti menyakiti diri sendiri. Memohon untuk melupakan segala hal yang telah terjadi.
Saya tidak menyangka-Dimas-anak semata wayang kita saat ini, memohon penuh tangisan, padamu dan pada saya. Tak terlihat lagi pandangan matanya yang kosong ketika sedang sakau. Ini Dimas, anak lelaki yang selalu saya banggakan pada teman-teman saya dulu.
***
Pagi itu tak secerah biasanya. Matahari pun belum juga bersinar dengan terang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Namun ada sebilah kehangatan dari senyummu hari ini. Saya memang tak cukup mengerti dengan arti  senyummu saat ini. Sudah ribuan senyum yang selama ini selalu saya artikan. Senyum ketika kamu kecewa, ketika kamu terluka, ketika kamu membenci saya. Saya tak cukup terampil untuk membedakan itu semua.
“Mas, maaf kalau Dini salah sama, Mas. Maaf kalau Dini selama ini egois. Dini gak mau kehilangan orang lagi, Mas. Dini benci Mas, tapi Dini sayang, Mas. Mas, gak akan mengecewakan Dini lagi kan? Mas, mau memaafkan semua kesalahan Dini kan?”

Saya tak mampu berkata, hanya mengangguk dan mendekapmu seerat yang saya mampu.

***




*ENDING  STORY OF INSTAN,  MEMBUATMU BAHAGIA, LUKA AND SEHARI TENTANG CINTA*

Rabu, 21 Mei 2014

SAMA

                Saya sedang memeriksa laporan hasil nota barang rusak untuk sift pagi sambil menuju ruang manager. Semakin asiknya saya sampai menubruk seseorang. Hey, tunggu. Bukan saya yang menubruk tapi orang itu!
Saya pandangi orang itu dalam-dalam. Rasanya saya pernah mengenalnya, tapi bukan di toko ini. Dia seorang gadis dengan postur tubuh yang cukup tinggi. Dari gaya busananya yang menggunakan kemeja putih panjang, dengan krudung coklat yang dimasukkan ke dalan blazer berwarna senada serta name tag di samping kiri bazernya, sepertinya dia anak management training yang baru.            
Dia hanya tersenyum dan meminta maaf sebentar kemudian buru-buru pergi. DEG! Detak jantung saya berbunyi kencang sekali saat dia tersenyum. Ada lonjakan emosi di hati saya. Senyum itu tampaknya saya sangat mengenalnya. Senyum yang sudah lama tak saya lihat, namun masih cukup jitu untuk saya kenal. Apa mungkin dia itu gadis yang dulu saya taksir? Ah, sudah lah mengapa saya jadi memikirkan gadis tadi? Lebih baik saya menghitung ulang stock opname untuk hari ini.

supermarket, grocery store, shopping
available at : http://www.businessinsider.com/


Menjadi seorang asistan manager di sebuah hypermarket memang sangat sulit. Tapi di situ lah tantangannya. Tantangan untuk bisa berbaur dengan karyawan lain, tantangan untuk bisa menjaga sikap dengan karyawan dan tentunya menghadapi pelanggan yang kadang suka tak tahu diri. Dulu saya kira menjadi seorang asistan manager itu sulit nyatanya ya, memang sedikit sulit. Hahaha. Untungnya selama saya dipindah-pindahkan ke beberapa toko, selalu mendapatkan karyawan yang ramah dan baik hati. Lupakan tentang pelanggan yang suka semaunya.
Menjadi asistan manager juga membuat saya banyak kehilangan momen bahagia bersama keluarga. Sudah hampir enam bulan ini saya tak pulang ke rumah. Sudah terhitung 2 kali idul fitri saya tak bersama keluarga. Tapi tak apa, mendapat kabar ibu dan bapak baik-baik saja itu sudah cukup. Jika ditanya apa saya senang menjalani semua hal ini, tentu pasti. Namun kendala terberat adalah soal waktu. Bapak dan ibu sudah sering bertanya siapa gadis yang akan saya nikahi. Nyatanya saya masih saja sendiri. Bagaimana tidak, untuk berkomunikasi dengan teman-teman jaman kuliah pun cukup sulit apalagi untuk mencari pendamping hidup.
Saya kemudian membantu karyawan dan beberapa anak management training yang sedang menyusun tata letak display produk sesuai dengan planogram yang baru. Gadis itu masih saja berseliweran di sekitar pandangan mata saya. Dia sedang asik bertanya pada Pak Diki tentang kode-kode buah yang sedang ia timbang untuk pelanggan yang ingin membeli. Kerap kali dia juga membantu Pak Diky mem-packing buah-buahan segar siap santap.
“Dit, udah selesai belum? Ada yang mau dibantu gak?” suara seorang gadis memanggil salah seorang tim management training.
Saya kemudian mencari asal suara. Ternyata itu adalah suara gadis berkerudung coklat itu. Gadis yang sedari tadi menarik perhatian saya. Apalagi saya sempat mengobrol dengan salah seorang anak management training baru, mengenai siapa-siapa saja anak management training baru yang training di toko ini. Gadis itu termasuk anak baru yang ternyata satu kampus dengan saya. Semakin saja saya penasaran dengan gadis itu. Apa benar gadis itu adalah gadis yang saya taksir saat di kantin asrama dulu.
“Belum nih. Bentar lagi ya Syil,” ucap jawab anak management training yang kemudian saya ketahui bernama Didit.
“Sini aku bantu, biar cepet,” ucap gadis itu lagi.
Saat Didit pergi memindah kan barang, saya berusaha mengobrol dengan gadis itu. Benar saja gadis itu memang gadis inceran saya dulu di kampus. Gadis yang tidak pernah saya ketahui namanya selama ini. Saya hanya tahu dia termasuk gadis tomboy yang manis dan dulu saya sering curi-curi pandang saat main dota di kantin asrama bersama teman-teman sejurusan.
Bodohnya ternyata gadis itu berkuliah di fakultas yang letaknya bersebelahan dengan fakultas saya. Bahkan ada beberapa mata kuliah yang gedung kuliahnya bersamaan. Tak mau kehilangan kesempatan saya berusaha mencari persamaan antaranya dan saya. Mulai dari dosen statistik yang sama hingga pemilihan ketua BEM.
Nama gadis itu Syila. Banyak yang berubah dengan Syila. Rambut pendeknya dulu sudah terbalut kerudung. Masih saya ingat dulu dia suka ramai sendiri di kantin bersama teman-temannya, menggunting ini-itu, membuat yel-ye yang sepertinya untuk persiapan ospek di jurusannya. Saya juga pernah memergokinya membawa tas gunung tinggi entah mau ke mana. Sepertinya dia anak gunung. Namun cerita itu sudah lama saya pendam semenjak saya sibuk skripsi. Lagi pula saya benar-benar tidak memiliki clue apapun tentangnya selain dia anak asrama. Satu yang masih sama senyumnya tak pernah berubah.
***
Badan saya masih pegal-pegal akibat remodelling toko. Rasanya perubahan tata letak antar satu bilik dengan bilik lainnya tak juga kunjung selesai. Pukul setengah 7 pagi. Saya kemudian merapatkan pintu gerbang belakang dan menguncinya. Saya kemudian duduk-duduk santai di depan gerbang belakang toko ditemani Pak Jarwo. Saya kemudian mengeluarkan Djarum saya, menghidupkan pematik, menyulutnya dan menghisap perlahan Djarum itu.
“Huh, Pak, hah Pintunya, hah sudah ditutup ya, Pak?” suara nafas beradu pelan dengan suaranya.
DEG! Itu Syila. Dia telat sepertinya. Saya linglung seketika di tembak dengan pertanyaan itu tiba-tiba.
“I-iya,” jawab saya sedikit canggung. Saya kembali mengirup Djarum untuk merilekskan pikiran saya.
“Yah, terus saya gimana, Pak? Saya nunggu di luar berarti? Saya duduk dulu aja deh,” ucap Syila langsung duduk di samping saya.
Aduh, mampus nih, kenapa saya jadi deg-dengan gini. Suasana hening tercipta. Pak Jarwo pun tak sedikit pun mengeluarkan suara. Sate menit berlalu namun terasa lama sekali. Kunci pintu belakang masih saya pegang, dan sebenarnya bisa saja dia masuk ke dalam, namun hati nurani mengatakan keadilan tak boleh dilanggar. Lagipul ada Pak Jarwo, saya harus menjaga wibawa sebagai atasan.
“Kamu memang kos dimana? Kok datangnya telat?” tanya saya membuka pembicaraan.
‘’Kosan saya? Pasti bapak mau ketawa deh, kalu dengernya. Saya mah ngekosnya di Bandung. Saya orang sini, Pak. Rumah saya juga deket tinggal jalan kaki, tadi saya telambat bangun, Pak,” ucapnya sambil tertawa.
“Kamu orang asli sini?”
“Iya, Pak. Hehehe. Ini dibuka pintunya kapan sih Pak? Apa saya harus dari pintu depan, Pak?”
“Nanti kalau sudah selesai briefing pagi dibuka kok pintunya. Tunggu saja,” jawab saya sekenanya.
“Oh, gitu ya, Pak? Oke deh saya tunggu.  Bapak orang asli sini juga? Atau orang Bandung, Pak?”
“Saya?” Kamu mau main ke rumah saya? Hampir saja saya keceplosan mengatakan hal itu. “Saya orang Bandung, Cibiru.”
“Wah, berarti dulu ke kampus deket dong? Sekarang ngekos dimana, Pak?” ucap Syila memainkan ekspresinya. Matanya berkedip tak sengaja beberapa kali, memerkan eye shadow coklatnya.
“Di belakang Universitas Harapan.”
“Oh, lumayan deket itu, Pak. Bawa motor Pak?” tanya Syila.
“Iya, bawa,” ucap saya singkat.  
Suasana hening kembali tercipta. Pak Jarwo kemudian pamit pulang ke rumah. Syila asik memegang HP nya entah melakukan apa. Saya pun beberapa kali memandangi layar HP yang tak ada apa-apanya untuk menutupi kecanggungan.
Djarum yang saya hisap sudah habis. Saya kembali gugup menghadapi gadis manis di samping saya ini. saya berusaha mengobrol kembali dengannya.
“Kamu ngekos dimana pas di Bandung?”
“Saya?” tanya Syila menatap mata saya tajam. “Pasti bapak gak percaya. Saya tuh tiga tahun di asrama,” tambahnya lagi.
Ya Tuhan, Gusti! Benarkan dugaan saya. Syila pasti gadis asrama yang dulu.
“Saya, juga dulu suka sering main di asrama,” ucap saya sedikit memancing, memastikan Syila memang gadis yang saya taksir dulu.
“Eh, jangan bilang bapak yang dulu suka main dota malam-malam di asrama ya?” tanya Syila to the poin. Tuhan, saya yakin banget gadis ini adalah gadis yang saya taksir dulu.  Ya Tuhan, mungkin kah saya memang berjodoh dengannya?
“Iya bener. Kamu tau saya?”
“Kayaknya tau, Pak. Bapak yang suka duduk di ujung kiri meja pojok yang dekat kantin Bu Ajid bukan?”
“Hah? Kamu tau saya?” tanya saya sambil mencengram bahunya. Saya cukup syok dengan pernyataan Syila barusan.
 “Hehehe, jadi bener yang waktu itu bapak?” tanya Syila sedikit canggung karena pundaknya saya cengkram.
“Eh, maaf ya saya gak sengaja.” Ucap saya melepaskan cengkraman saya. “Iya, itu saya. Wah, saya gak nyangka, kamu bisa tau saya,”
“Hahaha, yaampun dunia sempit banget! Gimana saya gak inget pak, setiap saya dan teman-teman saya lewat, temen-temen bapak pasti ceng-cengin. Cuma bapak sama temen sebelah bapak yang diem-diem aja,”
Saya tersenyum tipis mengingat kejadian jaman dulu. Masih saya dapat dengan jelas betapa hebohnya teman-teman saya saat melihat Syila datang. Mereka tau kalau saya naksir Syila dan mereka pun tau saya tak pernah berani untuk sekedar berkenalan dengannya. Tentu saja mereka memperolok-olok saya jika Syila ke kantin asrama.    
“Hahaha, maaf ya kelakuan teman-teman saya emang suka ramai sendiri,” ucap saya tulus meminta maaf.
“Gak apa-apa Pak. Namanya juga  jaman dulu. Masih muda, Pak, Hahaha,” ucap Syila sambil mengerjap-ngerjapkan tangannya. “Temen bapak yang sering duduk di sebelah bapak siapa namanya Pak?” tanya Syila padaku lagi.
“Yang sebelah saya? Iman maksudnya? Yang kumisan bukan?”
“Iya, yang itu Pak. Ganteng deh, Pak. Dulu saya naksir tau sama dia. Makanya saya sama temen-temen saya suka bela-belain belajar bareng di kantin malem-malem supaya saya bisa ketemu sama temen bapak itu. Padahal tau namanya juga enggak Pak. Labil ya saya dulu Pak. hahaha,”

Saya hanya terdiam mendengar Syila berkata. Dia kemudian berbicara panjang lebar dan sangat antusias menceritakan tentang kelakuannya dulu saat mengeceng Iman salah satu sahabat saya. Tak lama kemudian Pak Romi satpam toko membuka pintu gerbang belakang. Syila kemudian pamit pada saya dan berlalu begitu saja meninggalkan saya yang masih terpaku dengan perkataan Syila. 

Minggu, 20 April 2014

Pemilihan Umum Hati


                Ada yang berbeda dengan suasana taman pagi ini. kubikel-kubikel  dadakan yang terbuat dari kertas karton tersusun rapi di sepanjang ruas jalan kanan dan kiri. Banyak orang yang berlalu-lalang, entah berbaju bebas, entah menggunakan batik. Beberapa diantara mereka bertanda khas di jari kelingking kirinya.
 Beberapa sepeda berjejer di sekeliling taman. Mia meletakkan sepedanya di sana. Ia melihat ke sekeliling taman, mencari bilik bernomor 65. Statusnya yang pengangguran membuatnya memiliki banyak waktu untuk sekadar bersantai di taman, namun terik matahari pukul sembilan mulai menyerang. Mia memutuskan segera menemukan bilik tersebut dan bergegas pulang.
Ada rasa nyeri saat bahu Mia bertubrukan dengan seseorang laki-laki. Ia meringis pelan, namun tak ingin memperpanjang masalah.
“KAMU!” ucap laki-laki itu dengan suara lantang.
Mia hanya menunduk tak berani menatap laki-laki itu. Sudah lama ia tak menetap di wilayah ini, sehingga ia tak tahu persis seperti apa tingkah laku penduduk di sini. Hanya kata maaf yang mampu Mia ucapkan.
                “KAMU?” ucap laki-kali itu lagi.
Hening. Mia tak berani mejawab, tak berani juga untuk pergi melangkah.
                “Mia kan?” tanya laki-laki itu lagi.
Merasa dikenali, Mia lalu menegakan pandangannya mencari tahu siapa laki-laki di depannya itu.
 Mia memandangi laki-laki itu. Laki-laki itu berambut hitam legam dengan potongan sebahu, kaca matanya tak mampu menutupi hidungnya yang mancung, alis matanya tebal, wajahnya putih, postur tubuhnya yang bidang dan tinggi menaikkan nilai jual laki-laki itu. Mia kagum sesaat menikmati ciptaan Tuhan di depannya itu. Mia berusaha mengenali siapa laki-laki itu. Namun Mia benar-benar tak mengenalnya.
“Kamu Mia Sulistiani kan? Aku Iman, kamu ingat tidak?”
“Iman?” tanya Mia masih kebingungan dengan siapa laki-laki perfect di depannya itu.
“Iya, teman TK kamu. Sudah ingat?” ucap laki-laki itu tersenyum manis menimbulkan lesung pipi yang tak tampak sedari tadi.
Mia terdiam. Keringatnya mengucur deras entah karena panas matahari yang mulai menyengat atau karena hormon feromon laki-laki di depannya berhasil menarik perhatian Mia. Mia diam-diam mengendusi bau tubuhnya. Pagi ini Mia belum sempat mandi, hanya gosok gigi selama tiga menit yang menjadi andalannya menyambut pagi.
“Kok diem? Beneran gak ingat ya sama aku? Kamu sudah nyoblos?” tanya laki-laki itu karena tak juga mendapat respon dari Mia.
“Hehehe, iya belum. Aku nyoblos dulu ya!” ucap Mia kabar secepat kilat tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu, apakah Mia masih mengingatnya.
Sebenarnya Mia masih ingin berlama-lama dengan laki-laki itu. Namun Mia merasa malu, karena perlahan bau keringat di tubuhnya mulai menjalar. Apalagi pagi ini Mia belum mandi. Malukan jika laki-laki itu benar teman TK-nya. Tak beberapa lama Mia menemukan bilik nomor 65. Setelah sekian lama menunggu akhirnya Mia mendapat giliran untuk mencoblos. Mia buru-buru keluar dari kubikel penyoblosan dengan kelingking kiri bewarna keunguan.  
“Mia!” panggil seseorang.
Merasa terpanggil Mia mencari sosok si pemanggil. Beberapa saat kemudian Mia menemukan Misyel teman bimbingan belajar SMP-nya dulu yang kebetulan juga merupakan teman TK-nya Mia.
                “Hai!” sapa Mia sambil menghampiri Misyel. Rasa rindu mendadak timbul pada temannya yang satu ini. sudah lama mereka berdua tak bertemu, mungkin ada hampir 7 Tahun.
                “Kamu apa kabar Mi? Ih,  sekarang kok kamu kurus banget sih? tipsnya apa sih?” tanya Misyel sambil memegangi rambutnya yang sedari tadi tertiup angin.
                “Baik dong. Ini sukses jadi pengangguran. Hehehe, kamu sendiri gimana, Syel?” tanya Mia tak kalah serius menanggapi pertanyaan Misyel.
                “Hahaha, mending lah ketimbang aku masih jadi mahasiswa tua. Belum lulus aku mah. Eh, duduk di kursi taman itu yuk! Kita ngobrol dulu,” ucap Misyel menarik lengan Mia, tanpa menunggu jawaban dari Mia.
                Obrolan panjang antara dua sahabat lama ini mengalir begitu saja. Mia seolah lupa hari itu ia belum mandi. Baru saja Mia ingin menanyakan perihal laki-laki yang ia temukan dan mengaku bernama Iman pada Mia, Misyel sudah memanggil laki-laki itu.
                “Iman, sini! Kita ngobrol-ngobrol dulu. Laki-laki itu kemudian menghampiri Misyel dan duduk diantara Misyel dan Mia. “Man, masih inget gak sama Mia, temen TK dulu?”
                “Ingat dong, masa sih lupa? Tadi aku sudah menyapa kok, iya kan, Mi?”
                “Cie, yang udah sapa-menyapa. Udah tidak marah lagi, Man dengan kelakukan Mia jaman dulu?” tanya Misyel sambil tersenyum menyeringai. Misyel tau banyak tenang Iman. Maklum lah mereka satu sekolah dari TK sampai SMA.
                “Emang aku dulu ngapain?” tanya Mia kebingungan. Mia benar-benar lupa dengan laki-laki yang duduk di sampingnya. Umur Mia sudah beranjak 22 Tahun, dan TK? Bukan kah TK itu berlangsung saat usia 4-5 tahun? Sudah hampir 17 tahun yang lalu! Mia benar-benar lupa dengan laki-laki yang bernama Iman itu.
                “Kamu dulu menginjak kelingking kiriku, saat kita bersembunyi berdua di balik kolam renang ketika kita main petak umpat. Ingat?”
                “Hah?” Mia berusaha berpikir keras. Memorinya sepertinya mulai tergali. Samar-samar Mia dapat mengingat kejadian saat itu. “Iman yang nangis waktu itu? Yang abis itu ngadu ke mamahnya pas pengajian di TK?” tanya Mia akhirnya. Rasa malu langsung menyergap, mengingat tingkah laku konyolnya dulu pada laki-laki cinta pertamanya itu.
                “Hahaha, Iya Mi, Iya! Kamu tau gak sih? si Iman gak mau satu SD sama kamu. Setiap masuk SMP dan SMA juga dia menghindari kamu. Sekolah SMA unggulan kan? Si Iman tuh sudah diterima di sana, tapi pas tau ada kamu di sekolah itu dia langsung mau pindah ke sekolah swasta. Jadi akhirnya Iman satu seolah lagi deh sama aku,” cerocos Misyel panjang lebar.  
                Iman berusaha menutup mulut Misyel, tapi usahanya percuma Misyel telah membebarkan semuanya. Iman jadi salah tingkah sendiri menghadapi gadis di smping kirinya itu. Awalnya dulu memang Iman sangat marah dengan gadis itu. Apalagi gadis tidak pernah meminta maaf padanya. Lama-lama ia menjadi dendam dengan gadis bernama Mia itu.  Segala hal ia lakukan untuk mencari tahu tentang gadis itu. Bahkan ketika friendster ataupun facebook lagi booming-booming-nya ia diam-diam membuat akun khusus dengan mengubah identitasnya. Hingga saat ini path bahkan instragam pun ia follow tentunya dengan nama samaran.
Perasaan kesal itu lama-lama berubah menjadi rasa penasaran. Apalagi kini Mia telah berubah sangat jauh. Tubuh gumpal, pendek, kecil dan berwajah bulat hilang entah kemana. Wajahnya berbentuk hati dan dipermanis dengan rambut panjang dengan poni miringnya, tubuhnya tinggi menjulang dengan porsi tubuh sedikit semok. Hari ini benar-benar hari pertama bagi Iman melihat sosok Mia secara langsung, tanpa bersembunyi seperti yang sering ia lakukan. Apalagi Iman benar-benar sudah lama tak bertemu Mia sejak Mia kuliah di luar kota.
“Ah, serius?” ucap Mia menanggapi perkataan Misyel. “Maaf, ya Man! Aku benar-benar tidak maksud. Kamu tau kan dulu aku pemalu. Pulang-pulang aku nangis tau dulu. Abis kamu marah sam aku sambil nangis-nangis. Aku merasa bersalah banget! Tapi aku gak berani ngomong. Terus aku jadi tambah sedih karena kamu sampe bilang ke mamah kamu. Terus sekarang aku udah lupa tentang masalah itu. Maaf ya Man,” ucap Mia dengan perasaan bersalah.
Mia tentu ingat dengan jelas kejadian itu. Kejadian yang membuat laki-laki yang ia taksir menangis kala itu.  Keringat lagi-lagi mulai mengucur apalagi sengatan matahari siang meningkat. Mia menyakini aroma tubuhnya yang tak mengenakkan dapat tercium oleh laki-laki di samping kanannya. Apalagi jarak duduknya sangat berdekatan. Aduh, rasanya Mia ingin segera kembali ke rumah!
“Hahaha, iya. Gak apa-apa itu kan masa lalu,” ucap Iman berusaha tersenyum menutupi kecanggungannya.
Mia jadi senang sendiri menerima perlakuan manis dari Iman. Obrolan mulai mengalir lagi sederas aliran keringat Mia.
                “Eh, pulang yuk. Bapak aku sudah menunggu. Hari ini dia mau landing ke London,” ucap Misyel kepada Mia dan Iman.
Tanpa babibu Mia menerima ajakanan Misyel dengan senang hati.  Mereka bertiga siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Misyel berpisah dengan Mia dan Iman setelah keluar dari taman. Rumahnya kini tak lagi berdekatan dengan rumah Iman seperti dulu sejak ia pindah rumah. Mia dan Iman kemudian jalan berbarengan menuju gang rumahnya masing-masing. Ada rasa canggung antara keduanya. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mia yang malu takut-takut ketauan belum mandi dan Iman yang masih saja penasaran dengan Mia.
“Man,” pangging Mia tertahan.
Iman sedikit kaget mendengan suara Mia. Ia menengok ke arah Mia. Mia kembali berbicara, “Aku duluan ya, ini gang rumah aku. Dah!” ucap Mia sambil tersenyu. “Hati-hati di jalan ya, Man.”
Semakin sibuknya Iman, ia menjadi lupa sebenarnya rumahnya hanya berbeda dua gang dari rumah Mia dan kebiasaan menatap Mia dari jauh sering ia lakukan dari sudut gang ini. Iman kembali berjalan. Namun ada rasa gelisah dipikirannya. Perasaan aneh yang selalu ia tahan hampir selama 17 tahun. Perasaan yang selama ini selalu ia anggap sebagai rasa penasaran belaka.
Iman kemudian memutar balik arah, mencari dimana Mia berada. Ya, Iman harus bisa tegas sama halnya ketika memili calon legislatif tadi. Sosok Mia terlihat semakin mengecil. Iman kemudian mengejarnya. “Mia!” jerit Iman.
Mia kemudian menengok ke arah belakang, mencari darimana asal suara itu berasal.
“Mia……..,” ucap Iman tak meneruskan kata-katanya.
“Kenapa, Man?” sedikit menjauh dari Iman. Ia benar-benar tak ingin bau keteknya tercium.
“A, aku, boleh kan, minta.. nomor kamu? Boleh kan… dekat saja kamu? Boleh kan….,”
 Mia hanya mengangguk menanggapi ekspresi Iman yang benar-benar manis.  Iman sangat senang dan tanpa sadar memeluk Mia. Keringat dibaju Mia mulai menempel di baju Iman. Indera penciuman iman mulai mendapati bau tak sedap.
“Mi, kok kayak ada bau tong sampah ya?” tanya Iman polos setelah melepas pelukannya.
“Ehehehehe…,” tawa Mia menyeringis. “A, a, a.. aku, belum… belum, mandi Man, hehehehe. Kayaknya itu bau keringat aku deh………,”ucap Mia masih tertawa menyeringis karena malu.









Rabu, 16 April 2014

Bahagia itu Tentang Keiklasan

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali  & Get discovered! 





Aku berusaha menahan tangis. Jika dilihat, jelas sekali hidungku memerah dan mataku berkaca-kaca. Semua pegawai The Bay Bali, “Bumbu Nusantara” menatapku. Seolah mencari sesuatu dari kehadiranku hari ini. Aku hanya mampu tersenyum seperti biasanya. Seolah semuanya baik-baik saja.
bn-food0585

Ornamen kayu memenuhi aula depan tempat ini. Jauh masuk ke dalam terdapat ruang indoor dipenuhi meja unik dengan view langsung menghadap pantai, khas restauran ini. Hari ini restauran ini tampak berbeda. Tak ada seorang pengunjung pun selain aku. Meja-meja unik itu juga telah dimasukkan ke dalam aula, digantikan dengan bangku dan meja khas ornamen pernikahan. Aku duduk di salah satu bangku tersebut, meminta red wine yang sudah jauh-jauh dipesan. Terdapat gate kecil yang telah dihiasi bunga mawar warna-warni. Tempat ini sungguh romantis dan aku pun terkagum-kagum di sini, sendirian.




Aku berusaha menghela nafas panjang. Dulu semua orang bertanya tentang hubungan kedekatan kami berdua. Semua orang yang bertanya kadang tidak mau mengerti, mereka lebih banyak sekadar ingin tahu tak lebih. Aku pun hanya dapat membalas dengan senyum ketika mereka bertanya.
Bukankan jatuh hati itu adalah sebuah karunia, Tuhan? Lalu mengapa kebanyakan orang-orang tergesa-gesa menyatakan perasaannya? Lalu mengapa kebanyakan orang sibuk memendam luka menahan perasaan? Bukankah jatuh hati itu sebuah perasaan harfiah yang sederhana?
Tentang perasaanku padanya biarlah aku memendam hingga resah tak lagi terbendung, hingga asa akan terlepas. Aku bukan orang yang mudah untuk jatuh hati. Butuh waktu lama untuk mempercayai seseorang singgah terlebih menetap di hatiku. Jadi, jika suatu hari nanti aku mampu mengungkapkan perasaanku padanya hanya ada dua kemungkinan dia telah menjadi pasanganku atau aku telah berani membuang perasaanku padanya.
Dulu aku selalu mengelak tentang hubungan kedekatan kami berdua. Aku rasa mereka tidak salah, tidak juga benar. Benar, jika mereka tanya perasaanku padanya adalah nyata, namun salah jika mereka bertanya kedekatan kami berdua adalah sebuah ikatan. Aku tak perlu sebuah ikatan yang dijelaskan dengan kata-kata ‘berpacaran’. Aku hanya butuh penyataan yang saling menguatkan ketika hati mulai melemah. Hanya sebuah kepastian tidak lebih! Walaupun aku tahu sebuah kepastian hakikatnya hanya ada pada Tuhan.
Aku lagi-lagi memandangi sekeliling restauran ini. Suasana pagi ini begitu tenang. Hanya terdengar deburan ombak perlahan. Air mataku kembali pecah. Ini kah hari kebahagiaan yang selama ini aku harapkan?
Aku tahu hubungan kami berdua hanya akan menyakitkan berbagai pihak terlebih seseorang yang menyukai dia dalam diam, sama seperti aku. Sudah itu aku hanya bisa melihat dan membuktikan bahwa doaku pada Tuhan tentangnya lebih kuat dibandingkan orang itu. Aku tahu hubungan kami seperti hubungan tanpa status, teman bukan, pacar pun bukan. Sungguh aku tak bermaksud melakukan hal itu. Aku hanya tak ingin memaksa kekuasaan Tuhan.
Tentang perasaannya padaku, aku tak pernah tahu persis. Tapi bukankan perasaan ini lebih indah jika kami sama-sama terdiam dalam sebuah doa? Aku hanya tak ingin keegoisanku, kecemburuanku membabi buta layaknya dia adalah milikku. Padahal jelas sekali dia dan aku hanya sekadar milik Tuhan.
Masih dapat kuingat jelas, ketika aku bertemu dengannya di restauran ini beberapa bulan yang lalu. Sore itu ketika sunset bewarna jingga keorenan, saat aku bersama dengan teman-temanku dan dia bersama wanita lain. Ada rasa cemburu yang membabi buta ketika itu. Rasanya perih sekali. Padahal aku jelas tahu wanita itu hanya klien dari pekerjaannya. Bagaimana jika dia masih menjadi milikku saat ini? Aku curiga aku akan selalu bersitegang dengannya untuk hal-hal sepele seperti ini.
bn-food0700

Lagi pula bukan kah masalah hati dapat berubah-ubah setiap saat? Bukan kah kami dulu pernah saling menjauh, dipisahkan jarak dan waktu, membenci satu sama lain tanpa sebab dan takdir membuat kami seperti ini sekarang? Aku hanya tak ingin suatu saat nanti aku akan kembali membencinya. Aku hanya tak ingin mendahului waktu.
Aku tahu seberapa pun aku ingin memilikinya jika dia bukan milikku maka dia akan pergi menjauh. Seperti  kemarin, saat ia memilih kembali kepada pemiliknya yang abadi. Aku hanya mampu mendoakannya dengan ikhlas. Karena itu hari ini di hari pernikahan kami, Aku harus menyatakan perasaanku yang tak pernah kunyatakan secara gamang padanya.
“Marsya sayang Ridwan. Marsya tau pernikahan ini hanya karena bisnis orang tua kita, tapi Marsya benar-benar sayang Ridwan. Maafin Marsya tidak pernah mampu menyatakan ini pada Ridwan secara langsung. Tapi Marsya tahu kok, Tuhan lebih sayang sama Ridwan. Marsya harus bahagia kan,Wan? Marsya janji, Marsya akan bahagia walau harus melepas Ridwan. Bahagia itu adalah sebuah keiklasan kan, Wan? Seperti saat Ridwan mengiklaskan wanita itu pergi dan memilih menikahiku untuk menuruti permintaan ayahmu kan wan?
Aku mengelap kelopak mataku yang tak lagi basah. Meneguk segelas red wine yang dituangkan seorang pelayan. Bahagia itu sederhana. Cukup menyimpan seseorang dalam kenangan di hati dan mengiklaskannya bersama pemiliknya yang abadi.


Senin, 10 Maret 2014

Bittersweet Of Love

                Ada derita dan kecewa dari wajah bapak tua itu. Anak semata wayangnya dibunuh dengan berutal oleh salah satu teman sekolah anaknya. Tubuh anak jelita anaknya yang kini beranjak dewasa tak lagi berbentuk. Terpotong satu persatu bagai bagian puzzle yang belum tersusun. Air matanya kembali jatuh, mengingat mayat anaknya yang ia lihat. Sementara istrinya yang masih syok mendengar kabar berita itu masih terbaring lemah di rumah.
                Semua reporter sibuk menulis dan nyimak segala perkataan yang diucapkan bapak tua itu. Tidak ada yang sadar dengan senyum tipis yang sempat mengembang beberapa detik di wajahnya. Senyum kemenangan yang telah lama ia siapkan lebih dari belasan tahun.
*
                Di ruang intrograsi, duduk terpaku seorang gadis yang tertuduh sebagai pelaku pembunuhan artis remaja terkenal. Gadis itu masih terdiam. Bahkan setelah dia divonis sebagai pelaku utama pembunuhan berencana itu. Semua pertanyaan yang ditanyakan petugas intrograsi ia diamkan. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri, mengingat berbagai kejadian yang tak sengaja ia lihat.
                Gadis itu seperti berjalan dalam ilusinya. Mengingat-ingat kejadian beberapa minggu yang lalu sebelum kematian teman dekatnya, Winta, artis remaja yang sedang naik daun. Malam itu, ketika gadis itu baru pulang les, ia mendapati suara-suara jeritan dan desahan aneh. Gadis itu berusaha masuk ke dalam rumahnya dengan mengendap-endap. ia mendapati ibunya sedang bergumul mesra dengan pria tua yang tak dikenalnya. Gadis itu tidak sempat melihat bahwa tangan dan kaki itunya terikat kuat oleh tali. Pertahanannya pecah, air matanya jatuh namun tak ada suara apapun yang mampu dia keluarkan.
                Gadis itu merasa dikhianati oleh ibunya, namun itu hanya terjadi selama beberapa menit hingga ibunya berkata pada pria tua itu. Gadis itu mungkin tidak mampu melihat apa yang sedang ibunya lakukan dengan lelaki itu, tapi ia masih bisa mendengar.
“Kamu mungkin bisa memiliki tubuhku. Tapi tidak dengan hatiku. Kamu jelas tahu hatiku hanya untuk Satria!” Gadis itu bergetar ketika ibunya menyebutkan nama ayahnya.
Pria tua itu tertawa, ”Kau juga berkata seperti itu dulu. Dulu kau bilang hatimu hanya untukku? Dasar perempuan jalang!” , ‘plak’ bunyi tamparan keras terdengar bersamaan dengan suara lelaki itu di telinga gadis itu.
Gadis itu sungguh ketakukan dan segera melarikan diri dari rumahnya.
“Saudari Nindy, coba berkata sedikit. Agar kasus ini cepat berakhir. Jawab saja apa yang menyebabkanmu melakukan pembunuhan terhadap saudari Winta?” ucap petugas introgasi lagi.
Gadis itu seakan tersadar dari ilusinya, namun ia masih belum mampu mengatakan apa-apa. Terlalu banyak kejadian yang dia lihat. Terlalu banyak tekanan yang gadis itu hadapi. Kematian temannya pun menjadi derita yang terelakkan bagi batinnya.
Gadis itu hanya menatap petugas itu tanpa berkedip. Matanya terus memandangi petugas itu sementara pikirannya kembali ke satu hari  yang lalu. Subuh itu, ia terbagun dalam keadaan memegang gergaji. Kepalanya terasa berat, namun bau anyir busuk memaksanya untuk bangun. Di sampingnya terdapat bagian-bagian tubuh tak berbusana berselimutkan darah pekat. Gadis itu dengan sigap menjauh. Sedetik kemudian gadis itu menyadari bajunya dipenuhi darah dan tangan kanannya masih memegang gergaji.
Gadis itu tidak mengetahui bagian-bagian tubuh siapa yang terdapat di sampingnya tadi, hingga ia melihat bagian kepala tanpa tubuh. Gadis itu menjerit kencang membangunkan burung-burung gereja yang sedang bertengger di batang pohon. Gadis itu menemukan wajah Winta teman dekatnya di sekolahnya yang sedang naik daun menjadi artis. Gadis itu kembali melihat tangan kanannya yang memegang gergaji. Pikirannya mejalar-jalar berusaha mengingat kejadian apa yang telah terjadi, namun tak ada satu pun hal yang mampu gadis itu ingat. Gadis itu kembali memandang gergaji besar di tangan kanannya. Tangan yang jarang sekali ia gunakan.
“Saudari Nindy!” petugas itu kembali mengajak gadis itu berbicara.
Gadis itu sedikit tersentak kembali kedunia nyata. Terdiam sesaat kemudian menjerit berulang kali “Saya kidal! Saya kidal! Saya kidal!”
**
                Bapak tua itu memasuki kamar rumahnya. Bapak tua itu melihat istrinya sudah tertidur, ia melihat sekilas meja di kamarnya. Bapak tua itu tersenyum, meskipun istrinya hanya makan setengah dari makan yang disajikan di meja tersebut, setidaknnya istrinya sempat terbangun tadi.
Bapak tua itu kemudian memasukkan obat anti depresi pada selang infus istrinya. Bapak tua itu tersenyum, mengelus lembut kepala istrinya yang masih tertidur, membuat rambut istrinya sedikit acak-acakan.
           “Tidur lah yang tenang sayang. Seperti kedua orang tuamu dulu yang memaksaku untuk menikahimu. Anak kita juga pasti sudah bahagia di surga karena mati demi kebahagianku. Dia anak yang berbakti sayang,” ucap bapak tua itu.
Bapak tua itu kemudian menambah dosis obat antidepresi pada istrinya.
                Bapak tua itu tersenyum puas keluar dari kamarnya. Kemenangan mutlak telah bapak tua itu miliki. Bapak tua itu kemudian menelpon seseorang. Kemudian tertawa bahagia setelah telepon dimatikan. Bapak tua itu memastikan kecelakaan mobil yang telah direncanakan sukses berhasil dilaksanakan bawahannya.
“Winta, Nindy, Satria dan sebentar lagi Selfi istri tercinta saya akan segera lenyap! Saya akan mendapatkan kebahagian seutuhnya!” ucap bapak tua itu pelan, tapi pasti.
***
            “Bagaimana? berhasil?” ucap seseorang wanita melalui telepon genggamnya.
           “Sudah berhasil. Kita hanya perlu memastikan Selfi akan mati besok!”
           “Lalu cinta kita akan bersemi kembali?” tanya wanita itu lagi.
           “Tentu, tentu sayang. Akan saya pastikan itu!”
           “Terima kasih, sayang. Aku kini mencintai kamu seutuhnya,” ucap wanita itu berbicara dengan manja.
      “Saya juga. Maaf membuat Satria mati dan membuat anak kesayanganmu menanggung semua penderitaan kita dulu. Maafkan saya,”
                “Tidak apa-apa, sayang. Dia pantas menerimanya! Bagaimana bisa anak tercintaku itu berteman akrab dengan anakmu dan Selfi. Tentu aku tidak setuju! Dan aku ingin anak tercintaku itu sadar apa yang telah dia lakukan!” ucap wanita itu sambil tersenyum.
“Ah, kau begitu baik menghukum anakmu tanpa membunuhnya. Saya semakin sayang padamu.  Sayang, maaf saat itu, Saya sampai mengikat tangan dan kakimu,”
“Hei, bukankah sudah kubilang aku suka saat kau melakukan itu. Aku suka saat kau mampu menganiaya orang termasuk diriku. Aku suka saat kamu memotong satu persatu bagian tubuh anakmu dan Selfi itu. Hahaha. Ekspresi gadis itu begitu lugu saat mengetahui bahwa ayahnya yang akan memutilasi dirinya. Karena itu, mulai saat ini tetaplah di sisiku, tetaplah menganiaya orang lain bersamaku,” ucap wanita itu tersenyum puas, pengorbanan cintanya selama ini telah berhasiil.
“Baiklah, sayang. Saya cinta kamu! Love you…”