Lima belas jam yang lalu, ketika dua jam lagi proses
perceraian akan dimulai. Aku yang terbiasa memaksa Anila menjadi dewasa sebelum
waktunya, kini dipaksa untuk memahami tentang waktu olehnya.
“Mah, Anila boleh tanya? Kenapa mama dulu mencintai Ayah?
Memangnya cinta itu sudah hilang, Mah? Kalau seperti itu berarti waktu adalah
bagian terjahat di dunia ini ya, Mah?”
Aku terhenyak tak mampu
menjawabnya, mendengarkan pertanyaannya saat itu. Anila adalah buah hatiku,
kadang aku lupa usianya tak lebih dari tujuh tahun.
“Mah, Anila ingin mama bahagia, ingin Ayah bahagia. Bukan
kah saat dulu mama mencinta Ayah, mama dan ayah bahagia?”
Ingatanku kembali
ke belasan tahun yang lalu. Saat kubertemu denganmu. Kamu lelaki berwajah manis,
sekaligus memiliki sifat aneh dan menyebalkan. Kebetulan kamu ketua kelompok
saat ospek jurusan dan yang menyebalkan kamu sering membolos saat ospek, jadilah
aku dan kawan-kawan yang kena batunya. Tapi jangan ditanya tentang
kecerdasanmu. Indeks prestasi 3,96 mampu kamu raih, di awal perkuliahan.
Hampir semua teman-teman menyukaimu.
Mereka tak pernah tau betapa menyebalkannya dirimu. Betapa kamu selalu
mencelaku. Mengkritik semua kekuranganku. Dan aku sangat membenci sifatmu yang
itu, sifat yang selalu mengkritik kekuranganku, entah tentang fisikku atau
tentang sifatku.
Kamu adalah satu-satunya patner in
crime ku di kampus. Kita sering istirahat bareng, makan malam bareng sampai bolos
kuliah pun bareng. Aku selalu kesal sama kamu, tapi kalau diajakin main sama
kamu pasti aku mau. Aneh!
Aku ingat, hari itu adalah hari
tergila dalam hidupku. Hari dimana aku mulai menyadari bahwa aku terbiasa
denganmu, atau mungkin juga mulai bisa memahami tingkah lakumu yang aneh! Saat itu,
setelah makan malam di sebuah kafe, kamu mengajakku taruhan. Aku tentunya
menolak keras. Namun ide gilamu mampu membuatku tertawa terbahak-bahak.
“Kamu, mau gak ambil mic penyanyinya
terus nyanyi satu bait aja? Nanti aku kasih uang seratus ribu? Mau gak?”ucapmu
menunjuk penyanyi kafe, yang sedang menyanyi disudut depan kafe.
“Enggak, sableng banget sih kamu!”
“Ah, payah nih! Hmm, atau enggak
kamu wes joget-joget aja di depan satu menit aja, atau 30 detik deh! Nanti aku
bayar kamu seratus ribu,” ucapmu semakin gila.
“Ih, kamu sok kaya banget sih? Mana
sini duitnya? Nanti aku lakuin kalau kamu kasih. Gak ada kan? makan hari ini
aja minta traktir aku, wek!” ucapku sambil memeletkan lidah, sambil menyindirnya.
“Nanti kalau aku udah kerja, aku janji
aku bakal merawatmu. Oke? Aku janji bakal bawa kamu ke rumah sakit jiwa, Hahaha”.
“Dasar, Woni sableng! Udah yuk,
pulang besok pagi ada kuis loh! Ingat?” kamu sih enak memang pintar, aku perlu
setengah mati untuk bisa mendapatkan nilai bagus.
“Ih, tar dulu! Jadi kamu gak mau nih
ngelakuin taruhan ini?”
“Enggak.”
“Ah, gak asik ah! Aku ngambek ah!”
“Yaudah, terserah. Aku pulang ya?”
ucapku tak peduli.
“Ih, sebentar dulu. Beneran gak mau
nih?” ucapmu dengan muka memelas.
“Enggak, kenapa gak kamu aja? kenapa
aku yang harus taruhan? Emangnya kamu berani?”
“Berani. Tapi bayarannya lebih mahal
daripada segepok uang, Kin,”
“Dasar, kunyuk! Ketauan kan mau nya
apa?”
“HAHAHA, emang kamu tau mau aku apa?”
“Biaya makan gratis selama seminggu?”
“Memangnya, aku cowo matre banget? Aku
gak akan minta itu kok. Aku cuma minta hal gampang. Gimana?”
“Apa?”
“Ada deh, bilang ‘iya’ dulu,”
“OKE! DEAL! Tapi taruhannya kamu nyingkap
rok penyanyi itu ya, gimana?”
“Ah,gampang! Ayok, sekarang!” ucapmu
menarikku seenaknya dari meja, membuatku syok, akan aksi nekatmu.
Tak sampai semenit kita berdua sudah
berada di barisan paling depan panggung kecil di kafe itu, tak sampai sedetik pula
rok penyanyi itu kamu singkap, menimbulkan jerit keras dari sang penyanyi. Belum
sempat aku melihat reaksi marah penyanyi itu kamu mengajakku berlari kencang
keluar dari kafe. Beberapa orang menyoraki dan mengejar kita, beberapa lagi bersiul
senang melihat aksimu. Kamu gila!
Nafasku kala itu, belum beraturan,
hampir setengah jam kita berlari dikejar masa, atas aksi gilamu. Kita berhasil bersembunyi
diantara bilik-bilik kosan.
“KAMU GILA TAU GAK SIH, WON!” teriakku
setelah berhasil mengatur nafas.
“Kan kamu yang menyuruh. Lupa? Hahahaha,"
kamu masih saja tertawa terbahak-bahak.
“Ya, tapi kan gak gitu juga Won,”
“Eits, kamu masih, punya hutang loh
sama aku! Hahaha,”
“Aku, gak minta apa-apa, Kin. Aku cuma
minta, kamu mau kan nanti jadi istri dan ibu ibu dari anak-anakku?”
“Ah?” kala itu masih kebingungan.
“Kinan gembrot lemot banget, sih!
aku suka kamu Kinan, aku sayang kamu! Jawabannya harus ‘iya’ loh, kan udah janji,
wek!” ucapmu sambil memelet.
“Hahahaha, bencada ya, Won?”
“Serius! Eh, jangan kepedeaan ya
gadis gembrot! Aku cuma minta kamu jadi istriku, bukan pacarku, tolong!”
“Ish, nyebelin!” ucapku menjawir
telingamu. Saat itu ada rasa bahagia yang tak tertahan. Rasa benci yang sedari
dulu kupupuk padamu hilang begitu saja.
Mungkin
itu adalah kesalahan besarku, mulai mencintaimu dengan kebencian dan beberapa tahun
ini aku mulai muak dengan segala sifatmu. Mengenang hari itu membuatku sadar, aku
masih mencintaimu dan aku tak bisa hidup tanpamu.
“Ibu Kinan?”
“Iya,
saya, dok? Gimana keaadaan suami saya, dok?”
“Maaf,
kami tidak bisa menyelamatkan Bapak Woni.. Kecelakaan mobil itu telah mengenai
sistem syaraf otaknya bapak Woni dan mengganggu sistem pernafasannya. Sekali lagi
kami meminta maaf,”
“Saya,
mencintainya dokter…” ucapku gamang. Aku masih belum dapat mencerna kata-kata
dokter di depanku ini.
“Mama,
jangan sedih ya,” ucap Anila memelukku yang masih saja terpaku sejak dokter pergi.
Aku
jatuh terduduk di lantai, mulai menyadari, apa yang baru saja terjadi. Anila
menepuk-nepuk pundakku pelan, mengajakku untuk duduk di salah satu kursi di
ruang tunggu, membuatku semakin rapuh.
***
.
“Aku benci kamu! Aku mau cerai! Aku mau
cerai! Talak aja aku sekalian,Won!”
Aku terpaku mengingat
kalimat itu. Kalimat yang beberapa kali pernah kuucapkan padamu. Kalimat yang
pernah membuat Anila beberapa kali menangis.
Aku benci, kamu, Won. Benci kamu yang meninggalkan aku
sendiri, saat aku sadar aku masih mencintaimu, Won. Woni, aku mohon kamu
kembali, jangan tinggalin aku sendiri, Won, Anila butuh kamu.



