Dia sedang
asik mewarnai bibirnya dengan lipstik bewarna pastel sambil menghadap ke cermin.
Saya kemudian menghampirinya. Ikut mematut-matut penampilan saya di cermin.
“Hai, pagi!” ucapnya
tersenyum manis pada saya, sambil memamerkan bibirnya yang telah dibubuhi lipstik.
Saya sudah
selesai dari tadi namun saya masih menunggunya menggelung rambut sebahunya ke
belakang. Padahal dia tak pernah memintaku untuk menunggu. Saya asik memperhatikannya.
Memastika bahwa saya cocok berdiri berdampingan dengannya. Saya kembali
memperhatikan pantulan wajah saya dan dia di cermin. Ah,ini kah yang namanya jatuh hati? Melupakan logika dan hanya mengandalkan
perasaan?
“Gimana gue
udah kece kan hari ini?” tanyanya mampu menganggu lamunan saya.
“Dih, males!”
ucap saya hambar. Saya terlalu takut jika perasaan saya yang sesungguhnya
menjadi transparan.
“Hahaha, dasar!
Santai aja keles balesnya. Ayo ih, udah mau mulai briefing!” ucapnya sambil menarik lengan kemeja saya, membuatnya menjadi
sedikit kusut, membuat jantung saya berdetak tak karuan.
**
Andai saja
saya punya keberanian untuk menyatakan perasaan saya padanya. Namun saya rasa melihatnya
tersenyum di samping saya saja sudah cukup. Jadi yang saya lakukan ketika dia sedang
kesulitan menghadapi tingkah-laku pelanggan adalah menghampiri berusaha
membuatmu tenang, walau saya tahu saya yang menjadi tak tenang karena jantung
ini terus berdetak kencang.
Mengambil sebuah
istilah mungkin dia punya hormon feromon yang mampu membuat saya mabuk
kepayang. Yayaya, saya tahu mana mungkin seorang wanita memiliki hormon feromon.
Tapi sungguh berdekatan dengannya membuat saya ingin memeluknya, mengecupnya
dan tak mau melepaskannya lagi.
***
Saya rasa saya
sudah gila. Tingkah laku saya semakin hari semakin tak bisa dikontrol. Dia bagai
magnet yang terus ingin saya tempeli. Mematut penampilan di depan kaca bersamanya
di pagi hari seperti sebuah prosedur yang harus saya lakukan.
Keputusan saya sudah final. Saya harus berani
menyakatan perasaan saya ini padanya. Demi kebaikan saya, agar saya tidak gila
seperti ini. Tuhan, masih bolehkan saya
berdoa untuk sebuah harapan semu ini padaMu?
***
Bunyi sirine
nyaring terdengar. Memecahkan indera pendengaran saya. Saya masih terdiam kaku
melihat kejadian setengah jam yang lalu. Hati ini terasa sangat sakit, namun
tak sedikitpun airmata keluar dari mata saya. Ini kah yang namanya patah hati? Melihat orang yang kita sayangi,
berlumuran darah, dan terbaring lemah?
Tuhan, apakah ini jawaban atas semua pertanyaan
saya? Apa ini jawaban atas permohonan saya? Ya Tuhan, tolong selamatkan dia ya
Tuhan! Saya mohon!”
*****
“Bu Dian, kenapa sih kalau ngaca di cermin
lama banget, terus ekspresinya suka senyum-senyum sendiri?”
“Suuut, anak
baru jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Sebelum kamu kerja di sini. Bu Dian
punya patner dekat, namanya Bu Ami, tapi
minggu lalu Bu Ami jadi korban tabrak lari dan meninggal dunia. Bu Dian dan Bu Ami,
hobinya sebelum masuk store pasti
ngaca lama-lama di cermin. Aku rasa Bu Dian masih sedikit syok deh karena dia ada di tempat kejadian saat itu.”
| photo available at : http://www.pesona.co.id/refleksi/refleksi/bercermin.pada.ibu.3/001/001/33 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar