Jumat, 15 Agustus 2014

Secerah Bayangan di Cermin

Dia sedang asik mewarnai bibirnya dengan lipstik bewarna pastel sambil menghadap ke cermin. Saya kemudian menghampirinya. Ikut mematut-matut penampilan saya di cermin.
“Hai, pagi!” ucapnya tersenyum manis pada saya, sambil memamerkan bibirnya yang telah dibubuhi lipstik.
Saya sudah selesai dari tadi namun saya masih menunggunya menggelung rambut sebahunya ke belakang. Padahal dia tak pernah memintaku untuk menunggu. Saya asik memperhatikannya. Memastika bahwa saya cocok berdiri berdampingan dengannya. Saya kembali memperhatikan pantulan wajah saya dan dia di cermin. Ah,ini kah yang namanya jatuh hati? Melupakan logika dan hanya mengandalkan perasaan?
“Gimana gue udah kece kan hari ini?” tanyanya mampu menganggu lamunan saya.
“Dih, males!” ucap saya hambar. Saya terlalu takut jika perasaan saya yang sesungguhnya menjadi transparan.
“Hahaha, dasar! Santai aja keles balesnya. Ayo ih, udah mau mulai briefing!” ucapnya sambil menarik lengan kemeja saya, membuatnya menjadi sedikit kusut, membuat jantung saya berdetak tak karuan.         
**
Andai saja saya punya keberanian untuk menyatakan perasaan saya padanya. Namun saya rasa melihatnya tersenyum di samping saya saja sudah cukup. Jadi yang saya lakukan ketika dia sedang kesulitan menghadapi tingkah-laku pelanggan adalah menghampiri berusaha membuatmu tenang, walau saya tahu saya yang menjadi tak tenang karena jantung ini terus berdetak kencang.
Mengambil sebuah istilah mungkin dia punya hormon feromon yang mampu membuat saya mabuk kepayang. Yayaya, saya tahu mana mungkin seorang wanita memiliki hormon feromon. Tapi sungguh berdekatan dengannya membuat saya ingin memeluknya, mengecupnya dan tak mau melepaskannya lagi.
***
Saya rasa saya sudah gila. Tingkah laku saya semakin hari semakin tak bisa dikontrol. Dia bagai magnet yang terus ingin saya tempeli. Mematut penampilan di depan kaca bersamanya di pagi hari seperti sebuah prosedur yang harus saya lakukan.
 Keputusan saya sudah final. Saya harus berani menyakatan perasaan saya ini padanya. Demi kebaikan saya, agar saya tidak gila seperti ini. Tuhan, masih bolehkan saya berdoa untuk sebuah harapan semu ini padaMu?
***
Bunyi sirine nyaring terdengar. Memecahkan indera pendengaran saya. Saya masih terdiam kaku melihat kejadian setengah jam yang lalu. Hati ini terasa sangat sakit, namun tak sedikitpun airmata keluar dari mata saya. Ini kah yang namanya patah hati? Melihat orang yang kita sayangi, berlumuran darah, dan terbaring lemah?
Tuhan, apakah ini jawaban atas semua pertanyaan saya? Apa ini jawaban atas permohonan saya? Ya Tuhan, tolong selamatkan dia ya Tuhan! Saya mohon!”  
*****
Bu Dian, kenapa sih kalau ngaca di cermin lama banget, terus ekspresinya suka senyum-senyum sendiri?”

“Suuut, anak baru jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Sebelum kamu kerja di sini. Bu Dian punya patner dekat, namanya Bu Ami,  tapi minggu lalu Bu Ami jadi korban tabrak lari  dan meninggal dunia. Bu Dian dan Bu Ami, hobinya sebelum masuk store pasti ngaca lama-lama di cermin. Aku rasa Bu Dian masih sedikit syok  deh karena dia ada di tempat kejadian saat itu.”



Pesona Refleksi
 photo available at : http://www.pesona.co.id/refleksi/refleksi/bercermin.pada.ibu.3/001/001/33

Tidak ada komentar:

Posting Komentar